Our Sweet Love Story (우리의 달콤한 사랑 이야기) Ver. A

Our Sweet Love Cover

Title:

Our Sweet Love Story (우리의 달콤한 사랑 이야기) Ver. A

Inspired by:

Ra.D’s Song – Something Flutters (어떤 설레임)
SHINee Jonghyun

Cast:

SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun
Kim Eun Soo (Original Character)
Other Support Cast

Genre:
Sweet, Romance

Length:
One Shoot

Rating:
PG-17

Created by:
Ayin Perdana

___________________________________________________________

Annyeoooooooooooong~~~~!!!! xD

Finally I’m comeback from my hiatus, kekekeke xD
I really miss my sweet blog :* and of course I miss u too my lovely reader, hahahahaha! 😀

Well, my 28th fanfiction and this ff has 2 versions “Version. A” and “Version. B” woyooooo.. it will be like uummhh.. SHINee’s mini album or somethin’? kkk

Okay then, hope you guys enjoy and happy reading ^^
Owh~! Please write your comment after read it guys.. DON’T BE A SILENT READER ^^

Prolog

“Aku ingin membuat kisah cinta kita dengan berbagai kegiatan yang manis. Agar kapanpun kita atau orang lain sekalipun yang merasakan dan menceritakannya kembali pada yang lainnya dapat memaparkannya dengan sebuah senyuman yang manis pula”.

Jonghyun P.O.V

“Jjong, bagaimana dengan yang ini? Apa ini cocok?”.

Aku menengadahkan wajahku yang tadi sedang membaca majalah sembari duduk di kursi sofa yang disediakan oleh butik yang sedang kukunjungi bersamanya. Bersamanya yang tidak lain adalah calon takdirku. Saat melihatnya yang telah memakai gaun itu aku hanya dapat membuka mulutku, aku tidak kuasa mengeluarkan sepatah kata.

“…”

“Jjong..”

“…”

“Ya, ya, Jonghyun’ah..”

“…”

“Ya, Kim Jonghyun~. Ya~, aku bertanya padamu. Eottae? Cocok tidak? Ya ya ya~?”. Ia terus memanggilku sambil melambaikan tangannya ke dapan wajahku yang akhirnya membuatku mengerjapkan mata.

“Neomu.. yeppeo, chagi”. Sahutku tersenyum melihatnya yang baru saja keluar dari fitting room didampingi 2 asisten butik.

“Aigoo.. lama sekali menjawabnya”. Keluhnya. “Jinjja? Jadi menurutmu gaun ini cantik? Kalau kau menyukai gaun ini, aku akan ambil yang ini saja”. Sahutnya sambil sesekali memegangi gaun yang dicobanya.

“Ani. Yang cantik itu bukan gaunnya tapi kau”. Sahutku lagi, sekilas aku melihatnya tersenyum dan wajahnya nampak bersemu merah.

“Jjong~, ada ada saja. Geunde, kau suka gaun ini geureohji?”. Tanyanya lagi. Aku hanya tersenyum seraya mendekatinya. Aku mengarahkan tanganku ke wajahnya lalu kuelus wajah cantik itu.

“Yang kusuka itu kau bukan gaunnya chagi..”.

“Jonghyun~, aku sedang bertanya.. pernikahan kita tinggal 2 minggu lagi. Aku..”.

“Kau yang membuat gaun ini menjadi terlihat cantik chagi. Apapun itu, asalkan kau yang memakainya pasti akan terlihat sangat cantik”. Potongku. Aku menatap matanya yang indah itu, ia membalas dengan senyum. “Geureom, ambil yang ini saja chagi. Menurutku design gaun ini simple, tidak terlalu banyak aksesoris yang berlebihan. Sangat menggambarkan dirimu”.

“Jinjja? Arasseo, aku ambil yang ini”. Angguknya. “Setelah ini kau juga harus fitting untuk jasnya, ne?”.

“Ne, Nyonya Jonghyun”. Sahutku sambil terkekeh disusul olehnya yang juga terkekeh sambil berbalik menuju fitting room.

“Jham~, ayo kita pilih satu stel jas untukmu”. Ucapnya bersemangat mengelilingi bagian busana pengantin pria yang juga ada di butik itu. Aku sangat senang melihatnya yang begitu semangat dan ceria menjelang hari yang paling bersejarah bagiku. Hari dimana aku akan menjadikannya wanitaku, takdirku.

