Beautiful Girl with Glasses (안경을 착용 예쁜 여자)

??????????????????????????????????????????????

Title: Beautiful Girl with Glasses (안경을 착용 예쁜 여자)

Inspired By: SHINee Jonghyun

Cast:

SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun

Yoo Eun Jeong (Original Character)

SHINee Onew as Lee Jinki (Cameo)

Kim Yoon Seo (Original Character)

Genre: Romantic, Sweet

Length: One Shoot

Rating: PG – 15

Created By: Ayin Perdana

_______________________________________________________________________

Annyeong~ ^^

This is My 23rd short Fanfiction, finally done!!! Yeeaaaaaay~~~ 😀 😀 😀 😀 😀

Another romantic part of Jonghyun~ you will find on it. LOL

Happy reading and hope you guys enjoy ^^

Prolog

Sebenarnya sudah lama ingin kukatakan ini padamu, tapi setiap kali aku ingin mengatakannya, hati ini selalu bergelitik menahanku dan ujung – ujungnya selalu berakhir dengan aku yang tidak jadi mengatakannya. Dan sampai sekarang, sampai sekarang aku belum juga mengatakannya padamu. Ya, aku belum mengatakannya karena berbagai alasan. Dan salah satu alasannya adalah.. karena aku takut. Aku takut melihat reaksi yang akan kau berikan saat aku mengatakannya padamu.

Dalam hati aku selalu bertanya, apakah kau akan menerima dengan apa yang nantinya akan aku katakan? Apakah kau akan percaya denganku? Apakah kau masih akan menatapku dengan tatapan yang manis itu? Apakah kau masih akan memberikan senyum cantik itu untukku? Atau mungkin hal buruklah yang akan terjadi, hal buruk bahwa kau akan menjauhiku, meninggalkanku.

Aku sadar aku memang harus segera mengatakannya padamu sebelum semuanya terlambat dan berakhir dengan sebuah kata penyesalan. Ya, aku harus mengatakannya, karena aku tidak mungkin untuk merahasiakan ini selamanya. Aku tidak berani membayangkan reaksi apa yang akan kau tujukkan padaku setelah ini, tapi satu hal yang sangat aku harapkan padamu.

“Tetaplah berada disisiku”.

Jonghyun P.O.V

Seorang yeppeun yeoja berkacamata indah itu bernama Yoo Eun Jeong, teman satu angkatanku di Universitas Konkuk, Seoul Korea Selatan. Dan sebagai mahasiswa berprestasi kebanggaan Universitas Konkuk, wajar saja jika hampir semua mahasiswa kenal dengan sosoknya yang manis itu. Ya, semua, tak terkecuali diriku. Bahkan mungkin bisa dikatakan bahawa aku adalah.. pengagum rahasia-nya.

“Ya~!!! Jonghyun’a, annyeong”. Onew Hyeong, sahabatku sekaligus seniorku yang datang menghampiriku praktis langsung membuyarkan lamunanku yang tengah duduk di kantin kampus sembari menikmati secangkir kopi pagi di awal musim dingin ini.

“Ternyata benar, matamu memang tidak pernah bisa lepas dari yeppeun yeoja yang duduk di kursi seberang itu Jjong”. Setelah menatapku dengan seulas senyuman, ia lalu menarik kursi disampingku kemudian duduk dengan santai. “Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah akan mendekatinya, mengajaknya bicara, mengakrabkan diri.. Yah, paling tidak dalam kurun waktu 2 minggu aku pasti sudah bisa menjadikannya teman kencan”.

“Geunde itu tidak semudah seperti yang kau utarakan, Hyeong”. Sahutku meraih cangkir di depanku yang masih penuh seraya lalu mengesap kopi itu.

“Ya~, siapa yang akan menolak untuk berkenalan dan berbincang – bincang santai dengan penyanyi muda tampan dan berkabat Kim Jonghyun dari Universitas terkenal Konkuk?” cetusnya ringan dengan satu kali hembusan nafas. “Apalagi jika pada akhirnya perkenalan dan perbincangan itu bisa berbuah menjadi.. sebuah kencan”.

Aku langsung terkekeh begitu mendengar celotehannya itu. Ya, apa yang dikatakannya memang benar, sangat mudah bagiku maksudku sangat mudah bagi seorang penyanyi muda tampan dan berbakat Kim Jonghyun untuk mendapatkan seorang yeoja untuk diajak berkencan. Tapi aku tidak pernah mau memanfaatkan embel – embel yang melekat padaku itu untuk mengawali sebuah hubungan dengan seorang yeoja, aku ingin seperti orang – orang biasa pada umumnya. Ya, seperti umumnya seorang namja biasa yang menjalin hubungan dengan yeoja yang biasa pula.

“Aku tidak ingin dia mengenalku karena embel – embel itu Hyeong”. Sahutku singkat.

“Geuraeseo?”. Ia menyipitkan matanya menatapku.

“Aku ingin dia mengenaliku karena aku adalah diriku, bukan karena aku adalah seorang penyanyi solo terkenal seperti yang kau katakan tadi”. Aku menundukkan kepala, kemudian meraih cangkir kopiku lagi kemudian kembali mengesapnya.

“Aigoo~, kau ini. Aku katakan padamu, jangan pernah mempersulit sesuatu yang sebenarnya bisa kau selesaikan dengan mudah Jjong”.

***

Aku masih duduk diam di bangku kelas sembari membolak balikkan buku yang tergeletak di mejaku meski kelas hari itu telah berakhir. Seluruh materi kuliah yang berikan hari ini terasa lumayan sulit dipahami. Ya, dan itu semua karena memang aku jarang masuk karena jadwal – jadwal panggung dan konser soloku di berbagai negara yang begitu padat.

Aku harus menguasai semua materi ini sebelum ujian akhir semester ini mulai, dan menurut kalender akademik aku masih memiliki satu bulan untuk mengejarnya. Dan satu bulan itu aku juga masih memiliki segudang aktivitas, Aigoo.

“Jonghyun Ssi~?”. Sesaat kemudian lamunanku terpecahkan saat daun telingaku menangkap alunan suara yang..

“Lembutnya”.

“Ne?”.

“Ah, aniyo aniyo, aku tadi hanya kaget saja. Mian, hehe”. Sejenak aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Entah karena mataku yang kelelahan atau karena aku yang memang benar – benar menginginkan hal seperti ini terjadi, tapi kupastikan saat ini sosok cantik itu duduk tepat di kursi di depan mejaku.

