Imagination

1513635673605

Hello, this is Ayin Perdana. I thought I will not be able to write some story anymore after Jonghyun’s left us, SHINee World and SHINee. I just feel like I lost my passion as a writer. but, last night.. he came for me. He came to my dream and we talk about a lot of things. I’m not going to ask you guys to say this is a good writing, but let me assume this is the best writing I’ve ever done.. Because this is will be my first and last real story. This is gonna be my writing base on true story. Thank you so much and.. You have worked hard 🙂

Even though you’re only my imagination…

 

Bangun.. ku mohon bangunlah. Bangulah untukku”.

Kedua daun telingaku menangkap suara lembut namun terdengar begitu lirih bahkan saat aku terjaga di alam bawah sadarku, membuatku membuka kedua mataku yang terasa berat.

“Aneh”, hanya kata itulah yang spontan terucap dengan nada begitu pelan dariku sesaat setelah aku bangun dan bangkit dari tidurku. Pandanganku kemudian beralih ke langit – langit kamar, bermaksud ingin melihat kearah jam dinding untuk mengetahui jam berapa sekarang.

Tidak, ini bukan kamarku. Aku bahkan tidak mengenal dimana tempat ini. Entah kenapa aku bisa berada di tempat ini, “Stasiun kereta?” tanyaku dengan diri sendiri. Aku bahkan bingung dengan diriku yang mengenakan pakaian hangat, bukankah pakaian ini di pakai untuk musim dingin tapi sekarang sedang musim semi. Pandanganku kembali menerawang keatas, kali ini aku ingin melihat langit. Keningku memberengut saat aku kembali melihat sesuatu yang menurutku pikiranku terasa janggal.

“Ada apa dengan langit ini? Di sekitarku semua bunga bermekaran, bahkan pohon cherry blossom di pingggiran rel kereta di depanku ikut memekarkan semua bunganya yang terlihat begitu segar dan indah, kenapa? Disaat semuanya bermekaran di musim semi ini kenapa langit malah menurunkan salju dan beberapa titik – titik air hujan?” tanyaku lagi.

“Tunggu, tunggu sebentar.. salju dan hujannya.. salju dan hujannya tidak turun”.

Ya, salju dan air hujan itu hanya melayang – layang di udara. Bagaikan ribuan kapas yang tipis terbang tertiup angin, sementara air hujan itu bagaikan embun di pagi buta. Sekali lagi, aku melihat ke sekitaran yang ada di depanku dan otakku kembali menuntut dirinya sendiri untuk berpikir keadaan apa ini. Bagaimana bisa empat musim datang di waktu yang bersamaan? Di atas langit aku melihat sinar matahari yang begitu terang dan jelas, namun disaat bersamaan langit mengugurkan butiran salju dan air hujannya yang ajaibnya tidak jatuh sampai menyentuh tanah. Dan di rerumputan ku lihat banyak daun kering berwarna coklat yang selalu kulihat di saat musim gugur tapi pohon cherry blossom dipenuhi dengan bunganya yang merekah dengan begitu cantik. “Sebenarnya aku ini dimana? Dan suara siapa yang tadi membangunkanku?”.

“Apa kau tidak suka dengan tempat ini?”.

Itu dia, itu suaranya. Itu suara yang membangunkanku. Aku langsung memalingkan kepala dan pandanganku langsung mencari arah asal suara yang tertangkap oleh telingaku. Aku melihat ada seorang lelaki muda yang duduk sendirian di salah satu kursi tempat penumpang menunggu kereta datang. Dia nampak begitu bersih, namun raut wajahnya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku baru saja ingin melangkahkan kakiku menuju kearah nya dengan maksud ingin duduk di sampingnya sebelum aku kembali menyadari sesuatu yang tidak biasa di tempat yang benar – benar terasa asing untukku, ‘Stasiun ini.. sunyi. Sangat sunyi, kenapa disini begitu hening? Bukankah stasiun adalah tempat yang begitu gaduh setelah keramaian?’ pikirku.

Alih – alih terpaku dengan segudang pertanyaan di otakku, aku memutuskan untuk berjalan menghampiri lelaki yang tadi kulihat sedang duduk sambil setengah menundukkan kepalanya di ujung sana. Ketika langkahku sudah semakin dekat dan aku telah berhasil membawa tubuhku untuk ikut duduk di sampingnya, ketika mataku sudah berhasil menangkap wajahnya dengan jelas, saat itu pula sebuah nama langsung muncul di otakku yang membuatku langsung mengeluarkan nama itu dari bibirku, “Jonghyun”.

Ia menatapku, tersenyum “Halo, kau. Orang yang tinggal di dalam dunia bersinar”.

Aku memiringkan sedikit kepalaku, “Eeerr.. maksudnya? Dunia bersinar.. yang bagaimana?” sesaat aku terhenti ketika melihatnya yang hanya memakai kemeja putih yang tipis, dengan celana panjang yang juga berwarna putih. Benar – benar berbanding terbalik denganku yang mengenakan pakaian hangat lengkap dengan syal yang melingkari leherku. “Kenapa kau memakai pakaian begitu tipis, Jonghyun? Kau mau kupinjamkan mantelku?” aku baru saja ingin melepaskan mantelku dan memberikannya kepadanya sebelum ia menahanku dengan tangannya, ‘eh? Hangat. Tangannya begitu hangat meski ia memakai pakaian tipis’ gumamku dalam hati.