Langkahnya lalu terhenti saat melihat satu stel jas putih beserta celananya yang berwarna senada. Aku yang mengikutinya dari belakang pun ikut menghentikan langkahku.

“Jjong”.

“Eung, chagi”.

“Geugeo.. eottae? Joha?”. Tanyanya yang menunjuk kearah jas.

“Yang itu bagus”. Jawabku sambil menganggukkan kepala. “Kita ambil yang itu?”.

“Kau coba dulu Jjong, aku ingin melihatmu memakainya”. Pintanya. Akupun menganggukkan kepala seraya tersenyum menurutinya.

“Arasseo”. Sahutku. “Tolong ambilkan jas yang itu, aku akan mencobanya”. Ucapku pada pegawai butik yang mengikuti kami saat memilih – memilih tadi.

“Ye, Tuan”.

Tak perlu waktu yang lama untukku memasang stelan jas itu ketubuhku. Setelah selesai akupun langsung keluar dari fitting room dan mendatanginya yang sedang duduk di sofa menungguku.

“Chagiya, eottae? Cocok?”.

“Whaa~, jalsaenggyeotda. Tampan Jjong, tampan! Kyaaak~! Hehehe”. Serunya yang langsung berlari memelukku gemas.

“Omo, chagiya.. hehehe”. Sahutku membalas pelukannya. “Geureom, kita ambil ini saja”.

“O, jamkan”.

“Wae?”.

“Ada yang kurang”.

“Eh? Kurang?”. Aku melihat – lihat ke jas yang kupakai, tapi tidak ada kutemukan kancing yang lepas atau semacamnya. “Apa yang kurang chagi?”.

“Dasi. Kita belum menemukan dasi yang cocok untukmu Jjong”. Sahutnya sembari menoleh – nolehkan kepalanya ke sekitaran butik. “Ah! Matta! Tunggu di sini Jjong, ne?”.

“Ne”. Sahutku mengangguk. Sesaat kemudian ia sudah kembali dengan sesuatu di tangannya, dan itu..

“Dasi berwarna pink?”. Gumamku tak percaya.

“Ne. Majayo~~”. Sahutnya mantap.

“Jinjja? Omo, chagiya~, jangan bilang kalau kau ingin aku memakai itu”. Sahutku membelalakkan mata sambil menunjuk kearah dasi yang ada ditangannya.

“Geureom~. Wae, kau tidak mau memakainya.. chagi~~??? Hhhmm”. Tanyanya dengan tatapan penuh ancaman yang praktis membuatku bergidik.

“A.. ani, geuge.. warna itu..”.

“Kenapa dengan warnanya? Hhmmm~~~??? Ini pilihan dariku yeobo’ya~~”.

“Aaiissshh.. ne, arasseo..”. Sahutku pasrah seraya menundukkan kepala dan mengerucutkan bibirku.

“Eiissh gwiyeopta. Mmuach”. Decaknya yang langsung mencium kilat bibirku dan membuatku langsung terkejut. Tak lama setelah itu ia juga memasang wajah bingungnya setelah melihatku terkejut. “O, geuge.. aku tidak sengaja Jjong. Iya tidak sengaja”.

Melihatnya yang gugup itu membuatku berpikir untuk sedikit menjahilinya. Aku lalu terkekeh dan memasang ekspresi wajah yang sedikit pervert.

“Chagiya~”. Aku melangkahkan kakiku menghampirinya yang mematung dihadapanku dengan wajah gugup.

“Wae? Apa yang mau kau lakukan Jjong, disini tempat umum”. Sahutnya gugup sembari memundurkan langkahnya.

“Kau ingin aku memakai dasi pink itu kan? Arasseo, geunde..”.

“Geunde mwol?”.

“Hehehe~”. Aku menunjukkan sederet gigi putihku lalu mendekatkan wajahku ke wajahnya.

“Ppoppo~”. Aku mengerucutkan bibirku yang langsung membuatnya terbelalak.

“Ya~!!!”. Pekiknya. “Neo paboni?!”.

“Tidak mau tahu pokoknya kau harus menciumku dulu, ppoppo~”.

“Jjong~~~”.

“Ppoppo~~”.

Ku lihat wajahnya yang cemberut itu, membuatku terkekeh geli. “Muach. Sudah”.

“Kkkkk~, yeojaku sangat pintar”. Sahutku tertawa puas, sedang ia hanya bisa memanyunkan bibirnya.

