Please Remember Me 제발 날 기억해줘 (Last Chapter)

Please Remember Me Poster

Annyeong my beloved readers~ ^^ I’m back from my short hiatus(?) as a ff writer kkkk xD
Well, this is the last chapter of “Please Remember Me” hope you guys enjoy and~! don’t forget to leave your comments here ^^

Title                 : Please Remember Me 제발 날 기억해줘 (Last Chapter)

Inspired By     : SHINee Jonghyun

Ilana Tan’s Quotes

Cast                 : SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun

Oh Hani (Original Character)

Kim Yoonseo (Original Character)

Other Cast

Genre              : Romantic, Marriage Life

Length             : Short Story

Rating             : PG-15

Created By      : Ayin Perdana

Author P.O.V

“Aku dan segala yang aku inginkan dalam hidup..”

Seoul, 08.00am KST

“Selamat pagi Yoonseo Agashi”.

“Ne, selamat pagi”. Yoonseo membalas sapaan dari salah seorang receptionist dikantornya dengan senyuman. “Aku dengar dari asistenku kalau Oppa ku kesini lebih awal, apa benar?”.

“Ne, agashi. Tuan Jonghyun sekarang sedang berada diruangannya. Beliau ada pertemuan dengan mitra perusahaan dari Bangkok jam 10.00 pagi ini”. Jelas receptionist itu.

Yoonseo meresponnya dengan anggukan kecil sembari sedikit mengangkat kedua alisnya. “Geureom, aku akan menemuinya keruangan, kau bisa lanjutkan pekerjaanmu. Selamat bekerja”. Sahut Yoonseo tersenyum ramah kemudian berlalu menuju lift.

“Oppa~ boleh aku masuk?”. Yoonseo mengetuk pintu ruangan Jonghyun kemudian membukanya sedikit dan memasukkan kepalanya. Ia melihat Jonghyun tengah sibuk mempersiapkan materi yang akan dipaparkannya pada meeting pagi itu. Sambil melepas kacamata yang ia pakai, Jonghyun menatap kearah asal suara.

“Oh, kau chagi. Masuk saja”. Sahut Jonghyun tersenyum.

“Gomawo~”. Yoonseo lalu masuk dan kembali menutup pintu. “Senang bisa melihat Oppa pagi ini. Oppa terlihat tampan dengan warna kemeja hijau segar yang Oppa pakai itu”. Ucap Yoonseo tersenyum lalu duduk di sofa yang tersedia diruangan Jonghyun yang cukup luas itu.

“Hehehe.. kau bisa saja chagi”. Jonghyun menghampiri adiknya itu seraya mengecup keningnya dan duduk disampingnya. “Ada apa menemui Oppa?”.

“Ingin melihat keadaan Oppa tentu saja. Terus terang aku masih sedikit cemas dengan Oppa setelah kejadian 2 hari yang lalu saat kita makan malam bertiga dengan Appa”. Sahutnya. “Aku bahkan benar – benar tidak menyangka Appa sampai bisa berkata seperti itu”.

“Gwaenchanha chagi”. Sahut Jonghyun mengusap puncak kepala Yoonseo. “Kau tahu sendiri watak Abeoji bukan?”. Yoonseo meresponnya dengan anggukan.

“Bagaimana keadaan Hani Eonni?”. Tanya Yoonseo mengalihkan topik pembicaraan.

“Baik. Bahkan sangat baik. Dia sedikit demi sedikit mulai mengingat secara perlahan”. Ucap Jonghyun tersenyum tipis. Tentu saja Yoonseo langsung tahu perasaan hati kakaknya saat itu sebenarnya sangat sedih, Jonghyun tidak pernah bisa membohongi orang, paling tidak untuk berbohong dengan Yoonseo.

“Eonni masih belum bisa mengingat Oppa seratus persen?”. Tanya Yoonseo menepuk pelan paha Jonghyun.

“Bisa dibilang begitu”. Angguk Jonghyun samar. “Tapi setidaknya dia sudah tidak merasa canggung lagi dengan Oppa. Dia bahkan sudah mulai terbiasa memanggil Oppa dengan sebutan Yeobo”. Ucap Jonghyun dengan tatapan sedikit sayu. Yoonseo benar – benar iba melihat kakaknya yang terlihat kokoh dari luar, namun sesungguhnya kakak yang sedang duduk tegap disampingnya saat ini sedang begitu rapuh.

