I’m Sorry (미안해)

I am Sorry Cover by Eunroro13

Title: I’m Sorry (미안해)

Inspired By: SHINee

OST:

SHINee’s Song “마자막 선물 (Last Gift – In My Room Prelude)”

Fatin Shidqia’s Song “Aku Memilih Setia”.

Cast:

Jonghyun SHINee as Jonghyun SHINee

Minho SHINee as Minho SHINee

SHINee Member

Park Da Hye – Original Character (Cover by Sunny SNSD)

Other Cast

Genre: Sweet, Sad, Romantic, Friendship.

Length: One Shoot

Rating: PG-15

Created By: Ayin Perdana

_________________________________________________________________________________________

Yeoreobun Annyeong ^^ Well! This my 25th Fanfiction!!!!!! Wohoooooooo~!!! I’m really happy 😀

Finally I can write 25 SHINee’s sweet fanfiction, they’re my inspiration to make some little sweet fanfic, thank u SHINee.. you guys really give many inspiration to always write sweet fanfiction about you, saranghae :’)

And yeoreobun, please give me an oxygen (read: comment) after you read my fanfictions, don’t be a silent reader okay? Thank u so much for your attention and hope you guys enjoy ^^

Prolog

Kau.. kau yang terlahir dimuka bumi ini menjadi seorang yeoja yang begitu ceria dan manis, menarikku secara perlahan. Hingga akhirnya aku tidak bisa menolak kehadiran sebuah perasaan bernama cinta di dalam hatiku.

Ini tidak boleh terjadi. Memang dari awal ini adalah salahku, aku terlalu lemah untuk menjaga hati ini agar tidak jatuh cinta padamu. Padamu yang sudah menjadi milik seseorang. Ya,  seseorang yang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri.

Tapi andaikan aku boleh menyalahkan satu hal, bolehkah aku menyalahkan waktu? Karena waktu yang mempertemukanku denganmu disaat yang salah, hingga pada akhirnya cerita ini harus berakhir seperti ini, berakhir dalam sebuah pelukan terakhirku untukmu yang kau balas dengan sebuah isak tangis.

Aku tahu langkah yang kau ambil itu adalah langkah yang paling tepat. Kau tidak boleh meninggalkan dirinya untukku, karena akan sangat berdosa rasanya jika harus mengorbankan dirinya yang tidak bersalah.

Satu kalimat terakhirku, ku mohon kau dapat menerimanya dengan ketulusan yang kau miliki.

Maafkan aku, karena aku telah mencintaimu.

Jonghyun P.O.V

“Habiskan dulu makananmu Da Hye~”. Aku mengelus puncak kepalanya dan kembali menyodorkan piring makan yang tadi sempat disingkirkannya.

“Aah, aku malas Jjongie Oppa. Aku sudah sangat kenyang”. Jawabnya dengan manja seraya meraih tanganku yang masih mengelus puncak kepalanya lalu menempelkannya ke pipinya yang merona.

“Ya~, apa kau tidak takut akan jatuh sakit?”. Tanyaku mencubit ringan pipinya dan diresponnya dengan mengerucutkan bibirnya yang mungil.

“Ani, karena ada Jjongie Oppa yang menjagaku. Hehehe”. Dengan manjanya ia menjawab pertanyaanku begitu saja, dan itu terlihat menggemaskan dimataku.

“Kenapa jadi aku yang menjagamu? Aku bukan Appa-mu Da Hye’ah~”. Jawabku seadanya dan langsung dibalasnya dengan menjulurkan lidahnya dengan jahil yang praktis membuatku terkekeh geli karena perlakuannya. Saat aku baru saja ingin kembali mencubit pipinya, tanganku tertahan oleh sebuah cengkraman. Dan cengkraman itu berasal dari.. “O, Minho’ya”.

“Kalau tadi aku tidak salah lihat, kau sudah satu kali menyentuh pipi dan mengelus puncak kepalanya Hyeong, dan itu sudah cukup membuatku panas. Geuraeseo, aku rasa aku harus menghentikan yang ketiga ini”. Aku hanya tersenyum tipis, seraya langsung mengurungkan niatku dan melepas perlahan tanganku dari cengkramannya.

