Please, Understand Me..

PhotoGrid_1493511467197

Title : Please, Understand Me..
Cast : SHINee Jonghyun
Inspired by : Jonghyun’s tattoos, Jonghyun – Lonely [Feat. Taeyeon]
Genre : Sibling’s life
Length : Vignette
Written by : Ayin Perdana

날 이해해줘..
Please, understand me..

 

April 29th 2017

“Eomma~!! Eomma~!! Eomma kau dimana?? Eommaa~~!!”. Jonghyun menutup pintu apartmentnya yang mewah itu, meletakkan kunci Lamborghini-nya ke atas mini buffet di ruang tamunya, kemudian bergegas masuk melewati ruang tamu untuk mencari sosok ibunya.

“Eomma~~!!! Eom..”.

“Ya tuhan, Jonghyun’ah~” sang ibu hanya bisa menghela nafas sesaat setelah ia mendapati Jonghyun diruang tengah yang setengah berseru memanggilnya. “Rumah kita tidak sebesar istana presiden, bukan? Tidak perlu berteriak seperti itu memanggil ibu.. hey, ibu ini masih belum tuli”.

Jonghyun langsung terkekeh lalu mengecup kening ibunya, dengan wajah yang masih sumringah, dan dengan satu kali nafas ia langsung mengatakan apa yang daritadi ingin di katakannya kepada sang ibu “Eomma, aku telah selesai membubuhi tattoo ditubuhku”.

Sang ibu mengangkat kedua alisnya, “Benarkah?”.

Jonghyun menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, ia dengan lekas melepaskan Hoodie-nya hingga terlihat sleeveless hitam yang kenakannya, kemudian memperlihatkan tattoo barunya kepada sang ibu, “Lihat ini, eomma. Aku mendapatkan tattoo di lengan kiriku, tepatnya di lima sentimeter diatas siku, tulisannya adalah Inspiration, sama dengan tema konser solo kemarin bukan? Aku juga mendapat tattoo di lengan kananku, tapi aku taruh di bagian dalam lengan bertuliskan Never The Less. Ah~! aku juga mendapatkan tattoo disini, aku menulis Story Op.1.2. disini. Ibu, kau tahu? Aku sempat meringis ketika ahli lukis tattoo mengukirkan tattoo ini di tubuhku, aku juga..”

“Jonghyun’ah” sang ibu menyela Jonghyun yang saat itu masih semangat menceritakan pengalamannya saat men-tattoo tubuhnya.

“Ya, ibu?”.

Ibunya menghembuskan nafas sejenak kemudian melanjutkan, “Yoonsu sudah mengetahui tentang hal ini?”.

Jonghyun menatap kedua mata ibunya, bermaksud mencari pengertian dari pertanyaan ibunya itu, karena ia merasa tidak mendapat penjelasan apapun dari mata ibunya, membuat Jonghyun akhirnya berkata “Aku sudah meminta izin pada ibu untuk men-tattoo tubuhku, bukan? Aku pikir ibu yang memberi tahu Yoonsu kalau..”

“Dia memiliki hak untuk mengetahuinya langsung dari Oppa-nya sendiri, Jonghyun’ah. Dia adikmu dan kau sangat dekat dengannya” sang ibu kembali menyela. “Ibu pikir lebih baik kau yang menjelaskan ini langsung kepadanya, sebelum ia yang mengetahuinya sendiri..”.

~***~

Jonghyun sedang memainkan beberapa nada di tuts piano klasik yang terletak di ruang tengah rumahnya, sesekali ia melihat kearah jam yang saat ini telah menunjukkan pukul 10.00 malam, membuatnya bergumam pelan, “apa dia lembur lagi malam ini..?”.

Baru saja Jonghyun ingin beranjak dari kursi kecil di depan piano yang dimainkannya, tiba – tiba ada sepasang lengan yang melingkari tubuhnya dari belakang, yang langsung membuatnya tersenyum ketika indra penciumannya menangkap aroma parfum cherry.

“Kau menungguku lagi, Oppa?”.