“Aku akan selalu berdoa yang terbaik untuk kalian berdua Oppa”. Yoonseo langsung memeluk kakaknya yang dirasakannya sangat rapuh itu.

“Gomawo chagi”. Balas Jonghyun memeluk Yoonseo lalu mencium hangat kening adiknya.

Seoul International Hospital.

Yoonseo berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang saat itu begitu ramai karena banyak perawat, dokter dan juga pengunjung yang berseliweran disana. Ya, setelah ia bertemu dengan Jonghyun pagi ini ia memutuskan untuk membantu sang kakak mendapatkan kembali kebahagiaan yang telah direbut oleh sebuah kecelakaan yang juga merenggut satu nyawa yang bahkan belum sempat terlahir dimuka bumi.

Setelah menyusuri lorong dan menaiki lift, Yoonseo akhirnya melihat orang yang ingin ia temui. Seorang yeoja cantik berambut panjang yang terurai lembut nampak tengah duduk menghirup udara segar sambil menikmati langit yang cerah dari puncak lantai rumah sakit yang dijadikan taman kecil untuk para pasien dan pengunjung duduk – duduk santai.

“Annyeonghaseyo, Hani Eonni”. Yoonseo mendekati yeoja cantik itu seraya tersenyum.

“Ne? Oh.. annyeonghaseyo”. Sahut Hani membalas senyum Yoonseo seraya menundukkan kepalanya. “Kau..”

“Ne, majayo. Aku Yoonseo, yeodongsaeng Jonghyun Oppa. Boleh aku duduk dikursi disampingmu?”. Sahut Yoonseo tersenyum ramah.

“Ah ne, Yoonseo-Ssi. Ternyata memang kau. Ne, silakan duduk”. Kata Hani ramah.

“Panggil aku Yoonseo saja Eonni, santai saja”. Sahut Yoonseo kemudian duduk.

“Ah ne, mianhaeyo”. Ucap Hani tersenyum seraya mengangguk. “Geunde, mana Jonghyun? Dia tidak datang bersamamu?”. Tanyanya sambil melihat kearah sekitar.

“Oppa hari ini ada meeting dengan mitra perusahaan”. Sahut Yoonseo menyunggingkan senyum terbaiknya untuk Hani. “Tenang saja Eonni, Oppa pasti akan kemari”. Ucap Yoonseo tertawa kecil yang kemudian di ikuti Hani. “Kau merindukannya?”.

“Eh? Itu..”.

“Wajar saja.. Oppa itu suamimu geutjyo?”. Yoonseo tersenyum menatap kakak iparnya yang terkesan malu – malu untuk mengungkapkan rasa rindu dihadapannya. Ia berharap keputusannya untuk menemui kakak iparnya hari ini akan membuahkan hasil.

“Tidak apa kan, kalau pagi ini aku mengganggumu sebentar untuk sekedar berbincang? Aku sudah lama tidak berbincang dengan kakak ipar yang cantik”. Ucap Yoonseo ramah.

“Tentu saja tidak apa, Yoonseo”. Balas Hani tersenyum. “Setidaknya dengan kau datang kemari aku tidak merasa sepi, kau benar – benar mirip dengan Jonghyun-Oppamu. Kalian sama – sama memiliki senyum yang manis”.

“Gomawoyo eonni”. senyum Yoonseo. Ia kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya kemudian memberikannya pada Hani.

“Apa ini?”.

“Album photo”. Jawab Yoonseo. “Sebelum kemari, diam – diam aku ke apartmen Oppa untuk mencari sesuatu yang mungkin saja bisa membuatmu tidak merasa bosan saat sendirian disini”. Terang Yoonseo.

Hani pun membuka perlahan album photo itu. Di halaman pertama ia langsung melihat photo dirinya berdua dengan Jonghyun. Dalam photo itu terlihat mereka tengah memakai toga, Jonghyun yang saat itu terlihat malu – malu memberikat sebuket bunga padanya.

“Ini..?”.

“Geurae. Itu saat hari kelulusan kalian dari universitas”. Sahut Yoonseo tersenyum yang seakan tahu dengan apa yang ditanyakan kakak iparnya.

“Jadi kami dulu kuliah di universitas yang sama?”. Ucap Hani menatap Yoonseo yang direspon Yoonseo dengan senyum dan anggukan kepala.