“Mian, Minho’ya. Hyeongeun geunyang..”.

“Arasseo, terima kasih telah membantuku mengurus Da Hye selama aku tidak ada Hyeong”. Potongnya tersenyum padaku. “Tapi aku rasa Hyeong tidak perlu sampai harus memberikan skinship seperti itu, hahahaha!”. Sambungnya asal.

“Ada – ada saja kau Minho”. Sahutku tertawa kecil.

“Sudah pulang.. cagi?”. Perhatian kami kini kembali terfokus pada Da Hye yang sekarang telah bangkit dari duduknya dan berdiri disamping Minho. Menurutku suaranya terkesan.. datar.

“Ne, cagi”. Minho tersenyum menatap yeoja manis itu, dengan leluasa ia merapikan anak poni yang tergerai di kening Da Hye dan kemudian memberikan sebuah kecupan hangat disana.

“Jangan cium aku Minho~!”. Pekiknya tiba – tiba dan itu praktis membuatku dan Minho sedikit tercengat menatapnya.

“Wae cagiya? Kenapa kau tiba – tiba marah begitu? Aku baru pulang cagi~, nan neol bogosipheosseo”.

“Bogosipheo? Jinjjaro? Aku meragukannya”.

Jawaban yang terlontar dari bibirnya terdengar begitu tegas. Ya, kali ini ia marah. Dan itu terlihat jelas dari tatapan datar dan dingin yang ditujukannya pada Minho. Sedang aku hanya bisa mematung melihat mereka berdua.

“Cagiya~, jangan marah jebal. Aku tahu kali ini aku memang salah, aku membiarkanmu menungguku seharian disini. Geunde tadi itu aku benar – benar..”.

“Ara. Ara. Kau sangat sibuk hari ini, aku tahu itu. Schedule dadakan dan kau tidak dapat menolaknya, aku juga tahu itu. Tapi setidaknya sempatkan waktumu meski hanya 1 menit untuk menghubungiku, Minho”. Sungutnya yang mulai terdengar sedikit melemah. Ia mendekati Minho perlahan, membiarkan tangannya yang berhiaskan jemari yang lentik dan cantik itu menyentuh lembut wajah dan menegakkan kepala Minho yang tertunduk.

“Mianhae cagi~, nan jal mothaesseo. Mianhae jeongmal”. Gumam Minho yang perlahan menatapnya.

Ia mengulaskan senyuman, kedua tangannya kini memegang kedua pipi Minho lalu mengelusnya dengan lembut. “Geureom, anggap saja sekarang aku terhipnotis karena kau tampan, jadi aku bersedia memaafkanmu”. Sahutnya lalu menertawakan ucapannya sendiri.

“Cup~”.

Seketika darah ditubuhku terasa berhenti mengalir, hati ini juga langsung terasa sakit yang teramat sangat. Melihatnya menerima ciuman dari Namja Chingunya, sungguh ini bukan pertama kali aku melihat mereka berciuman. Mereka adalah pasangan, dan seluruh penduduk Korea tahu akan hal itu, termasuk diriku. Tapi entah kenapa kali ini, rasanya sangat sakit.

Aku mengalihkan pandanganku ke sembarang arah di dorm, aku rasa aku sudah terlalu lama mematung melihat mereka melampiaskan kasih ke satu sama lain. Aku harus segera membawa tubuhku lenyap dari mereka.

“E, e.. baguslah kalian tidak jadi bertengkar dihadapanku. Karena kalau itu terjadi, aku pasti akan menyiramkan se-ember air penuh pada kalian”. Gumamku tertawa pendek. “Geureom, aku tidak ingin menjadi pengganggu. Nikmatilah waktu kalian berdua, aku ngantuk”. Sebelum sempat melihat mereka mengangguk dan melambaikan tangan untukku, aku sudah lebih dulu memalingkan tubuhku dan berjalan cepat masuk ke kamar.

***

“Oh ne? Aah~, jinjjayo..? Ne, ne, arasseoyo. Nan jigeum kalkke”. Minho dengan cepat mengakhiri pembicaraannya yang entah dengan siapa di telepon. Sekilas ia terlihat seperti menggaruk – garuk kepalanya kebingungan.

