Our Sweet Love Story [우리의 달콤한 사랑 이야기] Ver. B

IMG_20131202_180330

Title:
Our Sweet Love Story (우리의 달콤한 사랑 이야기) Ver. B

Inspired by:
SHINee’s Japanese Song – Colors of The Season
SHINee Jonghyun

Cast:
SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun
Kim Eun Soo (Original Character)
Kim Hye Mi (Original Character)
F(x) Luna as Choi Luna
SHINee Onew as Lee Jinki
Park Hendy (Original Character)
Kim Yoon Seo (Original Character)

Genre:
Sad Romance

Length:
One Shoot

Rating:
PG-17

Created by:
Ayin Perdana [김윤서]

___________________________________________________________________

Annyeoooooooooooong~~~~!!!! xD

Well, this is another version of Our Sweet Love Story~~ this is Version B guys 😀

Okay then, hope you guys enjoy and happy reading ^^
Owh~! Please write your comment after read it guys.. DON’T BE A SILENT READER ^^

Prolog

“Meskipun semua ini terasa sangat sakit, sangat perih, dan selalu membuatku meneteskan air mataku, aku tidak akan pernah menyesal karena aku mencintaimu”.

Jonghyun P.O.V

Malam ini aku duduk diatas sebuah kursi panjang dari kayu yang terletak di beranda belakang rumahku, musim salju di bulan desember tahun ini membuatku tanpa sengaja kembali mengenang masa itu. Masa lalu yang benar – benar merubah semua takdir hidupku.

“Appa~~~~!!! Jjan~~!!! Hahahaha”.

“Omo~! Aigoo saranghaneun Appa~, hehe. Kemari sayang”. Gadis remaja manis berumur 16tahun ini menghampiriku, pelukannya terasa begitu hangat di punggungku. Dia adalah anak gadisku satu – satunya.

“Sekarang sedang musim salju sayang, kenapa kau memakai pakaian yang tipis? Kau bisa masuk angin”.

“Aku tidak akan masuk angin kalau Appa memelukku sekarang dengan erat, hahahaha”. Sahutnya riang yang membuatku terkekeh, anak ini memang pintar.

“Arasseo anak gadisku yang cantik”. Aku meraih pundaknya lalu dengan perlahan memeluknya.

“Apa yang Appa pikirkan?”.

“Ne? mwo?”.

“Geureom~, tadi aku lihat Appa seperti sedang berpikir atau lebih tepatnya.. melamunkan sesuatu”. Ucapnya sambil mengeliat kecil di dalam pelukanku. “Hoksi~, Appa sedang berpikir ingin pensiun menjadi seorang dokter?”.

“Hahahaha~! Bicara apa kau ini, tentu saja tidak sayang”. Sahutku membelai lembut puncak kepalanya. “Appaneun geunyang.. teringat akan sebuah kisah Appa waktu dulu”.

“Jinjja? Eiissh, biar aku tebak, Appa teringat dengan Cheot sarang Appa geureohji? Nugu nugu nugu nugu~~??? Ayo ceritakan Appa~~, aku berjanji tidak akan menceritakannya dengan Eomma, hihihi”.

“Aigoo~ anak gadis Appa ini jinjja. Ceritanya tidak sama seperti drama – drama yang sering kau lihat di tivi chagi.. geurigo..”.

“Aku ingin mendengarnya. Ayolah Appa~~~~ ceritakan~~ ne? Jebal jebal jebal~~, O? Appa~~~”. Rengeknya padaku membuatku gemas lalu mencubit pipinya.

“Eissh.. arasseo naeui ttal. Cerita ini sedikit menyedihkan anakku”.

Flashback

Author P.O.V

Yeoja manis itu tidak pernah melepaskan sedetikpun pandangannya dari namja itu. Namja yang merupakan teman akrab satu angkatan sekaligus sekelasnya di Universitas Chung-Ang jurusan kedokteran itu memang dikenal sebagai namja yang ramah, pintar dan tampan. Tempat duduknya yang tidak terlalu jauh membuat yeoja itu bisa memandang namja tampan yang sedang asik membaca itu sampai ia merasa puas, meskipun rasa puas itu tidak pernah menyambanginya.

“Hap~!!! Hayyaa~!!!”.

“Omo~! Aigoo Luna~, kau mengagetkanku”.

“Hahahaha! Salahmu sendiri, siapa suruh melongo seperti itu di siang bolong begini.. Kim Eun Soo”. Luna hanya terkekeh cuek lalu mengambil posisi duduk disamping yeoja itu. “Kau mau makan siang?”.

“Ani”. Sahutnya singkat dan kembali mencuri pandangan kearah namja itu.

“Geunde nan begopha~~. Kaja, temani aku makan ke cafeteria”.

“Mwo?”. Eun Soo, ia sedikit kaget ketika Luna sahabatnya dari kecil itu menarik tangannya. Dalam benaknya berkata andai ia bisa ia ingin sekali menolak ajakan Luna. “Geunde..”.

“Jjong~~!!! Ya ya, Jonghyun’ah~!!!”.

“Eh? Ne? Oh, Luna’ya. Wae?”.

Namja itu membalikkan wajahnya kearah asal suara yang memanggil namanya. Sedetik kemudian tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Eun Soo, membuat yeoja itu mematung seketika dan jantungnya berdetak sangat kencang dan bisa meledak kapan saja saat namja itu berjalan mendekatinya dan Luna.

“Kau ingin ikut kami makan siang di cafeteria tidak?”. Ajak Luna mengembangkan senyumannya pada namja bernama Kim Jonghyun itu.

“Tentu saja, tapi kalau Eun Soo juga bersedia aku ikut dengan kalian”. Sahutnya tersenyum tipis mengarah pada Eun Soo yang masih terdiam memandangnya yang sudah berada kurang dari 3sentimeter dihadapannya.

“Ya~, Eun Soo’ah~! Waeire?? Kenapa kau mematung seperti itu? Seperti orang bodoh saja”. Ketus Luna menyenggol tangan Eun Soo. “Kau dengar kata Jjong tadi tidaaaak~???”.

“Oh? Eh? Ah.. geureom~, kenapa aku harus keberatan kalau kau ikut, Jjong?”. Eun Soo terhenyak dari lamunannya dan langsung merespon, membuat Jonghyun tanpa sengaja terkekeh geli.

“Ani.. geunyang, mungkin saja kau masih marah padaku soal keterlambatanku menemuimu ditaman kemarin”.

“Ya~! Kau kira aku ini yeoja macam apa?! Aku tidak akan ngambek lebih dari satu hari”. Sahutnya sambil berjalan berbarengan dengan Jonghyun menyusul Luna yang berjalan lebih dulu di depan mereka. “Lagipula mana mungkin aku bisa marah padamu..”. Desisnya tanpa sengaja membuat Jonghyun menoleh.

“Ne? Mworago?”. Jonghyun menatapnya kikuk.

“Ani! Amugeotdo eopseo. Geuge..”.

“Ya~~!!! Kalian berdua ini kenapa berjalan lambat sekali??? Aku sudah sangat lapar~~!!!”. Seru Luna di seberang sana yang membuat keduanya berhenti bertatapan dan langsung berjalan cepat mendatangi Luna.

***

“Huwaaaa~~~!!! Melelahkan sekali~”. Luna menghempaskan tubuhnya begitu saja keatas kasur Eun Soo, sedangkan Eun Soo hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu.

“Eun Soo, malam ini aku menginap dirumahmu ya~~”. Ucap Luna yang sedang memainkan boneka kelinci kesayangan Eun Soo.

“Boleh saja”. Sahut Eun Soo santai setelah selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah yang santai. “Geunde wae? Eomma dan Appa mu pergi ke busan lagi?”.

“Eung~, maja. Aku malas kalau sendirian dirumah”.

“Malas atau kau sebenarnya takut? Hihi”.

“Haha~! Kau tahu saja. Geuge.. aku ingin menceritakan sesuatu”. Eun Soo melirik kecil kearah Luna, suara luna yang sedikit berubah membuatnya menjadi sedikit penasaran.

“Geurae? Cerita apa?”.

“Nan.. ijeneun namja johahae..”.

“Jinjja? Namja nugu?”.

“Ehhmmmm~~ rahasia! Hahahahaha!!!”.

“Ya~~!!! Neo~! Lebih baik kau tidak usah cerita, eiisssshh~~”. Sungut Eun Soo sembari berbaring disamping Luna.

“Hahahaha~! Geunde.. Eun Soo, apa kau juga menyukai seorang namja?”. Tanya Luna yang spontan membuat Eun Soo sedikit tersentak.

“Mwo?”.

“Geureom~~, akhir – akhir ini kau selalu suka melamun. Aku yakin pasti sedang ada yang kau pikirkan bukan?”. Timpal Luna yang menunjukkan wajah penasaran setengah matinya pada Eun Soo yang hanya dapat menelan ludah. “Arasseo, kalau kau tidak mau member tahuku. Aku anggap kau balas dendam untuk yang tadi, hahaha!”. Ucap Luna sebelum Eun Soo sempat berkata apapun. Luna lalu beranjak dari tempat tidur bermaksud untuk mengganti pakaiannya, namun langkahnya terhenti saat indera pendengarannya menangkap suatu suara..

“Nan Jonghyun eul Johahae”.

‘DEG’. Luna langsung mematung, langkahnya terasa sangat berat begitu kalimat itu terlontar jelas dari bibir tipis Eun Soo. Merasa matanya yang mulai berkaca – kaca, Luna memilih untuk tidak membalikkan badannya menghadap Eun Soo yang saat itu tertengah tersenyum dengan wajahnya yang memerah karena membayangkan Jonghyun.