“Igeo, aku sudah menyalinkan semua bahan materi kuliahmu yang tertinggal, jadi kau bisa perlahan – lahan mempelajarinya, Jonghyun Ssi”. Ia menyodorkan salinan bahan materi itu padaku dengan seulas senyuman, yang cantik.

“Jinjja? Aa~ gomawo”. Sambutku seraya menundukkan kepala. “Geunde, bisakah kita bicara tidak usah terlalu formal seperti ini? Geurigo, panggil aku Jjong saja”. Aku berusaha tersenyum dengan sangat manis didepannya, dan seketika jantungku langsung berdetak begitu kencang seakan ingin meledak. Mata indah dibalik kacamata itu seperti menghipnotisku.

“Arasseo, Jjong”. Sahutnya kembali tersenyum, dan senyuman itu sukses membuat seluruh tubuhku tidak bisa bergerak dan pandanganku juga tidak bisa beralih dari sosoknya yang manis.

“Aku yakin kau pasti bisa mengejar materi ini, karena setahuku nilaimu tidak pernah turun meski kau disibukkan dengan kegiatanmu sebagai seorang idol”.

“Gomawo, geunde tetap saja aku tidak sepintar dirimu Eun Jeong’ah”. Sedetik kemudian tiba – tiba terbersit sebuah ide di kepalaku, dan mungkin ini bisa membantuku. Ya, apalagi kalau bukan membantuku untuk bisa dekat dengannya.

“Geunde Eun Jeong’ah, kalau kau tidak keberatan.. bolehkah jika aku meminta bantuanmu mengenai materi kuliah ini?”. Aku memiringkan kepalaku sedikit seraya menatapnya. “Maksudku, kiranya kau berkenan untuk menjadi.. mentor belajarku?”.

“Oh, ne, dangyeonhaji. Kau ingin aku ke rumahmu nanti untuk mengajarkanmu materi ini? Kapan aku harus datang ke rumahmu?”.

“Anya anya. Kau seorang yeoja, mana boleh aku memintamu yang mendatangi rumahku. Biar aku saja yang nanti menemuimu. Geunde.. gwaenchanha? Tidak apa – apa kalau aku ke rumahmu?”. Aku menatapnya dengan tatapan yang tidak yakin, atau lebih tepatnya dengan tatapan.. gugup.

“Geureom, tentu kau boleh ke rumahku. Geunde, apa kau tahu rumahku dimana, Jjong?”. Tanyanya dengan nada polos.

“Setelah ini kau ada urusan lain tidak?”. Tanyaku ringan seraya memiringkan kepalaku dan tersenyum.

“Ani, setelah ini aku akan langsung pulang saja. Wae?”.

“Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang, eottae? Jadi aku bisa langsung tahu dimana rumahmu”.

***

Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan sedang, rasanya sangat tidak bisa dipercaya tapi sekarang ini yeppeun yeoja cantik berkacamata itu tengah duduk disamping kursi kemudiku. Aku hampir kesulitan bernafas karena menahan rasa gugup, oleh karena itu sebisa mungkin aku berusaha untuk tetap terlihat tenang. Ya, setidaknya aku harus tetap terlihat tenang saat berada di depannya.

“Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan diantar pulang oleh seorang penyanyi terkenal sekelas Kim Jonghyun, hehehe”. Guraunya yang seketika memecah keheningan di mobilku.

“Hahaha, jinjja? Kalau begitu anggaplah kau seperti seorang fangirl yang mendapat keberuntungan karena diantar pulang oleh seorang Kim Jonghyun”. Balasku asal seraya langsung tertawa lepas bersamaan dengannya yang juga ikut terkekeh.

“Jjong~”. Suara itu lagi, akhirnya ia mengeluarkan suara manja yang terdengar sangat manis itu untuk memanggilku. Kalau boleh jujur, baru pertama kali ini aku mendengar suaranya langsung ditelingaku. Suaranya terdengar sangat manis, dan aku menyukai itu.

“Ehm?”. Jawabku menatapnya sekilas dengan seulas senyum seraya langsung kembali fokus menghadap ke arah jalan.

“Bagaimana rasanya menjadi seorang idol, dan selalu dikelilingi oleh yeoja – yeoja cantik?”. Pertanyaan itu cukup membuatku sedikit tersentak kemudian menatapnya untuk beberapa sesaat sebelum aku kembali memfokuskan pandanganku ke depan.

“Menjadi seorang seniman di bidang tarik suara memang sudah menjadi impianku sejak kecil. Dan setelah aku menjadi seperti sekarang, yang pasti aku sangat senang”. Jawabku ringan yang direspon dengan sebuah anggukan pelan darinya. “Dan untuk jawaban pertanyaan kedua, geuge..”. Sejenak aku diam, sedikit menghela nafas, kemudian melanjutkan kalimatku “Yeoja – yeoja cantik yang katakan tadi itu, aku rasa mereka tidak pernah mengelilingiku”.

“Tidak pernah?”. Tanyanya meyakinkan.

“Eung. Aku tidak pernah merasa kalau mereka itu mengelilingiku, mencoba mendekatiku atau apalah itu sebutannya. Para anggota girls band semuanya bekerja dengan sangat professional”. Lanjutku ringan.

“Ani, maksudku yeoja cantik disini bukan para anggota girls band, geunde.. para fansmu”. Gumamnya pelan. Aku langsung melebarkan mataku, membuat betuk seperti huruf O di bibirku kemudian menatapnya lagi.

“Fansku? “.

“Geureom, fansmu. Aku sempat beberapa kali melihatmu yang selalu dikejar – kejar oleh fans – fans wanitamu di tayangan infotainment. Dan mereka rata – rata memiliki wajah yang cantik”. Gumamnya lagi masih dengan nada pelan.

“Aaah, geuge.. aku menganggap mereka semua adalah atasanku yang harus aku hormati”.

Ia bingung. Ya, bisa aku lihat dari ekspresi wajahnya begitu mendengarkan jawabanku tadi. Dan sekarang ekspresi wajah itu berubah menjadi penasaran. Ternyata yeppeun yeoja seperti dia bisa penasaran juga untuk hal seperti ini.

“Maksudku menganggap mereka semua adalah atasanku itu karena.. kalau tidak ada mereka aku tidak mungkin bisa menjadi seperti sekarang ini. Lebih tepatnya mustahil”. Aku kembali menatapnya sekilas dan tersenyum. “Sebagus apapun penampilanku dan suaraku ketika bernyanyi tapi jika mereka tidak suka aku tidak akan mungkin menjadi seperti ini.