Jonghyun meraih kedua tangan yang memeluk bahunya sembari tersenyum, “Aku baru ingin menelpon dan menjemputmu, dongsaeng’ah”.

Yoonsu tersenyum kemudian memberi kecupan ringan di pipi kiri sang kakak, “Oppa, aku bukan anak sekolah lagi..” Yoonsu menyentil ujung hidung Jonghyun sembari duduk di sampingnya, membuat Jonghyun terkekeh. “lagu apa yang tadi Oppa mainkan? Melodinya terdengar asing ditelingaku, Oppa sedang membuat lagu baru?”.

Jonghyun mengangguk, “Uh huh, aku sedang dalam tahap menggarap album baru.. kau mau mendengarkannya?”.

Yoonsu hanya mengangguk tersenyum, saat Jonghyun ingin meraih kertas bertuliskan beberapa partitur di depannya tanpa sengaja mata Yoonsu menangkap sesuatu yang terpampang di lengan kiri Jonghyun seperti sebuah tulisan yang menempel di kulit tubuhnya, membuat Yoonsu reflek menyentuh tulisan itu dengan jemarinya.

Inspiration..” Yoonsu mengejanya perlahan kemudian melanjutkan, “You’ve got.. a tattoo?”.

Suara pelan Yoonsu praktis membuat Jonghyun menghentikan kegiatannya, membuat Jonghyun menatap wajah Yoonsu dengan sedikit berhati – hati. Masih menatap Yoonsu, Jonghyun bermaksud ingin menangkup wajah sang adik dengan kedua tangannya sebelum menjawab pertanyaan adiknya itu. Tapi baru saja Jonghyun ingin menjawab pertanyaan Yoonsu, ekor mata Yoonsu tak sengaja telah lebih dulu menangkap satu tattoo lain yang terukir di bagian dalam otot lengan kanannya dan satu lagi di bagian lengan kiri di dekat telapak tangan , membuat Yoonsu kembali mengajukan pertanyaan bahkan sebelum Jonghyun menjawab pertanyaan pertamanya, “So it’s not only one tattoo but..”.

“Sayang.. Oppa bisa..”.

Why you didn’t tell me about.. this? Why you didn’t tell me that you want to tattooing your body?” Yoonsu langsung menyela bahkan tanpa memberikan kesempatan Jonghyun untuk bernafas.

Entah apa yang membuat Yoonsu merasa tidak nyaman saat itu, yang pada akhirnya membuatnya bangkit dari kursi piano yang tadi dudukinya dengan Jonghyun. Perlakuan Yoonsu membuat Jonghyun sedikit terkejut, “Yoonsu’ya, duduklah sebentar.. Oppa akan..”.

“Maaf” Yoonsu langsung memotong perkataan Jonghyun dengan tergesa – sega, ia bahkan mundur selangkah ketika Jonghyun ingin mendekatinya, “sepertinya aku sudah harus pergi sekarang” Yoonsu langsung bergegas mengambil tasnya kemudian mengambil langkah lebar menuju pintu keluar sebelum akhirnya Jonghyun meraih lengan Yoonsu.

“Kau mau kemana di jam yang sudah larut seperi ini? Bahkan kau baru saja pulang Yoonseo’ah”.

“Itu.. aku..” Yoonsu berbicara dengan terbata sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan Jonghyun di tangannya dengan cara memutar tangannya perlahan, tapi hal itu sia – sia. Setelah Jonghyun tanpa sengaja melonggarkan cengkramannya, Yoonsu langsung mengambil kesempatan itu untuk lepas dari genggaman Jonghyun sebelum melanjutkan, “Aku, ingin pergi untuk perjalanan bisnis ke luar negri”.

“Apa?”.

“Ya..” Yoonsu berusaha terlihat santai, “Perusahaan memintaku untuk membantu cabang perusahaan di London. Tadinya aku kemari untuk memberi tahumu dan ibu, tapi sepertinya ibu sudah tidur sekarang jadi Oppa bisa memberitahukan pada ibu besok pagi, kan?” Yoonsu membenarkan tali tas yang menggantung di tubuhnya, “Asisten besok pagi – pagi sekali akan kemari untuk mengemaskan koperku, aku pergi”.