“Jonghyun bahkan sudah berkali – berkali mengatakan langsung padaku kalau dia juga memiliki perasaan yang sama. Ternyata selama ini ia selalu mengajakku keluar untuk sekedar berjalan – jalan dan makan bersama karena ia ingin lebih mendekatiku. Geunde ije butheo.. aku belum menjawab perasaan sukanya itu. Menurutmu bagaimana Lun? Aku harus menerimanya geureohji?”.

“A.. Ah~~, geureom~! Dia itu namja yang baik, pintar, juga sangat tampan”. Jawab Luna sekenanya dan sedikit terbata. “Aku ganti baju dulu, ne?”.

Luna langsung mengkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar Eun Soo. Tangannya meremas kuat pakaian yang dibawa ditangannya. Ia lalu menutup pintu kamar mandi itu lalu meletakkan pakaiannya begitu saja di atas meja kecil yang tersedia di dalam kamar mandi yang cukup luas itu.

Ia memandang nanar dirinya kearah cermin, nampak jelas airmata yang menetes dari pelupuk matanya yang indah itu.

“Luna.. dia mencintainya.. dia mencintainya juga~!!! Dan dia bilang.. dia bilang bahwa dirinya juga mencintainya~!!!”. Ucap Luna lirih, ia mengepal kedua tangannya sekuat yang ia bisa untuk meluapkan emosinya. Air matanya tak berhenti untuk membasahi pipinya, ia juga terus menerus merutuki kebodohannya yang terlambat menyadari bahwa ia dan sahabatnya mencintai orang yang sama. Lebih tepatnya, ia saat ini merasa berada di tengah dua orang yang saling mencintai.

***

“Jjong~!!! Jonhyun’ah~~!!!”. Luna berlari kecil di tengah koridor kampus mengejar Jonghyun yang kebetulan juga sedang berjalan di sekitar koridor menuju kelas.

“Oh, Luna’ya. Joheun achim”. Sapa Jonghyun ramah yang tak lupa memberikan senyumannya pada temannya itu.

“O~, Joheun achim”. Balas Luna setelah sampai tepat di sebelah Jonghyun dengan nafas agak terengah – engah dan kemudian berjalan berbarengan dengan Jonghyun.

“Mana Eun Soo? Kenapa kalian tidak pergi ke kampus bersama? Bukannya tadi malam kau menginap dirumahnya?”.

“Eh? Neo eotteohke ara?”.

“Ara~~, dangyeonghaji. Dia bercerita padaku saat aku meneleponnya tadi malam, waktu aku meneleponnya dia bilang kau sedang ke kamar mandi”.

Luna hanya dapat menelan ludahnya saat mendengar perkataan Jonghyun. Saat itu telinganya seakan terasa sangat perih mendengar bahwa tadi malam mereka saling berbicara lewat telepon bahkan saat ia ada di dekat Eun Soo. Luna lantas tiba – tiba menjadi kehilangan topic pembicaraan yang ingin ia lakukan dengan Jonghyun sampai – sampai ia tidak sadar kalau Jonghyun memanggil – manggil namanya.

“Luna..”.

“…”

“Luna’ya~”

“…”

“Hey hey.. Luna~~~”.

“Oh? Eh? Ne, Jjong? Wae?”.

“Wae mwol? Aku tadi bertanya padamu, Eun Soo mana?”.

“A, aah~! Ne, aku tadi memang pergi bersamanya tapi tiba – tiba dia bilang ingin pergi kesesuatu tempat”. Jawab Luna cepat.

“Geurae? Arasseo”. Sahut Jonghyun mengangguk.

“Saengil chukhahae, Jjong~”. Dengan wajah yang sedikit merona merah itu Eun Soo memberikan sebuah kotak kado itu pada Jonghyun saat tengah duduk di kursi  taman kampus.

“Ini.. untukku?”. Tanya Jonghyun menatap Eun Soo manis.

“Eung”.

“Gomawo Eun Soo’ah”. Jonghyun menerima kado itu sambil tersenyum. “Seharusya kau memberikan ini tidak dengan kepala menunduk begitu, lihat aku..”.

Jonghyun mengangkat dagu Eun Soo dengan perlahan sambil memberikan senyumannya, dilihatnya Eun Soo yang membalas senyumannya dengan ekspresi sedikit malu yang membuatnya makin menyukai gadis itu.

“Gomawo kadonya”. Ucap Jonghyun tersenyum.

“Ne..”. Eun Soo mengangguk. “Buka sekarang Jjong”.

“Eung. Geureom, aku buka, ne?”. Jonghyun lalu membuka pita berwarna biru muda yang terikat untuk menutup kotak kecil itu.

“Gantungan handphone.. gitar?”. Ucap Jonghyun.

“Eung. Aku ingat kau sangat suka bermain gitar, kau pernah memainkannya untukku dan aku sangat suka permainan gitarmu”. Sahut Eun Soo tersenyum begitu manis.

“Jeongmal gomawo, Eun Soo’ah. Aku sangat menyukainya”. Jonghyun tersenyum padanya, ia memandang Eun Soo penuh arti lalu menundukkan kepalanya sedikit.

“Wae, Jjong?”.

“Anya. Geunde, kalau boleh jujur.. aku menginginkan satu hadiah yang lain darimu Eun Soo’ah”.

“Ne?”.

“Aku.. aku ingin kau memberikan jawabanmu untuk pernyataanku”.

“Jjong..”.

“Saranghae Eun Soo’ah, jeongmal saranghae. Aku ingin kau menjadi kekasihku”.

Eun Soo hanya bisa memandang Jonghyun tanpa suara. Sebenarnya ini sudah yang ke sekian kali Jonghyun mengungkapkan perasaan padanya, tetapi Eun Soo tidak bisa menahan debaran jantungnya yang membuncah saat Jonghyun menyatakan kembali perasaannya.

Jonghyun perlahan mendekatinya kemudian membenamkan Eun Soo ke dalam pelukannya.

“Bisakah aku menganggap diam-mu ini sebagai jawaban bahwa kau menerimanya?”. Bisik Jonghyun ditelinga Eun Soo yang sesaat kemudian dijawab Eun Soo dengan sebuah anggukan kecil.

Jonghyun melepas pelukannya, ia menatap mata Eun Soo lekat – lekat yang dibalas Eun Soo dengan senyuman hangat.

“Na do saranghae, Jjong”. Kalimat itu terlontar manis dari bibir Eun Soo, membuat Jonghyun memandangnya dengan tatapan penuh kasih dan tersenyum hangat.

***

Rasa bahagia yang terpancar dimata mereka berdua jauh berbeda dengan sorot sepasang mata yang menatap mereka di balik pilar taman itu. Sorot mata itu menyiratkan amarah yang begitu besar, terlebih saat sepasang mata itu melihat Jonghyun mencium lembut bibir Eun Soo. Sorot mata itu dengan jelas berbicara bahwa sang pemilik mata ingin melakukan suatu yang tidak baik. Suatu yang dapat membuat seseorang seperti Eun Soo takut.

“Seharusnya dia bersamaku. Aku menyukainya, dia harus menjadi milikku”. Desis yeoja itu mengepalkan kedua tangannya.

“Wae geureohke marhaesseo?”.

Tiba – tiba yeoja yang baru saja ingin meninggalkan tempatnya saat melihat Jonghyun dan Eun Soo meresmikan hubungan mereka, yeoja itu dikejutkan oleh sebuah suara yang berasal tidak jauh dari tempatnya berdiri. Spontan yeoja itu langsung membalikkan badannya ke arah asal suara.

“Jinki?! Neo? Mwohaneun geoya yeogi jigeum?”. Yeoja itu langsung menatap panik kearah namja yang kebetulan juga merupakan teman satu kelasnya.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, apa yang kau lakukan disini? Menatap tajam kearah dua sejoli yang sedang meresmikan hubungan mereka dari kejauhan sambil mengepalkan tangan seperti ingin memukul mereka saat ini juga” namja itu perlahan berjalan kearah yeoja itu yang masih menatapnya gugup. “Apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini, Luna Ssi?”.

“Apa yang aku lakukan disini dan apa yang sedang ada didalam pikiranku sekarang sepertinya bukanlah urusanmu Jinki”. Sahut Luna dingin. “Dan aku harap kau bisa menganggap pertemuan kita ini tidak pernah terjadi, kau paham maksudku kan?”.

“Memang bukan urusanku, aku juga tidak perduli dengan isi yang ada dikepalamu itu. Geunde, jika aku boleh memberikan saran sebaiknya kau buang saja pikiran kotormu yang ingin berusaha memisahkan mereka”. Ucap Jinki tersenyum tipis dan itu langsung membuat emosi Luna memuncak.

“Ya! Mworago haneun geoya?!”. Baru saja Luna ingin menampar wajah Jinki namun kegiatannya tiba – tiba terhenti seketika saat ia menyadari ada dua orang yang berjalan mendekat kearah mereka.

“O, Luna’ya.. Jinki’ya..”.

“Eung, Jjong”. Sahut Jinki dengan santai. Sesaat Jonghyun dan Eun Soo menatap bingung secara bergantian kearah Luna dan Jinki, mereka merasa mimik wajah Luna seperti sedikit dipaksakan sedangkan Jinki hanya tersenyum tipis menanggapi gerak gerik aneh dari Luna.

“Kau kenapa Luna? Kau sakit?”. Tanya Eun Soo yang mengarahkan tangannya untuk menyentuh kening Luna. “Eh? Suhu badanmu normal saja”.

“Geunde wajahnya kelihatan sedikit pucat”. Sambung Jonghyun.

“Nan gwaenchanha. Keokjeongma”. Jawab Luna cepat sambil memaksakan seulas senyuman tipis. “Geureom, aku pergi dulu”.