“Aa~, arasseo. Geureom, Jjong mungkin ini kedengarannya sedikit konyol, geunde.. maukah kau menyanyi.. untukku? Sedikit saja”.

Seketika aku langsung melebarkan mataku, ia memintaku bernyanyi.. untuknya? Aku sangat yakin tadi ia memintaku bernyanyi untuknya. Apa sekarang ia sudah merasa mulai akrab dan nyaman bersamaku? Tidak.. tidak Jonghyun, masih terlalu cepat. Kau bahkan baru berbincang dengannya kurang dari 1 jam. ‘Ia hanya memintamu untuk bernyanyi, Jonghyun. Jangan menyimpulkan sesuatu dengan cepat’ gumamku dalam hati.

“Menyanyi? Dangyeonhaji, kau ingin aku menyanyikan lagu apa untukmu?”. Tanyaku.

“Nothing better. Terus terang aku sangat suka melihat penampilanmu di tivi ketika menyanikan lagu ini. Dan sekarang.. aku ingin mendengarkannya secara langsung. Eottae? Gwaenchanha?”.

“Tentu saja nona Eun Jeong”. Akupun menuruti permintaannya.

***

“Jjong~!!!”. Suara namja yang sangat periang itu kembali mengejutkan lamunanku. Dengan ekspresinya yang antusias itu ia menghampiriku yang tengah duduk di sebuah kursi taman di kampusku sembari menulis sebuah lirik lagu.

“Ne, Hyeong~. Sekarang apalagi yang ingin kau komentari dariku?”. Ya, melihat ia yang begitu cepat melesat menghampiriku, bisa kutebak dengan jelas pasti ada yang ingin ia bahas di pagi yang cerah ini.

“Kau benar – benar hebat Jjong, kau benar – benar namja yang hebat!”. Tukasnya antusias yang kemudian langsung duduk disampingku.

“Mwoya geuge~? Apa maksud Hyeong berkata seperti itu? Aku benar – benar tidak mengerti dan kenapa kau selalu membuat suasana pagiku yang indah dan tenang menjadi sangat berisik? Hahaha”. Gurauku seraya menepuk pundaknya.

“Apalagi, sekarang cepat ceritakan padaku bagaimana bisa kau dan yeoja itu terlihat akrab?”.

Aku memiringkan kepalaku menatapnya, merengutkan samar keningku kemudian mencoba meresponnya.

“Kami ini teman satu angkatan Hyeong, dan kebetulan kami satu kelas. Jadi wajar saja bukan jika kami berteman?”. Sahutku ringan seraya kembali mencoba fokus untuk menulis lirik lagu yang tadi sempat tertunda.

“Anya anya anya anya. Ini tidak terlihat se-simple itu Jjong. Asal kau tahu, selama 3 minggu ini aku selalu mengikuti perkembanganmu dengan yeoja itu, dan salama 3 minggu itu pula aku mendapat kesimpulan bahwa kalian berdua benar – benar sangat akrab”. Celotehnya panjang lebar yang membuatku sedikit menggaruk kepala.

“Jamkan Hyeong, untuk apa juga Hyeong diam – diam mengikuti perkembanganku? Apa Hyeong sekarang sudah beralih profesi dari seorang aktor menjadi seorang netizen?”. Perbincangan ini praktis membuatku tidak bisa konsentrasi untuk menulis lirik lagu, dan ini sangat menyebalkan. Akhirnya aku memutuskan untuk mengenyampingkan buku lirik laguku dan memfokuskan perhatianku sementara pada Onew Hyeong.

“Ya~, di dunia K-Pop saat ini namamu sedang bersinar geureohji? Geureseo menurutku akan menarik jika aku mengikuti perkembangmu. Sudahlah Jjong, tidak usah berusaha mengalihkan topik pembicaraan kita, sekarang cepat ceritakan bagaimana bisa kau dengan yeoja itu berhubungan sampai sedekat itu? Kau bahkan selalu mengantarkannya pulang setelah perkuliahan selesai!”. Celotehnya panjang lebar, aku hanya bisa mendesah dan menyunggingkan seulas senyuman tipis.

“Dia itu membantuku untuk belajar materi – materi kuliahku yang tertinggal, Hyeong. Karena jadwal panggung dan konserku yang begitu padat membuatku sering tidak masuk kuliah, karena itu aku memintanya membantuku untuk menjadi mentorku”.

“Hanya itukah tujuan utamamu?”. Ia menyipitkan matanya menatapku dan sedikit mencondongkan badannya. “Kau menyukainya Jjong, itu yang kutahu. Dan aku yakin tujuanmu tidak hanya untuk sekedar meminta bantuannya mengajarimu materi kuliah”.

“Maksudmu, Hyeong?”, Tanyaku datar seraya mengulaskan senyuman tipis.

“Jangan pura – pura tidak mengerti dengan apa yang aku katakan Jjong~. Kau itu memiliki otak yang cerdas, dan bukan masalah sulit untuk orang pintar sepertimu mengejar materi kuliah itu seorang diri. Selama ini nilai – nilai akhirmu tidak pernah turun, Jjong”.

“Arasseo, baiklah. Singkatnya saja, menurutku jalan seperti ini cukup memudahkanku untuk bisa mengakrabkan diri padanya. Setidaknya, terlihat lebih alami daripada aku harus menggodanya”. Sahutku menyerah dengannya yang sejak tadi mendesakku untuk menceritan kedekatanku dengan Eun Jeong.

“Padahal menurutku akan lebih seru jika kau menggodanya, Hahahaha”.

“Hyeong~”.

“Ara ara. Aku tahu cara seperti itu bukan gayamu”. Sahutnya langsung dengan tampang cuek khasnya. “Aku akan membantumu dengan memberitahu satu hal, ku dengar yeoja manis itu menyukai tipe namja romantis”.

“Lalu?”. Tanyaku seraya memiringkan kepalaku menatapnya.

“Lalu apalagi, berarti sudah jelas kau merupakan tipenya bukan?”.

***

“Arasseo, aku pikir aku sudah cukup menguasai materi yang ini”. Aku mengembangkan senyumku sesaat setelah usai belajar materi kuliah dengan mentor yang begitu cantik ini. Ya, sebenarnya sepanjang saat ia menerangkan materi itu pandanganku tidak pernah beralih dari wajahnya. Ya, aku bahkan tidak mengalihkan penglihatanku sedikitpun meski untuk melihat kearah buku.