“Aku tidak mengizinkannya” Jonghyun berkata dengan suara yang terdengar tegas dan kembali mencengkram tangan Yoonsu, “London terlalu jauh, Yoonsu’ya.. aku tidak bisa mengawasimu”.

Yoonsu mencelos, “Kau tidak perlu mengawasiku..! Oppa, ku mohon, aku bukan anak – anak beru..”

“Aku wali-mu, Yoonsu’ya!” Jonghyun yang tidak dapat menahan emosinya tanpa sengaja setengah berteriak pada Yoonsu, membuat Yoonsu sedikit tercekat. “Sebagai wali-mu aku tidak bisa mengizinkanmu pergi sejauh itu, tidak bisa. Aku akan mengurusnya, jangan khawatir. CEO di perusahaanmu adalah kenalan baikku dan..”.

“Terkadang aku benar – benar iri padamu, Jonghyun oppa..”.

Jonghyun langsung terdiam saat Yoonsu melontarkan kalimat bernada datarnya, “Apa.. maksudmu?”.

“Terkadang sangat ingin rasanya bisa memiliki posisi sebagai dirimu di rumah ini..” Yoonsu menatap tajam Jonghyun dengan kedua matanya yang mulai berkaca – kaca, “kau bisa melakukan apapun yang kau mau tanpa meminta persetujuan siapapun. Oke, kau selalu meminta izin ibu karena itu untuk menunjukkan rasa hormatmu, tapi kau tidak pernah meminta persetujuan dariku karena kau yakin aku akan selalu mendukung pilihanmu. Termasuk dengan keputusanmu membuat tubuhmu di tumpahi tinta seperti ini..”

“Yoonsu’ya.. aku..”.

“Aku tahu..!” Yoonsu langsung menyela sambil langsung menutup kedua matanya dengan emosi, “aku ini hanya seorang adik bagimu, aku tidak memiliki hak apapun untuk melarangmu berbuat apapun yang kau suka. Tapi oppa, bagaimana kalau kau membiarkan aku sekali ini saja? Aku juga ingin berbuat sesuka hatiku sekali ini saja, jadi ku mohon.. jangan melarangku untuk pergi, lepaskan tanganku sekarang”.

Jonghyun melepaskan cengkramannya dengan  di tangan Yoonsu bersamaan dengan jatuhnya butiran kristal yang menyentuh wajah pucat Yoonsu. Selama ia hidup, malam ini adalah yang pertama kalinya bagi Jonghyun melihat Yoonsu meneteskan air mata karena dia. Jonghyun sangat ingin merengkuh tubuh adik perempuannya itu sekarang tapi ia dengan segenap tenaga mengurungkan niatnya itu, ia tahu jika ia melakukannya Yoonsu pasti akan makin menjauhinya, atau yang lebih parah, ia benar – benar akan kehilangan kedekatannya dengan sang adik dan berubah menjadi seperti orang yang tidak saling kenal. Tidak, Jonghyun tidak menginginkan hal konyol itu terjadi.

Saat Yoonsu membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu, Jonghyun kembali mencoba untuk menahannya sesaat dengan menanyakan sesuatu pada Yoonsu, “berapa lama.. berapa lama kau akan melakukan perjalanan dinasmu?”.

Yoonsu memalingkan sedikit wajahnya, “Entahlah.. tapi setahuku akan menyita waktu lama.. maybe.. 6 months”.

“Apa?! Yoonsu’ya aku mohon.. aku tidak bisa membiarkanmu pergi selama itu.. aku tidak..”.

“Aku pergi” Yoonsu menyela sekaligus langsung memalingkan wajahnya untuk tidak menatap Jonghyun, “Selamat malam, Oppa”.