Luna langsung berlari meninggalkan Jonghyun dan Eun Soo yang masih kebingungan dengan tingkah Luna yang menurut mereka tidak biasa, sedang Jinki yang juga masih berada disana hanya menatap kepergian Luna tanpa ekspresi.

“Waeire? Kenapa dia jadi tiba – tiba aneh begitu?”. Gumam Jonghyun bingung sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.

“Biar aku menyusulnya Jjong, ne?”. Sahut Eun Soo meminta persetujuan Jonghyun yang direspon Jonghyun dengan anggukan kepala serta seulas senyum. Eun Soo membalas senyumannya dan baru akan melangkahkan kakinya untuk menyusul Luna yang sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mereka bertiga namun dicegat oleh perkataan Jinki.

“Sebaiknya kau tidak perlu mengejarnya, Eun Soo’ah”.

“Eh? Wae Jinki’ah? Aku hanya..”.

“Tidak perlu dikhawatirkan, dia baik – baik saja. Dia seperti itu karena barusan aku habis menggodanya”. Jawab Jinki santai. “Geureom, na kalkke”.

***

Jonghyun P.O.V

“Ting tong~”.

Aku menekan bel pintu apartment Eun Soo, ini adalah hari pertama kami berkencan. Ya, setidaknya ini adalah kencan pertama kami setelah menyandang status sebagai sepasang kekasih.

“Klek”. Tak lama setelah itu pintu apartmentnya terbuka. Ia menyambutku dengan senyum yang sangat manis itu, dia bahkan terlihat sangat cantik dengan terusan santai selutut berwarna kuning muda yang kuhadiahkan padanya sebagai hadiah musim gugur. Tubuhku langsung mematung melihatnya yang tersenyum padaku, sangat cantik.

“Jjong?”.

“…”.

“Ya~, Jjong??”.

“…”.

“Ya ya ya~, Jonghyun’ah~, chagiya gwaenchani?”.

Dia memanggilku apa? Chagi? Omo, kenapa dia memanggilku seperti itu disaat aku belum menyiapkan mentalku?! Ya Tuhan, aku bisa gila.

“Kim Jonghyun Ssi~~, gwaenchanseumnikka???”. Ia terus memanggilku yang mematung sambil melaimbai – lambaikan tangannya di depan wajahku hingga akhirnya aku mengerjapkan mata.

“Eh? Ne, chagi? Oh, ne ne.. nan gwaenchanha”. Sahutku sedikit kikuk.

“Mwoya? Kenapa kau jadi aneh begitu? Masuk dulu Jjong, aku ingin mengambil tas dulu ke kamarku”. Sahutnya menyuruhku masuk yang ku jawab dengan anggukan kepala.

Setelah aku menutup pintu apartementnya, aku membalikkan badanku dan melihat ia yang berjalan membelakangiku. Tanpa sengaja aku mengiringinya dan memeluknya dari belakang.

“Omo?! Jjong.. waeyo?”.

“Hari ini kau sangat cantik.. chagiya”.

“Ne?”.

“Aku juga boleh memanggilmu chagi bukan? Kau tadi juga memanggilku begitu”. Aku mengeratkan pelukanku dan menyandarkan kepalaku dipundaknya.

“Dangyonghaji chagiya”. Sahutnya, tangannya lalu membelai lembut rambutku. “Geureom, bisa dilepaskan dulu? Aku ingin mengambil tasku”.

“Eung. Aku tunggu disini”. Sahutku tersenyum.

Aku berkencan dengannya disebuah taman ria. Dia terlihat sangat ceria dan tidak pernah berhenti memberikan senyuman manisnya padaku. Aku sangat bahagia saat dapat mengenggam tangannya dengan leluasa seperti ini, dan aku rasa ini adalah musim gugur paling cantik yang pernah kutemui selama hidupku. Karena dimusim gugur tahun ini aku telah mendapatkan kekasihku.

Kami lalu singgah ke sebuah kedai es krim. ‘Es krim adalah kudapan favoritku di muka bumi ini’ seperti itulah caranya bicara padaku saat ia ingin aku membelikannya semangkuk besar es krim. Dia sangat tahu bagaimana cara membuatku gemas padanya.

“Ini es krim-mu tuan putri~”. Aku menyerahkan mangkuk es krim itu padanya yang menunggu di kursi yang terletak di teras kedai.

“Gomawo~~”. Sahutnya tersenyum menyambut mangkuk es krim itu. “Ah, matta. Aku hampir lupa”. Ia meletakkan mangkuk es krim itu di meja lalu meraih tas yang ada disampingnya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas itu.

“Ini, Jjong”. Dengan tersenyum ia menyerahkan kotak kecil itu padaku.

“Ne? untukku?”. Tanyaku bingung.

“Eung, buka saja”. Aku lalu mengambil kotak kecil itu seraya membukanya.

“Gelang tali?”.

“Eung. Hadiah musim gugur untukmu”. Sahutnya. “Kau suka? Mian kalau simpulnya kurang rapi, maklum aku bukan pembuat gelang tali professional. Hahahaha”.

“Kau yang membuat ini?”. Tanyaku langsung mengangkat wajahku menatapnya.

“Eung. Wae? Tidak bagus ya?”. Sahutnya dengan nada kecewa dan menundukkan kepala. Aku langsung tersenyum kemudian mencondongkan badan untuk mengecup keningnya, membuat ia sedikit kaget.

“Gomawo chagi. Neomu yeppeo, aku janji akan terus memakainya”.

“Jinjja yeppeo?”. Tanyanya ragu.

“Geureom.. ini benar – benar cantik. Gelang ini sangat cantik karena gelang ini hanya ada satu di dunia, geutji? Kau membuatnya hanya untukku kan?”. Ucapku tersenyum menatapnya.

“Eung”. Angguknya membalas senyumanku.

“Geunde.. sebenarnya dengan kau menjadi kekasihku, aku sudah menganggap itu sebagai hadiah musim gugurku tahun ini”.

“Jjong..”.

“Saranghae Eun Soo’ah”. Aku kembali mencondongkan tubuhku untuk mencium keningnya tapi betapa terkejutnya aku saat ia menempelkan secolek es krim di hidungku, membuatku langsung membelalakkan mata.

“Omo! Ya~~, mwohaneun geoya?? Eiisssh~~, kau harus di hukum kalau begini”. Dengan cepat aku langsung duduk disampingnya dan melingkarkan tanganku untuk mengunci tubuhnya.

“Ya, mwohaneun geoya?”. Ia menatapku gugup.

“Menurutmu apa? Cepat bersihkan hidungku”. Sahutku sembari menjulurkan lidah.

“Aigoo.. arasseo~”. Ia lalu mengambil tissue dan mulai membersihkan hidungku. “Haesseo”.

“Sudah? Tapi yang tadi bukan hukumannya”. Sahutku memperlihatkan wajah pervertku.

“Mwo?”.

“Ini hukuman untukmu”. Tanpa menunggu lama aku langsung mengunci bibir tipisnya itu dengan bibirku.

Author P.O.V

From: Jonghyun
‘Besok setelah kelas usai temui aku di gudang belakang kampus, saranghae’.

Eun Soo mengeryitkan dahinya saat membaca pesan singkat yang didapatkannya malam itu. “Bukannya besok Jonghyun tidak ada jadwal kuliah? Lagipula dia tadi bilang kalau besok ingin pergi ke Jepang menemui ibunya, apa batal?” gumam Eun Soo. Ia hanya mengangkat kedua bahunya lalu meletakkan ponselnya di meja.

“Geureom, perkuliahan kita siang ini selesai”.

Mendengar dosen mengakhiri perkuliahan siang itu, Eun Soo langsung membereskan semua bukunya ke dalam tas dan sesegeranya beranjak dari tempat duduknya. Dalam pikirannya saat ini adalah keluar dari kelas dengan segera dan berlari menemui Jonghyun di tempat sesuai dalam pesan singkat yang diterimanya tadi malam.

Setelah merasa semua barangnya masuk kedalam tasnya, tanpa menunggu lama Eun Soo langsung keluar dari kelasnya dan berlari kecil menuju gudang di belakang kampus. Ya, memang sempat terpikir di benak Eun Soo ‘kenapa harus bertemu di depan gudang belakang kampus? Bukankah tempat itu sudah sangat lama tak terjamah’.

Sesampainya di gudang itu, Eun Soo memperlambat langkahnya sambil melihat – lihat sekitar mencari sosok namja yang belum nampak di indera penglihatannya. Dengan sedikit ragu ia berjalan mengarah gudang dan membuka pintu gudang yang sudah nampak rapuh itu, saat ia baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam ia langsung dikejutkan dengan suara dari arah belakangnya.

“Kau kesini ingin mencari Jonghyun, namja chingu-mu bukan?”.

Eun Soo lantas langsung terperanjat dan membalikkan tubuhnya mencari asal suara.

“Lu.. Luna?”. Eun Soo langsung bingung saat melihat bahwa Luna sahabatnya sudah berdiri tepat di ambang pintu gudang itu. Ya, ia bingung lantaran tadi ia sangat yakin tidak ada yang mengikutinya saat ia menuju kemari.

“Maja, ige naya. Wae? Kau terkejut dan bingung dengan kehadiranku disini?”. Luna tersenyum sinis dan dengan perlahan melangkahkan kakinya mendekati Eun Soo yang berdiri tak terlalu jauh darinya.

“Mworago? Apa maksudmu Lun? Geurigo mwohaneun geoya..”.

“Apa yang aku lakukan disini sekarang aku rasa tidak terlalu penting untuk dibahas Eun Soo”. Potong Luna yang terus berjalan mendekati Eun Soo yang sekarang merasa sedikit takut padanya.

“Wae? kenapa kau jadi melangkah mundur begitu? Kau takut padaku?”. Tanya Luna datar dan mulai menghentikan langkahnya. “Geureom, aku akan mengaku sekarang. Sebenarnya orang yang tadi malam mengirimimu pesan singkat itu adalah aku”.