“Wae, Minho’ya?”. Tanyaku penasaran yang melihatnya mulai mondar mandir di ruang tamu dorm.

“Ah, geuge.. Hari ini aku tiba – tiba harus jadi MC di acara MBC Music Core Hyeong”. Sahutnya yang masih sesekali mondar mandir.

“Geuraeseo? Memangnya kenapa kalau kau harus jadi MC di acara itu? Kau memang sudah sering menjadi MC tamu di acara itu geureohji?”. Sambungku santai seraya menekan tombol remote tivi lalu duduk santai di sofa ruang tengah dorm yang empuk.

“Ne maja. Geunde.. hari ini aku dan Da Hye..”.

“Minho’ya~, chagi.. Uri eodigalgeoya? Ah ne, neujoseo mian. Tadi di jalan menuju dorm kalian sangat macet”. Tiba – tiba Da Hye datang dari arah pintu dorm kami dan memotong perkataan Minho. Seketika aku langsung terpikir reaksi apa yang nanti akan dikeluarkannya jika ia mengetahui kalau rencana kencannya akan..

“Mian chagi. Geunde.. hari ini kita tidak jadi pergi kencan”.

“Mworago?”. responnya datar.

“Jeongmal mianhae chagiya, aku tiba – tiba harus menjadi MC tamu di MBC Music Core hari ini. Barusan Manager Hyeong memberitahuku”. Ucap Minho sembari sibuk memasukkan perlengkapannya ke dalam tas tanpa menatap Da Hye yang sekarang kulihat seperti ingin.. menangis.

“Nan jigeum kalkke chagiya, ne? Jeongmal mian, saranghae”. Minho langsung mengecup kening Da Hye dan berpaling meninggalkan Da Hye yang mematung memandangnya berlari kearah pintu dan langsung menghilang begitu saja.

“Minho’ya..”. Suaranya terdengar lirih, terus terang aku tidak tega melihatnya yang mulai bergetar. Pipinya kulihat mulai basah karena air mata. Dan entah apa yang mendorongku berlari kearahnya dan langsung membenamkan tubuhnya masuk kepelukanku.

“Wae? wae? Kenapa ia bisa berbuat begitu padaku, Oppa? Dia itu namja chinguku, dan dia sangat sering berkata bahwa dia mencintaiku, geunde wae?! Kenapa dia selalu seperti itu padaku?!”. Ia berteriak, berteriak sekeras yang ia bisa sambil terisak didalam pelukanku. Kurasakan kedua tangannya melingkar erat di pinggangku, pelukannya terasa begitu hangat. Ya, dan pelukan inilah yang membuatku menyadari bahwa aku mencintainya juga.

“Uljima Da Hye’ah.. gwaenchanha”. Aku membelai perlahan puncak kepalanya dan tanpa sengaja memberikan sebuah kecupan hangat disana.

Perlahan aku melepaskan pelukanku, menegakkan kepalanya yang tertunduk dan mengusap airmata yang membasahi pipinya dengan kedua ibu jariku. “Kau mau jalan – jalan dengan Oppa?”. Tanyaku tersenyum.

“Ne?”.

“Geurae. Kalau kau mau, Oppa akan membawamu kemanapun kau inginkan. Geunde, kau harus menghapus airmatamu dulu lalu mengembalikan wajah cantikmu dan tersenyum”. Sahutku lagi menatapnya hangat.

“Oppa~”.

“Arasseo. Geureom, ayo buat wajahmu jadi cantik lagi. Oppa tidak mau mengajak jalan – jalan seorang yeoja yang cemberut seperti ini, hahaha”. Ku cubit pipinya ringan, ku lihat ia mulai bisa tersenyum kecil padaku.

“Eung~. Jeokeuman gidaryeo Oppa, ne?”.

***

“Cham~ geuraesseo, kau ingin kemana tuan putri?”. Aku melirik Da Hye sekilas yang sedang duduk di samping kursi kemudiku.

“Eeemm~ Lotte World, eottae?”. Sahutnya tersenyum kecil.