 

May 3rd 2017

“Jonghyun’ah~!! Kau sudah bangun? Ayo turun~ sarapanmu sudah siap” ibunya Jonghyun terlihat sedang melakukan aktifitas setiap paginya di dapur, sambil membawa sebuah mangkuk besar berisi sup ayam untuk diletakkan di atas meja makan ia berseru memanggil Jonghyun untuk turun. Ibunya Jonghyun baru saja ingin menuangkan susu ke dalam sebuah gelas sebelum terhenti karena melihat keadaan Jonghyun yang lumayan berantakan ketika ia telah turun kebawah dan berjalan menuju ruang makan.

“Omo. Ada apa denganmu, Jonghyun’ah?” sang ibu memandangi anak laki-laki satu – satunya ititu dengan keheranan, “kenapa matamu jadi sembab begitu? Seperti orang habis me… kau.. menangis?”.

Jonghyun tidak menjawab pertanyaan ibunya melainkan memilih untuk memijat keningnya yang dirasanya begitu pening.

“Tidak, maksudku.. itu, apa yang membuatmu sampai harus menangis begitu?” tanya ibunya lagi yang masih tidak bisa mengerti dengan kedaannya putranya. “Kau tidak sedang kena marah Jinki bukan? Atau..”

“Ibu…”

“Oh..?”

“Hari ini ulang tahun Yoonsu..” Jonghyun mengucapkannya dengan lirih bersamaan dengan jatuhnya butir bening ke wajah tampannya, “seharusnya hari ini aku bisa memeluk dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya.. but, she didn’t even answer my call” Jonghyun menghela nafas, “itu yang membuatku khawatir hingga akhirnya aku menangis semalaman seperti orang bodoh. Tapi memang aku ini bodoh kan?”.

“Dia akan menelponmu.. Jonghyun’ah.. tunggu saja”.

“Berapa lama, ibu? Ha?” Jonghyun menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal “berapa lama waktu yang di perlukan untuknya menyiksaku seperti ini? Aku ini oppa-nya, ibu….!”

“Cobalah untuk memahami situasinya sekarang Jonghyun’ah..”.

 

4 Months later

“Jjong, masih tidak ada kabar dari Yoonsu?”.

Jonghyun yang tengah duduk menyendiri di beranda dorm SHINee saat itu dengan perlahan memutar kepalanya kearah asal suara, “Oh kau, Onew hyung” Jonghyun tersenyum sambil menyambut secangkir teh panas yang di bawakan Onew untuknya, “gomawo hyung” Jonghyun menyeruput tehnya lalu melanjutkan, “Ya, masih tidak ada.. sama sekali”.

“Aku harap dia baik – baik saja..” Onew meletakkan cangkir kopinya ditangannya ke meja, “dan aku harap ia tidak mengangkat teleponmu karena dia benar – benar sangat sibuk”.

Yeah of course she’s fine” Jonghyun juga meletakkan cangkir tehnya ke meja lalu melanjutkan, “Aku sudah menelepon ke kantornya di London itu dan manajer disana bilang kalau dia baik – baik saja. Dia memang tidak menjawab teleponku karena sangat sibuk..”.

Onew menganggukkan kepalanya tanda mengerti, “Syukurlah.. setidaknya itu bisa mengurangi ke khawatiranmu, Jjong”.

“Yoonsu.. dia sangat senang ketika aku menyanyikan lagu untuknya di setiap kali aku menemaninya tidur ketika hujan turun sangat lebat”. Jonghyun memulai cerita.

“Ah ya, aku tahu tentang hal itu. kau pernah bercerita padaku kalau Yoonsu sangat takut dengan dengan suara petir”. Sahut Onew.

Jonghyun mengangguk, “Dia selalu berkata, ‘Oppa, kau harus menjadi seorang penyanyi. Aku ingin suara merdu Oppa-ku di perdengarkan di seluruh negeri ini’ di setiap aku selesai menyanyikan lagu untuknya. Dia adalah alasanku menjadi seorang penyanyi sekaligus penulis lagu seperti sekarang ini, Hyung. Aku hanya ingin membuatnya bangga memiliki seorang oppa bersuara merdu yang kini suaranya telah di perdengarkan di seluruh negeri ini, seperti apa yang di katakannya dulu”.