“Mworago?”. Eun Soo membelalakkan matanya. “Maldo andwae. Aku sangat yakin tadi malam itu yang mengirimiku pesan adalah Jjong!”.

“Geurae, kau bisa berkata begitu karena nomor pengirim yang muncul di ponselmu adalah nomor Jonghyun geutji?”. Luna menatapnya sinis. “Tapi bukan dia yang menulis pesan itu, aku. Aku yang merencanakan semua ini Eun Soo’ah”.

“Apa maksudmu..?”.

“Jangan berlagak seperti yeoja bodoh! Kau ingin aku menceritakan detilnya? Arasseo, kalau itu maumu”. Luna melangkahkan kakinya dengan cepat kearah Eun Soo yang langsung spontan melangkah mundur hingga tanpa sengaja terduduk dikursi kayu yang ada dibelakangnya.

“Tadi malam aku memintanya untuk menemuiku di minimarket dekat apartmentnya, lalu setelah ia menghampiriku aku mengajaknya bicara sebentar. Karena namja chingu-mu itu selalu baik dengan para yeoja akupun memanfaatkan sifat lembut dan baiknya itu”. Luna menghentikan perkataannya dan menarik kursi yang lain lalu duduk tepat di depan Eun Soo.

“Apa yang kau lakukan padanya?! Kalau kau sampai menyakiti Jonghyun maka kau akan.. Akkh!”.

“Akan apa?!“. Potong Luna yang menampar wajah Eun Soo hingga Eun Soo tersungkur ke lantai. “Aku tidak mungkin menyakiti namja yang aku cintai!”. Pekik Luna yang membuat Eun Soo terkejut dan langsung memalingkan wajahnya.

“Apa kau bilang?”. Tanya Eun Soo pelan.

“Ne. Aku juga sangat mencintai Jonghyun. Aku sudah menyukai bahkan sebelum kalian akrab! Seharusnya yang menjadi kekasihnya adalah aku! Harusnya aku yang memilikinya! Aku!!!!”.

Tanpa diduga tangan kanan Luna telah memegang sebuah pisau dan itu langsung membuat Eun Soo membelalakkan matanya. Saat ini ia benar – benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan, wajahnya terlihat begitu ketakutan saat Luna mulai membungkukkan badan kearahnya.

“Kau harus mati Eun Soo! Jugeobeoryeo~!!!”.

“Jonghyun, saranghae~”. Eun Soo menutup kedua matanya saat Luna ingin menghujamkan pisau yang digenggamnya dengan erat itu kearahnya, dan saat Luna sudah hamper melakukan aksinya tangannya yang menggenggam pisau ditahan oleh tenaga yang dua kali lebih kuat darinya.

“Geumanhae Luna!”.

Luna yang waktu itu terkejut langsung memalingkan wajahnya dan langsung melihat tangannya sudah dicengkram dengan sangan kuat, begitu pula Eun Soo yang juga langsung membuka kedua matanya untuk melihat apa yang terjadi.

“Jjong~”. Betapa terkejutnya Eun Soo saat melihat Jonghyun sekarang sudah ada dihadapannya dan mengcengkram tangan Luna dengan sangat kuat. Ya, ia bisa melihat cengkraman Jonghyun yang begitu kuat itu dari urat – urat lengan Jonghyun yang mengencang.

“Ya! Lepaskan aku!! Sakit..!”.

“Ini belum seberapa dari apa yang sudah kau lakukan terhadap yeoja-ku Luna!!!”. Pekik Jonghyun dengan sangat keras dan langsung menarik Luna menjauh dari Eun Soo kemudian merebut pisau ditangan Luna dan membuangnya.

“Ya!!! Apa yang kau pikirkan hah?! Apa dengan cara menjijikkan seperti ini maka semua keinginanmu akan terwujud??!! Apa kau lupa kalau Eun Soo adalah sahabatmu dari kecil?! Kau ini sebenarnya sahabatnya atau bukan?!!”. Jonghyun tidak dapat menahan emosinya dan langsung membentak Luna dan membuat Luna menangis.

“Aku.. aku.. ini semua..”. Kedua kaki Luna seakan kehilangan kekuataannya untuk terus menopang tubuh Luna akhirnya lemas dan membuat Luna terduduk di depan Jonghyun. “Aku mencintaimu Jjong.. aku mencintaimu”. Luna langsung membungkuk dihadapan Jonghyun dan menangis terisak. “Aku cemburu Jjong.. aku benci saat aku melihat kalian menjadi sepasang kekasih di depan mataku~! Rasanya benar – benar sakit Jjong, sangat sakit..”. Ucap Luna sambil terisak dan memukul lemah dadanya.

Jonghyun dan Eun Soo terdiam melihat Luna yang menangis dihadapan mereka berdua. Sesaat kemudian Jonghyun meninggalkan Luna dan berjalan menghampiri Eun Soo lalu membantunya berdiri.

“Gwaenchanha chagi?”.

“Eung”.

Jonghyun pun langsung mendekap kekasihnya itu kedalam pelukannya. “Untunglah kau tidak apa – apa”. Ucap Jonghyun mengecup kening Eun Soo. Jonghyun lalu memalingkan wajahnya untuk melihat kearah Luna yang masih terduduk menangis.

“Eun Soo, kau ingin aku melakukan apa dengan yeoja ini?”. Seketika itu Eun Soo langsung tercengang pada Jonghyun yang berkata dengan tiba – tiba seperti itu, tak terkecuali Luna yang juga mendongakkan kepalanya dan memasang wajah takut.

“Jjong.. apa maksudmu..”.

“Dia telah menyakitimu chagi. Dia telah berani menyakiti kekasihku, jadi kau ingin aku melakukan apa padanya? Apa perlu aku harus..”.

“Maafkan dia Jjong..”.

Jonghyun langsung menatap Eun Soo dan melihat kearah mata Eun Soo lekat – lekat.

“Geunde..”.

“Menyakiti orang lain bukanlah sifat seorang dokter. Bukankah itu yang pelajari selama ini?”. Ucap Eun Soo tersenyum tipis. “Dan bagaimanapun juga Luna adalah sahabatku sejak kecil Jjong, aku sangat menyayanginya”. Eun Soo melangkahkan kakinya perlahan kearah Luna dan berjongkok tepat didepannya.

“Luna, asalkan kau berjanji tidak akan seperti ini lagi padaku dan tetap menjadikanku temanmu.. aku akan melupakan semua yang terjadi hari ini”.

Luna yang mendengar perkataan Eun Soo hanya bisa terdiam sedangkan Eun Soo memberikan senyuman hangatnya pada Luna.

“Kau tidak membenciku kan? Kau tetap menganggapku sahabtmu geutji?”.

“Mi.. mianhae.. mianhae.. mianhae..”. Luna kembali menangis kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Eun Soo yang melihatnya pun langsung mendekapnya. “Gwaenchanha Luna.. aku tahu kau bukan orang yang seperti ini”.

“Jjong.. kau juga pasti bersedia memaafkannya kan?”.

Jonghyun yang melihat kekasihnya itu hanya bisa menghela nafas panjang dan tersenyum tipis.

“Ya, Jonghyun’ah~ bagaimana bisa kau tiba – tiba ada disana juga dan menyelamatkanku? Bukankah kau bilang kalau kau hari ini akan berangkat ke Jepang menemui eomma-mu”. Tanya Eun Soo saat dalam perjalanan pulang dalam mobil Jonghyun.

“Jinki yang memberitahuku”. Jawab Jonghyun santai dan tersenyum sekilas pada Eun Soo.

“Jinki?”.

“Geureom, ia menceritakan semuanya padaku. Jadi aku membatalkan keberangkatanku ke Jepang hari ini”. Terang Jonghyun. “Aku tidak mau ada yang menyakitimu chagi, siapapun itu orangnya”.

“Gomawo Jjong”. Ucap Eun Soo tersenyum hangat.

“Kira – kira sekarang bagaimana?”.

“Eung? Bagaimana apanya?”.

“Kau dan Luna tentu saja. Aku tidak menyangka kau bahkan tidak membencinya pasca kejadian tadi”.

“Aku tidak bisa membencinya Jjong.. karena dia adalah orang yang membantuku dan memberikan semangat untukku melawan penyakitku”.

“Penyakit?”. Ulang Jonghyun memastikan apa yang ia dengar dan membuat Eun Soo tersadar kalau ia sudah mengatakan apa yang seharusnya tidak ia ucapkan.

“Eh? Ani.. geugae.. tidak apa Jjong. Ne, bukan apa – apa, hehe”. Sahut Eun Soo buru – buru. Jonghyun yang sebenarnya saat itu bingung pada akhirnya hanya mengeryitkan dahinya dan menambah kecepatan mobilnya.

***

7 Tahun kemudian

“Kanker Leukimia stadium akhir?”.

Ne, Oppa. Kanker yang menggerogotiku telah masuk stadium akhir”. Eun Soo tersenyum pahit menyelesaikan kalimat terakhirnya sebelum ia melanjutkan menyuap makan siangnya di cafetaria rumah sakit.

“Apa anak itu sudah tahu?”.

“Apa maksudmu?”.

“Jonghyun, kekasihmu”.

“Ani. Aku merahasiakan semua ini darinya Oppa”.

“Dia harus mengetahuinya dongsaeng’ah, kita bekerja di rumah sakit yang sama. Aku yakin cepat atau lambat dia pasti akan curiga”.

“Aku rasa tidak. Semoga saja tidak. Kita memang bekerja dirumah sakit yang sama tapi kita berada di bidang yang berbeda, aku dan Oppa adalah dokter specialist penyakit dalam sedangkan ia adalah dokter specialist anak sama dengan Luna. Kami jarang bisa bertemu meski berada di rumah sakit yang sama karena kesibukan masing – masing”. Ucap Eun Soo seraya menyeruput air dalam gelas yang ada di depannya.

