Am I in Love?

Am-I-Crazy-Or-Falling-In-Love-ikm201.png

Title : Am I.. in Love?
Inspired by : #AboutLove by Tere Liye
Cast : SHINee Taemin
Genre : Fluff
Length : Vignette
Beta Reader : Tytae Djamal
Written by : Ayin Perdana

 

Love is amazing..

 

“Aneh”.
Lee Taemin, ia selalu bergumam seperti itu ketika ia bertemu lagi dengan gadis itu. Diawali dengan pertemuan yang tak terduga di tempat yang juga tak tertuga, ia untuk pertama kalinya bertemu dengan gadis itu—tidak sengaja—ketika ia sedang duduk di halte bus untuk menunggu bus yang akan mengantarkannya pulang dari kedai kopi tempatnya bekerja sebagai seorang barista, di musim panas. Oh, Taemin sesungguhnya sangat membenci musim panas. Baginya musim panas itu sangat tidak nyaman, pengap dan membuatnya berkeringat. Taemin tidak suka jika tubuhnya berkeringat, tapi semua kebenciannya pada musim panas seakan sirna begitu saja ketika ia melihat gadis itu. Ia melihat gadis itu duduk sendirian di halte dengan kaki menyilang, sepasang earphone yang terpasang di telinga, dan sebuah buku bacaan yang membawa seluruh konsentrasi gadis itu ke dalam cerita yang ada di balam buku itu, ditambah dengan sinar matahari yang menyinari gadis itu, mampu membuat seorang Lee Taemin terpesona. Baru beberapa detik Taemin memandang gadis yang bahkan tidak sadar akan kehadiran Taemin disana, entah angin apa yang membelai hati Taemin—bahkan di musim panas yang tak berangin sama sekali—ketika itu hingga ia tiba – tiba menggumam dengan sendirinya, dengan suara pelan ia melontarkan sebuah kata “cantik”. Dan sejak itulah pikiran Taemin selalu dipenuhi oleh gadis itu.

Hari ini ia bertemu kembali dengan gadis itu, tapi kali ini bukan di halte bus melainkan di sebuah kedai kopi. Ya, gadis itu menjadi salah satu pengunjung di kedai kopi tempat Taemin bekerja hari ini. Entah bagaimana bisa gadis itu membuat Taemin selalu memikirkannya. Oh, Taemin bukanlah seorang laki – laki yang mudah jatuh cinta—Taemin bahkan tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama, ia menganggap itu hanyalah bagian dari mitos—dan ia juga bukanlah laki – laki yang mudah terpengaruh, tapi kenapa gadis itu langsung bisa mempengaruhi pikirannya untuk terpusat padanya.

“Apanya yang aneh?”. Jonghyun. Ia adalah rekan kerja Taemin, kehadirannya cukup membuat Taemin terkejut dan langsung mengerjap – ngerjapkan matanya.

“Eh? Oh, tidak, Hyeong. Aku tidak apa – apa”. Sahut Taemin cepat.

Jonghyun tersenyum tipis, “Kurasa tadi aku tidak melontarkan kalimat tanya ‘Apa kau tidak apa – apa’”.

“Eh? Oh, itu..”. Taemin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kalau yang kau maksud ‘aneh’ adalah gadis yang sedang duduk sendirian di pinggir dinding kaca sambil membaca novel dan memasang earphone di telinganya itu, berarti ada sesuatu yang salah di bagian otak di dalam kepalamu”. Jonghyun menyentil kepala Taemin dengan sebuah sedotan sebelum ia menaruhnya kedalam sebuah gelas berisi lemon juice yang kemudian di ambil oleh pramusaji.

Taemin menoleh kearah Jonghyun, “Maksudnya?”.

Jonghyun mengangkat bahu, “karena gadis itu bukan ‘aneh’ tapi ‘cantik’. Kau tidak sedang mengalami gangguan pada indera penglihatan, bukan?”.

“Tentu saja tidak, Hyeong” Taemin tertawa hambar, “justru karena dia cantik..”.

Jonghyun mengerutkan kening tidak mengerti, “Kenapa kalau dia cantik? Bukannya itu sebuah keberuntungan untuk kita karena masih bisa melihat sosok cantik di musim panas seperti ini, dia bahkan bisa membuat musim panas yang benar – benar panas ini menjadi sejuk seperti musim semi”. Jonghyun terlihat berpikir sejenak kemudian melanjutkan dengan nada di pelankan, “kau bukan seorang yang eerr.. maksudku.. itu.. menyukai sesama jenis?”.