“Jangan di lepas, kau akan sangat kedinginan. Ini bukan dunia yang bisa kau lalui sebagaimana biasanya”. Ia tersenyum lagi, “Omong – omong, kau belum menjawab pertanyaanku..”.

“Eh? Pertanyaanmu.. maksudnya?”.

“Aku tadi bertanya padamu..” ia meraih kedua tanganku, kemudian memakaikan sepasang sarung tangan yang hangat ke kedua tanganku, “aku juga harus melindungi tanganmu dengan ini, maaf tadi aku lupa memakaikannya untukmu saat mengundangmu kemari”, ia menatapku, dan tersenyum lagi, “tadi aku bertanya padamu, apa kau tidak suka tempat ini?”.

Aku memandangi kearah sekitarku sekilas, lalu kembali menatapnya dan berkata, “tempat ini memang sedikit.. eung.. asing”.

Ia mengangguk tanpa melepas senyumannya, “lalu?”.

“Tapi aku tidak punya alasan untuk tidak menyukainya. Ini memang terasa tidak biasa tapi ini cantik”. Aku berpikir sejenak, kemudian meliriknya dan bertanya, “Omong – omong, kenapa kau membangunkanku dan membuatku berada di tempat ini?”.

Ia terkekeh, sekilas aku melihat sorot matanya terlihat seperti menyiratkan masih ada yang ia pikirkan, “Bukannya kau yang sangat ingin aku menemuimu? Kau seharian tadi merasa emosi karena kau pikir otakmu ini tidak bekerja dengan baik bukan? Kau berharap aku bisa membantumu bukan? Kau juga memiliki rasa penasaran yang besar, pasti ada yang ingin kau tanyakan padaku bukan? Dan kau juga ingin sekali berbicara denganku, benar kan?”.

Aku menganggukkan kepalaku. Aneh, bahkan mungkin terlalu aneh. Bagaimana bisa aku langsung mengangguk begitu saja.

“Itulah kenapa aku mengundangmu kemari. Aku tidak bisa menemuimu di duniamu sekarang, lebih tepatnya.. dunia kita dulu saat masih bersama, tapi aku bisa mengundangmu kemari. Sembari aku menunggu kereta yang akan datang menjemputku kurasa tidak ada salahnya untuk mengajakmu mengobrol”, sahutnya sumringah, “ayo, kita mulai saja. Kau boleh menanyakan apapun padaku yang membuatmu penasaran.

“Kenapa kau meninggalkan kami semua?”.

Ia langsung tertawa lepas begitu mendengar pertanyaanku yang memang begitu spontan, aku bahkan merutuki diriku sendiri karena bertanya tanpa mencernanya terlebih dulu, “Wah, aku tidak menyangka kau akan langsung menuju pada intinya seperti ini”.

Aku menghela napas, “Yah, begitulah. Maafkan aku, aku ceroboh. Tapi, jawab saja”.

“Sebenarnya aku tidak pernah berniat untuk meninggalkan kalian. Kau tahu aku mencintai semua yang mencintaiku kan?”.

“Lalu? Tetap saja kau meninggalkan kami” sahutku singkat, “baiklah, bagaimana kalau kalimatnya di ganti saja. Kenapa kau meninggalkan kehidupan ini?”.

Ia tersenyum, “Aku juga tidak berniat untuk meninggalkan kehidupanku..” ia kembali sedikit menundukkan kepalanya, “aku hanya kesakitan. Aku ingin menghentikan kesakitan itu, tapi sayangnya, jika aku ingin mengakhiri kesakitan ini aku juga harus melepaskan hidupku”.

Kami terdiam sejenak, ia terlihat nampak sedikit berpikir dan aku masih sedikit kebingungan dengan tempat asing ini. Entah apa yang membuat tanganku menepuk – nepuk bahunya, membuatnya memalingkan kepalanya dan menatapku.

“Hhmm? Ada apa, masih kedinginan?”.

Aku mengerjapkan mata, “Oh~. Tidak, tidak.. maafkan aku, aku tidak sengaja. Hanya saja.. kulihat pundakmu begitu tegap dan nyaman, seperti tidak ada beban.. tapi, sorot matamu menunjukkan kau sedang memikirkan sesuatu”.

“Aku memang sudah tidak memiliki beban apapun, aku sudah tidak kesakitan sekarang. Aku sudah meninggalkan semua kesakitan itu bersama dengan jasadku.. saat ini aku hanya bingung, kenapa kalian semua menangis? Bahkan kau juga menangis.. bahkan sampai saat ini kau masih menangis” ia diam sejenak, menyapu buliran airmata yang ada di pipiku—aku bahkan tidak sadar sejak kapan mataku mengeluarkan air mata, padahal hati ini terasa sangat rileks ketika aku berada di tempat setenang ini— dengan tersenyum dan sedikit mengerutkan keningnya lalu melanjutkan, “karena kita adalah sama, kita adalah orang yang berbicara melalui tulisan, kau adalah penulis dan akupun begitu, itulah kenapa aku memilih untuk berbicara denganmu menggunakan bahasa kita sendiri”.

“Baiklah” aku tersenyum kecil, entah apa yang bisa membuatku tersenyum karena seingatku belakangan ini aku bahkan lupa bagaimana cara tersenyum, “tadi kau bilang kau sudah tidak memiliki beban apapun, kau sudah tidak kesakitan.. lalu, apa yang masih membuatmu berpikir? Tentang mengapa kami terlihat begitu rapuh dan bahkan tidak tersenyum inikah yang membuatmu masih berpikir?”.