“Maaf mengganggu anda di jam makan siang Dokter Park, geundae pasien rawat inap di kamar nomor 303 kembali tak sadarkan diri”. Tiba – tiba salah seorang dokter muda yang meurapakan asisten kakak ipar Eun Soo itu datang berlari menghampiri mereka berdua yang tengah menikmati makan siang di cafeteria rumah sakit.

“Geureom, aku akan langsung kesana bersamamu”. Sahut namja bernama lengkap Park Hendy itu sambil menganggukkan kepalanya. “Eun Soo’ah, aku harus pergi”.

“Ne Oppa, aku juga sebentar lagi selesai”.

Jonghyun P.O.V

“Ting Tong~”. Aku menekan bel pintu apartment Eun Soo, malam ini aku ingin mengajaknya makan malam ke apartmentku untuk kukenalkan dengan Eomma dan Yeodongsaengku.  Ya, kebetulan tahun ini Eomma dan Yeodongsaengku yang sejak 6tahun lalu menetap di Osaka sekarang sedang berada di Seoul.

“Clek”. Tak lama pintu apartmentnya terbuka, ia menyambutku dengan senyum yang sangat aku suka itu. Aku membalas senyumannya, tapi sesaat kemudian aku merasa ada yang tidak biasa darinya.

“Chagiya, gwaenchanha?”. Tanyaku saat ia keluar dan menutup pintu apartment.

“Eung, gwaenchanha. Wae chagi?”.

“Kalau kau baik – baik saja kenapa akhir – akhir ini wajahmu selalu terlihat pucat seperti itu. Jamkan, malam ini bahkan 2 kali lebih pucat”. Sahutku yang dengan cepat langsung memegang keningnya dan benar saja, dugaanku tidak meleset suhu badannya sangat tinggi. “Eomo! Chagiya, kau sakit? Badanmu sangat panas chagi..”. Ucapku dengan nada khawatir, dengan sigap ia langsung menjauhkan tanganku yang menempel di keningnya.

“Nan gwaenchanha, Jjong. Keokjeongma”. Sahutnya cepat.

“Anya. Ini ada yang tidak beres, kau sedang sakit chagi. Apa kita batalkan saja dulu acara malam ini? Biar aku bisa periksa..”

“Jangan Jjong”. Potongnya dan mengulaskan senyum tipis untuk meredakan kekhawatiranku. “Nan gwaenchanha, jinjja. Aku hanya kelelahan.. hari ini sangat banyak pasien yang rawat inap dan rawat jalan yang harus aku tangani”.

Aku mengeryitkan keningku. Bagaimana tidak, sebenarnya sudah satu tahun terakhir aku merasa ada yang tidak beres dengan kondisi Eun Soo. Sudah sangat sering aku mendapati wajah Eun Soo pucat seperti ini saat bertemu dirumah sakit atau saat sedang ingin pergi berkencan.

“Percayalah padaku Dokter Kim Jonghyun.. aku tidak apa – apa”. Ucapnya tersenyum. “Geureom, kita berangkat sekarang? Eomma dan Yoon Seo adikmu pasti sudah menunggu kita”.

“Eung, kaja”. Dengan rasa yang masih sangat penasaran dengan keadaannya aku hanya bisa mengikuti keinginannya dan menuntun tangannya keluar apartment.

“Eomma~ dongsaeng’ah~ kami datang”. Aku memanggil Eomma dan Yeodongsaengku begitu aku dan Eun Soo telah masuk ke apartmentku.

“Oppa~~~!!!”. Yoon Seo, yeodongsaengku satu – satunya itu datang menyambut kami pertama kali.

“Hei hei.. chagiya~”. Aku langsung memeluk yeodongsaeng kesayanganku itu lalu mengecup keningnya. “Chagi, perkenalkan ini Eun Soo, eonni. Hehehe”.

“Ne~. Annyeonghaseyo Eun Soo Eonni, bangapta”. Yoon Seo menyambutnya dengan hangat seraya membungkukkan badannya.

“Ne~, bangapta”. Sahut Eun Soo tersenyum. “Ternyata kau memang benar – benar seorang yeoja yang sangat manis dan cantik”.

“Ne? Eonni bisa saja, hehe”.

“Geureom.. Oppa-mu tidak pernah berhenti bercerita kalau ia memiliki seorang yeodongsaeng yang sangat cantik padaku”. Sahut Eun Soo melirikkan matanya menunjuk kearahku.

“Annyeong~, kau pasti Eun Soo geureohji?”. Tak lama kemudian Eomma-ku menyusul kami yang tengah asik bercengkrama di ruang tamu.

“O, Annyeonghaseyo eomoni~. Jeon Kim Eun Soo imnida”. Eun Soo langsung membungkukkan badannya pada Eomma-ku.

“Ne, Eomma. Kenalkan ini Eun Soo”. Sahutku setelah memberikan pelukanku pada Eomma.

“Dia sangat cantik Jjong”. Puji Eomma-ku dan membuat kami tertawa kecil. “Geureom, ayo kita nikmati hidangan makan malamnya. Eun Soa’ah, Jjong bilang kalau kau sangat suka pastel tutup geutji? Eomma telah menyiapkannya untukmu”.

“Ah geuraeyo? Jeongmal ghamsahamnida Eommoni.. seharusnya eommoni tidak perlu repot – repot”.

“Ani ani, sama sekali tidak repot sayang. Geureom ayo kita ke ruang makan”.

“Jjong~!!! Neo eodiya jigeum??!!! Cepat ke rumah sakit, Eun Soo ditemukan pingsan di ruangannya!”

Aku langsung melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi begitu menerima telepon dari Luna saat aku sedang berada di rumah salah satu pasienku yang rawat jalan. ‘Eun Soo’ pingsan, tak salah lagi berarti kecemasanku selama ini benar, ada yang tidak beres dari kondisi kesehatan Eun Soo.

Setelah menempuh waktu 20 menit akhirnya aku sampai di rumah sakit tempat aku, Luna dan Eun Soo praktek. Aku langsung berlari menuju ruang gawat darurat untuk melihat keadaan kekasihku.

“Lun~!”

“Omo! O, Jjong’ah”.

“Eun Soo eottae? Gwaenchanha? Aku ingin masuk kedalam, ne?”.

“Anya Jjong, jangan masuk dulu. Eun Soo sedang diperiksa oleh Hendy Oppa”. Cegah Luna menahan tanganku. “Tenangkan dirimu dulu Jjong~”.

Aku menghela nafas panjang untuk melepas keteganganku. Kepalaku tidak berhenti memutar otak untuk menganalisa apa yang terjadi pada Eun Soo.

“Geureom, sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa Eun Soo tiba – tiba bisa pingsan?”. Aku memalingkan wajah pada Luna yang berdiri di sampingku, dan tiba – tiba saja raut wajah Luna langsung berubah. Sepertinya ia sudah tahu lama akan keadaan Eun Soo, tapi kenapa ia tidak menceritakannya padaku?

“Lun, wae~? Kau pasti mengetahui sesuatu bukan? Apa yang sebenarnya terjadi? Marhae bwa”. Ucapku tegas padanya.

“Sasireun Eun Soo..”.

“Mwo? Apa yang terjadi padanya? Ya Choi Luna! Marhae bwa!”. Sahutku lagi kali ini sambil mengguncang – guncang tubuhnya, saat ini aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku. Dan saat Luna baru saja ingin menjawab pertanyaanku, tiba – tiba pintu ruang gawat darurat yang ada tepat di depan kami terbuka.

“Jonghyun’ah..”.

“Hendy Hyeong. Eun Soo, Eun Soo eottae? Gwaenchanha? Aku ingin melihatnya Hyeong, Jebal”.

“Ikut ke ruanganku, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Luna, tolong kau bantu aku mengurus Eun Soo untuk di pindahkan ke ruang khusus”.

Mwo? Ruang khusus? Sebenarnya ada apa? Kepalaku terus memaksa untuk memutar otakku yang kurasa sudah tidak berfungsi dengan baik saat ini. Untuk apa Eun Soo di bawa ke ruang khusus? Bukankah ruang khusus ini di peruntukkan untuk orang yang mengidap.. kanker?

“Jamsimanyo. Hyeong, apa maksudmu Eun Soo harus di pindahkan ke ruang khusus?”.

“Aku akan menjelaskannya, di ruanganku”. Sahutnya singkat. “Geureom Luna, aku percayakan segala urusannya padamu”.

“Ne, Oppa”. Luna dengan cepat langsung masuk ke ruang ICU untuk berkoordinasi dengan tim perawat untuk pemindahan Eun Soo ke ruang khusus, sedang aku yang saat ini masih bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa diam mematung.

“Ayo Jonghyun, ikut aku ke ruangan”.

“Mworagoyo? Eun Soo.. terkena Leukimia?”.

“Ne, dan sekarang kanker Leukimia yang di derita Eun Soo sudah mencapai stadium akhir”.

Tubuhku langsung lemas ketika mendengar penyakit yang selama ini menyerang Eun Soo adalah kanker Leukimia. Jadi selama ini ia menderita kanker, penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Tanganku langsung memijat keningku yang terasa pening, rasanya saat ini aku bisa saja langsung terkena depresi. Aku bahkan belum menyiapkan mentalku untuk pemaparan berikutnya yang akan dilontarkan oleh Hendy Hyeong.

“Sudah berapa ia mengidap Leukimia Hyeong?”. Tanyaku memaksa mulutku yang terasa begitu kaku untuk bicara.

“Sejak 5 bulan terakhir”.