***

“1 ice cream caramel mocha ukuran sedang dan 1 ice cream vanilla chocochips ukuran besar. Selamat menikmati”.

“Ne, ghamsahamnida”. Kini kami tengah bersantai di sebuah kedai ice cream favorit Eun Seo setelah satu jam lalu fitting busana pengantin di butik.

“Ini ice cream-mu yeobo”. Aku memberikan semangkuk ice cream vanilla chocochip berukuran besar itu padanya.

“Gomawo~. Yuhuuu.. ice cream”. Ia langsung melahap kudapan favoritnya itu dengan semangat, sangat menggemaskan melihatnya begitu.

“Wae? Kenapa kau melihatku sambil senyum – senyum tidak jelas begitu Jjong?”. Tanyanya sedikit risih saat aku memandanginya.

“Anya.. amugeotdo eopseo”. Sahutku santai.

“Lalu kenapa kau melihatku seperti itu?”.

“Geuge.. kau sangat cantik kalau sedang menyantap ice cream favoritmu itu. Aku suka melihatnya”.

“Jangan menggombaliku Jjong”.

“Aku tidak sedang bergombal yeobo.. kau memang cantik, dan aku suka melihatnya. Sangat suka”. Sahutku tersenyum kemudian mengusap puncak kepalanya.

“…”

“Waeyo? Kenapa kau jadi tiba – tiba diam begitu sayang?”.

“Ani”. Sahutnya menggelengkan kepala pelan.

“Kalau memang tidak ada apa – apa lantas kenapa kau tiba – tiba jadi murung begitu? Jangan cemberut, kau tidak terlihat cantik lagi yeobo~”. Sahutku, ia hanya terkekeh kecil kemudian kembali melanjutkan melahap ice creamnya.

“Geuge.. terkadang aku terpikir, apa diriku ini pantas untuk menjadi pendampingmu? Kau adalah seorang Kim Jonghyun, dokter muda tampan yang sangat pintar dan terkenal di dunia kesehatan. Sedangkan aku bagaimana? Aku hanya seorang guru TK, aku ini tidak sempurna untukmu Jjong”.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Dia merasa tidak sempurna bagiku, padahal bagiku ia adalah seorang yeoja yang paling sempurna dan aku beruntung memilikinya. Aku lalu menyingkirkan mangkuk ice cream-ku dan ice cream nya yang masih bersisa sedikit.

Aku meraih kedua tangannya, ia menerima genggaman tanganku sembari sesekali memainkan jari tanganya di jemariku.

“Eun Soo’ah, kau tidak perlu berpikir seperti itu. Bagiku yang terpenting adalah aku sangat mencintaimu, aku sangat menyayangimu dan kau membalas cintaku, itu sudah cukup chagi. Kau mampu mencintai diriku dengan sangat sempurna, kau mampu memahami diriku, dan kau mampu membuatku untuk tidak pernah berpaling ke belakang untuk mencari orang lain selain kau. Aku, Kim Jonghyun memilih Kim Eun Soo untuk menjadi pendamping hidupku, dan tidak ada seorangpun yang bisa mengubahnya”.

“Jjong..”.

“Saranghae Eun Soo’ah. Jeongmal saranghae”. Aku mengangkat satu tanganku untuk membelai wajah cantiknya.

“Na do saranghae Jjong”. Sahutnya tersenyum dengan mata yang sedikit berkaca.

“Jjong”.

“Ne?”.

“Aku ingin melihat tempat pernikahan kita. Pernikahan kita tinggal 2 minggu tapi sampai sekarang kau belum menunjukkannya padaku”. Ucapnya sembari melahap ice cream. “Kenapa kau begitu kekeuh untuk merahasiakan tempatnya dariku?”.

“Aku tidak merahasiakannya yeobo. Aku hanya ingin menjadikannya kejutan. Tapi baiklah, setelah kau menghabiskan ice cream-mu itu aku akan mengajakmu kesana”. Sahutku tersenyum.

“Jjongie~~~, ya ya ya~~, apa masih jauh???”. Keluhnya saat kami berjalan menuju tempat yang menjadi saksi resminya hubungan kami sebagai sepasang suami istri. Ia nampak kesulitan saat berjalan karena matanya yang kututup dengan saputanganku, sesekali ia nampak mengeratkan genggamannya di tanganku.

“Sebentar lagi sampai yeobo~, sabar sedikit, ne?”.