Hani pun kembali membuka album itu halaman demi halaman. Senyuman tak pernah lepas dari wajah cantik Hani, seakan tanpa sadar ia sangat merindukan kenangan – kenangan yang terkesan begitu manis dalam photo itu. Yoonseo yang melihatnya pun hanya tersenyum penuh arti menatap kakak iparnya. Saat itu ia benar – benar berharap bahwa ingatan kakak iparnya akan kembali saat itu juga.

“Yoonseo..”.

“Ehm? Ne, Eonni?”.

“Kau mau kan menceritakan semua cerita yang tergambar dalam photo ini?”.

Yoonseo menatap Hani, ia memastikan bahwa apa yang didengarnya tidak salah dan apa yang dialaminya saat ini bukan mimpi. Hani bahkan memintanya dengan senyuman, ia benar – benar menaruh harapan besar lewat senyuman yang ditorehkan Hani saat itu.

“Tentu saja. Aku pasti akan menceritakannya. Aku akan menceritakan semua sampai halaman terakhir”.

Hani masih duduk disana dengan memegang album photo yang diberikan Yoonseo padanya. Ia selalu mengingat setiap detil cerita yang di paparkan Yoonseo sampai pada satu menit terakhir sebelum Yoonseo berpamitan untuk pergi.

Flashback

“Yoonseo, kau bisa menceritakan seperti apa Oppamu? Maksudku, aku tidak ingin menjadi seorang istri yang tidak mengetahui sifat suamiku, meskipun saat ini amnesia sedang menjadi temanku siang malam”. Sahut Hani sambil menyeruput secangkir teh hangat.

“Tentu saja bisa eonni”. Sahut Yoonseo tersenyum.

Yoonseo kembali mengembangkan sedikit senyumannya, lalu mulai menceritakan semua mengenai Jonghyun pada Hani.

“Oppa adalah seorang pekerja keras, dan sangat mencintai keluarganya. Oppa selalu ramah dengan orang lain, terutama wanita”. Kekeh yoonseo. “Dia begitu karena Eomma yang selalu mengajarkannya untuk memiliki tata karma dalam memperlakukan perempuan. Dia memiliki cinta pertama, dan tidak disangka cinta pertamanya itu adalah takdirnya sendiri”.

“Ne? Apa maksudmu, Yoonseo?”. Respon Hani.

“Ya, kaulah orangnya Eonni. Kau adalah satu – satunya cinta sejati yang Oppa miliki”. Sahut Yoonseo tersenyum menatap Hani yang diam menyimak dengan seksama semua ceritanya. “Aku bahkan masih ingat moment ketika ia ingin mengutarakan perasaannya padamu”.

“Benarkah? Apa ada yang khusus saat itu?”. Tanya Hani yang begitu tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai Jonghyun, suami yang ia lupakan.

“Kebetulan hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan Appa dan Eomma, yang ternyata hari itu juga merupakan hari ulang tahunmu”.

*^^^^^*

“Oppa, apa Oppa yakin tidak akan datang ke pesta ulang tahun pernikahan Appa dan Eomma?”.

“Ne chagi, Oppa ingin pergi menemui Hani. Hari ini dia juga berulang tahun”.

“Geunde.. bagaimana dengan Appa? Terus terang aku tidak ingin jadi bulan – bulanan Appa yang terus menanyakan kenapa kau tidak datang – datang juga saat pesta nanti. Oppa tahu kan pesta ini Appa gelar lumayan… mewah? Appa bahkan mengundang semua staf, pemilik saham, dan mitra perusahaan. Aku bahkan tidak dapat membedakan kali ini adalah sebuah pesta ulang tahun pernikahan atau benar – benar pesta orang menikah”.

“Aigoo~~ adikku yang cantik, kau tetap harus bernafas saat berbicara chagi. Hahahaha! Tenang saja, Oppa sudah bicara dengan Eomma”.

“Lalu, apa kata eomma?”.

“Selama kau bahagia, ibu juga akan bahagia untukmu”.

“Apa? Sesederhana itu? Ani, maksudku.. apa hubungannya?”.

“Tentu saja sangat ada hubungannya chagi.. intinya Oppa minta maaf malam ini tidak bisa menjadi pasangan kencanmu di pesta Appa dan Eomma”.

“Hahaha.. tidak masalah Oppa. Hanya saja.. tidak biasanya Oppa.. ehm.. bagaimana aku harus mengatakannya? Apa kata ‘egois’ berlebihan untukmu kali ini?”.

“Ani. Oppa rasa kata egois itu tidak berlebihan untuk Oppa kali ini”.