“Apa?! Ia sudah mengidap Leukimia selama 5 bulan dan ia tidak member tahuku?!”.

“Aku dan Luna ingin member tahukannya padamu tapi Eun Soo melarangnya. Ia tidak ingin penyakit yang dideritanya membebani pikiran yang pada akhirnya bisa mempengaruhi karirmu”.

Aku lagi – lagi terdiam dan langsung menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku mengutuk diriku sendiri berkali – kali dari dalam hati, betapa bodohnya aku yang tidak menyadari bahwa yeoja yang sangat aku cintai mengidap penyakit mematikan. Tanpa sengaja tetes air mengalir dari pelupuk mataku, aku benar – benar tidak tahu bagaimana cara menghadapi kenyataan pahit seperti ini.

“Hyeong, apa Eun Soo akan melakukan kemoterapi?”. Tanyaku dengan sisa tenaga yang kupunya.

“Tentu saja. Kali ini aku akan tetap menyuruhnya melakukan kemoterapi meski ia tidak mau. Aku mohon kau bisa membantuku untuk hal ini Jjong, ya.. setidaknya ia lebih mendengarkanmu daripada kakak iparnya”.

“Ne, Hyeong arasseo. Geureom, bisa aku menemui Eun Soo sekarang?”.

“Ya tentu saja. Saat ini mungkin Eun Soo sudah di pindahkan ke ruang khusus, kau boleh menemuinya disana”.

“Ne, arasseo. Aku pergi Hyeong”.

Author P.O.V

Malam itu Jonghyun melangkahkan dengan pelan kakinya yang terasa berat berjalan di tengah – tengah koridor rumah sakit. Setelah semua pekerjaannya selesai ia ingin kembali menjenguk Eun Soo yang sampai sekarang belum sadarkan diri.

Sesampainya di ruang khusus tempat Eun Soo dirawat, Jonghyun langsung mengambil posisi duduk di samping tempat tidurnya lalu dengan perlahan menggenggam tangannya yang terasa begitu lemah.

“Chagiya annyeong.. sekarang sudah musim dingin chagi dan sebentar lagi salju akan turun. Kau sangat menyukai salju bukan? Aku mohon bukalah matamu, agar aku dapat membawamu melihat salju yang turun dengan indah”.

Jonghyun tersenyum pahit melihat yeoja yang sangat dicintainya itu terkulai lemah dihadapannya. Tangannya yang bebas lalu dengan perlahan mengambil sebuah kotak kecil yang ada di dalam saku celananya, kotak kecil itu dibukanya lalu Jonghyun langsung tersenyum kecil saat melihat benda yang di dalamnya.

“Bangunlah Eun Soo. Kau harus sembuh, kau pasti bisa mengalahkan penyakit sialan ini chagi.. kau harus sembuh, agar aku bisa menyematkan ini ke jari manismu.. aku ingin kita menikah, aku ingin kau menjadi nyonya Jonghyun untukku..”.

Tanpa sengaja airmata Jonghyun kembali membasahi pipinya. Jiwanya begitu terguncang melihat yeoja yang ingin ia jadikan pasangan hidupnya saat ini terkulai lemah tak bedaya menghadapi kanker yang menggerogoti tubuhnya.

Tak selang beberapa lama, Jonghyun merasa tangan Eun Soo yang masih digenggamnya bergerak, ia pun langsung menengadahkan kepalanya lalu berdiri untuk memeriksa keadaan Eun Soo. Saat Jonghyun membelai lembut wajah Eun Soo, saat itulah Eun Soo dengan perlahan membuka kedua matanya.

“J..Jjong..”.

“Ne, ne chagi, aku disini. Aku bersamamu”. Sahut Jonghyun tersenyum hangat.

“Sa.. sakit.. sangat sakit.. Jjong..”. Eun Soo menggenggam erat tangan Jonghyun seakan tidak ingin Jonghyun pergi kemanapun saat itu.

“Kenapa kau tidak memberi tahuku chagi? Kenapa kau membiarkan penyakit ini menggerogotimu?”. Lirih Jonghyun melihat miris kearah kekasihnya, namun hanya ekspresi lemah tak bedayalah yang didapatnya dari Eun Soo.

“Chagi.. aku mohon untukmu menjalani kemoterapi, ne?”.

“Anhae.. aku tidak..”.

“Chagiya jebal.. lakukan demi aku”.

Beberapa bulan kemudian Eun Soo pun menjalani kemoterapi. Jonghyun, disela – sela kesibukannya sebagai dokter anak ia selalu menyempatkan waktunya untuk mendampingi Eun Soo. Ya, setidaknya ia ingin melewati musim dingin tahun ini dengan selalu berada disamping Eun Soo disisa waktu yang mereka miliki.

“Hyeong~, apa kita tidak bisa melakukan jalan lain? Aku yakin Eun Soo pasti bisa melawan penyakit sialan itu Hyeong! Apa perlu aku melakukan penelitian mengenai obat yang bisa menyembuhkan kanker?”.

“Itu tidak mungkin Jonghyun, kau adalah dokter specialist anak. Hanya dokter specialist penyakit dalam yang dapat melakukan penelitian itu”. Sahut Hendy seraya duduk di kursi kerjanya. “Mianhae Jjong’ah, geunde.. kanker itu lebih kuat dari Eun Soo. Geurigo..”.

“Geurigo mwol? Mwoya Hyeong~!!! Aku mohon, tolong jangan seperti ini padaku. Aku bisa gila”.

“Menurut analisa dari pemeriksaan Eun Soo yang terakhir, waktu ia hanya sampai pada musim salju tahun ini”.

“Mworago? Maksudmu..”.

“Jeongmal mianhae Jjong, aku dan tim ku sudah berusaha semaksimal mungkin”.

Jonghyun tak kuasa menahan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Ia benar – benar tidak menyangka bahwa yeoja yang sangat dicintainya akan pergi meninggalkannya secepat itu.

Jonghyun melangkahkan kakinya dengan tidak semangat menyusuri koridor rumah sakit. Ia tidak memerdulikan beberapa perawat yang menyapa dan menundukkan kepala untuk menyapanya. Saat ini pikirannya dipenuhi dengan Eun Soo dan takdir pahit yang akan ditemuinya.

Perhatian Jonghyun kemudian beralih pada langit malam yang di lihatnya dari teras koridor rumah sakit.

“Turun salju..”. gumamnya pelan. Ia sempat menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya saat melihat salju yang berjatuhan dengan sangat cantik. Ia teringat akan Eun Soo yang selalu gembira saat melihat salju turun dengan indahnya, dimana pada saat itu mereka merayakan natal bersama dan ia menerima sebuah ciuman manis dibibirnya dari Eun Soo sebagai hadiah natal. Namun senyuman tipis yang terlukis di wajah tampan Jonghyun perlahan terhapus oleh airmata yang perlahan kembali mengalir dari pelupuk matanya. Kalimat dari Park Hendy yang baru saja ia dengar membuatnya benar – benar rapuh.

“Jjong..”. Lamunan Jonghyun terpecah saat ia mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya dan menepuk pundaknya dengan perlahan. Ia dengan segera menghapus airmatanya dengan kedua ibu jarinya lalu membalikkan tubuhnya menghadap orang itu.

“Oh, kau Luna”.

“Mian mengagetkanmu”. Sahut Luna tersenyum tipis, ia merasa miris melihat Jonghyun yang benar – benar tertekan karena kondisi Eun Soo.

“Ani, gwaenchanha”. Sahut Jonghyun membalas senyuman Luna sekenanya. “Kau sudah mau pulang?”.

“Ne”. Angguk Luna. “Tadi sebelum pulang aku membesuk Eun Soo, dia mencarimu Jjong. Temui dia”.

“Ne, arasseo. Gomawo Luna’yah”. Sahut Jonghyun menganggukkan kepalanya.

“Geureom, na kalkke”. Ucap Luna menepuk pundak Jonghyun kemudian berlalu.

Jonghyun masuk keruang khusus tempat Eun Soo dirawat, ia langsung memberikan senyuman terbaiknya untuk Eun Soo kekasihnya yang saat itu dilihatnya sedang membaca sebuah buku.

“Jjong.. kau datang”. Sambut Eun Soo tersenyum.

“Ne chagi. Luna bilang kau mencariku”.

“Eung”. Angguknya “Bogosipheo. Jeongmal bogosipheo Jjong..”.

Jonghyun langsung mendekati Eun Soo lalu mengecup halus bibir Eun Soo yang tipis. “Na do bogosipeo chagi”.

“Kau masih mau mencium yeoja yang botak sepertiku?”. Tanya Eun Soo dengan nada bercanda. Ya, dikarenakan efek dari obat kemoterapi yang di konsumsi Eun Soo menyebabkan perlahan rambutnya rontok hingga ia memutuskan untuk mencukur seluruh rambutnya.

“Aku tidak perduli bagaimana bentuk fisikmu yang dulu ataupun sekarang chagi.. kau masih yeoja paling cantik bagiku”. Sahut Jonghyun seraya duduk di atas tempat tidur Eun Soo lalu membenamkan Eun Soo kepelukannya.

“Saranghae Eun Soo’ah”.

“Na do saranghae Jjong..”. Eun Soo kemudian bermanja dalam pelukan namja yang begitu dicintainya itu. Eun Soo merasakan hangat dan nyaman saat berada dipelukan Jonghyun.

“Eun Soo’ah..”.

“Hhmm?”.

“Kau ingin melihat salju?”.

“Eh? Boleh kah?”.

“Tentu saja. Kita keluar sebentar untuk melihat salju, ne? Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu”.

Jonghyun membawa Eun Soo dengan kursi roda menuju atas atap gedung rumah sakit. Ya, atas atap rumah sakit kebetulan juga difungsikan sebagai tempat para penjenguk pasien untuk bersantai minum kopi, jadi terdapat beberapa kursi kayu panjang yang dilengkapi dengan paying besar sebagai pelindung agar orang yang duduk dapat terhindar dari panas atau hujan.

