Inspired [Part. 1]

Title : Inspired [Part. 1]

Inspired by : Jonghyun’s Upcoming Solo Concert ‘INSPIRED’

Cast : SHINee Jonghyun

Genre : Fluff

Rate : NC-17

Length : Drabblet – 751 words

Written by : Ayin Perdana


Finally he got his inspiration

 

Oh dear~” entah sudah yang keberapa kalinya aku selalu menggelengkan kepalaku saat masuk ke kamar pervy gentleman ini di setiap pagi, “kenapa kau selalu dalam keadaan sedang tidur malas – malasan seperti kucing setiap kali aku datang, Jjong?”.

“Hai.. sayang”. Kulihat ia beringsut sedikit sambil meregangkan badannya—lagi – lagi ia tidur dengan keadaan topless—kemudian dengan smirk andalannya ia membuka sebelah matanya, “emm.. mungkin karena aku ingin memberimu kesempatan/?”.

Aku mengerutkan keningku bingung, “maksudnya?”.

“Kalau aku masih tidur saat kau datang, aku bisa memberimu kesempatan untuk mencium bibirku, bahkan melumatnya jika kau mau”.

Eh brengsek. Dia bahkan mengatakannya dengan nada yang santai, sangat santai. Aku hanya meresponnya dengan memutar bola mataku sebelum membalik badan ingin berjalan menuju gorden dan membukanya, namun belum ada satu langkah—lagi dan lagi—entah kapan salah satu tangannya yang kekar itu menangkap tanganku kemudian menariknya sampai akhirnya badanku terhempas ke tempat tidurnya yang besar dan empuk itu. Dan entah kapan juga ia sudah berada diatas tubuhku seperti ini, membuat mataku dapat melihat tubuh kekar keparatnya itu dengan dekat. Ya, sedekat ini.

“Jjong.. jangan coba – coba melakukan yang tidak tidak. Aku ingin membuka gorden kamarmu, ini sudah pagi, tuan Kim Jonghyun”.

Ia terkekeh nakal, “memangnya kenapa kalau sudah pagi? Bukannya kita sudah sering bermain tanpa mengenal apa itu pagi, dan apa itu malam? Heemm?”. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil tetap memasang tatapan nakalnya kemudian berbisik, “Ini memang sudah pagi, sayang.. tapi sekarang sedang hujan sangat deras, dan dingin” ia memainkan telunjuk jari nakalnya untuk mengusap bibirku, “we need something warm, hunn”.

Tanpa waktu yang lama bibirnya yang merah dan tebal itu langsung berhasil mengunci bibirku. Aku bisa merasakan tubuh atasnya yang telanjang itu mendekap tubuhku dengan begitu erat sampai rasanya sangat susah untuk bergerak, otot lengannya yang kekar terasa mengeras ketika melingkar di kedua sisi kepalaku. Rasanya aku ingin menertawakannya ketika aku mendengar ia mendesis di tengah lumatan bibir nakalnya saat jemariku menyentuh nipple mungilnya—sialan, berani sekali ia membalasku dengan mengigit bibir bawahku? Membuatku mengerang dengan bibirku yang masih terkunci rapat—ketika tanganku membelai nakal dada bidangnya.

Kurasa ia tidak akan bisa kukendalikan jika aku tidak menghentikan permainan kecilnya ini sekarang. Ketika ia ingin melancarkan aksi tangan nakalnya yang mencoba menyusup ke dalam celana ku—tidak, aku sedang tidak ingin bermain hari ini—aku langsung meraih tangannya kemudian dengan sekuat tenaga melepas lumatan bibirnya yang membuat kami berdua bernafas sedikit terengah engah.

“Kau ingin membuatku mati dengan kehabisan nafas ya?”.

Ia terkekeh kemudian merebahkan tubuhnya disampingku, “ada apa sayang? Kau datang sepagi ini, ini bahkan bukan jadwal work out-mu kan?”.

“Pendingin ruangan di apartmentku sedang rusak dari kemarin”, aku menggeser tubuhku sedikit lalu bergelayut malas di dalam dekapannya, “sebenarnya dari kemarin malam aku ingin mengungsi kemari, tapi sudah larut.. aku sudah terlalu takut untuk keluar”.

“Kau bisa memintaku untuk menjemputmu.. kenapa kau tidak menelponku?”, ia memainkan anak poniku, “kasihan sekali wanitaku ini, cup cup”.

“Hey, aku bukan anak kecil, tahu?”, aku mencubit ringan hidungnya. Aku mengambil ponselku dari dalam saku celana kemudian menyalakan layarnya, “Ah, benar juga. Aku sudah melihat poster untuk konser solo-mu di bulan depan, eemm.. Inspired?”.

Uh huh”, ia menganggukkan samar kepalanya, “bagaimana menurutmu?”.

“Apanya? Aku bahkan belum terlalu mengerti kenapa konsermu ini bertajuk Inspired”.

Ia mengangkat kedua alisnya, “Yaa.. karena aku sudah terinspirasi”.

“Oh ya? Wah, seniman mana yang akhirnya berhasil memberikanmu inspirasi?”, aku menggeserkan jempolku di layar ponsel untuk melihat photo selanjutnya, “kalau di lihat dari poster yang satu lagi, yang ada photomu ini, sepertinya ini akan menjadi konser sensual keparatmu lagi bukan?”.

Ia terkekeh meresponku, “bukan seniman, sayang. You are”.

“Hah?”.

Ia memiringkan sedikit kepalanya, kemudian ia memiringkan tubuhnya dan menatapku dengan smirk keparatnya sambil sumringah memamerkan sederet gigi putihnya “benar kan? Aku sudah berhasil membuatmu merebut virginitiku, sekarang tinggal membuatmu benar – benar jadi milikku saja. Membuatmu mengandung anakku misalnya?”.

Eh brengsek. Apa tadi katanya? Merebut keperawanan? Aku? Aku yang merebutnya?

Aku membelalakkan kedua mataku, “what?! Aku.. merebut apa? Dan apa yang baru saja kau katakan tadi, Kim Jonghyun? Membuatku mengandung.. apa? Waaaah, pikiran bodoh darimana asalnya itu, heey?!”.

Aku langsung mengambil gerakan cepat kemudian memukul – mukul wajahnya dengan bantal yang hanya di responnya dengan tertawa lepas. Tangannya yang berusaha menghalangi bantal mengenai wajahnya akhirnya berhasil meraih bantal itu menyingkirkannya sebelum kedua tangannya mendekap tubuhku ke pelukannya.

Aku hanya bisa menggelayut manja di pelukannya kalau sudah seperti ini, well, aku selalu kalah darinya.  Ia mengecup puncak kepalaku sambil tangannya sesekali mengusapnya,“Finally I got my ispiration, hunn. It’s you. Well, it has to be you”.

 

END.

Advertisements

4 thoughts on “Inspired [Part. 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s