“Eh? Waaah.. Oppa bahkan menanggapinya sesantai itu”.

“Sekarang ini.. saat ini saja.. untuk beberapa jam saja… Aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, bahkan melupakan asal usul serta latar belakangku. Kali ini tanpa beban atau tuntutan, aku ingin mengaku. Aku ingin mengaku kalau aku mencintainya”.

*^^^^^*

“Kurasa setelah saat itu aku mengerti kenapa Eomma membiarkan Oppa untuk tidak datang ke pesta ulang tahun pernikahan Appa dan Eomma. Eomma begitu menyayangi Oppa, dan segala yang di inginkan Eomma adalah melihat anak – anaknya bahagia”. Ucap Yoonseo tersenyum mengakhiri kalimatnya.

“Jadi..”

“Ne, Jonghyun Oppa hanya mencintai satu orang wanita dan wanita itu adalah kau Eonni”.

“Jadi itu alasan dari kegigihan Jonghyun selama ini..”. Desis Hani bicara pada dirinya sendiri.

Flashback End.

Hani kembali membuka album photo yang masih erat dipegangnya. Sewaktu asik melihat, tiba – tiba ada sebuah photo yang terjatuh dengan posisi terbalik. Dan dibalik photo itu terdapat sebuah tulisan. Hani mengernyitkan samar keningnya dan membaca tulisan itu.

“나랑 인생에서 원하는 모든 것. – 종현-”. [Aku dan segala yang aku inginkan dalam hidup. – Jonghyun-].

Setelah membaca tulisan yang ternyata ditulis oleh Jonghyun sendiri, Hani lalu membalik kertas itu untuk melihat photonya. Setelah melihat photo itu tiba – tiba Hani merasa otaknya berputar, kembali mengulang semua kejadian yang sempat hilang dalam memorinya. Otaknya terus berputar hingga semua yang diinginkannya untuk diingat telah berhasil kembali ke dalam memorinya dengan penuh.

“Ya Tuhan… terima kasih. Terima kasih kau telah mengembalikan ingatanku”.

Jonghyun melupakan semua kelelahannya hari itu. Dengan perasaan yang bercampur menjadi satu, sesaat setelah ia menerima telepon dari Dr. Choi Minho, dokter muda yang juga ikut menangani Hani, istrinya yang saat ini sedang menjalani perawatan dirumah sakit, Jonghyun langsung bergegas melangkahkan kakinya keluar dari ruang meeting dan meminta asistennya untuk mengambil alih meeting yang di pimpinnya.

“Tuan Jonghyun, maaf kalau aku mengganggumu di waktu kerja. Tapi.. aku rasa aku tidak boleh menunda untuk meneleponmu. Hani Ssi, istrimu.. saat aku ingin mengecheck kesehatan hariannya, ia mengutarakan padaku bahwa ia sangat ingin menemuimu, saat ini juga. Bisakah, sebentar saja kau kemari?”.

Sambil berlari cepat menyusuri koridor rumah sakit, Jonghyun teringat kata – kata dari Dr. Choi ketika meneleponnya. Jonghyun tidak tahu apakah ia berani berharap atau tidak, namun saat ini yang pasti dirasakan Jonghyun adalah sesuatu yang sudah lama dinantikannya benar – benar akan didapatkannya hari ini. Ya, hari ini juga.

Setelah diberitahu suster bahwa Hani telah menunggunya di atas puncak rumah sakit, Jonghyun tidak membuang waktunya untuk segera berlari kesana. Sesampainya disana, ia tidak langsung menemukan Hani. Ia melihat lihat ke sekitar untuk mencari Hani namun belum bisa di temukannya juga hingga pada saat ada suara yang sudah sangat dikenalnya memanggil namanya.

“Jjongie..”.

Apa? Tunggu, apa yang baru saja Jonghyun dengar? “Jjongie”? astaga, demi Tuhan sebenarnya ia benar – benar merindukan panggilan itu ditujukkan untuknya. Jonghyun sedetik kemudian langsung membalikkan tubuhnya ke arah asal suara dan saat itu ia langsung menemukan apa yang cari sejak tadi.

“Hani?”. Panggil Jonghyun ragu.

“O.. ini aku”. Balas Hani dengan tersenyum.

Dengan pelan Jonghyun langsung menghembuskan nafas yang sempat ditahannya. Astaga, Jonghyun tidak pernah merasa segugup itu seumur hidupnya. Terlebih lagi ketika ia mendengar nama itu, Jjongie. Hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu, dan orang itu saat ini sedang berjalan mendekatinya dengan senyuman yang begitu cantik.