“Lotte World?”. Tanyaku meyakinkan kembali. Ya, mengingat tempat itu adalah taman bermain indoor yang terbesar di dunia dan terletak di jantung kota Seoul. Sudah bisa dipastikan banyak sekali orang yang bertandang kesana, dan tempat itu akan menjadi tempat yang haram untuk ku kunjungi mengingat diriku adalah seorang idol. Akan sangat bahaya jika aku kesana tanpa pengamanan apalagi saat ini aku membawa seorang yeoja, yeoja yang bukan kekasihku.

“Ne, majayo. Waeyo Oppa? Oppa takut kalau para fans SHINee menyadari kehadiran Oppa disana?”. Tanya menatapku dengan tatapan penuh arti.

“Anya, aku bahkan tidak memperdulikan diriku. Aku mengkhawatirkanmu, seluruh penduduk Korea tahu kalau kau adalah yeoja chingu Minho. Apa jadinya nanti kalau ada yang melihatmu berjalan berdua saja denganku di sebuah taman bermain, netizen pasti akan mengulas artikel yang tidak – tidak”. Paparku yang masih mengusahakan seulas senyuman tetap tersungging di wajahku.

“Biarkan saja”.

“Ne? Mworago?”. Responku cepat seraya langsung memutar wajahku untuk menatapnya.

“Aku memang sedang selingkuh dengan Oppa sekarang, geureohji? Kalau memang mereka ingin membuat artikel semacam itu, biarkan saja. Aku tidak akan menyangkalnya”.

“Sepertinya kau ini benar – benar sedang kalut, hahaha”. Sahutku asal mencoba menyejukkan suasana. “Baiklah tuan putri, karena itu keinginanmu”.

Ini gila, memang. Sudah seharusnya aku tidak melakukan ini, dia adalah kekasih Minho. Tapi hari ini aku merasa logikaku benar – benar tidak bekerja dengan baik, dan aku dengan bodohnya menurut saja dengan kekonyolan ini. Kekonyolan yang pada akhirnya akan berubah menjadi sebuah pil yang sangat pahit.

Kami menghabiskan waktu di Lotte World, ia nampak sangat gembira saat ku ajak memainkan semua wahana bermain yang ada disana. Ya, kebersamaanku dengannya dapat membuatku tidak ingat dengan statusku sebagai seorang idol. Aku bahkan tidak perduli berapa banyak netizen yang mungkin akan mengambil photo diriku secara diam – diam dan menguploadnya ke dunia maya.

Layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan, aku menggenggam tangannya ketika mengelilingi sebuah taman kecil di depan lotte world. Kami saling bertukar cerita dan terkadang menertawakan apa yang kami berdua ceritakan.

Tak terasa hari mulai gelap dan langit pun mulai menghamburkan gugusan bintang yang cantik. Sekarang kami duduk di kursi yang menghadap kearah sungai Han yang terhampar sangat luas dan begitu cantik dimata, ditambah dengan cahaya dari lampu yang tersusun cantik di tepi sungai itu. Aku kemudian memutar kepalaku menatapnya yang duduk disampingku, ia terlihat terpejam dan menghirup udara segar yang menerpa lembut wajah cantiknya.

“Udara disini sangat segar sekali”. Gumamnya pelan yang tetap memejamkan matanya dan mengulaskan senyum. Senyum yang begitu manis, senyuman itulah yang menyebabkan rasa cinta itu masuk perlahan ke hatiku.

“Haengbokhae?”. Tanyaku tersenyum padanya sambil mengusap puncak kepalanya.

Ia hanya mengangguk samar sambil masih menutup matanya kemudian membukanya perlahan lalu menyandarkan kepalanya dengan manja ke bahuku. Perlakuannya sukses membuat jantungku bergedup sangat kencang, sangat kencang seperti ingin meledak.

“Bahu Oppa sangat nyaman, lain kali bolehkah aku menyandarkan kepalaku lagi dibahu Oppa seperti ini?”. Perlahan ia menggerakkan tangan kanannya dan kemudian menggenggam tanganku. Genggaman tangan itu terasa sangat hangat. Seketika langsung terpikirkan olehku bahwa ini semua salah, tidak seharusnya aku membiarkannya bebas bereksplorasi denganku seperti ini. Membiarkannya menyandarkan kepala dengan manja dibahuku saja itu sudah sangat salah. Tapi bagaimana? Aku tidak bisa membohongi hati kecilku yang sangat menyukai moment seperti ini.