Kind of” ia kembali menyunggingkan senyumnya, lagi dan lagi, “bahkan aku melihat Hyeong­-ku, Jinki hyeong.. wajahnya benar – benar sangat rapuh, tolong katakan padanya aku menyukai wajahnya yang tampan bukan wajah seperti orang senewen begitu. Dia bahkan lupa menyisir rambutnya. Dongsaeng-ku, Kibum, Minho, dan Taemin juga.. Ibu dan Noona-ku juga. Aku juga melihat Taeyeon Noona, keadaannya masih sangat labil”.

“Karena kami sangat merindukanmu. Karena kami mencintaimu. Kami sangat mencintai dan merindukanmu, Jonghyun”.

“Secepat itukah kalian merindukanku?” Ia menunjukkan ekspresi seperti anak kecil yang bingung dengan keadaan yang dilihatnya, “aku bahkan belum lama meninggalkan kalian kenapa kalian sudah merindukanku?”.

Aku melepaskan topi rajutku—astaga, aku baru sadar semua pakaianku berwarna aqua green—lalu memainkannya di tanganku, “rindu itu bisa muncul kapan saja Jonghyun, bahkan rindu dapat muncul kedalam perasaan seseorang meskipun baru lima detik yang lalu mereka bertemu dengan orang yang dirindukannya itu”. Aku kembali melirik kearahnya, “omong – omong kau mendadaniku seperti ini.. aku benar – benar merasa seperti sebuah lightstick hidup, kau tahu? Bahkan kau memotong rambutku sampai rambutku hanya sepanjang bahu”.

Ia tertawa lepas, benar – benar terdengar begitu ikhlas dan tanpa beban, “Karena kau adalah salah seorang penghuuni dunia bersinar, benar kan? Dan rambut sebahu ini adalah tatanan rambut yang kau inginkan untuk menyambut tahun barumu di Jepang, bukan? Kau cantik dengan tatanan rambut ini, sangat segar. Pastikan untuk memiliki tatatanan rambut ini di awal tahun saat kau di Jepang nanti.. dan, kau terlalu kurus, kau tahu?”.

Tanpa sadar, aku ikut tertawa bersamanya, “Jjong. Tidak, maksudku.. Jonghyun… ssi/?.. eerr..”.

“Kau boleh memanggilku bagaimanapun kau mau, jangan formal seperti itu. Di tempat ini kau bebas melakukan apapun yang kau mau”. Sahutnya tersenyum.

Aku menarik nafas sejenak, “boleh aku bertanya lagi?”.

“Tentu saja, waktu ini memang di sediakan untukmu” ia mengangguk, “masih ada beberapa waktu sebelum aku diharuskan untuk mengantarmu ke gerbang di sebelah kanan sana, dan memastikan kau kembali dengan selamat”.

Aku diam sejenak, “boleh aku tahu apa yang membuatmu kesakitan?”.

Mental problem” ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sembari menatap langit, “rasa cemas, khawatir, dan ketakutan terus menggerogotiku saat itu. Aku seperti di paksa duduk dan di ikat dengan rantai – rantai besar dan kuat, aku ingin melepaskan diri dari rantai itu tapi tidak bisa. Aku sudah mencoba konsultasi tapi tidak membuahkan jawaban apapun, aku bertanya bagaimana solusinya tapi pada akhirnya jawabannya adalah diriku sendiri”.

Aku menatapnya dengan ribuan pemikiran yang melayang – layang di dalam kepalaku, rasanya seperti mimpi—aku yakin ini memang mimpi atau bahkan hanya imajinasiku, tapi ini sangat terasa nyata—aku bisa bicara senyaman dan sedekat ini dengannya yang bahkan tidak mengenaliku, tapi sekarang dia tahu segala tentang diriku. Aku mengusap hidungku yang terasa dingin saat ia yang kurasakan kembali menatap kearahku, “omong – omong, kalau kau ingin bercerita padaku, aku akan mendengarkan. Rasanya tidak seru kalau hanya aku yang bercerita tapi kau tidak, kita sama – sama pencipta sebuah kisah bukan?”.

Aku tertawa, “aku hanya penulis online di sebuah blog yang tidak terlalu berguna untuk orang lain, maybe. Berbeda dengan kau yang merupakan penulis profesional”.

Ia menggelengkan kepala, “sungguh, kau penulis yang baik”.

“Baiklah, terima kasih” aku mengangkat kedua alisku, “well, kalau begitu aku akan bercerita. Dari tadi kau bilang kita sama, percaya atau tidak.. kau bahkan boleh menyebut ini konyol, tapi aku juga memiliki penyakit mental seperti yang kau katakan tadi”.

Ia menganggukkan kepalanya, “ya aku tahu itu. Aku bisa tahu tentang apapun dari tempat ini sekarang. Tapi kau kuat, padahal aku melihat kau juga sangat kesakitan”.

“Bisa untuk tidak berkomentar dulu? Hey, ceritaku kali ini akan sangat panjang bung”.

Ia kembali tertawa lepas mendengarku, membuat perasaan bangga muncul dalam diriku karena telah membuatnya tertawa, “Baiklah nona, maaf. Teruskan ceritanya”.

“Saat aku masih muda, tepatnya saat masih kuliah..”.

“Hey, sekarang kau juga masih sangat muda”.