“Aigoo~, inilah seorang Kim Jonghyun. Kau bahkan tega membuat calon istrimu kesusahan berjalan dengan mata tertutup begini, eeiissh~”.

“Kau mau ku gendong? Hahahaha”. Godaku yang baru saja ingin menggendongnya namun lebih dulu di cegahnya.

“Ani~! Aku ingin jalan saja!”.

“Arasseoyo nyonya Kim”. Sahutku langsung mengecup ringan pipinya. “Yak~! Uri wasseo~”.

“Chan~~~!!!”. Aku melepas saputangan yang tadi kupakai untuk menutup matanya, dengan perlahan ia membuka kedua matanya.

“Bagaimana yeobo? Kau suka?”.

“Areumdawo~, Jjong.. ini benar – benar cantik. Sangat cantik”. Kulihat ia terpana saat ia melihat lokasi yang kupilih untuk acara pernikahan kami.

“Awalnya aku berpikir kau tidak waras yeobo, yeoja macam apa yang menginginkan upacara pernikahannya di adakan di dalam hutan seperti ini, hahahahaha! Tapi setelah aku mencari tahu dan banyak bertanya dengan malaikat manjaku..”.

“Yoon Seo, geurohji? Yeodongsaengmu, bukankah ia adalah pemilik salah satu Wedding Organizer terkenal di Korea?”.

“Eung, maja”. Jawabku tersenyum. “Saat aku menceritakan keinginanmu padanya ia langsung berkata bahwa kau sangat romantis karena memiliki impian seperti itu. Akhirnya aku meminta bantuannya untuk memilihkan hutan yang tentu saja tidak memiliki binatang buas yang bisa memangsa kita dan para undangan, hehe”. Ucapku sambil terkekeh. “Lalu memintanya untuk mendesignkannya menjadi seperti yang kau lihat sekarang”.

“Sangat cantik Jjong.. gomawo”. Sahutnya menatapku dan langsung memberikanku pelukan hangat.

“Oppa~~! Kalian sudah datang? Ingin melihat – lihat mahakaryaku?”.

“Yoon Seo’ah, chagiya~”.

“Ne Oppa~, annyeong Eun Soo Ssi”. Yeodongsaengku Yoon Seo, yang saat itu juga berada disana dengan karyawan WO nya yang sedang sibuk mendekor menghampiriku dan menyapa.

“Ne, Yoon Seo Ssi annyeong”. Sahut Eun Soo menganggukkan kepalanya. “Ah, ne. Tidak sopan rasanya kalau aku tidak mengucapkan terima kasih padamu Yoon Seo Ssi, kau sudah menyulap tempat ini menjadi sangat cantik untuk acara pernikahan. Jeongmal gomawo~”.

“Aniyeyo~. Aku sangat senang kalau kalian suka, dan ini gratis. Anggap saja ini adalah kado pernikahanku untuk kalian”.

“Dongsaeng’ah, chagiya, jinjja?”. Tanyaku mencolek pipinya.

“Ne~~~~, Kim Jonghyun Ssi~~~. Ini sungguhan, karena itu Oppa tidak bisa lagi meminta hadiah lain dariku. Menurutku ini jauh lebih hemat ketimbang aku harus membelikan Oppa tiket pesawat untuk pergi berbulan madu, hahahahaha~!”.

“Eissssh, dasar kau usil sekali”. Aku langsung meraih tubuh langsingnya itu kepelukanku dan kucium gemas pipinya. “Gomawo Oppaeui yeppeun dongsaeng”.

***

Author P.O.V

“Aaaaaaakkkhhhh~~~!!! Eiiisssshh, Kim Jonghyun! Dasar dokter sok sibuk, bahkan dia lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku??!!”. Eun Soo mendengus kesal, mendapatkan kenyataan calon suaminya yang lupa akan hari ulang tahunnya.

“Awas saja kau Jonghyun, akan aku omeli sampai telinganya merah!”. Eun Soo lalu mengambil ponsel touchscreen berwarna putih miliknya yang terletak di buffet dan tanpa basa – basi langsung menekan speed dial nomor 1 yaitu Jonghyun.

“…”

“Yeoboseyo~? Yeobo’ya~, wae?”.

“Mwo? Wae kau bilang? Ya~! Kim Jonghyun~! Apa kau lupa hari ini..”.