“Ada apa mencariku?”. Tanya Jonghyun spontan. Sedetik kemudian ia langsung merutuki kebodohannya yang hanya dapat melontarkan kalimat itu.

“Apa hanya itu yang ingin kau katakan padaku? Hanya itu?”. Hani balik bertanya dengan mengangkat samar kedua alisnya.

“Tentu saja tidak. Ani, maksudku..”.

Hani mendongakkan kepalanya menatap mata Jonghyun yang begitu teduh itu saat jarak mereka berdua sudah sangat dekat. Perlahan – lahan ia maju selangkah mendekati Jonghyun, kemudian berjinjit, dan melingkarkan kedua tangannya di leher Jonghyun, dan menyandarkan dagu di bahunya.

“Aku” gumam Hani lirih “sangat merindukanmu, Yeobo”.

Kata – kata itu hanya berupa bisikan, tetapi itu sudah cukup membuat Jonghyun melayang. Ia benar – benar tidak tahu apakah itu bisa dianggapnya sebagai tanda bahwa hari yang dinantikannya kembali. Hari dimana ingatan istrinya kembali dengan sempurna, hari dimana Hani dapat mengingatnya sepenuhnya, hari dimana Hani kembali menjadi istrinya, miliknya seutuhnya.

“Ijen.. nan algoisseoseo. Aku sudah mengingatnya”. Gumam Hani lagi “Aku sudah mengingat semuanya. Aku ingat kapan kita pertama kali bertemu, kapan kita menjadi sepasang kekasih, kapan kita menikah.. bahkan aku ingat dengan jelas sampai jamnya. Dan aku ingat bahwa aku sangat mencintaimu”.

Setelah mendengar semua itu, perlahan Jonghyun memejamkan mata sementara rasa lega dan bahagia membanjiri dirinya. Rasanya seolah – olah apa yang selama ini di inginkannya telah kembali kepadanya, dengan utuh. Akhirnya Jonghyun bisa bernafas dengan penuh kelegaan di dadanya.

Saat itulah ia baru bisa menggerakkan kedua tangannya yang sejak tadi terkulai disisi tubuhnya. Dan ketika kedua tangannya melingkari tubuh Hani, ia merasa benar. Ia merasa mulai sekarang semua akan kembali seperti semua. Sekarang semua akan baik – baik saja.

Lalu ia mendengar Hani kembali berbisik, “Dan.. terima kasih karena sudah dengan sabar menungguku. Terima kasih sudah dengan setia selalu mendampingiku, selalu disisiku. Aku mencintaimu Jonghyun”.

Jonghyun masih diam, ia tidak bisa menyembunyikan senyuman dan air mata bahagia di wajah tampannya. Setelah sesaat kemudian Jonghyun menghembuskan nafas dengan perlahan, ia mulai membuka mulutnya.

“Bisakah.. kau memanggilku dengan nama itu, sekali lagi? Aku ingin mendengarnya”.

Hani tersenyum, “Jjongie..”. ucapnya terdengar begitu jelas dan lembut di daun telinga Jonghyun.

“Ucapkan sekali lagi” pinta Jonghyun menutup matanya.

Hani melepaskan pelukannya dan kemudian menatap wajah suaminya yang begitu tampan itu. “Jjongie.. saranghanda, naeui Jjonggie”.

Jonghyun melihat Hani mengucapkannya dengan raut wajah yang begitu sumringah, Hani bahkan memberikan senyuman yang dirindukannya selama ini. Jonghyun kemudian menatap mata Hani lekat – lekat kemudian memegang kedua pipinya, setelah itu Jonghyun yakin bahwa istrinya benar – benar telah kembali ke pelukannya. Ciuman itu sudah cukup membuat Jonghyun yakin terlebih ketika Hani membalas ciumannya dengan begitu hangat.

“Saranghae, Hani”.

*^^^^^*

“Ne chagi, setelah dari rumah sakit Oppa dan Hani pasti akan langsung ke rumahmu dan abeoji. Oppa tutup dulu teleponnya dongsaeng’ah. Saranghae”. Jonghyun menutup teleponnya seraya memasukkannya ke dalam saku setelah ia mengabari berita gembira itu pada Yoonsu, adiknya.

“Ah, sepertinya kita harus memberikan hadiah untuk Yoonsu setelah ini”. Kata Hani begitu Jonghyun menyelesaikan teleponnya.