Taemin langsung membelalakkan matanya kemudian mendorong Jonghyun, “astaga, Hyeong?! Tidak! Tentu saja tidak. Kenapa kau bisa tiba – tiba memiliki pikiran seperti itu?”.

“Aku kan hanya mengira – ngira” Jonghyun mengangkat bahu.

“Yang kumaksudkan aneh disini adalah aku” Taemin menaruh gelas terakhir yang baru selesai di lapnya ke dalam lemari dibelakangnya, “Aku sudah pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya, di halte bus tiga hari lalu saat aku ingin pulang”.

“Lalu?”.

“Aku melihat dia sedang duduk sambil membaca sebuah novel dan mendengarkan musik, persis seperti itu. Cara duduknya yang menyilang.. rambut panjangnya yang terurai.. sinar matahari yang menyinarinya.. aku terpesona melihat kombinasi semua itu. Tapi.. entahlah, mungkin itu hanya dikarenakan cuaca yang tiba – tiba menjadi tidak terlalu panas waktu itu, mm.. mungkin lebih tepatnya sejuk”. Taemin mengangkat bahu sambil membuat secangkir Hot Greentea.

“Jadi kau sedang mengalami yang namanya cinta pada pandangan pertama?”. Sahut Jonghyun tersenyum lebar.

Taemin langsung mengibaskan tangannya, “Apa? Oh, tidak, kurasa itu tidak mungkin. Aku bahkan tidak mempercayai yang namanya cinta pada pandangan pertama atau apalah itu sebutannya”.

“Tadi kau bilang cuaca menjadi tiba – tiba sejuk, bukan?”.

Taemin mengangguk, “Ya. Memang kenapa? Cuacanya memang sedang bagus kala itu kan?”.

Jonghyun menghela nafas, “tiga hari lalu cuaca benar – benar sangat panas, bahkan tidak berangin. Turun hujan pun tidak, di berita ramalan cuaca juga menyebutkan kalau suhu udara tiga hari lalu mencapai tiga puluh derajat”. Jonghyun diam sejenak lalu melanjutkan, “dan kau… sangat membenci musim panas. Tapi kau bilang saat itu cuaca sedang sejuk, kalau sudah seperti itu.. kalau bukan pengaruh cinta pada pandangan pertama, lalu namanya apa?”. Jonghyun tersenyum lebar.

Taemin terdiam, kemudian mengambil pandangan lagi kearah gadis itu. Ia terlihat berpikir, apa benar ia sedang jatuh cinta? Oh, bahkan ia baru dua kali bertemu dengan gadis itu—bahkan gadis itu tidak mengenalnya, sama sekali—apa bisa ia langsung jatuh cinta, begitu saja. Tapi anehnya, saat ia memandangi gadis itu jantung Taemin tiba – tiba berdegup sangat kencang bahkan seperti mau berhenti berdetak.

“Jatuh cinta.. apa iya? Sesederhana itu?”, gumam Taemin.

“Ayolah Taemin’ah, love is amazing”. Jonghyun duduk di kursi sebelah Taemin yang sedang memberikan sentuhan terakhir untuk menghias Hot Greentea yang dibuatnya sebelum ia memberikannya pada pramu saji, kemudian melanjutkan “jatuh cinta adalah salah satu anugerah terbaik. Cinta memberi kita kesempatan untuk memahami banyak hal. Cinta juga menjadikan kita lebih dewasa, lebih berani, dan cinta pula yang menjadikan manusia sebagai manusia”.

Taemin mendesah kuat, “oh Tuhan” lalu memutar bola matanya, kemudian melanjutkan “sepertinya aku sudah melakukan kesalahan karena curhat dengan reinkarnasi cassanova. Aku bahkan bertemu dengannya baru dua kali, bahkan pertemuanku yang pertama kalinya itu di halte bus, Hyeong. Halte bus”.

“Satu hal yang perlu kau tahu, Taemin’ah”, Jonghyun menepuk pundak Taemin sambil tersenyum lalu berbisik, “terkadang cinta tumbuh dengan cara yang amat ganjil dan di tempat yang keliru”.

~***~

Taemin bergegas mengemasi barang – barangnya yang ia bawa ke tempat kerja untuk pulang. Hari sudah sore dan shift Taemin hari itu sudah selesai, ia ingin secepatnya pulang karena ingin segera menguyur tubuhnya yang kepanasan itu dengan air. Cuaca hari ini benar – benar sangat panas dan pengap, dan itu sangat membuat Taemin tersiksa.

“Sepertinya kau sudah tidak sabar ingin cepat – cepat pulang, Taemin’ah?”.