“O! Yeobo’ya, sekarang kepala rumah sakit memanggilku. Aku tutup dulu telponnya, nanti aku telepon balik. Saranghae”.

“Tuuut..”.

Eun Soo hanya bisa memelototi ponselnya setelah Jonghyun memutuskan teleponnya begitu saja, seketika itu pula emosinya langsung menjadi – jadi.

“YA~~!!!! KIM JONGHYUN PABO~!!!”.

“Ckckck~. Aigoo uri Oppa, sepertinya selain menjadi seorang Dokter Oppa juga berbakat menjadi seorang actor”. Yoon Seo hanya bisa terkekeh melihat kekonyolan yang dilakukan Oppa-nya di pagi itu.

“Hahahaha~! Oppa belajar seperti ini darimu chagi’ya. Kau kan juga sering melakukan ini dengan Oppa, hehehe”.

“Aku yakin saat ini calon istri Oppa sangat marah. Yeoja mana yang tidak marah mengetahui calon suaminya lupa dengan hari ulang tahunnya”. Sahut Yoon Seo sembari menyeruput secangkir teh yang ada di tangannya.

“Oppa kan tidak lupa, hanya pura – pura lupa”. Balas Jonghyun santai sembari mendekat kearah yeodongsaeng kesayangannya yang sedang sarapan dan kemudian memberi kecupan hangat dikeningnya.

“Geureom~. Berpura – pura untuk memberi kejutan, aigoo~ sepertinya Oppa terlalu banyak menonton drama”. Celoteh Yoon Seo sambil tertawa kecil. Perhatiannya lalu beralih pada sebuah kotak kecil yang ada di tangan Jonghyun, ia melihat Oppa nya yang terus melihat kotak kecil yang dipegangnya itu sambil tersenyum.

“Lalu, itu adalah kado untuknya? Aku penasaran hadiah istimewa apa yang diberikan Oppaku yang tampan ini untuk calon istri yang sangat dicintainya. Hehehe”.

“Kau mau melihatnya chagi? Buka saja”. Jonghyun menyerahkan kotak kecil itu pada Yoon Seo dan betapa kagetnya ia saat membuka dan melihat isinya.

“Mwo? Hanya ini? Mwoya ige~? Oppa benar – benar hanya akan memberikan calon istri Oppa benda ini? Jinjjaro?”. Tanya Yoon Seo keheranan.

“Jangan salah kira dulu chagiya~, memang dari fisik kado itu sangat sederhana tapi benda itu hanya ada satu di dunia ini”.

11.55pm KST

Eun Soo tersenyum masam melihat waktu yang ditunjukkan oleh jarum jam arloji yang melingkar di tangan kurusnya. Tertinggal 10 menit lagi, maka habis sudah hari yang seharusnya menjadi hari yang sangat special baginya. Ia lalu berjalan dan mengambil posisi duduk di depan pintu kaca beranda apartementnya yang menyuguhkan keindahan lampu – lampu malam yang menghiasi wajah malam Seoul. Seharian ini ia menunggu calon suaminya untuk merayakan hari ulang tahunnya bersama – sama. Hasilnya? Tidak ada. Bahkan calon suami yang begitu dicintainya itu tidak mengirimkan satu pesan singkat yang berisi ucapan selamat ulang tahun untuknya.

Tanpa sengaja air mata Eun Soo mengalir. Entah apa yang dirasakannya saat itu,  marah, kesal, sedih semua bercampur menjadi satu.

“Clap”.

“Eiissh~! Jinjja, kenapa disaat – saat begini harus mati lampu?!”. Saat Eun Soo baru ingin beranjak, namun tiba – tiba ada sepasang lengan yang kekar dan begitu hangat melingkar di pundak dan lehernya.

“Jjong~?! Ya~! Kau..”.

“Ssstt.. jangan marah dulu sayang”. Jonghyun mendekatkan bibirnya pada telinga Eun Soo. “Saengil Chukhahae”.

‘Tiit’. Tepat setelah itu angka jarum jam tepat berada di angka 12. Dia tidak terlambat.

“Jonghyun.. kau tadi bilang apa? Geuraeseo.. kau tidak lupa kalau..”.

“Mana mungkin aku melupakan hari ulang tahun seorang yeoja yang tinggal menghitung hari akan menjadi istriku”. Jonghyun kemudian mengeratkan pelukannya. “Aku sengaja melakukannya karena..”.

“Apa?”.

“Aku hanya ingin mengerjai calon istriku yang cantik ini. Hahahaha~!”.