“Oppa~”.

“Ne? Wae?”.

Ia menengadahkan kepalanya untuk menatapku, aku meresponnya dengan langsung sedikit menundukkan kepala agar mata kami saling bertemu.

“Oppa belum menjawab pertanyaanku”. Gumamnya pelan. “Lain kali, apa aku masih boleh menyandarkan kepalaku seperti ini?”.

“Ada dua jawaban untuk menjawab pertanyaanmu”. Sejenak aku membenarkan posisi dudukku, ia pun lalu mengangkat kepalanya dari bahuku namun tangannya masih berpegang di tanganku.

“Dua jawaban?”.

“Ne, maja”.

“Geureom, aku ingin mendengar keduanya”.

Aku tersenyum menatapnya, tanganku kemudian mengeratkan genggaman lalu aku menarik nafas perlahan.

“Pertama, jawabannya adalah tidak bisa. Wae? Alasannya karena kau adalah yeoja chingunya Minho. Minho lebih berhak meminjamkan bahunya untukmu bersandar”. Sahutku dengan ekspresi tenang.

“Aa.. ne, arasseo. Geureom, jawaban ke dua?”.

“Kedua, jawabannya adalah..”. Aku diam sejenak mengatur nafas, lalu menatap matanya dalam. “Ne, hal su isseo. Wae? Geugae.. nan.. nan neol saranghae”. Aku seperti kehilangan energiku saat aku mengatakan kalimat sacral itu. Ya, memang benar ini sangat salah. Dia adalah kekasih seorang namja yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.

“Ne? Oppa.. mworagoyo?”. Ia sedikit terenyak menatapku, aku semakin dalam menatap matanya dan menggenggam tangannya lebih erat.

“Ne, maja. Nan neol saranghae, Da Hye. Nan neol jeongmal saranghanda”.

“Oppa~”.

“Sudah lama aku menyimpan perasaan ini sendiri, mengingat tidak mungkin aku merebutmu dari sisi Minho, sementara aku juga sangat mencintainya seperti aku mencintai adikku”.

“Oppa”. Sekilas aku melihatnya menatapku nanar, dari matanya nampak ada genangan air mata yang sudah siap untuk membasahi wajahnya cantiknya.

“Memang dari awal ini adalah salahku. Aku terlalu lemah untuk menjaga hatiku untuk tidak mencintaimu Da Hye’ah”.

Sesaat kami berdua terdiam, hembusan angin yang menerpa tubuh kami seakan menusuk dengan perlahan. Ya, udara malam ini terasa sangat dingin. Dapat kurasakan dari tangan Da Hye yang sedikit gemetar di genggamanku.

“Oppa, izinkan aku merasakan ciuman hangat darimu”.

“Mwo?”. Aku menengadahkan kepalaku yang tertunduk, mataku terbelalak menatap tatapannya yang begitu tajam yang mengarah padaku. “Da Hye’ah neo..”.

“Kisseuhaejwo. Cium aku, Oppa”.

Tangannya kini mulai mengelus lembut keherku, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Semakin dekat hingga hidung kami bersentuhan, dapat kurasakan nafasnya yang membelai lembut di wajahku. Ia menutup perlahan kedua matanya dan itu membuatku reflek untuk ikut memejamkan mataku.

Ia lebih dulu mengecup bibirku sekilas lalu melepaskannya. “Cium aku, Jonghyun Oppa”. Desahnya yang tidak menjauhkan bibirnya dari bibirku.

Entah setan apa yang saat itu tengah merasuki kami berdua, dinginnya angin malam itu membuat kami berdua terlarut. Perlahan kedua tanganku mulai mengelus lehernya, lalu aku membiarkan bibirku menyentuh kembali bibirnya dengan lembut. Ia mulai mencoba melumat bibirku dan dengan bodohnya aku membalasnya. Cukup lama aku membiarkan bibirku berekplorasi dengan bibirnya, hingga aku tersadar atas teguran dari logikaku.