Setelah sampai keatas puncak gedung rumah sakit, Jonghyun menggendong Eun Soo untuk duduk di salah satu dikursi yang letaknya paling dengan pohon natal.

“Cham.. mari aku betulkan dulu syal, jaket dan topi rajut-mu agar kau tidak kedinginan”.

“Aku masih kedinginan Jjong..”.

“Eh? Jinjja? Mau kulapisi dengan mantelku chagi?”. Baru saja Jonghyun ingin melepas mantelnya namun Eun Soo menahan tangannya dan tersenyum.

“Anajwo.. peluk aku. Aku ingin kau memelukku.. aku ingin melihat salju yang turun dari dalam pelukanmu Jjong”.

Jonghyun tersenyum hangat mendengar permintaan Eun Soo yang terdengar begitu manja ditelinganya. Ia pun langsung duduk merapat dengan Eun Soo dan membenamkan Eun Soo perlahan kepelukannya.

“Arasseo yeoja-ku yang manja..”. Sahut Jonghyun mengecup pipi Eun Soo.

“Saljunya sangat cantik, geutji?”. Gumam Eun Soo sambil bermanja di pelukan Jonghyun.

“Eung, maja. Sangat cantik, seperti kau”. Sahut Jonghyun mengecup hangat kening Eun Soo.

“Jjong.. kau bilang kau menyiapkan hadiah, geunde untuk apa? Natal masih satu minggu lagi”. Ucap Eun Soo menengadahkan kepalanya.

“Apa kau lupa, hari ini adalah hari ulang tahunmu. Tepat jam 12 malam tadi, aku membisikkan saengil chukhahae saat kau masih terlelap chagi”. Sahut Jonghyun menundukkan kepalanya seraya mengusap lembut wajah Eun Soo.

“Ne? Aaah.. aku lupa, ya ampun. Geunde, kenapa kau tidak membangunkanku? Percuma saja kau mengucapkan saengil chukhahae untukku tapi aku tidak mendengarnya”. Sahut Eun Soo cemberut, membuat Jonghyun gemas.

“Ya~, Kim Eun Soo.. aku bahkan sudah mencium bibirmu sampai 20 kali tapi kau tidak bangun – bangun juga. Atau.. harus lebih dari ciuman baru kau bisa dibangunkan?”. Bisik Jonghyun dengan nada sedikit nakal sembari menampakkan smirk-nya yang membuat Eun Soo membelakkan matanya.

“Mwo?! Ya,Kim Jonghyun neo.. ehhmm..”. Jonghyun langsung mengunci bibir Eun Soo dengan bibirnya. Lewat ciuman itu ia meluapkan kasih sayangnya yang begitu besar pada Eun Soo.

“Saengil Chukhahae..”. Bisik Jonghyun seraya mengecup ujung hidung Eun Soo, Eun Soo membalasnya dengan senyuman. Jonghyun kembali memeluk Eun Soo, lalu menghela nafasnya. Tangannya kemudian mengambil sebuah benda dari saku celananya, sebuah kotak kecil berhiaskan pita berwarna pink.

“Ige”. Jonghyun lalu menyerahkan kotak kecil dengan pita berwarna pink itu.

“Mwoya ige?”. Tanya Eun Soo.

“Buka saja”.

Eun Soo pun membuka kotak kecil itu dan seketika wajahnya menunjukkan keterkejutan saat melihat isinya.

“Sebuah cincin?”.

“Eung.. cincin. Joha?”. Sahut Jonghyun tersenyum, Eun Soo menatapnya dengan mata berbinar.

“Jjong..”. Jonghyun kembali tersenyum padanya, kemudian berlutut di depan Eun Soo.

“Aku ingin kau menjadi nyonya Jonghyun untukku”. Jonghyun kemudian mengambil cincin dari dalam kotak yang ada di tangan Eun Soo sambil tersenyum kecil. “Geuraeseo.. izinkan aku untuk menyematkan cincin ini di jari manismu. Menikah denganku, Eun Soo’ah”.

Eun Soo tak kuasa menahan airmata yang sedari tadi menggenang di ujung pelupuk matanya. Di satu sisi ia begitu bahagia saat namja yang sangat dicintainya melamarnya di hari pergantian usianya, namun disisi lain hatinya merasa sangat perih karena Jonghyun melamarnya disaat ia sendiri tidak dapat menjamin kalau hidupnya akan bertahan lama.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Jonghyun. Ia sangat gembira saat ia dapat melamar yeoja yang sangat dicintainya dengan disaksikan oleh salju yang turun dengan indah pada malam itu, tapi ia tidak dapat mengingkari bahwa pernikahan yang begitu dinginkannya mungkin tidak akan dapat terjadi.

“Kau bersedia menjadi nyonya Jonghyun untukku, kan?”. Jonghyun tersenyum hangat menatap Eun Soo yang menangis dihadapannya. Dengan lembut ia menghapus airmata Eun Soo dengan kedua ibu jarinya setelah ia menyematkan cincin itu ke jari manis Eun Soo.

“Tentu saja Jjong..”. Sahut Eun Soo tersenyum dan tanpa sengaja airmatanya kembali menetes jatuh ke wajahnya yang pucat.

Jonghyun perlahan mencondongkan badannya kearah Eun Soo lalu memberikan kecupan hangat di bibir Eun Soo. Jonghyun menumpahkan seluruh kasih sayangnya pada Eun Soo melewati ciuman itu.

“Saranghae Eun Soo’ah”. Ucap Jonghyun seraya tersenyum sedangkan Eun Soo hanya bisa membalas perkataan Jonghyun dengan senyuman.

“Kemari Jjong.. ini hari ulang tahunku kan? Aku masih ingin bermanja di pelukanmu yang hangat..”. Pinta Eun Soo, Jonghyun pun tersenyum dan memenuhi permintaan kekasihnya itu.

“Jjong..”.

“Hhmm? Ne, chagi”.

“Kau mau bernyanyi untukku? Sudah lama aku tidak mendengar suara emasmu ketika bernyanyi..”.

“Aku ini dokter chagi’ya.. bagaimana kalau suaraku jelek dan membuatmu gila? Hahaha”. Sahut Jonghyun asal.

“Tidak mungkin.. hehe. Aku tahu suaramu sangat bagus. Jebal~~, bernyanyi untukku”.

“Arasseo chagi”. Jonghun kemudian sedikit menghela nafasnya kemudian menyanyikan lagu untuk Eun Soo.

NB: Please Play This Audio then You Can Read the Lyric and translate ^^

Lyric:

 

Kyeoure taeeonan
Areumdaun dangsineun
Nuncheoreom kkaekkeuthan
Namaneui dangsin

Gyeoure taeeonan
sarangseureon dangsineun
Nuncheoreom malgeun
namaneui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, gyeoul
Eonjena malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeeonan
areumdaun dangsineun
Nunchereom kkaekkeuthan
namaneui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, kyeoul
Eonjena malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeona
areumdaun dangsineun
Nuncheoreom kkaekkeuthan
namanui dangsin

Saengil chukhahamnida,
saengil chukhahamnida
Saengil chukhahamnida.
Dangsinui saengireul

Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)
Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)

Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)
Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)

(Happy Birthday To You)
Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)
Happy Birthday To You

(Happy Birthday To You)
Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)

Happy Birthday To You..

Translation:

lahir di musim dingin
kau cantik
bersih seperti salju
kau adalah milikku

lahir di musim dingin
kau kekasihku
jelas seperti salju
kau adalah milikku

terlepas apakah itu musim semi, musim panas, musim gugur, atau musim dingin
selalu jelas dan bersih

lahir di musim dingin
kamu cantik
bersih seperti salju
kau adalah milikku

terlepas apakah itu musim semi, musim panas, musim gugur, atau musim dingin
selalu jelas dan bersih

lahir di musim dingin
kamu cantik
bersih seperti salju
kau adalah milikku

selamat ulang tahun untukmu
selamat ulang tahun untukmu
selamat ulang tahun untukmu
Ini adalah hari ulang tahunmu

selamat ulang tahun untukmu
(selamat ulang tahun untukmu)
selamat ulang tahun untukmu
(selamat ulang tahun untukmu)

(selamat ulang tahun untukmu)
selamat ulang tahun untukmu
(selamat ulang tahun untukmu)
selamat ulang tahun untukmu

(selamat ulang tahun untukmu)
selamat ulang tahun untukmu
(selamat ulang tahun untukmu)

selamat ulang tahun untukmu..

“Saengil Chukhahae naeui yeoja.. aku selalu berharap yang terbaik untukmu. Aku juga berdo’a agar kau selalu bisa memberikan senyuman manismu untukku disetiap kali kita bertemu. Dan yang terpenting.. aku berharap agar Tuhan memberikan kesehatan untukmu”. Dengan tersenyum hangat Jonghyun mengucapkan do’a dan harapannya untuk Eun Soo sambil menatap langit malam yang berhiaskan dengan gugurnya salju. Baginya saat ini tidak ada yang lebih membahagiakan selain dapat merasakan Eun Soo yang bermanja di pelukannya seperti saat ini.

“Geureom, sekarang sudah larut chagi.. Hendy Hyeong pasti akan membunuhku kalau tahu aku menculik adik ipar kesayangannya, geutji chagiya?”. Jonghyun mengatakannya sambil terkekeh kecil sambil tetap menatap langit, ia menunggu respon dari Eun Soo namun Eun Soo tidak mengatakan apapun. Jonghyun pun menundukkan kepalanya untuk menatap Eun Soo dan yang ia dapati adalah Eun Soo yang diam tidak bergerak dengan kedua matanya yang terpejam di dalam pelukannya.