“Ya~! Neo~, Eemmpph..”. Jonghyun langsung mengunci rapat bibir tipis Eun Soo dengan bibirnya. Eun Soo yang awalnya terkejut pun akhirnya terhanyut dan perlahan membalas ciuman Jonghyun.

“Jjong..”.

“Mianhae kalau caraku ini membuatmu kesal. Geunde, aku hanya ingin membuat kisah cinta kita dengan berbagai kegiatan yang manis dan menggemaskan. Agar kapanpun kita atau orang lain sekalipun yang merasakan dan menceritakannya kembali pada yang lainnya dapat memaparkannya dengan sebuah senyuman yang manis pula”.

“Jjong..”.

“Saengil Chukhahae naeui yeobo”. Jonghyun memutar balik tubuh Eun Soo perlahan untuk menghadapnya. “Saranghae”. Jonghyun mendekatkan wajahnya pada Eun Soo  hingga hidung mereka saling bersentuhan. Dapat ia rasakan deru nafas Eun Soo menerpa lembut wajahnya saat bibirnya mulai menyentuh lembut bibir Eun Soo. Dengan lembut Jonghyun mengusap bibir tipis Eun Soo, ciuman manis yang diberikan Jonghyun itu selalu mampu membuat Eun Soo terhanyut, ciuman yang menurutnya adalah sebuah bukti nyata bahwa namja itu mencintainya dengan tulus dan sempurna.

Perlahan kedua sejoli itu membuka kedua mata mereka sesaat setelah bibir mereka sudah tidak bersentuhan.

“Ah, maja. Ada satu lagi untukmu”. Jonghyun merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang bersinar karena terpancul oleh cahaya bulan yang masuk dari pintu kaca beranda apartemen Eun Soo.

“Jjong.. itu..”.

“Ne, sebuah gelang kaki”. Sahut Jonghyun seraya menarik kaki Eun Soo keatas pangkuannya.

“Eottae? Joha?”.  Jonghyun dengan perlahan memasangkan gelang kaki itu sampai melingkar sempurna pada kaki Eun Soo.

“Yeppeo”. Gumam Eun Soo.

“Kau tahu, aku sendiri yang memilih satu persatu bandul ini”.

“Jinjjaro?”.

“Dan aku sendiri yang membuatnya”.

Eun Soo memberikan tatapan tak percayanya pada Jonghyun. “Dengan bimbingan pemilik tokonya tentu saja, hehe”. Tambah Jonghyun cepat setelah melihat tatapan yang di berikan Eun Soo, sedetik kemudian Eun Soo terkekeh puas.

“Apa saja bandulan itu Jjong? Nan boji mothae”.

“Kelinci, hewan kesukaanmu kan?”. Sahut Jonghyun mengambil salah satu bandulannya yang disahut Eun Soo dengan anggukan. Tangan Jonghyun kemudian menjelajahi bandul yang lainnya.

“Lalu ada bintang..”.

“Bintang?”.

“Geureom.. karena bagiku kau itu sangat bersinar layaknya bintang”. Sahut Jonghyun yang tetap menjelajahi tiap bandul gelang kaki itu tanpa menyadari bahwa Eun Soo tengah memandangnya sambil tersenyum.

“Geurigo~, ada ice cream, lolypop..” Jonghyun terus memutar gelang itu dari kaki Eun Soo. “Sepasang pengantin dan.. bayi”

“Mworago?”.

“Ne, itu adalah keinginanku.. atau lebih tepatnya, itu adalah mimpiku yang sebentar lagi menjadi nyata”. Ucap Jonghyun yang lalu menurunkan kaki Eun Soo dari pangkuannya. Jonghyun kemudian menggeser tubuhnya hingga kini ia duduk tepat disamping Eun Soo, perlahan tangan kanannya mengarah pada perut Eun Soo seraya mengusapnya.

“Aku ingin ada kehidupan baru dari dalam sini, Eun Soo..”. Eun Soo mendongak cepat, ia melihat Jonghyun yang masih terus menatap dan mengusap perutnya.

“Tapi sebelum itu semua terjadi aku harus lebih dulu meresmikan statusmu menjadi Nyonya Jonghyun, geuraeji?”. Ucap Jonghyun yang kemudian menatap Eun Soo lekat – lekat.