“Geumanhae”. Aku melepaskan ciuman hangat itu perlahan, lalu membalikkan tubuhku menghadap kearah sungai Han, menyandarkan punggungku kesandaran bangku seraya menundukkan kepala.

“Ya Tuhan, ternyata Oppa benar – benar mencintaiku”.

“Kau mengetesku lewat ciuman tadi, geureohji?”. Sahutku menghela nafas.

“Bahkan aku merasakan bahwa cinta Oppa jauh lebih besar dari Minho”. Suaranya terdengar lirih, aku memutar kepalaku menatap wajahnya yang kini telah di jatuhi oleh air matanya.

“Ulijma, jebal. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu tersiksa dengan perasaanku terhadapmu. Mianhae Da Hye’ah, tidak seharusnya tadi aku menciummu”.

“Anya, itu bukan salah Oppa. Aku yang meminta Oppa menciumku, Oppa hanya mengabulkan permintaanku karena rasa tulus yang Oppa milikki untukku”. Ia menghapus air mata dengan kedua tangannya seraya menundukkan kepala.

“Da Hye’ah, jika seandainya aku memintamu untuk memilih. Antara Minho atau aku, apa kau akan menjawabnya?”.

***

“SHINEE JONGHYUN DIAM – DIAM TELAH MEMILIKI KEKASIH”.

“SHINEE JONGHYUN TERTANGKAP KAMERA TENGAH BERKENCAN DENGAN YEOJA TAK DI KENAL”.

“DI DUGA MEMILIKI KEKASIH, PHOTO SHINEE JONGHYUN YANG TENGAH BERCIUMAN MERUAK DI MEDIA ONLINE”.

“Aigoo~, apa – apaan semua artikel ini?!”. Key langsung membelalakkan mata menatap smartphonenya saat membaca artikel – artikel miring tentang diriku.

“Ya Tuhan~! Photo ini? Omo, Jonghyunie Hyeong~!!! Apa benar namja yang sedang berciuman ini adalah kau?”. Teriak Key yang kali ini langsung mendapat respon cepat dari member SHINee lainnya yang tengah duduk santai sambil menonton tv.

“Mworago?! Jadi artikel itu bukan gossip?”. Minho seketika langsung melompat menghampiri Key yang duduk di sofa ruang tamu dorm kami. Dalam hati aku sangat cemas, jika Minho melihat photo itu dan menyadari bahwa photo itu benar adanya dan yeoja yang kucium itu adalah kekasihnya sendiri, aku yakin dia pasti akan langsung membunuhku saat ini juga.

“Eeiissh~, photonya tidak jelas. Sepertinya gambar ini diambil melalui kamera handphone”. Sahut Minho setelah melihat photo di artikel itu.

“Geunde Hyeong, apa semua artikel itu benar?”. Taemin yang sedari tadi duduk diam disampingku akhirnya angkat bicara.

“Dia bukan kekasihku”. Sahutku singkat dengan nada datar.

“Mwo?! Jamsimanyo, apa maksud Hyeong? Hyeong bilang yeoja ini bukan kekasihmu, itu berarti photo ini..”.

“Ne, photo itu benar adanya. Namja yang ada di photo itu memang diriku”. Sahutku lagi memotong kalimat Key.

“Geuraeseo, yeoja ini..”.

“Yeoja itu Yoon Seo, yeodongsaeng Jonghyun”. Seketika Onew Hyeong muncul dari arah pintu dorm dan langsung menyambar ucapan Minho. Aku sedikit kaget mendengar perkataan Onew Hyeong, kenapa ia langsung berkata bahwa yeoja itu adalah Yoon Seo.

“Mwo?! Yoon Seo?? Jinjjaro? Geunde, photo ciuman ini..”.

“Ya~! Kalian ini masih muda tapi sudah pikun, bukankah itu sudah biasa. Jonghyun selalu mencium Yoon Seo setiap kali mereka bertemu. Jonghyun bahkan sering mencium bibir Yoon Seo di depan kita geureohji? Sudahlah, tidak usah di bahas artikel tidak jelas seperti itu”.

“Onew Hyeong, kau mengetahui sesuatu mengenaiku, geureohji?”. Aku menghampiri Onew Hyeong yang sedang menikmati kopinya sambil duduk santai di beranda dorm. Siang itu hanya ada aku dan Onew Hyeong di dorm, sedangkan Minho, Key dan Taemin sedang mengisi acara di sebuah stasiun radio.