“Ternyata kau termasuk orang yang pintar Jjong, kau selalu dengan cepat bisa menguasai materi – materi ini”. Sahutnya terdengar manis dan dengan seulas senyuman cantik.

“Itu karena kau yang menjadi mentorku Eun Jeong, sekali lagi jeongmal gomawo”. Sahutku membalas senyumannya. “Ngomong – ngomong sepertinya kita telah melewatkan jam makan siang? Mau makan siang.. bersamaku?”.

Sesaat ia terlihat diam begitu mendengar tawaranku, sampai akhirnya aku melihat sebuah gerakan mengangguk dari kepalanya.

“Eung. Tentu saja, kupikir kau memang harus mentraktirku makan siang setelah lelah mengajarimu materi kuliah ini. Hehehe”. Candanya membuatku langsung tertawa.

“Ahahahaha, baiklah. Aku akan mentraktirmu makan siang dan aku pastikan makan siangmu hari ini istimewa. Kaja”.

Aku membawanya ke sebuah restoran kecil. Ya, mungkin tempat ini tidak bisa disebut restoran karena tempat ini hanya semacam toko kecil yang khusus menjual Chicken and Chesse Burger yang menurutku paling enak diseluruh penjuru Seoul. Toko kecil ini tidak memiliki meja dan kursi didalamnya, jadi orang – orang yang membeli Chicken and Chesse Burger disini biasanya menikmatinya di pinggir jalan, di kursi taman atau sambil jalan. Walaupun begitu, toko kecil selalu dipenuhi oleh pembeli dan antreannya selalu pangjang sampai keluar toko.

“Ige~. Chicken and Chesse Burger jumbo-mu Eun Jeong agashi”. Ucapku setelah menerima dua bungkus Chicken and Cheese Burger yang kupesan dan keluar ke jalan.

“Gomawo Jonghyun yang tampan, hahaha”.

Aigoo! Apa yang baru saja dikatakannya? Untuk pertama kalinya ia menyebutku tampan dan secara langsung dihadapanku. Ya, seorang Eun Jong yang kukenal sejauh ini orangnya memang sangat menarik, baik, menyenangkan, dan pastinya cantik. Ia sudah sering mengajakku bercanda dan candaannya selalu berhasil membuatku tertawa, namun lain halnya untuk yang ini. Entah kenapa gurauannya kali ini membuat jantungku berdegup sangat kencang.

“Kita akan memakan ini dimana Jjong?”. Tanyanya sambil melihat kearah sekitar.

“Ikut aku”. Tanpa sengaja aku meraih tangannya dan menuntunnya untuk berjalan bersama, dan jantungku seketika mulai berdebar lagi dan kali ini 2 kali lebih kencang.

Akhirnya aku membawanya ke sebuah taman kecil di sudut jalan, dengan setapak mengelilingi kolam yang tidak terlalu besar dan pepohonan yang berderet di sepangjang jalan setapak.. dengan berpegangan tangan. Ya, disepanjang jalan membawanya kemari aku tidak pernah melepaskan tangannya yang terasa begitu hangat. Dan yang membuatku menarik adalah dia juga tidak berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggamanku.

“Bagaimana kalau kita duduk disini saja?”. Tawarku saat menunjuk salah satu bangku panjang bercat coklat yang masih kosong yang berderet di pinggiran jalan menghadap kolam. Ya, menurutku tempat itu bagus untuk menikmati makan siang dengan santai.

“Eung, baiklah”. Sahutnya singkat seraya tersenyum  dan menganggukkan kepalanya. “Taman ini sangat cantik, Jjong”. Komentarnya begitu kami telah duduk dikursi panjang yang menghadap kolam itu.

“Ne, maja”. Sahutku tersenyum. “Aku sangat suka duduk di taman ini hanya untuk sekedar bersantai, makan siang, atau menulis lirik lagu”. Ucapku lagi sambil mulai menggigit burger ditanganku. “Ayo dimakan burgernya, aku yakin kau pasti akan suka”.

“Omo~! Ini benar – benar enak”. Seketika aku lihat ia melebarkan matanya dan menatap kearahku sekilas setelah mencoba burger itu.

“Hahaha, aku bilang juga apa”. Sahutku tertawa dan tanpa sengaja mengusap gemas kepalanya. Ya, entah kenapa tangan ini selalu reflek untuk melakukan skinship. Ya tuhan, sepertinya sudah terjadi sesuatu yang salah dengan diriku.

“Kau tahu, ini adalah pertama kalinya aku makan siang sambil duduk santai di kursi taman yang cantik ini bersama dengan seorang namja”.

“Geure?”, Sahutku sembari tersenyum begitu mendengar ucapannya.

“Eung. Untunglah kau tampan, jadi aku tidak merasa rugi. Hahaha! Dan ini benar – benar makan siang yang istimewa, Jjong. Gomawo”. Lagi – lagi ia memberikan senyuman cantiknya itu. Senyuman yang sangat aku suka, dan senyuman itu praktis membuat jantungku berdegup kencang untuk kesekian kalinya. ‘Mungkinkah aku benar – benar mulai jatuh cinta dengan yeoja ini?’ pikirku dalam hati.

***

“Kau ingin berangkat ke Jepang? Hari ini?”. Suara manisnya di ujung sana terdengar sedikit terkejut saat aku meneleponnya. Sekarang aku sudah berada di ruang tunggu bandara Incheon dan aku merasa bosan, lantas tanganku yang sedari tadi memainkan ponsel tanpa sengaja menyentuh touchscreen ponselku dan meneleponnya.

“Ne, Eun Jeong’ah. Aku akan mengadakan konserku disana”. Sahutku singkat dengan seulas senyuman.

“Jinjja? Berapa lama kau akan berada disana Jjong?”. Tanyanya.

“Konser akan diadakan selama 3 hari, setelah itu aku akan langsung pulang”. Sahutku sambil mengecek ke buku scheduleku. “Tentunya kau bisa bertahan tanpa melihatku untuk beberapa hari saja bukan?”. Ucapku lagi mencoba bergurau dan seketika langsung tertawa.

“Aku mungkin tidak apa – apa, tapi aku tidak yakin kalau kau akan baik – baik saja. Hahahaha! Mian mian, aku hanya bercanda Jjong”.