And you did it, Jjong” Onew tersenyum sambil menepuk pelan bahu Jonghyun, “percayalah, dia benar – benar bangga memiliki Oppa sepertimu”.

Jonghyun hanya tersenyum kecil sambil mengangkat bahu, “I hope so. Tapi aku sudah mengecewakannya karena tattoo tulisan di kedua lenganku ini, hyeong..” Jonghyun mengusap salah satu tattoo yang terukir di otot lengannya lalu melanjutkan “ia bahkan terlihat seperti sangat ketakutan ketika melihatku. Aku.. Baru kali itu ia menatapku dengan pandangan seperti itu, bahkan ia mundur selangkah dengan cepat ketika aku ingin mendekatinya”.

Jonghyun baru saja ingin kembali mengambil cangkir tehnya di meja sebelum ponselnya yang ia letakkan berdekatan dengan cangkir tehnya itu berdering dan layarnya menunjukkan.. “Yoonsu?!”.

Onew yang juga ingin kembali menyeruput kopinya langsung meghentikan aktifitasnya setelah mendengar nama Yoonsu, “Benarkah? Wah, kebetulan yang sangat dinantikan. Angkat saja jjong” Onew langsung mengambil langkah cepat untuk beranjak dari kursi yang tadi di dudukinya, “aku akan meninggalkanmu disini agar kau bisa bicara leluasa dengannya”.

Jonghyun hanya mengangguk sembari tersenyum merespon Jonghyun kemudian langsung mengangkat telepon dari Yoonsu dengan cepat, “Yoonsu..?!”.

“Mmm..” gumam Yoonsu di ujung sana, “ini aku, oppa”.

“Kau baik – baik saja?”.

“Kau baik – baik saja?”.

Kalimat tanya itu terlontar bersamaan, bedanya hanya nada Jonghyun lebih terdengar cemas.

“Aku baik – baik saja..” Yoonsu tersenyum tipis meskipun ia tahu Jonghyun tidak bisa melihatnya, “maaf baru menelponmu..”.

Jonghyun tersenyum tipis setelah mendengar suara Yonsu, “aku sangat mengkhawatirkanmu, Yoonsu’ya”.

Yoonsu mengangguk dan kembali tersenyum tipis, “aku tahu.. kau tidak mungkin menelpon manajer di kantorku setiap tiga jam dalam sehari jika kau tidak merasa khawatir, oppa..”.

“Apa? Kau tahu aku menelpon manajer di kantormu setiap tiga jam dalam sehari dan dia tidak menyerahkan teleponnya selama ini padamu? Kenapa dia sep..”.

“Aku yang memintanya..” Yoonsu menyela, “maafkan aku.. aku memang benar – benar sedang ingin sendirian.. dan menyibukkan diri”.

Jonghyun terdengar menghela nafas di ujung sana, “kau tahu, aku menyadari sesuatu selama kau berada sangat jauh dari sini”, katanya ringan. Jonghyun tersenyum kecil tanpa menghilangkan kesan sungguh – sungguh dalam suaranya, lalu melanjutkan, “aku rindu padamu”.

Mereka sempat terdiam sesaat setelah Jonghyun menuntaskan kalimatnya, setelah beberapa saat saling terdiam Yoonsu akhirnya memecah suasana dengan kembali memulai pembicaraan, “kau sendiri? Bagaimana keadaanmu, oppa?”.

“Sudah lebih baik.. jauh lebih baik?”.

Alis Yoonsu terangkat, “apa maksudmu? Sekarang oppa sedang sakit?”.

“Tidak, tidak” sela Jonghyun cepat sambil tertawa kecil lalu melanjutkan, “maksudku.. tidak bertemu denganmu selama ini sudah membuatku begitu gelisah dan uring – uringan, karena sejak kejadian malam itu aku tidak pernah lagi mendengar kabar darimu. Aku sudah terlalu terbiasa dengan sosok seorang adik perempuan manja yang selalu menyambutku saat aku pulang kerumah, tapi selama empat bulan ini aku tidak pernah merasakannya lagi..” Jonghyun menghapus butir kristal yang hampir jatuh dari sudut matanya, “aku benar – benar rindu padamu”.