Taemin menoleh kearah asal suara, “oh, Jonghyun Hyeong” sahut Taemin kemudian melanjutkan kegiatannya memasukkan barang – barangnya ke dalam ransel, “ya. Aku ingin cepat pulang agar aku juga bisa segera mandi. Hari ini cuacanya panas sekali, aih..”.

“Cuacanya yang sedang panas sekali, atau karena tidak pernah bertemu lagi dengan gadis musim panas-mu itu?”. Jonghyun mencoba menggoda Taemin.

Taemin hanya diam, ia terlihat seperti sedang memikirkan apa yang dikatakan Jonghyun barusan. Benar juga, sudah seminggu terakhir ia tidak pernah lagi melihat gadis itu, baik itu di halte bus atau di kedai kopi tempatnya bekerja, berpapasan saat di jalan juga tidak. Tapi meskipun sudah tidak pernah bertemu lagi, Taemin masih saja memikirkan gadis itu. Gadis itu dengan ajaib bisa membuat Taemin uring – uringan, dan yang lebih mengherankan bahkan hanya dengan memikirkan gadis itu saja sudah bisa membuat jantung Taemin berdebar – debar dengan keras. Satu hal lagi yang lebih menarik, gadis itu mampu membuat Taemin mampu bertahan di musim panas ketika melihatnya.

“Entahlah” Taemin mengangkat bahu, “tapi sudah seminggu terakhir aku tidak pernah melihatnya lagi, dimana – mana”.

Jonghyun tertawa lepas, “astaga, kau bahkan menghitung sudah berapa lama kau tidak pernah melihatnya lagi”, Jonghyun menepuk bahu Taemin “Hey, biar kubantu kau memastikan perasaanmu padanya”.

Taemin mengerutkan keningnya tidak mengerti, “maksudnya, Hyeong?”.

Jonghyun berdeham kemudian menggoyangkan telunjuknya, “Saat kau melihat gadis itu apa kau merasa suasana hatimu tiba – tiba menjadi sangat tenang?”.

Taemin berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya. “Ya. Aku tidak tahu apa artinya itu, tapi perasaanku menjadi sangat nyaman dan tenang”.

Jonghyun mengangguk kepalanya sekilas kemudian melanjutkan pertanyaannya, “Apa kau pernah merasa bosan setiap kali melihatnya?”.

“Tidak”. Taemin menggelengkan kepalanya dengan cepat, bahkan menurut Jonghyun terlalu cepat sampai membuatnya tersenyum samar.

Kini Jonghyun menganggukkan kepalanya dengan mantap lalu melanjutkan pertanyaannya, “Baiklah, aku akan mengajukan pertanyaanku yang terakhir” Jonghyun menarik nafas sejenak lalu menghembuskannya, “apa jantungmu berdebar dengan keras saat tanpa sengaja mata kalian saling bertemu?”.

Taemin terlihat memikirkan pertanyaan terakhir Jonghyun tadi, yang akhirnya membuatnya menganggukkan kepala dan membuka mulutnya untuk bicara. “Ya, bahkan sepertinya jantungku berhenti berdetak saat itu, kurasa. Nafasku bahkan seperti tertahan dengan sendirinya, itulah kenapa waktu lalu aku bergumam ‘aneh’, itu sangat aneh, bukan?”. Taemin menatap Jonghyun dengan tatapan polos.

Jonghyun langsung tersenyum lebar menatap Taemin, “Itu tidak aneh” Jonghyun berdeham kemudian melanjutkan , “itu tandanya kau memang sedang jatuh cinta”.

“Tapi..”

Jonghyun langsung menyela, “bukankah sudah kubilang, cinta itu ajaib”.

~***~

Taemin melangkahkan kakinya dengan malas dan sesekali menendang udara. Cuaca hari ini benar – benar sangat panas dan tentu saja itu sangat membuat Taemin tersiksa. Taemin ingin cepat – cepat sampai dirumah tapi saat itu Taemin juga merasa tenaganya sudah hampir habis untuk digunakannya untuk berjalan dengan cepat menerobos sengatan matahari yang benar – benar terik ketika itu. Taemin benar – benar tidak bersemangat, ia merasa harus segera mengisi ulang tenaganya dengan cara melihat gadis itu lagi. Taemin dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya, ia benar – benar bingung kenapa gagasan itu tiba – tiba saja muncul didalam otaknya. Demi tuhan ia sudah biasa hidup selama bertahun – tahun di muka bumi tanpa gadis misterius itu, tapi kenapa sekarang sepertinya ia tidak bisa bertahan bahkan hanya dalam semenit saat melewati musim panas. Kenapa ia tidak bisa tidur nyenyak. Kenapa semangatnya tiba – tiba merosot drastis. Oh, sepertinya memang sedang ada yang salah dalam isi kepala dan pikirannya. Atau mungkin apa yang dikatakan Jonghyun padanya saat ia mengemas barang tadi itu benar, Taemin sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu.