Ya, ia benar. Ia mungkin tidak akan apa – apa, tapi tidak untukku. Aku yakin aku pasti akan merindukan yeoja yang saat ini sedang menerima teleponku. Memikirkan itu membuat wajahku seketika memerah.

“Benar juga, hahaha! Geureom, aku sudah harus naik pesawat, ku tutup dulu teleponnya, ne? Annyeong~”.

Konserku selama 3 hari sukses besar. Totalnya ada sekitar 30.000 fans yang menonton konserku selama 3 hari itu, atau lebih tepatnya ada sekitar 10.000 penonton dalam sehari konser.

“Hhuuuh~”. Aku menarik nafas dalam seraya menghembuskannya dengan keras untuk melepas penat tubuhku. Aku berdiri memandang kearah luar jendela hotel, memandangi wajah Jepang yang cantik di malam hari.

Perhatianku kini beralih pada ponsel touchscreenku yang tergeletak di atas meja di samping jendela. Akupun meraihnya seraya memandang ke layar ponselku.

“Telepon saja, Oppa. Katakan kalau Oppa merindukannya”. Suara manja Yoon Seo, yeodongsaengku satu – satunya memecah keheningan di kamarku. Kebetulan pada saat aku mengadakan konser di Jepang, ia juga sedang menyutradari sebuah film baru yang diangkat dari novel karangannya disini. Jadi aku memutuskan untuk menginap di hotel yang sama dengannya.

“Omo! Chagiya~, hehe. Kau belum tidur chagi?”. Sahutku merangkulnya yang menghampiriku.

“Aku belum mengantuk Oppa. Geunde, yang tadi itu adalah yang ke 25 kalinya Oppa melihat ke layar ponsel Oppa dengan ekspresi yang menggambarkan bahwa Oppa sangat ingin menelepon seseorang yang ada diseberang sana”. Ucapnya seraya membalas pelukanku dan mencium ringan pipiku.

“Aigoo~, chagiya, sekarang kau sedang beralih profesi dari novelis sekaligus sutradara menjadi stalker Oppa, ne? Hehehe”. Sahutku seraya mengusap dan memberi kecupan ringan di puncak kepalanya.

“Semua orang juga menyadari hal itu Oppa. Mulai dari saat masih di backstage Oppa selalu memerhatikan ponsel Oppa itu dengan ekspresi wajah yang.. tidak biasa”. Katanya.

“Tidak biasa?”. Aku langsung mengerutkan samar keningku seraya menatapnya.

“Ne, tidak biasa. Wajah Oppa terlihat seperti.. merindukan seseorang”. Sahutnya yang tiba – tiba menyipitkan matanya dan menatap tajam kearahku. “Dan aku ingat Onew Oppa pernah menceritakan padaku kalau Oppa sedang dekat dengan seorang yeoja cantik”.

“Onew Hyeong? Aigoo namja itu benar – benar..”.

“Oppa sukses membuatku cemburu”. Celotehnya dengan nada manja seraya mengedipkan sebelah matanya dengan usil kearahku. “Perhatian dan cinta Oppa pasti akan berkurang untukku. Hehehe”.

“Tidak mungkin chagi~, kau masih menjadi yeoja pertama yang Oppa cintai di dunia ini. Neon Oppaeui yeodongsaengiya geureohji?”. Sahutku mengeratkan pelukanku dan mencium puncak kepalanya.

“Hahahaha, arasseo. Nan geunyang jangnaniya, aku hanya bercanda Oppa”. Sahutnya yang langsung tertawa dan mencubit ringan pipiku. “Jangan ragu untuk melakukan apa yang ingin Oppa lakukan. Katakan rindu kalau memang Oppa merindukannya, geurigo.. katakan suka kalau memang Oppa menyukainya, mencintainya, katakan semuanya. Oppa tidak mungkin memendam perasaan Oppa selamanya, geureohji?”.

“Hhoooaam~, aku mengantuk. Aku tidur dulu Oppa, ne? Aigoo.. padahal aku ingin tidur sambil memeluk Oppa~”. Ucapnya manja dan membuatku terkekeh kecil.

“Mau Oppa temani tidur? Kau bisa tidur di kamar Oppa chagi, kau tidak perlu pindah ke kamarmu”. Sahutku mengelus puncak kepalanya.

“Aku memang ingin tidur disini, hehehe”. Sahutnya seraya membuat huruf V ditangan kanannya. “Aku memang ingin ditemani Oppa tidur tapi Oppa harus menelepon yeoja itu dulu. Katakan kalau Oppa merindukannya, arattji? Hehe, geureom aku tidur duluan Oppa”.

“Arasseo~, Oppa akan menyusulmu nanti. Jalja chagiya”. Sahutku yang langsung mengecup keningnya.

Aku kembali memandangi kearah luar jendela, aku memikirkan apa yang dikatakan Yoon Seo. Aku akui perasaanku selama berada di Jepang.. dan selama itu aku tidak melihat sosoknya yang manis itu, membuatku merasa.. gelisah. Sepertinya aku memang sedang merindukannya.

Author P.O.V

Eun Jeong tengah duduk santai di ruang tengah sembari menonton tivi ketika ponselnya yang ia letakkan di sampingnya berdering. Ia seketika tersentak dan mengangkat teleponnya tanpa sempat melihat nama yang menelepon.

“Eun Jeong’ah~, aku senang kau mengangkat teleponku dengan sangat cepat. Aku pikir kau sudah tidur dan aku pasti akan merasa sangat sedih karena kau tidak mengangkat teleponku, hehehe”. Kata – kata itu menerjang lembut daun telinga Eun Jeong bahkan sebelum ia sempat berkata ‘Halo’.

“Jjong?”. Tanya Eun Jeong perlahan dengan nada sedikit ragu.

“Ne, ige naya”. Sahut Jonghyun yang tidak dapat menyembunyikan senyuman di wajahnya begitu mendengar suara yeoja yang sangat dirindukannya itu.

***

Jonghyun P.O.V

Aku sangat senang ketika teleponku diangkat cukup cepat oleh Eun Jeong. Rasanya ingin berteriak agar semua orang tahu rasa bahagiaku begitu ia mengangkat telepon dariku.

