Sweet Cherry Kiss

cherry-love-cupcakes

Title : Sweet Cherry Kiss
Inspired by : Blingers’s Group Line Chat [AGAIN. LOL xD]
Cast : SHINee Jonghyun
Genre : Fluff
Length : Drabblet
Written by : Ayin Perdana

Sweet cherry kiss..

“Ting tong..”
.
.
“Ting tong..”
.
.
“Ya~~ tunggu sebentar”. Aku langsung menghentikan aktifitasku menghias cupcake, terus terang aku berniat untuk mengabaikan bunyi bell itu andai bunyinya itu tidak menggangguku.
Aku berlari kecil menuju pintu lalu membukanya, “Oh, Jonghyun Sunbae” aku mengangkat kedua alisku sembari memiringkan kepala mengisyaratkannya masuk, “masuklah”.

“Oh tuhan, hanya itukah sambutan yang kudapatkan dari kekasihku?” sekilas ia melepaskan sepatunya dan menaruhnya asal kemudian berjalan mendahuluiku, “Apa kau tidak tahu pagi – pagi begini aku kemari hanya untuk bisa mem..” ia berhenti mendumel ketika ia mencium aroma cupcake yang baru saja matang dari arah dapurku, “aroma ini.. kau membuat cupcake?”.

Aku mengangguk ringan, “Yup”.

“Kau sudah membuatnya? Dan tidak menungguku?”.

“Hah?”.

Ia membelalakkan mata, “Bellaaaaa.. aku sudah memberitahumu untuk menungguku datang agar kita bisa membuat cupcake itu bersama. Kau tidak melihat dua kantung belanja yang kubawa ini? Aku ini koki terkenal dengan signature dish Cake and Pastry” dengan wajah cemberut ia mengangkat kedua tangannya yang membawa kantung belanja berisi bahan untuk membuat cupcake. Aku mencoba menahan tawa saat melihat ekspresi cemberutnya itu, bagiku lucu. Well, cute.

Aku mengangkat bahu, “kau masih bisa menemaniku untuk menghias cupcakenya, Cheff Kim Jonghyun”, aku mengambil kantung belanja di tangannya, “Ayo ke dapur, aku akan membuatkanmu kopi”.

“Ngomong – ngomong kau sudah menakar butter-nya dengan akurat kan? Kau harus menakarnya dengan alat takar digital untuk meng..”

“Sunbae..” aku memotong kicauannya, “aku sudah memiliki pengalaman satu tahun dalam membuat cupcake”. Aku meletakkan cangkir ke hadapannya yang telah duduk di pantry kemudian menuangkan kopi yang telah ku seduh sebelum ia datang, “Ini kopinya, aku ingin ke kamar sebentar mengambil ponselku”.

Aku baru saja ingin melangkahkan kaki ke kamarku sebelum tangannya tiba – tiba melingkari pinggangku dan membuatku terkejut, “Heeii.. aku ini tunanganmu, chagiii. Kita sudah tidak bisa terlalu sering bertemu karena sibuk, kenapa sikapmu biasa – biasa saja padaku? Kau bahkan tidak memberi ciuman untukku sejak tadi aku datang~!! Kecupan di pipi saja tidak~~!” ia memanyunkan bibirnya seperti anak kecil, ya tuhan laki – laki ini kenapa manja sekali sih? aku mengacak rambut hitam berponinya yang sangat lucu itu kemudian kengecup sekilas pipinya yang chubby, “Ini. Sudah kan?” aku menjulurkan lidah jahil padanya.

Ia melongo, “Di pipi? Hanya di pipi?”.

“Bukannya tadi kau bilang di pipi?”, tanyaku santai.

Ia menghela nafas, “Oh tuhan.. aku bingung pada diriku sendiri, kenapa aku bisa jatuh cinta denganmu Bella. Aku bahkan sudah melamarmu, aigoo~” ia merengek sambil menggoyangkan badannya, benar – benar seperti anak kecil.

Aku melepaskan tangannya yang melingkari pinggangku, “Harusnya aku yang bertanya begitu, kenapa aku bisa jatuh cinta bahkan sampai menerima lamaran seorang pria manja seperti kau”.

“Jawabannya sederhana, karena aku sangat tampan” sahutnya dengan begitu percaya diri, aku meresponnya dengan menjentikkan jariku ke keningnya, membuat meringis pelan dan memasang raut wajah sebal.
“Terserah kau saja, cepat minum kopimu.. sayang. Aku ingin mengambil ponselku”.

~***~

“Astaga!” Jonghyun langsung menjauhkan cangkir kopi itu dari dirinya sejauh mungkin, matanya menyipit dan keningnya berkerut tebal setelah menyeruput secangkir kopi di minggu pagi itu, “Bella~ kopi ini pahit sekalii~~”.

Aku berlari kecil mendatanginya ke dapur sambil memiringkan kepalaku bingung, aku sangat yakin sudah memasukkan gula ke dalam kopinya.

“Pahit sekali, aku tidak suka rasanya. Bibirku jadi terasa gatal”.

“Hah?” keningku mengerut, “aku yakin telah memasukkan gula ke dalam kopimu, Jonghyun sunbae”. Aku bermaksud ingin mengambil cangkir kopi itu, “biar kutambahkan lagi gulanya”.

“Tidak mau! Tidak usah, aku sudah terlanjur tidak suka dengan rasanya”.

Aku memutar bola mata,—seperti inikah watak koki pria terkenal di bidang Cake and Pastry seperti yang sering ia banggakan itu?—kemudian berjalan menuju arah kulkas, bermaksud ingin mengambilkannya madu, selai, coklat, marshmallow atau apapun agar membuatnya berhenti mendumel sebelum ia yang tiba – tiba menarik tanganku dan meraih bibirku—lagi lagi tanpa aba-aba—kemudian menempelkan bibirnya disana. Licik, aku tidak mengerti darimana ia belajar ilmu licik seperti ini, tapi aku akui caranya ini benar – benar curang. Merengek seperti anak kecil bahwa rasa kopinya terlalu pahit hingga membuat bibirnya terasa gatal hanya untuk menjadikannya alasan untuk menciumku.

“Nah, sekarang sudah manis rasa cupcake cherry”, ia mengusap bibirku yang basah karena lumatan lembutnya. “Bibirmu tidak ikut pahit, kan?”.

END.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s