“Bersyukurlah Jjong, netizen mengambil photo – photo itu dengan kamera ponsel. Wajahmu dan wajah Da Hye tidak terlihat dengan jelas, jadi agensi kita bisa dengan mudah membantah photo – photo tersebut”. Ucap Onew Hyeong setelah menyeruput kopinya. “Apa dia mencintaimu juga, Jjong?”.

“Ne?”. Aku mengernyitkan keningku samar.

“Da Hye, apa dia juga mencintaimu?”. Onew Hyeong perlahan memutar kepalanya menatapku seraya tersenyum kecil.

“Mollayo, Hyeong. Tapi aku merasakan sebuah rasa yang lain saat aku menciumnya”.

“Sebuah rasa?”.

“Ne, geuge.. Aku tidak tahu pasti geunde, aku merasa ia merasakan perasaan yang sama denganku”. Aku menundukkan kepalaku, kepalaku saat itu terasa agak pusing mengingat kejadian itu.

“Dengar Jjong, kau berhak untuk mencintai yeoja manapun yang kau suka. Geunde, cara ini salah. Kalian harus menyelesaikan ini semua sebelum keadaannya tambah runyam”.

Aku menghela nafasku dalam – dalam seraya menghembuskannya agar rasa penat yang menggerogoti tubuhku perlahan menghilang.

“Arayo Hyeong. Aku tahu, dari awal ini memang sudah salah”. Aku kembali mengatur nafas dan menundukkan kepala.

“Ah, untuk yang tadi jeongmal gomawo Hyeong. Hyeong datang di saat yang sangat tepat dan membantuku untuk.. yah, apa bisa aku mengatakan bahwa Hyeong telah membantuku mengelabui mereka?”. Aku memutar kepalaku menatapnya sembari tersenyum tipis, ia meresponnya dengan terkekeh samar.

“Aku hanya tidak ini kekeluargaan kita retak hanya karena masalah hati seperti ini. Geunde Jjong, sepertinya akan lebih tepat jika kau berterima kasih pada Yoon Seo. Karena kelahirannya di muka bumi ini sebagai yeodongsaengmu, dank arena kalian begitu mesra sebagai kakak beradik. Aku rasa secara tidak langsung ia sudah menjadi bodyguardmu untuk masalah seperti ini, hahaha”. Ia tertawa kecil seraya kembali meraih cangkir kopinya yang ada di atas meja.

“Hahaha, ne maja. Dia bagai bidadari bagiku Hyeong, aku benar – benar mencintainya”.

“Ddrrrt~”. Ponselku yang bergetar di atas meja dihadapanku mengalihkan perhatianku. ‘Pesan dari Da Hye’ gumamku dalam hati.

“Oppa, malam ini bisa datang ke apartemenku? Ada yang ingin aku katakan padamu”.

***

“Aku seharian memikirkan perkataan Oppa waktu itu. Andaikan Oppa memintaku memilih, antara Oppa dan Minho mana yang akan menjadi pilihanku”. Ia memecah keheningan di ruang tamu apartemennya. Ya, malam itu aku memenuhi permintaannya untuk menemuinya ke apartemen. Sudah kuduga ia pasti ingin membicarakan tentang hal ini denganku.

“Da Hye’ah, waktu itu aku..”.

“Arayo, aku mengerti Oppa. Tapi seharian ini aku memikirkannya, jika memang itu terjadi, Oppa memintaku untuk memilih.. maka aku akan menjawabnya”.

“Da Hye’ah..”.

“Aku berpikir keras untuk hal ini, dan sekarang aku menemukan jawabannya. Aku menyayangi Oppa, Oppa tahu itu bukan? Aku selalu berkata bahwa aku menyayangi Oppa seperti Oppaku sendiri. Geunde, sebenarnya perasaan yang aku rasakan bukan seperti itu. Aku mencintai Oppa sebagai seorang namja, bukan sebagai seorang Oppa untukku”.

“Mwo?”.