“Eun Jeong’ah~, aku senang kau mengangkat teleponku dengan sangat cepat. Aku pikir kau sudah tidur dan aku pasti akan merasa sangat sedih karena kau tidak mengangkat teleponku, hehehe”. Ucapku yang langsung memulai obrolan di telepon tanpa memberinya kesempatan untuk mengatakan ‘Halo’, bagiku sangat membuang waktu, aku sudah sangat merindukannya.

“Jjong?”. Tanyanya dari ujung sana.

“Ne maja, ige naya”. Sahutku yang tidak dapat menyembunyikan senyuman di wajahku.

Aku bisa merasakan kelegaan yang menjalari tubuhku begitu aku mendengar suaranya di ujung sana. Terus terang, tidak melihat Eun Jeong selama 3 hari saja sudah cukup membuatku resah dan uring – uringan. Aku tidak tahu sudah sejak kapan, kenapa, aku juga tidak tahu bagaimana, tapi satu hal yang aku tahu pasti, sekarang ini Eun Jeong sangat berpengaruh terhadap.. ketenangan jiwaku.

Aku kemudian duduk di kursi kamar hotel yang menghadap kearah luar jendela dan kembali melanjutkan pembicaraan.

“Jal jinaesseo, Eun Jeong’ah?”. Tanyaku dengan suara pelan.

“Ne, jal jinaesseo, neoneun?”. Sahutnya ringan, suaranya terdengar begitu lembut di telingaku. Dan aku, suka itu.

“Sudah lebih baik dari sebelumnya”. Sahutku dengan seulas senyuman.

“Apa maksudmu? Jjong, apa sekarang kau sedang sakit?”. Entah kenapa senyumku seketika mengembang begitu aku mendengar ia bertanya dengan nada cemas seperti itu, ya.. setidaknya, bolehkah aku menganggap kalau ia disana sebenarnya juga memikirkan aku?

“Anya, anya,”. Selaku cepat dan tertawa. Ya, aku senang kalau dia mencemaskanku. Menurutku itu satu hal yang bagus. “Mungkin ini terdengar berlebihan, geunde.. tidak bertemu denganmu selama 3 hari ini sudah cukup membuatku gelisah”. Ucapku menghela nafas sejenak. “Geunde jigeum gwaenchanha, karena aku sudah mendengar suaramu”.

Sedetik kemudian setelah mengatakan hal itu, jujur rasa takut kembali menyerangku. Aku sangat takut kalau tiba – tiba ia memutuskan teleponku karena tidak suka mendengar dengan apa yang barusan aku katakan. Aku diam sejenak, dan anehnya aku juga tidak mendengar suaranya di ujung sana. Itu praktis membuatku benar – benar takut.

“Eun Jeong?”. Tanyaku perlahan, memastikan bahwa ia tidak menutup teleponku.

“Ne~, aku masih disini Jjong”. Sahutnya terdengar lembut. Tidak, bukan lembut tapi lebih tepatnya terdengar sedikit.. manja. Percaya atau tidak tapi suara manja seperti itulah yang sangat ingin aku dengar darinya. Ya, aku hanya berperasaan bahwa jika seorang yeoja bertingkah manja padaku itu berarti ia mulai menyukaiku dan akupun juga memiliki kesempatan untuk mendekati yeoja itu lebih jauh lagi.

“Eun Jeong’ah~”.

“Eung~, ne Jjong. Wae?”.

“Kau tahu, aku menyadari sesuatu selama berada disini”. Ucapku tersenyum dan aku yakin wajahku mulai memerah. “Nan neol jeongmal bogosipheo Eun Jeong’ah”.

Akhirnya kalimat itu terlontar juga dari bibirku. Aku sudah tidak kuat untuk menahan kalimat itu agar tetap tertahan dibibirku, aku benar – benar sangat merindukannya.

“Kurasa aku sudah terbiasa melihatmu dan sering bercengkrama denganmu meski disela – sela kesibukanku sebagai penyanyi solo saat masih menjalani perform di Korea, jadi karena saat ini kau tidak ada disekitarku, aku merasa seperti ada yang.. salah”. Ungkapku jujur.

Lega, rasanya sangat lega setelah akhirnya aku dapat menyelesaikan dengan baik kalimat yang ingin aku katakan padanya tanpa terbata. Akupun menghela nafas untuk merelax-kan diri.

“Sekarang sudah larut dan kau pasti juga sudah ingin tidur, geureohji? Geureom, aku tidak akan menganggumu lebih lama lagi. Gomawo Eun Jeong’ah, karena sudah menerima telepon dariku”. Sahutku lagi begitu melihat jarum jam di kamar Hotelku telah menunjukkan angka 02.00am.

“Ne~. Ah matta, Jjong.. aku juga senang mendengar suaramu”.

Tiba – tiba saja, begitu mendengar kalimat sederhana yang diucapkan Eun Jeong padaku itu, aku merasa hatiku menjadi sangat ringan dan melambung tinggi. Dan aku juga menyadari diriku yang tidak bisa berhenti tersenyum, bahkan lama setelah Eun Jeong menutup telepon dariku. Dan pada saat inilah aku menyadari sesuatu, sesuatu yang sudah lama aku simpan rapat – rapat dalam hati tapi kali ini perasaan itu terlalu kuat dan tidak mungkin untukku menyimpannya lagi. Ya, aku jatuh cintah padanya. Aku jatuh cinta pada Eun Jeong.

***

Aku tiba di bandara Incheon, Seoul Korea Selatan tepat jam 08.00 pagi. Ya, aku dan yeodongsaengku Yoon Seo memakai penerbangan jam paling awal. Sebenarnya jadwal penerbangan kami itu adalah jam penerbangan malam, tapi karena Yoon Seo tiba – tiba tidak enak badan, jadi aku memutuskan untuk berganti ke penerbangan paling pagi agar tiba di Seoul lebih awal dan yeodongsaengku bisa cepat beristirahat.

“Aigoo~, melelahkan sekali. Badanku benar – benar seperti mau remuk, dan aku sangat lapar”. Yoon Seo langsung meregangkan tubuh mungilnya itu saat aku dan dia telah berada di dalam mobil dan duduk di bangku penumpang belakang kemudi.

“Sudah Oppa bilang, seharusnya kau tidak perlu memiliki jadwal yang padat seperti ini chagi. Pekerjaan sebagai sutradara itu sangat melelahkan untuk ukuran yeppeun yeoja sepetimu”. Godaku padanya seraya langsung membenamkan kepalanya ke dadaku kemudian aku mengusap dan mencium puncak kepalanya.