Yoonsu tidak menjawab. Jonghyun bertanya – tanya apakah ia telah membuat gadis itu marah lagi. Apakah Yoonsu akan kembali menarik diri lagi darinya? Jonghyun benar – benar ingin mendapatkan semua jawaban itu, membuatnya dengan sangat hati – hati kembali memanggil Yoonsu, “Yoonsu’ya..”.

“Iya oppa.. aku masih disini” Sahut Yoonsu yang setelah itu kembali diam sejenak sebelum melanjutkan, “I miss you too.. believe me, I really miss you too. Aku juga sangat merindukanmu dan juga ibu.. aku tahu kau mencemaskan aku, sangat mencemaskanku..” Yoonsu menghela nafas sejenak, “tapi aku benar – benar memerlukan waktu untuk sendirian.. So, please.. understand me”.

“Ku mohon pulanglah, sayang..” kening Jonghyun berkerut, “aku bersedia melakukan apapun yang kau inginkan.. termasuk menghapus semua tattoo ini. Kalau memang itu bisa membuatmu kembali ke sisiku, menjadi sosok adik perempuan yang manja untukku, aku benar – benar akan melakukannya. Kalau perlu aku akan menggunakan teknologi laser un..”.

“Jjongie oppa..”.

Jonghyun langsung menghentikan perkataannya setelah mendengar nada suara itu. ya, nada suara manja yang sangat di rindukannya. Sekilas mulai nampak senyuman dari wajah tampan Jonghyun yang sedari tadi di penuhi dengan kecemasan, ia menarik nafas sejenak kemudian menjawab, “Ya?”.

It’s okay.. you don’t have to do it. Aku mengerti kau pasti sudah lama ingin mencoba menggambar tattoo itu di tubuhmu kan..? it’s okay for me, now. Really..” sahut Yoonsu di ujung sana yang terdengar lembut.

“Kupikir.. kau terlihat menjadi lebih tampan dan seksi setelah memiliki tiga buah tattoo itu”.

“..apa..?”.

But please, please.. oppa, three tattoos are enough. Please. Aku tahu aku tidak memiliki hak untuk melarangmu, tapi.. Aku merasa jadi.. tidak nyaman”.

Jonghyun tersenyum simpul “Okay, honey. Alright..”.

“Aku akan pulang beberapa minggu lagi, jadi untuk itu..” Yoonsu berhenti sejenak kemudian langsung melanjutkan kalimatnya, “Oppa tidak perlu cemas dan menelpon manajer di kantorku lagi, Okaay?”.

Jonghyun terkekeh pelan, ”Okay, honey.. okay. Maafkan aku, sepertinya Oppa-mu ini sudah membuatmu di olok – olok oleh semua orang di kantormu, ya?”.

Yoonsu hanya tersenyum “Baiklah, sepertinya sekarang aku harus menutup teleponnya” sesaat samar – samar Jonghyun mendengar Yoonsu seperti berbicara pada salah seorang karyawan di kantornya sebelum akhirnya Yoonsu kembali berbicara ke telepon, “Oppa, aku harus mengikuti rapat sekarang.. I will call you later, sampai nanti..”.

“Yoonsu’ya..”. Panggil Jonghyun lagi ketika Yoonsu ingin menutup telepon.

“Ya, oppa?”.

“Aku benar – benar senang akhirnya aku bisa mendengar suaramu..”.

Yoonsu tersenyum meski Jonghyun tidak bisa melihatnya, “Kau tahu bahwa aku sangat menyukai suara oppa yang begitu merdu itu, bukan..?” Yoonsu diam sesaat lalu melanjutkan, “aku juga sangat senang bisa kembali mendengar suaramu”.

Jonghyun mengangguk pelan. Dan sebelum ia benar – benar mengakhiri telepon dengan Yoonsu, ia kembali memanggil nama Yoonsu, “Yoonsu..”.

“Mm mm?”.

“Saranghae, dongsaeng’ah”.

Yoonsu tersenyum, “I love you too..”.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s