Encounter

Title : Encounter
Cast : Lee Jehoon as Kim Doki, Pyo Yejin as An Goeun
Inspired by : Korean Drama “Taxi Driver”
Length : Drabblet 562words
Written by : Ayin Perdana

This is just a fanfiction for doki goeun couple because I love them so much >.<
their chemistry is really strong and sweet~
I really hope they make romance story line in season 2 for doki goeun *^^*

“Paman doki..!!”.

Suara kecil ini pasti memanggilku saat aku sedang menikmati petang di puncak apartment ini sembari melatih otot – ototku.

“kau sudah makan? Lihat ini, aku baru membeli ayam di kedai ayam yang baru buka dua blok dari tempat kita.”

“Sampai kapan kau ingin memanggilku paman?”.

Goeun, ia hanya asik membongkar belanjaan yang ia bawa dengan menaruhnya di meja alih – alih menghiraukan pertanyaanku.

“Aku membeli dua paket ayam untuk ini, satu rasa bbq dan satunya pedas. Paman bisa makan pedas kan? Kupikir makanan pedas akan bagus untuk ototmu hahahaha”.

Tepat saat ia ingin membuka botol soda yang baru di keluarkannya dari kantung belanjanya, dengan perlahan aku meraihnya dari tangan Goeun, “biar aku saja yang membukanya, kau duduk saja” ucapku tersenyum yang juga dibalasnya dengan senyum di bibir tipisnya itu.

“Lalu?”.

“Lalu apa paman?”, akhirnya fokusnya tertuju padaku setelah ia berhasil ku buat duduk dengan manis di depanku.

Aku memberikan botol soda yang sudah kubuka untuknya, “jawaban dari pertanyaanku barusan..”.

“Eh..? Paman ada bertanya apa?”.

Aku menatap matanya lamat – lamat kemudian memberi senyumku, “aku bertanya, sampai kapan kau ingin memanggilku paman?”.

Hahaha! aku sangat suka ketika melihat matanya terbelalak begitu ketika ia kebingungan, imut sekali.

“Memangnya aku harus memanggilmu bagaimana lagi?” ia mengambil sepotong ayam lalu melahapnya, “wah, ayam ini benar – benar enak. Ayo kau harus mencobanya juga pam..”

Paman?” aku kembali meliriknya, sedang ia tak melanjutkan perkataannya. “Apa aku ini setua itu untukmu sampai kau memanggilku begitu?”.

“Bisakah kau tidak berputar – putar dan langsung ke intinya saja?” sahutnya dengan nada cueknya yang khas sembari menikmati makanannya.

Aku meminum sodaku sambil terkekeh, “Apa sikapku kurang tertuju pada intinya? bagaimana aku memperlakukanmu berbeda dengan gadis lainnya, aku yang selalu menunggumu untuk pergi ke perusahaan taksi bersama, aku yang membangunkanmu ketika sarapan sudah siap, dan..”

Aku mengarahkan ibu jariku ke ujung bibirnya yang berlepotan bumbu kemudian membersihkannya, “aku yang memerhatikanmu makan sambil tersenyum sendiri seperti orang gila begini”.

Ia meletakkan ayamnya di atas piring, “Kau ini.. sudah kubilang jangan terlalu nampak kan”.

“Terlalu nampak bagaimana? seluruh dunia bahkan tidak tahu kalau kau kekasihku, kecuali atap apartment ini dan mobil taksi itu” aku mengerutkan kening, “kupikir dengan aku menjadikanmu kekasihku, kau akan berhenti memanggilku paman”.

Ia melotot, “Kau ini ternyata benar – benar tidak peka. Lagipula aku menjadi kurang yakin, apa kau ini serius? Aku bahkan tidak ingat apa kau pernah bilang kalau kau me..”

“Aku menyukaimu”. Aku memotong perkataannya, “Aku sangat menyukaimu, bukan, aku.. sangat menyayangimu”. Ia memutar bola matanya kemudian berusaha mengalihkan fokusnya dengan mengambil botol soda di hadapannya, dengan gerakan cepat aku menarik tangannya kemudian mendekatkan wajahku ke wajahnya dan kemudian membiarkan bibirku bersentuhan dengan bibirnya.

Dengan enggan, aku melepaskan ciuman itu “apa yang ini masih belum cukup untuk bisa meyakinkanmu?”.

Dia menundukkan kepalanya, kulihat wajahnya memerah.. cantik sekali.

“Bukan begitu..” ia tiba menatapku kemudian mencubit kedua pipiku dengan kencang sampai membuatku meringis “dasar kau benar – benar tidak peka!! Aku memanggilmu begitu karena itu panggilan sayangku untukmu, dasar bodoh”.

Ia berdiri kemudian menghampiriku yang masih terkejut mendengar perkataannya barusan, bahkan jantungku seperti ingin berhenti. Ia dengan santai duduk di dalam pangkuanku, jemari tangannya menjelujuri rambutku, membelainya dan tanpa ragu ia membiarkan bibirnya bersentuhan dengan bibirku. Dan yang lebih tak kusangka, ia membiarkanku melumat bibirnya sejenak sebelum kami mengakhiri kegiatan manis ini.

“Lain kali lebih peka-lah sedikit, Kim Gisa-nim“.

Aku tersenyum dan kembali meraih bibirnya, “saranghanda, Goeun-ah“.

 

FIN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s