“Semua ini bukan salah Oppa sepenuhnya, aku juga bersalah disini. Tanpa sengaja aku berbohong dibelakang Minho. Tapi akan sangat berdosa jika aku harus mengorbankan orang yang tidak bersalah disini. Jawabanku.. Aku akan tetap memilih Minho. Karena Minho, adalah namja yang dengan kerendahan hatinya mau menerima diriku tanpa melihat latar belakang keluargaku yang begitu kacau. Appaku adalah seorang mavia, dan eommaku.. entah sekarang ia ada dimana, eommaku larut dengan dunianya sendiri dan tidak pernah memperdulikanku. Geunde, Minho dengan hatinya yang ikhlas itu mau menerimaku sebagai yeoja chingunya. Ya, terkadang memang aku merasa kesal dengan sikapnya yang kurang peka terhadap diriku, geunde..”.

Aku melihat matanya yang mulai berkaca – kaca dan ia mulai kesulitan untuk berbicara, perlakuannya lantas membuatku membiarkan kedua tanganku merengkuh tubuh mungilnya itu ke pelukanku.

“Geumanhae, arasseo, jangan diteruskan lagi. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti ini Da Hye. Akulah yang terlalu lemah, aku terlalu lemah untuk menjaga hatiku agar tidak jatuh cinta denganmu”.

Tangisannya seketika memecah, tangannya mencengkram kuat kedua sisi kemeja yang aku kenakan. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia tak berdaya untuk mengeluarkan sepatah kalimat lewat bibirnya.

“Langkah yang kau pilih sudah benar Da Hye, kau tidak boleh meninggalkan dirinya untukku”. Gumamku ditelinganya sembari mengelus puncak kepalanya.

“Oppa.. 1000 kali logikaku terus mencoba untuk menolak semua ini, logikaku selalu meneriakiku, menegaskan bahwa perasaan yang aku rasa ini adalah sebuah dosa besar, sebuah kesalahan fatal yang akan membuat hati semua yang terlibat disini hancur”. Suaranya terdengar lirih, perlahan ia mulai membangkitkan dirinya dari pelukanku, kedua tangannya perlahan mencoba memegangi wajahku dan matanya nanar. “Geunde.. aku tidak bisa membohongi hati kecilku. Andai saja diriku masih seorang diri, aku pasti akan memilih Oppa. Mianhae Oppa, jeongmal mianhae”.

“Kau tidak perlu minta maaf, akulah yang seharusnya meminta maaf untuk semua ini. Maafkan aku juga Da Hye’ah”.

Epilog

2 Bulan Kemudian

Jonghyun P.O.V

“Jjongie Oppa~!!! Annyeong~!!!”

“O, Annyeong Da Hye’ah~. Kau sepertinya senang sekali hari ini, apa ada sesuatu yang menarik yang membuatmu jadi secerah ini?”.

“Ne, isseo”.

“Jinjjaro? Mwoga?”.

“Pertama, hari ini Minho ingin mengajakku kencan setelah kalian menyelesaikan syuting MV kalian baru”.

“Aaa~, untuk itu kau dibawanya ke studio syuting?”.

“Ne, binggo!”.

“Geureom, yang kedua apa?”.

“Geuge..”.

“Geuge.. mwol?”.

“Yang kedua, aku hari ini sangat senang karena bisa melihat Oppa-ku yang tampan ini memberikan senyum hangatnya untukku. Hey, kau sudah berjanji akan terus menyayangi dongsaeng-mu ini bukan?”.

“Ne~ dongsaeng’ah~”.

Ya, pada akhirnya semua itu akan kembali seperti ini. 2 bulan setelah itu, semua keadaan kembali normal. Minho yang mungkin dulu kurang peka bagaimana cara memperlakukan Da Hye sekarang sudah mulai berlatih untuk memperbaiki sikapnya itu. Begitu juga diriku, sekarang aku pun mulai belajar untuk menguatkan diriku. Menguatkan diriku untuk hanya mencintainya sebagai adikku.

“Da Hye..”.

“Ne, Jjongie Oppa?”.

“Mianhae”.

“Ne? Mwoga?”.

“Untuk waktu itu, jeongmal mianhae. Maafkan aku, maafkan aku karena telah mencintaimu”.

END.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s