Aku hanya meresponnya dengan lirikan, membuatnya sedikit mengerlingkan mata ke sudut kanan “eh iya, jangan berkomentar”.

“Dulu saat masih kuliah aku sempat berkonsultasi dengan teman sebayaku, well.. dia sebaya tapi dia lulus lebih dulu dariku. Aku bertanya padanya tentang kondisi tingkah lakuku. Aku merasa ada yang salah, dan saat aku menceritakan semuanya padanya ternyata analisaku benar. Dia bilang aku mengidap gangguan perilaku dimana aku terperangkap dalam dunia masa kecilku, dengan usiaku yang sekarang aku masih merasa aku hanya ingin bermain dan bersenang – senang, tentu aku memikirkan masa depanku tapi tidak seperti temanku yang lain yang telah membangun kastil mereka masing – masing. Aku membangun kastilku, tapi aku tidak mencoba mencari teman untuk membangunnya. Lebih tepatnya belum, untuk saat ini”.

Aku menyandarkan bahu ke sandaran kursi, “Dia bilang semua itu bisa disebabkan karena aku, sadar atau tidak, pernah merasa tertekan dan depresi bahkan disaat aku masih berusia sangat kecil. Saat itulah aku sadar bahwa aku di besarkan oleh dua jenis karakter manusia. Aku di didik dengan begitu keras dan dengan begitu lembut secara bersamaan. Aku di bentak, dibandingkan dengan temanku, bahkan aku sering mendengar kata kasar seperti ‘kenapa kau sangat bodoh?!’ ‘apa kau tidak memiliki mata jadi kau sampai bisa membuat piring itu jatuh dan akhirnya pecah?’ ‘kenapa kau sangat terlihat kotor dan kusam padahal kau anak perempuan’, aku mendapatkan kalimat pedas di usiaku yang masih sekecil itu dari satu sisi. Tapi di sisi lain, aku juga mendapat suasana lembut, nyaman dan hangat, seperti ‘kau tidak apa – apa kan? Tidak ada yang terluka bukan?’ ‘Tidak apa meskipun benda itu hancur, asalkan kau tidak terluka.. tidak apa – apa’ ‘tidak apa kalau kau melakukan kesalahan, semua orang pernah melakukannya’. Aku bersyukur sisi lain itu yang membuat mentalku kuat dan tidak menjadi seorang yang penyendiri, aku tetap dapat memiliki banyak teman dan bermain dengan mereka. Karena semua itulah, aku menjadi lambat untuk dewasa karena sampai sekarang, tanpa aku sadari aku masih merasa belum puas merasakan masa anak kecilku yang seharusnya semua terasa bahagia tanpa tekanan. Dan karena keterlambatan itu membuatku cemas dan takut membuat orang tuaku menjadi malu memiliki anak sepertiku. Aku juga memiliki mental yang kadang kuat seperti baja, tapi terkadang mentalku bisa rapuh dengan cepat tergantung dengan keadaan yang kulihat, contohnya ketika orang tuaku bertengkar hebat di depan mataku dan membuatku meneriaki mereka dengan begitu keras. Aku tidak pernah berniat untuk berteriak seperti itu, itu yang membuatku sangat kesakitan”.

Aku menatapnya, kulihat ia benar – benar mendengarkanku dengan begitu baik, “kau pasti sangat mengerti bagaimana rasanya selalu di tuntut ketika kita sudah sangat bekerja keras, bukan?”.

“Tentu saja. Itu juga salah satu alasanku menyerah” sahutnya tersenyum.

Aku menganggukkan kepalaku, “aku juga merasakan hal yang sama, Jonghyun. Aku selalu berusaha dengan keras mengerahkan segala kemampuan yang ku miliki sebisaku, tapi pada akhirnya aku merasa orang – orang itu tidak pernah merasa cukup dan selalu menuntutku untuk menjalani hidup ini sesuai yang mereka pikirkan. Terkadang aku sangat ingin bertanya kenapa aku tidak bisa menjalani hidup ini dengan caraku, kenapa mereka selalu memandang bahwa apa yang mereka jalani itu adalah yang akan membuat bahagia padahal bagiku cara mendapat kebahagiaan dalam hidup tidak hanya terpaku dengan skenario yang sama seperti yang mereka jalani sekarang, dan kenapa mereka berpikir bahwa jika aku ingin bahagia dan nyaman menjalani hidup ini maka aku harus menyesuaikan diri dengan juga ikut menjalani hidup seperti yang mereka lakukan. Membangun kastil tadi misalnya, apakah sememalukan itu kalau sampai pada saat ini aku belum membangun kastilku? Terkadang aku sangat ingin berteriak bahwa aku tidak mau, aku tidak ingin seperti itu, aku ingin menjalani hidup ini dengan caraku sendiri. Ketika aku sudah ingin melakukannya, mataku melihat wajah kedua orang tuaku dan saat itu pula aku langsung urung melakukannya. Karena kurasa jika aku melakukannya, mereka pasti akan kesakitan dan aku tidak ingin itu terjadi”.

Aku diam sejenak sambil menatapnya yang merespon dengan senyuman. Aku membalas senyuman itu lalu melanjutkan, “karena menurutku, untuk apa memberikan rasa sakit pada orang lain kalau aku sangat tahu bagaimana rasanya kesakitan itu. Itulah yang membuatku merasa aku harus kuat, aku harus ikhlas dengan gangguan perilaku yang ada dalam diriku, dan aku harus bertahan dengan semua tuntutan yang berikan orang terhadapku. Sampai saat ini aku masih menutup telingaku untuk sebagian tuntutan yang diberikan padaku, aku masih menjalani beberapa bagian hidup sesuai keinginanku. Aku yakin itu pasti akan menumbuhkan berbagai argument dari semua orang, tapi tidak apa – apa. Aku tetap harus bertahan, aku harus hidup.. bukankah begitu?”.