“Tapi menjadi seorang sutradara film itu juga salah satu mimpiku selain menjadi seorang novelis Oppa”. Sahutnya manja dan mengerucutkan bibirnya kearahku.

“Eeiissh.. dasar kau ini. Boleh saja kau melakukan apapun yang kau suka, geunde Oppa tidak akan rela jika kau harus jatuh sakit seperti ini chagi~. Oppa akan menyuruh manager Oppa untuk membantumu mengatur schedule, kau harus lebih banyak dirumah”. Ucapku menyentuh pipinya.

“Baiklah Oppaku yang tampan”. Balasnya seraya langsung mengecup ringan pipiku. “Oppa, awalnya aku lapar, tapi karena Oppa menyandarkan kepalaku di dada Oppa yang bidang ini dan memeluk tubuhku dengan tangan Oppa yang berotot ini membuat rasa laparku hilang dan seketika berubah menjadi mengantuk. Geureseo, aku ingin menjadikan dada Oppa yang bidang ini sebagai bantal, hehehe”. Ucapnya bermanja dipelukanku.

“Arasseo naeui yeppeun dongsaeng~. Tidurlah chagi, kau memang harus tidur lebih banyak untuk mengembalikan wajah cantik dan manjamu yang sangat Oppa suka itu”. Sahutku membelai rambutnya dan seraya mengecup keningnya.

Sesampainya aku dirumah, aku langsung menggendong Yoon Seo ke kamar. Kulihat ia tertidur sangat nyenyak di sepanjang perjalanan pulang jadi aku tidak berniat untuk membangunkannya dari mimpi indahnya.

Malamnya, entah apa yang sedang merasukiku saat itu. Tiba – tiba saja tangan ini meraih kunci mobilku yang tergeletak di atas buffet dan pada akhirnya membawaku menuju ke sebuah rumah yang cukup besar milik seorang yeoja yang sangat aku rindukan. Ya, sekarang aku sudah berdiri tepat di depan rumah Eun Jeong. Tanpa ragu aku langsung mengambil ponsel yang ada di saku celanaku seraya menelepon Eun Jeong.

“Yeoboseyo~, Jjong?”. Aku sedikit terkejut saat mendapatinya mengangkat teleponku bahkan saat nada tunggu baru berbunyi satu kali.

“Ne, ne, Eun Jeong’ah~. Ige naya”. Sahutku langsung tersipu.

“Kau sudah ada di Seoul?”. Tanyanya terdengar pelan.

“Eung”. Gumamku. “Saat aku baru turun dari pesawat orang pertama yang aku pikirkan adalah kau, aneh sekali geureohji? Hehehe”.

“Kau baru memikirkanku saat kau turun dari pesawat?”. Sahutnya mengajakku bergurau dan praktis membuat senyuman di wajahku mengembang.

“Anya~, sebenarnya aku memikirkanmu di sepanjang perjalanan pulang menuju kemari. Aku juga selalu memikirkanmu selama aku tidak berada disini. Ya, setiap hari bahkan setiap jam. Sekarang bagaimana kedengarannya?”. Ucapku yang sebenarnya sudah tidak kuasa menyembunyikan wajahku yang memerah.

“Kedengarannya tidak normal, Jjong. Hahaha”. Balasnya yang tertawa lepas.

“Hahaha! Ne, maja. Kau benar Eun Jeong, ini memang kedengarannya tidak normal”. Desahku. “Ngomong – ngomong, kau belum ingin tidur, geureohji?”.

“Emm.. sebenarnya aku sudah mulai mengantuk, hehehe. Geunde wae, Jjong?”. Tanyanya pelan.

“Anya, geunyang.. bisakah kau membantuku?”. Sahutku dengan nada sedikit ragu.

“Apa?’.

“Sudah lama aku tidak melihatmu Eun Jeong’ah. Dan karena aku sudah kembali ke Seoul kurasa aku tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini sebelum melihatmu. Geuraeseo, bisakah kau melihat keluar jendela kamarmu?”.

Author P.O.V

“Sudah lama aku tidak melihatmu Eun Jeong’ah. Dan karena aku sudah kembali ke Seoul kurasa aku tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini sebelum melihatmu. Geuraeseo, bisakah kau melihat keluar jendela kamarmu?”.

Eun Jeong mengerjap kaget begitu Jonghyun memintanya untuk melihat keluar jendela kamarnya. Tanpa membuang – buang waktu, Eun Jeong dengan cepat melompat ke jendela kamarnya dan menyibak tirai. Dan benar saja, Jonghyun sekarang ini sudah berdiri di depan pekarangan depan rumahnya. Nampak tangan Jonghyun yang tidak memegang ponsel terangkat melambai menyapa Eun Jeong seraya menampakkan senyuman yang sangat disukai Eun Jeong.

“Jjong~”. Seketika Eun Jeong merasa hatinya membuncah dan iapun tak kuasa untuk menahan senyuman yang menggambarkan betapa senangnya ia ketika dapat melihat lagi sosok namja tampan itu.

“Ne. Eun Jeong’ah, mungkin.. bisakah kau keluar sebentar dan membiarkanku melihatmu lebih dekat?”. Pinta Jonghyun dengan suata yang terdengar begitu manis.

“Dangyeonhaji, jeogi gidaryeo Jjong. Geumbang kalkke”. Eun Jeong langsung melesat keluar dari kamarnya dan berlari menuruni tangga kemudian langsung meraih gagang pintu rumahnya yang lumayan besar itu. Dan kurang dari 30 detik Eun Jeong sudah berdiri tepat di depan Jonghyun dengan seulas senyumannya yang sangat cantik.

Jonghyun P.O.V

“Dangyeonhaji, jeogi gidaryeo Jjong. Geumbang kalkke”.

Senyuman di wajahku seketika mengembang begitu mendengar kalimat itu terucap dengan begitu manis dari bibirnya. Aku sudah sangat tidak ingin melihat sosoknya yang bagitu cantik itu.

“Omo, cepat sekali. Hehehe”. Ucapku begitu telah mendapatinya yang telah berdiri tepat di depanku. Sangat ingin rasanya aku langsung menarik tubuhnya dan membenamkannya ke pelukanku. Ya, aku sangat merindukannya.

“Geureom, semakin cepat aku keluar dan menemuimu, semakin cepat juga kau bisa pulang dan membiarkanku tidur. Hehehe”. Sahutnya tersenyum manis.