“Hadiah? Untuk Yoonsu? Tapi untuk apa, hari ini bukan hari ulang tahunnya. Jamkkan, apa jangan – jangan..”.

“Anya~ tentu saja tidak. Aku tidak sedang kambuh atau kembali-amnesia seperti yang ada di pikiranmu. Hanya saja, tanpa sengaja dia sudah menjadi orang yang membuat semua ini terjadi. Ya, dia secara tidak langsung membantuku mendapatkan kembali ingatanku”. Gurau Hani yang disambut dengan kekehan kecil Jonghyun.

“Benarkah? Anak itu kemari menemuimu? Dia bahkan tidak memberitahuku kalau dia akan menemuimu, padahal tadi pagi dia juga menemuiku”. Balas Jonghyun sembari membenarkan anak poni Hani yang jatuh lembut ke keningnya.

“Dia benar – benar mirip denganmu yeobo. Dia memiliki hati yang sangat cantik. Ani, aku pikir dia juga memang sangat cantik. Dia mewarisinya dari kecantikan ibumu kukira”. Ucap Hani tersenyum

“Geureom.. bahkan sejak ia dilahirkan aku sudah tahu kalau dia akan menjadi bidadari bagiku. Kau tidak cemburu kalau aku mencintainya juga bukan? Dia adalah wanita yang juga memiliki hatiku sepenuhnya setelah kau”. Canda Jonghyun sambil tertawa lepas.

“Hahahaha, yang benar saja aku cemburu dengannya yang juga sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Oh ya, dia sepertinya juga sangat beruntung karena memiliki kekasih yang begitu baik. Percaya atau tidak kekasihnya benar – benar tampan, aku yakin kau juga pasti mengakui itu. Kau sangat mengenalnya bukan?”. Jelas Hani sambil membereskan barang miliknya.

“Apa? Yoonsu punya kekasih? Astaga, anak itu tidak pernah bercerita padaku kalau dia memiliki kekasih, dia tidak menyembunyikan apa – apa dariku sebelumnya. Tapi.. kau bilang tadi aku mengenalnya?”. Jonghyun mengerutkan samar keningnya bingung.

“Geureom, kau kenal dengan Dr. Choi bukan?”. Sahut Hani santai.

“Dr. Choi.. Apa? Maksudmu.. Choi Minho? Dokter muda di rumah sakit ini? Omoo… sialan bocah itu ternyata mendekati adikku di sela – sela waktunya saat menanganimu, aku harus menemuinya”. Tukas Jonghyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Hey, kau tidak merindukanku? Sudahlah yeobo, adikmu itu sudah besar dan dia cantik. Dokter muda itupun juga tampan, baik, dan pintar. Sekarang lebih baik kau membawaku pulang, naeui Jjongie. Aku ingin bermanja dengan suamiku, tapi aku tidak mau bermanja di rumah sakit.

“Hahahaha.. arasseo, geureom jibe kaja”.

Epilog

“Jadi katakan padaku, apa yang dilakukan Yoonsu adikku sehingga mengembalikan ingatanmu dalam waktu sehari? Terus terang sesaat tadi aku sempat berpikir kalau dia adalah seorang penyihir, hahahaha. Tidak, maksudku, fairy god mother”.

“Dia hanya memberiku album photo”.

“Apa? Sesederhana itu? Ani, maksudku.. aku juga suka memberikanmu album photo, geunde..”.

“Di album photo itu aku mendapakan ini. Ya, photo itu kau berikan sebagai hadiah di hari ulang tahunku. Saat itulah kau mengubahmu menjadi takdirmu bukan?”.

“Ya.. aku tidak pernah melupakan saat itu”.

“Tulisan di belakang photo itu benar – benar memiliki makna yang begitu kuat, dan sekarang aku juga ingin menggunakan kalimat yang ada ditulisan itu. aku ingin mengatakan bahwa saat ini aku telah bahagia berdiri bersama dengan segala yang juga kuinginkan dalam hidupku”.

END

One thought on “Please Remember Me 제발 날 기억해줘 (Last Chapter)

  1. SO SWEEEEEEEEEEEETTTTTTTTT!!!!💕💕
    I’M SO ENVY….
    Jonghyun keep wait his wife after his wife have a accident(amnesia)
    i can’t imagine if this world have one person like him(Jonghyun), i want my memories back again like he come to me
    eonni, i like this fiction😄😄😄😄😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s