Ia hanya tersenyum, ia mengarahkan tangannya lalu mengusap puncak kepalaku.

“Oh, tentu saja aku tidak menyalahkanmu atas keputusanmu. Semua orang memiliki keputusannya masing – masing, Jonghyun. Satu hal, aku senang kalau kau sudah benar – benar tenang sekarang”.

Ia menggelengkan kepalanya, “tidak, tidak apa. Jangan merasa tidak nyaman seperti itu padaku” kulihat ia sumringah sembari menepuk bahuku, ia mengalihkan pandangannya sejenak kearah belakangku, melihat kearah lampu berwarna hijau meenyala dari ujung sama, “nah, sekarang sudah waktunya untuk mengantarkanmu kembali. Ayo”.

Kami berdiri bersamaan tepat saat sebuah kereta tiba, “Emm.. kita akan menaiki kereta ini untuk mengantarku?”.

“Tidak, tentu saja tidak” ia tertawa, “aku akan di hukum kalau aku membawamu bersamaku menaiki kereta ini” ia kembali mengusap kepalaku. “kereta ini akan mengantarku ke duniaku yang sekarang.. sedangkan kau, aku akan mengantarkanmu sampai di depan pintu di ujung sana” ia menunjuk ke arah pintu gerbang besar di ujung sana, “kau tinggal membuka gerbang itu dan masuk, dan aku akan pastikan kau kembali dengan selamat”.

Aku hanya mengangguk ketika ia mengiringiku berjalan disampingku menuju gerbang itu. Saat aku dan dia telah sampai di depan gerbang, aku berpikir sejenak kemudian memalingkan tubuhku menghadapnya, “Jonghyun..”.

“Hhmm?”.

“Aku tahu pertemuan tidak terduga ini hanya mimpi, bahkan aku tahu kau hanya imajinasiku saat ini..”. aku melepaskan sarung tangan yang sebelumnya dipakaikannya padaku, “tapi.. aku benar – benar ingin mengatakan ini padamu..”.

Ia mengangkat kedua alisnya, “apa itu?”.

You have worked hard” aku tersenyum, “and thank you for wonderful 10 years that you share with me and SHINee”.

Ia memegang kedua bahuku sambil tersenyum, kemudian meraihnya perlahan hingga aku masuk dalam rengkuhannya, sangat hangat. “Aku juga sangat berterima kasih. Secara tidak langsung kau membiarkanku untuk menjadi orang yang membantumu menyelesaikan ceritamu yang akan kau terbitkan minggu depan, judulnya sangat bagus.. Imagination”.

“Oh tuhan… kau tahu tentang cerita itu?!” aku melepaskan diri dari rangkulannya, “aku bahkan baru menulisnya sebanyak satu halaman, Jonghyun. Aku bahkan belum terpikirkan untuk akhir ceritanya karena cerita itu sangat rancu, menurutku”.

“Karena itulah aku menemuimu.. apa kau tidak sadar tempat ini tergambar sama persis dengan apa yang kau ciptakan dalam tulisanmu yang kau bilang rancu? Tapi ternyata hasilnya begitu cantik bukan? Kau mnciptakan semua hal yang tidak mungkin terjadi di dunia tempatmu hidup saat ini, tapi kau bisa membuatnya nyata saat aku mengundangmu kemari” ia memperlihatkan sederet gigi putihnya yang begitu rapi, “sekali ini saja, mari kita buat tulisanmu itu nyata. Biarkan aku membantumu memberikan akhir ceritanya, dan membuat tulisanmu kali ini menjadi satu – satunya tulisanmu yang berdasarkan dari kisah nyata. Kau harus memberi tahu dunia bahwa aku menemuimu. Bahwa kau telah bertemu dan berbicara sepanjang dan sebanyak ini dengan orang yang selalu menjadi tokoh utama ceritamu”.

Ia berjalan sedikit mendahuluiku dengan maksud ingin membukakan pintu gerbang untukku yang saat itu masih tidak bisa percaya dengan apa yang ia katakan sebelum ia tiba – tiba berhenti dan, “Ah, aku hampir saja lupa. Portrait sketsa kita, aku sangat suka itu”.

“Hah?”.

Ia mengangkat bahu, “Portrait sketsa kau dan aku.. yang kau pajang di kamarmu itu, itu sangat cantik. Aku menyukainya” ia kembali memperlihatkan sederet gigi putihnya dengan ceria, “Berjanjilah untuk terus menjadi penghuni dunia bersinar.. berjanjilah untuk terus mencintai empat lelakiku yang bersinar di dunia yang kau huni, mereka itu sangat rapuh kalau kalian meninggalkan mereka sendirian.. kalian harus mencintainya agar mereka tahu akupun juga akan terus mencintai mereka meskipun aku tidak ada di antara mereka secara fisik, berjanjilah”.

Aku tersenyum lalu menangguk, “tentu saja”.

Ia membalasku dengan tersenyum juga, kali ini aku merasakan senyuman itu benar – benar hangat. Ia pun akhirnya benar – benar membukakan gerbang itu untukku, “begitu kau maju selangkah masuk ke gerbang ini, kau akan langsung kembali. Senang berbicara denganmu, nona”.