“Omo, yeobo.. kau menangis, wae?”. Jonghyun menghapus buliran air mata yang jatuh dari kedua mata Eun Soo dengan ibu jarinya.

“Gomawo Jjong’ah.. jeongmal gomawo..”.

“Untuk?”.

“Karena kau sangat mencintaiku.. kau mencintaiku dengan sangat sempurna, kau bahkan begitu menginginkan seorang malaikat kecil dariku, jeongmal gomawo Jjong”.

“Anya.. aku yang harusnya berterima kasih padamu yeobo. Terima kasih karena telah hadir kedalam hidupku, sampai akhirnya kau benar – benar menjadi takdirku. Saranghae, Kim Eun Soo”.

***

Jonghyun P.O.V

“Mempelai wanita tiba~~”.

Dengan rasa bahagiaku yang membuncah, aku memalingkan pandanganku padanya yang tengah berjalan menuju altar pernikahan. Hari ini, di sini, di tempat yang begitu indah dan cantik ini aku akan menjadikannya sebagai wanitaku.

“Neomu yeppeo~”. Gumamku. Aku tercengang melihatnya yang tersenyum manis berjalan dengan anggun kearahku yang telah menunggunya di depan altar. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih bersih yang membalut tubuhnya.

“Kim Jonghyun, atas nama Tuhan apakah kau bersedia menerima Kim Eun Soo senang ataupun sedih, sehat ataupun sakit menjadi istrimu dan akan selalu melindunginya seumur hidupmu?”. Ucap sang pendeta memulai peran pentingnya di hari sakral ini.

“Aku, Kim Jonghyun atas nama Tuhan bersumpah menerima Kim Eun Soo senang ataupun sedih, sehat ataupun sakit menjadi istriku dan akan selalu menjaga dan melindunginya seumur hidupku”. Sahutku lantang dan tersenyum menatap dirinya yang tengah berdiri dengan sangat cantik disampingku.

“Dan kau Kim Eun Soo, atas nama Tuhan apakah kau bersedia menerima Kim Jonghyun senang ataupun sedih, sehat ataupun sakit menjadi suamimu dan akan selalu setia menjadi pendampingnya seumur hidupmu?”.

“Aku, Kim Eun Soo atas nama Tuhan bersedia menerima Kim Jonghyun senang ataupun sedih, sehat ataupun sakit menjadi suamiku dan akan selalu setia menjadi pendampingnya seumur hidupku”.

“Geureom, kalian telah sah menjadi sepasang suami istri”.

Aku dan Eun Soo saling pandang dengan senyum kebahagiaan, hari ini aku sah menjadi miliknya dan ia sah menjadi milikku. Aku mendekatkan wajahku padanya, ia yang seakan mengerti perlahan menutup kedua matanya dan membiarkan bibirku mengusap bibirnya dengan lembut. Bisa kudengar sorak tepuk tangan dari orang yang menjadi saksi pernikahan di tengah kami yang sedang berciuman.

Epilog

“Jjongie~.. naeui namphyeon..”.

“Ne~.. naeui anae.. Wae? Nal saranghae marhago sipheo?”.

“Mwoya? Ani.. siapa bilang aku ingin berkata begitu? Eiisssh~”.

“Geuraeseo mwoya? Kau ingin mengakatan kalau hari ini aku sangat tampan? Hehehehe”.

“Geureom.. neon neomu jalsaenggyeosseo. Kau benar – benar sangat tampan Jjong, sangat tampan”.

“Kau juga benar – benar sangat cantik yeobo”.

“Geurigo..”.

“Mwo?”.

“Dasimu yang kau pakai kemarin itu bagus juga. Warna pink memang sangaaaaat cocok untuk namja manly sepertimu, hahahahaha!!!”.

“Ya~!!! Bukannya kau yang kau yang menyuruhku untuk memakai dasi ini?! Sekarang kau meledekku?!”.

“Eung~, Weeeeek~~!!! kekekeke”.

“Ya~! Awas kau yeobo, kemari kau~!”.

“Andwae~! Kyaaaaak~!!! Hahahaha~! Jangan gigit telingaku~, mwohaneun geoya~~??? Kyaaaaak~!! Hajima~~!”

“Arasseo~, bagaimana kalau begini?”.

“Mwo?”.

“Ne, ireohke”.

“Ya~! Mmmpphh~~~~”.

END.

Advertisements

2 thoughts on “Our Sweet Love Story (우리의 달콤한 사랑 이야기) Ver. A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s