“Hey, ngomong – ngomong kau terlihat jauh lebih cantik saat tidak memakai kacamata Eun Jeong’ah”.

Aku tertawa pelan, lalu aku mengangkat sebelah tanganku dan dengan perlahan aku mulai menyentuh pipinya seraya memberikan senyumku. Aku menatap dalam kearah matanya yang berwarna coklat gelap yang indah itu, seketika jantungku kembali berdetak sangat kencang. Mata itu seperti sudah menghipnotisku.

Perlahan – lahan aku tanganku bergerak merangkul bahunya dan menariknya untuk mendekat padaku, dan sesaat kemudian kedua tanganku sudah melingkari tubuhnya, aku memeuk tubuhnya yang mungil itu.

“Senang bisa melihatmu lagi, Eun Jeong’ah”. Ucapku pelan di telinganya.

“Na do, Jjong~. Aku juga sangat senang bisa melihatmu lagi”.

Sesaat aku memejamkan mataku dan menikmati hangat tubuhnya yang ada di dekapanku. Kehangatan tubuhnya serasa menjalari hampir diseluruh tubuhku, aroma tubuhnya pun membuat pikiranku seketika menjadi terasa sangat tenang yang akhirnya membawaku untuk berani mengungkapkan perasaanku padanya. Ya, aku akan mengatakan perasaanku padanya malam ini. Aku lalu melepaskan pelukanku dan mulai menatap kembali matanya dalam – dalam.

“Eun Jeong’ah, sebenarnya sudah lama ingin kukatakan ini padamu, tapi setiap kali aku ingin mengatakannya, hati ini selalu bergelitik menahanku dan ujung – ujungnya selalu berakhir dengan aku yang tidak jadi mengatakannya”. Ucapku memulai perkataanku. Perlahan aku diam sejenak dan mengatur nafas, kemudian melanjutkan perkataanku kembali.

“Dan sampai sekarang, sampai sekarang aku belum juga mengatakannya padamu. Ya, aku belum mengatakannya karena berbagai alasan. Dan salah satu alasannya adalah.. karena aku takut. Aku takut melihat reaksi yang akan kau berikan saat aku mengatakannya padamu”.

“Ne? Maksudmu apa Jjong? Apa yang ingin kau katakan padaku?”. Ia menatapku bingung, aku hanya membalasnya dengan senyuman sebelum melanjutkan pernyataanku.

“Kau tahu, dalam hati aku selalu bertanya, apakah kau akan menerima dengan apa yang nantinya akan aku katakan? Apakah kau akan percaya denganku? Apakah kau masih akan menatapku dengan tatapan yang manis itu? Memberikan senyum cantik itu untukku? Atau mungkin hal buruklah yang akan terjadi, hal buruk bahwa kau akan menjauhiku, meninggalkanku”. Ucapku menatap dalam matanya.

“Aku sadar aku memang harus segera mengatakannya padamu sebelum semuanya terlambat dan berakhir dengan sebuah kata penyesalan. Ya, aku harus mengatakannya, karena aku tidak mungkin untuk merahasiakan ini selamanya. Aku tidak berani membayangkan reaksi apa yang akan kau tujukkan padaku setelah ini, tapi satu hal yang sangat aku harapkan padamu.. Setelah mendengar pengakuanku.. Aku mohon.. Tetaplah berada disisiku, Eun Jeong’ah”.

Seketika ia langsung melebarkan matanya dan membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu namun tertahan. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan untuk memantapkan diri mengatakan itu..

“Nan neol jeongmal saranghae, Yoo Eun Jeong”. Perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, ku pegang kedua pipinya dan mulai memejamkan mataku hingga aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirku, dan itu terasa manis. Ya, kini aku bisa dengan jelas merasakan bibirnya yang bersentuhan dengan bibirku. Aku mengusap lembut bibirnya dan ternyata ia membalasnya, ia membalas mengusap bibirku dengan sangat lembut.

“Eun Jeong, maukah kau menjadi gadisku? Menjadi kekasihku? Kekasih yang akan berada disisiku, selamanya?”. Aku menatap matanya lekat, terus terang aku sangat gugup. Jantungku berdetak begitu keras, aku sudah mencurahkan seluruh perasaanku padanya. Aku melakukan semua yang bisa aku lakukan pada malam itu, dan sekarang terserah padanya. Hidupku.. kini hidupku ada ditangan Eun Jeong.

“Sasireun..”. Sejenak ia diam dan menundukkan kepala kemudian menengadahkannya kembali untuk menatapku. “Sasireun na do saranghae, Jonghyun’a. Nan neol jeongmal saranghae”. Ia memberikan senyuman manisnya untukku. Senyuman yang sangat aku sukai dihiasi dengan sebuah kalimat yang kuartikan sebagai persetujuannya.

“Gomawo Eun Jeong’ah. Gomawo.. chagiya”. Aku kembali merengkuh tubuh mungilnya ke pelukanku dan akupun kembali merasakan kehangatannya. Kehangatannya yang bisa membuatku merasakan kedamaian.

Epilog

“Geunde, Jjong..”.

“Eung~, wae chagi?”.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”.

“Dangyeonhaji chagiya. Katakan saja”.

“Di dunia ini segalanya terbatas, termasuk perasaan cinta terhadap seseorang. Dan jika itu akan terjadi, apa kau akan berhenti mencintaiku? Anggap saja ada sebuah peristiwa yang membuatmu berhenti mencintaiku..”.

“Ya~, chagiya, disaat seperti ini kau masih sempat memberikan sebuah kasus untukku? Kita sedang tidak belajar materi kuliah, geureojji?”.

“Hehehe, geunyang daedaphae Jjong. Jawab saja..”.

“Arasseo. Aku akan menjawabnya. Dengarkan ini baik – baik dan kau harus mengingat jawabanku ini untuk selamanya dalam hatimu, yaksuk?”.

“Eung~. Geureom.. kapan saat itu Jjong? Saat kau mungkin akan berhenti mencintaiku”.

“Aku baru akan berhenti mencintaimu ketika warna merah buah apel berubah menjadi kuning dan tumbuh di pohon mangga pada tanggal 30 Februari”.

“Mwo..? Mwoya~? Itu adalah hal yang mustahil”.

“Geure, maja. Geunde itulah jawabannya. Mustahil adanya jika aku berhenti mencintaimu. Karena selamanya.. selama hidupku.. aku hanya akan tetap mencintaimu”.

“Saranghae naeui yeoja”.

END.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s