~***~

Aku, sekali lagi membuka mataku dengan perlahan setelah telingaku kembali menangkap suara. Kali ini bukan suara seseorang yang membangunkanku, melainkan alarm ponselku yang berbunyi tepat pada jam lima pagi.

Aku menarik tubuhku bangkit dengan begitu malas, tangan kananku meraba – meraba tempat tidur untuk meraih ponselku lalu meematikan alarm yang berbunyi.

“Oh Tuhan..” aku mengusap wajahku dengan kedua tangan lalu menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Pandanganku kemudian beralih pada sebuah portrait sketsa yang ku pajang di kamarku, ya.. sketsaku bersama Jonghyun. Sketsa itu aku dapatkan sebagai hadiah kelulusanku dari eonni senior-ku—aku menganggapnya sebagai hadiah kelulusan karena ia memberikannya padaku di hari kelulusanku dari Pusat Studi Korea—dan ia memintaku untuk memajangnya di kamarku.

Aku turun dari tempat tidurku lalu berjalan mendekati bingkai portrait sketsa itu, “Tak kusangka sekarang aku benar – benar hanya bisa melihatmu dari sebuah sketsa, Jonghyun”, aku tersenyum tipis memandangnya. Aku menghela nafas sejenak, “Terima kasih telah menemuiku dan membantuku untuk menyelesaikan akhir cerita rancu yang masih bersemayam di laptopku. Aku berjanji akan menuliskan pertemuan tak terduga kita ke dalam cerita itu.. you’re just incredible even in your last time. You’re so wonderful, Jonghyun”.

Thank you so much Jonghyun.. you have worked hard”.

 

 

Fin.

Advertisements

16 thoughts on “Imagination

  1. hai
    aku nemu website ini secara tidak sengaja
    dimana aku membutuhkan lirk lagu dari uri oppa Jonghyun
    saat aku melihat arsip yan tertera tahun 2017 aku berfikir bahwa website ini masih aktif
    dan saat aku melihat file di tahun 2017, awalnya kufikir bahwa aku tidak menemukan file dengan berita duka bahwa Jonghyun oppa telah pergi.
    dan saat aku membuka file paling atas, aku bersedih bahwa kau tidak bisa menulis lagi karna kepergian uri oppa
    dan maafkan aku
    aku tidak sanggup membaca cerita diatas hingga tuntas
    aku membacanya hanya 2 paragraf dan air mataku sudah menetes
    aku mengerti bagaimana perasaanmu dan shawol di luar sana
    ini menyakitkan dan mengagetkan.
    awalnya pun aku juga tidak menerima bahwa uri oppa pergi, tapi itulah kenyataannya
    sekali lagi maafkan aku karna tidak membaca cerita diatas dengan tuntas
    ayo kita hidup lebih baik lagi, untuk uri oppadeul!!!

    • Hai.. Selamat datang di blog ini 🙂 seharusnya kau membacanya sampai akhir, karena ini adalah kisah nyata.. Bukan khayalanku.. Ia menemuiku lewat mimpi dan ia menitipkan beberapa pesan untuk semua shawol. Ku mohon, baca lah tulisan ini setelah kau kuat. Thank you~ you have worked hard

  2. aku… tidak tau harus berkomentar apa
    air mataku terus mengalir sepanjang aku membaca cerita ini, bhakan sekarangpun masih terus mengalir
    ini terlalu ….
    aku mengerti apa yang kalian rasakan, cause so do i
    aku pun mengalami apa yang kalian alami, meskipun hanya tahap awal
    namun ini begitu berat, ya kuakui itu. dan menyakitkan
    i hope, that i meet him too
    mari kita jaga uri oppadeul

  3. hallo, ngga sangka bisa nemuin blog sekaligus cerita kayak gini
    awalnya cuma cari lirik Jonghyun oppa, tapi karena kepo tulisan di 2017 teratas ada tulisan ini. dan… baca tulisan ini ngebuat air mata aku menetes sampai akhir bacanya.Ya Jonghyun, sudah tidak sakit lagi dan dia senang sekarang. ia harus kita ikhlaskan.
    dan tolong menulislah lagiii
    jangan jadikan ini yang terakhir, oke?

    • Hai.. Mutiara, aku sangat senang kau menemukan rumah sederhanaku ini, selamat datang semoga semua yang ada di sini bisa membuatmu tersenyum..

      Aku adalah shawol, sejak tahun 2008 hingga detik ini.. Aku sangat mencintai mereka, dan itulah yang memutuskanku untuk menjadi translator lagu lagu mereka, karena aku kebetulan adalah salah seorang student di Pusat Studi Korea.

      Aku sangat cinta menulis, dan aku berusaha dan bekerja keras untuk terus menulis sampai kedua tangan ini tidak mampu menulis lagi. Terima kasih untuk dukungannya 🙂

      Sering2lah untuk main kemari ^^

  4. hai , aku juga menemukan blog ini secara tidak sengaja dan ak membaca tulisanmu, “imajination”.

    Jujur mungkin ak bukan shawol sejati. Tetapi aku menyukai jonghyun saat pertama kali SHINee debut , aku menyukainya karena suaranya yang luar biasa. Tetapi karena kesibukanku membuatku mulai meninggalkan SHINee dan hanya dapat melihat mv mereka saat waktu senggangku.