Taemin baru saja ingin melanjutkan langkahnya sebelum ada suara memekik yang membuat lamunannya buyar. Ada seorang gadis yang saat itu menggunakan sepasang sepatu roda dengan sebuah buku yang dipegangnya sedang meluncur dengan bebas kearah Taemin. Wajah gadis itu terlihat panik dan ia mulai berteriak ketika jaraknya dengan Taemin mulai dekat, Taemin yang saat itu melihatnya meluncur dengan bebas kearahnya hanya bisa membelalakkan matanya dan tetap mematung di tempat ia berdiri saat ini. Sedetik kemudian setelah jarak mereka sudah sangat dekat gadis itupun menubruk Taemin kemudian terjatuh dan mendarat dengan mulus diatas tubuh Taemin yang kurus namun masih tetap kuat menopang tubuh gadis itu yang masih berukuran lebih kecil dari Tubuh Taemin.

Gadis itu menampakkan wajah yang begitu merasa bersalah, malu, dan gugup saat ia menindih tubuh Taemin. Gadis itu menatap wajah Taemin yang saat itu sedang meringis kesakitan dan masih menopang tubuhnya.

“Ma.. maaf. Aku.. aku tidak sengaja”. Ucapnya, masih diatas tubuh Taemin.

Taemin mendengar gadis itu meminta maaf padanya dengan tergagap saat ia masih meringis kesakitan dan menutup matanya. Taemin hanya merasa heran gadis itu meminta maaf padanya tapi kenapa belum juga beranjak dari atas tubuhnya. Taemin melingkarkan kedua tangannya dipinggang gadis itu dengan maksud langsung mengangkat tubuh gadis itu untuk membantunya ketika ia berdiri, tapi saat Taemin mulai membuka matanya ia benar – benar terkejut dengan apa yang dilihatnya di depan matanya. Astaga, dia ini.. gadis musim panas! Demi tuhan Taemin benar – benar tidak bisa mempercayai semua ini. Tiba – tiba saja gadis musim panas yang selama ini membuatnya uring – uringan muncul kembali kehadapannya setelah sepekan Taemin tidak pernah bertemu secara tidak sengaja atau hanya sekedar melihatnya di seberang jalan. Sedetik kemudian sebuah perasaan aneh muncul dalam rongga dada Taemin. Setelah melihat gadis itu lagi—bahkan dengan jarak sedekat ini—Taemin merasa cuaca di musim panas hari ini tidak lagi menyiksanya. Ia merasa pikirannya sudah tidak kacau lagi. Dan ia mulai merasakan sesuatu, sesuatu yang selama ini membuatnya uring – uringan, ternyata itu penyebabnya! Pikiran Taemin menjadi kacau, sering uring – uringan adalah karena ia rindu padan gadis itu. Ya, sekarang ia sudah yakin itulah penyebabnya. penyebabnya adalah, Taemin rindu untuk melihat gadis musim panas.

“Gadis musim panas?”. Kalimat itu keluar dengan mulus tanpa halangan dari mulut Taemin, begitu saja.

Gadis itu—yang masih berada diatas tubuh Taemin—mengerutkan keningnya tidak mengerti, “Eh? Apa..?”.

“Siapa namamu?”. Alih – alih mencoba untuk bangun, Taemin malah bertanya pada gadis itu yang juga masih tertegun dan belum beranjak dari atas tubuhnya.

Gadis itu masih memasang raut wajah yang sama kemudian memiringkan sedikit kepalanya lalu menjawab pertanyaan Taemin, “Titae.. Cho Titae..”.

“Sudah punya pacar?”. Demi tuhan! Apa – apaan ini?! Kenapa Taemin tiba – tiba melontarkan pertanyaan seperti itu? Astaga, demi apapun segera setelah itu Taemin langsung merutuki dirinya sendiri dalam hati. Dasar bodoh kau, Lee Taemin.

Mata gadis itu melotot dan ia pun menelan ludahnya, masih tidak mengerti tapi dengan sedikit tergagap gadis itu tetap menjawab pertanyaan konyol Taemin barusan, “Eh..? e.. itu.. tidak. Tidak punya..”.

Taemin kembali merutuki kebodohannya dalam hati untuk kedua kalinya setelah mulutnya kembali mengerluarkan pertanyaan yang benar – benar diluar kendali otaknya, “mau berkencan denganku, tidak?”.

END

Advertisements

2 thoughts on “Am I in Love?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s