“Chagi.. Kau tidur?”. Jonghyun mencoba membangunkannya dengan mengelus wajah Eun Soo perlahan.

“Chagi..”.

“…”.

“Chagi’ya?”.

“…”

“Eun Soo’ah.. Kim Eun Soo..”.

“…”

Tiba – tiba rasa takut dan cemas kembali menghantui Jonghyun saat itu juga. Dengan sedikit ragu akhirnya Jonghyun memberanikan diri untuk meraih lengan Eun Soo dan memeriksa denyut nadinya, dan betapa terkejutnya ia saat ia tidak merasakan sedikitpun denyut nadi Eun Soo. Jonghyun menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia masih belum siap untuk menerima kenyataan kalau Eun Soo telah meninggalkannya. Jonghyun kemudian kembali memeriksa denyut nadi Eun Soo dengan meraba di bagian leher Eun Soo dan ia mendapatkan hasil yang sama.

Jonghyun seketika itu langsung terguncang, ia bahkan baru saja melamar yeoja yang sangat dicintainya itu beberapa jam yang lalu. Jonghyun tidak percaya dengan apa yang dihadapinya saat ini. Dengan perasaan yang kalut Jonghyun menggoyang – goyangkan tubuh lemah Eun Soo yang ada di pelukannya dan memanggil nama Eun Soo berkali – kali, namun tidak ada respon sedikitpun dari Eun Soo. Eun Soo benar – benar meninggalkannya. Meninggalkannya untuk selamanya. Meninggalkannya yang saat itu menangis sambil terus mendekap dengan erat tubuh Eun Soo yang sudah tidak bernyawa itu.

Jonghyun terus menebarkan bunga di makam Eun Soo dengan airmata yang terus membasahi wajah tampannya. Ia masih tidak bisa menyangka bahwa Eun Soo benar – benar pergi meninggalkannya untuk selamanya.

“Aku turut berduka Jjong..”. Luna saat itu juga datang ke acara pemakaman sabahatnya itu mencoba membagi duka yang dirasakan Jonghyun. “Eun Soo benar – benar yeoja yang sangat luar biasa, dia tetap menerimaku sebagai sahabatnya meski dulu aku pernah menyakitinya. Aku menyesal, aku bahkan membenci diriku sendiri karena belum sempat membalas kebaikannya”. Ucap Luna yang juga menangis saat itu.

“Gomawo Lun..”. Sahut Jonghyun lirih dan membalas tepukan pundak dari Luna dengan merangkul Luna.

“Geuge.. ini surat untukmu Jjong”. Luna lalu memberikan selembar kertas yang terlipat dari kantung mantelnya pada Jonghyun.

“Surat apa ini?”. Tanya Jonghyun heran.

“Molla. Eun Soo menitipkan itu padaku, tepat sehari sebelum ia meninggal. Aku tidak tahu apa isinya, sebaiknya kau baca saja”.

“Geurae? Arasseo, aku akan membacanya nanti. Gomawo Lun”.

“Eung. Geureom, nan meonjeo kalkke”. Setelah menyerahkan surat itu pada Jonghyun, Luna pun meninggalkan pemakaman itu bersama para dokter yang juga ikut di acara pemakaman Eun Soo. Sekarang yang tertinggal hanya Jonghyun yang masih berdiri menatap pemakaman Eun Soo.

“Eun Soo’ah.. Meskipun semua ini terasa sangat sakit, sangat perih, dan selalu membuatku meneteskan airmata, aku tidak akan pernah menyesal karena aku mencintaimu. Saranghae.. Kim Eun Soo”.

Flashback END

Jonghyun P.O.V

“Seperti itulah anakku, sekarang kau tahu bahwa tidak semua cerita mengenai cinta itu berakhir dengan sempurna bukan?”.

“Ya Tuhan.. aku tidak menyangka cerita Appa sepahit ini”. Sahutnya terisak, aku tak menyangka putriku yang masih belia ini mampu memahami cerita masa laluku yang menyedihkan.

“Uljima chagi.. Appa menceritakannya padamu bukan bermaksud untuk membuatmu menangis, aigoo naeui saranghaneun ttal. Kemari sayang”. Aku dengan perlahan membenamkannya ke pelukanku.

“Geunde.. semua itu sudah berlalu chagi. Sekarang Appa sudah sangat bahagia, karena Tuhan memberikanmu untuk Appa”. Ucapku seraya mencium keningnya hangat.

“Geunde Appa.. aku ingin bertanya sesuatu”.

“Hhmm? Apa itu sayang?”.

“Apa isi suratnya Appa?”.

Aku tersenyum menatap wajah polosnya saat bertanya padaku. Ya, sangat wajar jika ia memiliki sifat penasaran diusianya saat ini.

“Tidak banyak.. kau mau tahu isi surat itu?”.

“Eung~”.

“Di dalam surat kecil itu, ia mengatakan seperti ini ‘Jonghyun, aku bahagia karena selama hidupku Tuhan mempertemukan aku denganmu. Tuhan juga memberiku kesempatan merasakan cinta yang begitu tulus dari hatimu. Meskipun sekarang aku sudah tidak bisa merasakan cinta darimu lagi, setidaknya Tuhan telah mengabulkan do’aku agar jika memang aku harus meninggalkan dunia ini aku menghadapi hari itu di dalam pelukanmu. Maaf karena aku tidak bisa memenuhi permintaanmu Jonghyun, jeongmal mianhae. Geurigo.. aku mohon agar kau tetap menjalani hidupmu dengan bahagia. Kau harus bahagia Jjong, cintailah dia yang juga sangat mencintaimu.’ itulah isi suratnya”.

“Appa masih menyimpan surat itu?”.

“Ani, Appa sudah memberikannya”.

“Ne? memberikannya pada siapa Appa? Ya~, Appa kenapa memberikan surat itu begitu saja pada orang lain???!!!”.

“Appa memberikannya pada Luna”.

“Luna? Luna nugu.. aaah~! Ne, sahabat Appa itu geutji? Sekarang dimana dia sekarang Appa?”.

“Hahahahaha~~, aigoo putriku.. apa maksudmu dimana?”.

“Geureom~ Choi Luna, yeoja yang juga di cerita Appa.. Eomo! Hoksi..”.

“Eung, maja. Choi Luna adalah Eomma-mu chagi. Berkat Eomma-mu Appa bisa bangkit kembali dari kesedihan yang sempat menghantui Appa di waktu yang cukup lama. Eomma-mu juga yeoja yang sangat luar biasa, ia mampu membuat Appa mencintainya dan akhirnya memilihnya sebagai teman hidup Appa. Dan sekarang..”.

“Eh? Wae wae wae?”.

“Eomma sudah berdiri didepan pintu beranda dan melihat kita dengan tatapan ala nenek sihirnya, hihihi”.

“Mworago? Tatapan nenek sihir? Huuh~, kalian sedang berkencan ya? Tidak mengajak Eomma?? Kalian membuat Eomma cemburu..”. Ucapnya yang kemudian menghampiri kami kemudian memeluk punggungku dan kubalas dengan mengecup pipinya. “Apa yang sedari tadi kalian bicarakan ditengah salju begini?”.

“Appa bercerita tentang bagaimana Appa dan Eomma akhirnya menjadi pasangan dan menikah”. Sahut Kim Hye Mi, anak perempuanku satu – satunya.

“Jinjjaro?”.

“Geureomnyo~~”.

“Hehehe.. arasseo, eomma percaya padamu. Geureom, sudah waktunya tidur sayang”. Sahut Luna seraya duduk di samping Hye Mi.

“Eung.. kalau begitu aku masuk duluan Eomma Appa”.

“Arasseo, jalja chagi..”. Sahutku mengecup keningnya sebelum ia beranjak kedalam.

Setelah Hye Mi masuk untuk tidur, aku dan istriku tidak langsung masuk kerumah. Kami berdua masih duduk santai menikmati salju yang turun dengan sangat cantik.

“Yeobo.. apa kau ingat sesuatu saat melihat salju seperti sekarang?”. Tanyaku seraya membenamkan tubuhnya ke pelukanku.

“Hhhmm.. aku tidak mungkin melupakannya yeobo”. Sahutnya lembut sembari bermanja di pelukanku.

“Jinjja?”.

“Dangyeonghaji. Bagaimana aku bisa lupa, karena ada kenangan pahit dan bahagia dalam satu musim yang kita lalui bukan? Kenangan pahit dimana kita kehilangan Eun Soo untuk selamanya.. dan kenangan bahagia karena takdir yang membuat kita menjadi seperti ini”. Ucapnya tersenyum tipis, membuatku ikut tersenyum kemudian mengecup lembut bibirnya.

“Gomawo yeobo.. kau telah membantuku untuk bangkit dari rasa sedih yang sempat menyelimutiku, dan yang terpenting.. kau bisa membuatku mencintaimu dengan caramu. Kau bahkan menganugerahkan seorang bidadari yang begitu cantik di tengah – tengah keluarga kecil kita. Saranghae Luna”.

“Na do saranghae yeobo”.

Epilog

“Ngomong – ngomong, apa kau masih menyimpannya?”.

“Eung? Menyimpan apa?”.

“Surat itu..”.

“Aa.. ne, tentu saja. Aku akan selalu menyimpannya. Geunde.. kenapa kau memberikan surat itu lagi padaku?”.

“Karena aku berjanji dengan diriku sendiri.. jika aku telah mendapatkan pasangan hidupku, aku akan memberikan surat itu kepadanya”.

“Kenapa kau berjanji seperti itu Yeobo?”.

“Karena dia menginginkanku untuk bahagia, dan itu adalah bukti bahwa aku telah bahagia sekarang dengan orang yang sedang bermanja di pelukanku saat ini”.

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s