    Saat mendengar berita jonghyun meninggalkan kita sangat tiba-tiba , membuatku shock dan terluka amat dalam. Sampai saat ini hatiku sakit dan air mata ini tidak dapat berhenti mengalir jika membayangkan begitu sakitnya jonghyun saat itu, dan ak tidak dapat berhenti menangis mendengarkan suara jjong bernyanyi.

    Tapi saat ak membaca tulisanmu, kalau memang jonghyun merasa tenang setelah keputusan besar yang ia buat, tentu kita semua harus ikut menerimanya , iya kan ?
    you did well , my jjong 🙂

    • Hallo.. ^^ aku sangat senang kamu bisa menemukan rumah sederhanaku ini di dunia maya, selamat datang.. Ku mohon sering2 lah datang ke sini. Aku berjanji akan terus mendukung shinee, menulis cerita2 fiksi mereka dan menerjemahkan lagu lagu mereka sampai tanganku sudah tidak berdaya lagi untuk menari di atas keyboard laptop.. ^^

      Dia datang mengunjungiku lewat mimpi.. Dan dia benar2 terlihat begitu tenang dan bersih. Dia berpesan utk jangan bersedih terlalu lama dan cintai 4 lelaki bersinarnya yang saat ini sangat membutuhkan pelukan dari shawol ^^

      Meskipun kamu bukan shawol sejati, tetap saja, terima kasih karena mencintai Jonghyun, suaranya, dan segala tentang dia ^^

  5. Hii ayin salam kenal aku Mita. Aku mencari blog untuk lirik lagu jonghyun shinee. Lalu aku menemukan ini. Aku fikir kisah mu tadi sangat menyentuh. Aku mendoakan kamu bahagia dan tidak terluka. Tidak apa – apa kalau kau ingin menjadi diri sendiri. Jangan patah semangat. Bersinarlah.

    Yah, semua orang yang mencintai Jonghyun Oppa sedang berada dalam keadaan sulit sekarang. Akupun juga begitu. Butuh waktu untuk benar – benar bisa menerimanya. Namun, mari bertahan dan belajar dari rasa sakit ini.

    • Hai Mita.. salam kenal ^^ aku sangat senang kau menemukan rumah sederhanaku ini di dunia maya, ku mohon sering – sering lah untuk berkunjung kesini ^^

      Ya, blog ini memang aku dedikasikan untuk 5 pria bersinar kesayanganku.. ^^ Jujur, aku benar – benar sempat merasa seperti orang sinting, sangat berat rasanya ketika merasa di kepala ini ada yang di pikirkan tapi sebenarnya pikiran itu kosong, tp di waktu bersamaan hati terasa sakit dan rasanya ingin marah. aku benar – benar mendapatkan waktu yang sangat sulit saat kepergian Jonghyun..

      Mungkin karena kondisiku yang begitu labil itulah yang membuatnya mengunjungiku.. dia benar – benar membantuku untuk tetap menulis karena menulis adalah dunia yang sangat aku sukai.

      Aku berjanji tidak akan kemana mana, aku berjanji akan menulis cerita fiksi dengan tokoh utama 4 pria bersinar dan 1 malaikat bersinar, aku juga berjanji akan selalu menerjemahkan setiap lagu lagu mereka sampai nanti kesepuluh jariku sudah tidak bisa menari dengan lentur di atas keyboard lagi ^^

      terima kasih untuk dukungannya yang hangat, aku juga mendoakan agar kau selalu bahagia dan mendapat banyak cinta dari orang – orang di sekitarmu ^^

  6. hi, salam kenal. aku juga ga sengaja nemu blog ini. aku sangat suka tulisanmu. aku senang sekaligus sedih membaca ini. senang karena berkat tulisanmu, aku tau bahwa jonghyun sudah tenang di sana. sedih karena entah kenapa kepergiannya masih menyisakan luka. meski begitu kita harus ikhlas untuk kebahagiaan jonghyun juga. terima kasih sudah memberitahu kami tentang kisahmu bertemu jonghyun dalam mimpi, terima kasih sudah menyampaikan pesan jonghyun untuk shawol dan semua orang yang dicintainya.
    satu hal lagi kisahmu membuatku merasa tersentuh. seperti kata jinki, ingat lah satu hal. ada orang yang selalu mencintaimu lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri.
    semangat yaa, teruslah menulis.. kamu sangat keren. aku menunggu untuk membaca tulisan-tulisanmu selanjutnya.
    oh ya, apa aku boleh membagi ceritamu ini di akun media sosialku? aku ingin shawol yang lain membaca tulisanmu.

    • Hallo sungrin.. ^^
      aku senang kau menemukan rumah sederhanaku ini, sering seringlah mampir 🙂

      kau tahu? tulisan Imagination ini awalnya benar – benar hanya sebuah imajinasiku. aku membuatnya karena perasaanku yang tidak mudah menerima bahwa Jonghyun benar – benar sudah pergi, jadi mencoba menulisnya.. tapi belum sampai satu halaman, aku terhenti. Perasaan marah, bingung, hampa, dusta semua menjadi satu. “Untuk apa aku menulis imajinasi sampah seperti ini? dia sudah pergi bahkan dia tidak pernah tahu bahwa kau menyayanginya, ini tidak berguna. ini hanya akan menjadi cerita yang rancu, konyol” kalimat ini selalu terngiang di telingaku.

      Tapi, tepat 1 hari setelah pemakaman Jonghyun, dia benar – benar menemuiku melewati sebuah mimpi. dia bilang aku terlihat sangat gelisah, aku marah padanya, aku penasaran dengan keputusannya, itulah kenapa ia menemuiku. ia ingin membantuku. itulah yang akhirnya menjadikan tulisan ini sebagai tulisan berdasarkan kisah nyata. karena Jonghyun lah yang secara tidak langsung membuat tulisan ini. Jonghyun yang membuat ini terjadi.

      dia memintaku untuk benar – benar mempublish tulisan ini, dia ingin lewat tulisan ini pesannya untuk semua penggemar bisa tersampaikan. Untuk itulah, aku berjanji bahwa aku akan terus menulis dalam waktu yang panjang. Aku tidak akan lari kemanapun dari dunia penulis, aku juga tidak akan pernah meninggalkan SHINee dan SHINee World. Aku berjanji akan terus menjadi penulis, hingga jemariku tidak lagi terampil berdansa di atas keyboard laptopku. aku berjanji ^^ terima kasih untuk dukungannya.

      Oh, dan untuk membagi cerita ini. Ya, tentu saja 🙂 karena memang itulah yang di inginkan Jonghyun. mohon cantumkan nama blog ini ketika berbagi ^^ sekali lagi, terima kasih banyak ^^

  7. Hallo.. aku bukan penggemar shinee sepertimu tapi cukup familiar dengan “nama” mereka.. awalnya aku tidak tahu seperti apa mereka tapi kemudian aku mendengar berita kepergian jonghyun dan itu membuatku sedih.. aku tau seperti apa rasanya semua kesakitan itu karena aku juga sama seperti dia.. tp begitu aku tau cerita tentang jonghyun ini aku jadi mengerti seperti apa aku harus menjalani hidup.. bukan untuk menyerah tp untuk melanjutkannya dengan berani.. kamu juga aku harap bisa kembali menulis.. jujur aku suka dan jatuh cinta pada tulisanmu.. aku akan sering membacanya.. aku mengkhawatirkan jinki karena aku sempat memimpikannya.. tp semoga dia baik2 saja..

    • Hallo.. selamat datang di rumahku yang sederhana ini ^^ sering sering lah untuk mampir kemari, rumah sederhana ini terbuka untuk semua orang 🙂

      terima kasih karena turut berduka atas kepergian Jonghyun kami. Ya, kami memang sedang menghadapi waktu yang sangat sulit sekarang. Dengan begitu tiba – tiba, 5 bintangku di genapkan menjadi 4.. dan itu membuatku sangat sedih dan khawatir. Tapi dari semua ini, dan setelah mendapatkan bantuan dari Jonghyun seperti ini, aku berjanji akan terus menulis untuk waktu yang panjang sampai jemariku tidak terampil lagi untuk berdansa di atas keyboard laptopku. terima kasih untuk dukungan dan cinta yang kalian berikan untuk kami yang begitu rapuh ini, semua itu akan kami gunakan sebagai kekuatan kami untuk kembali bangkit dari kesakitan ini dan juga untuk melindungi 4 bintang kami yang tersisa agar tidak kehilangan sinarnya. terima kasih 🙂

  8. Hallo, senang bertemu denganmu authornim. Aku benar benar tersentuh dengan ceritamu dan aku juga iri karena Jonghyun menemuimu dalam mimpi. Aku juga berharap oppa akan menemuiku dalam mimpiku malam ini. Hampir setiap hari sampai detik ini aku belum bisa berhenti menangis, aku masih merindukannya. Aku harap apa yang kau tulis dalam ceritamu bahwa Jonghyun sudah bahagia sekarang adalah benar. Bagiku kebahagiannya adalah yang terpenting. Terima kasih karena sudah menulis cerita ini, aku benar benar merasakan ketulusannya seolah olah yang kubaca ini adalah nyata. Aku sangat berterima kasih pada seluruh Shawol di dunia ini dan juga SHINee yang selalu mencintai Jonghyun, tolong jangan lupakan pria itu dan musiknya. Sejujurnya aku menyayangkan kepergianya karena ia adalah seorang penyanyi yang berbakat. Tapi Tuhan lebih menyayanginya dan tidak ingin ia terluka lebih lama. Jadi aku sangat berterima kasih karena cinta yang sudah kalian berikan untuk Jonghyun kita semasa hidup sampai akhir hayatnya. Aku tahu dia tidak pergi jauh dari kita, sekarang ia ada di hati kita melindungi hati kita yang terluka. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan lagi, tapi tolong jangan berhenti menulis. Mungkin Jonghyun akan sedih jika kau melakukan itu….. Tulisan yang kau buat ini benar benar menyentuh hatiku.

    • Hallo.. bigboss 🙂
      terima kasih sudah mengunjungi rumah sederhana ku ini, sering sering lah mampir kemari.. ^^

      terima kasih karena telah membaca tulisanku ini, ini adalah pesan dari Jonghyun untuk semua shawol, aku sangat senang kalau pesan yang dititipkannya padaku bisa sampai ke kalian.

      Ya, aku berjanji akan terus menulis dalam waktu yang panjang.. aku akan terus menulis untuk SHINee dan SHINee World. Aku akan terus menjadi penulis sampai jemariku tidak bisa lagi berdansa di atas keyboard laptopku, aku berjanji.. 🙂

      terima kasih dukungannya, dan terima kasih karena telah menyukai tulisanku 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s