I Will Protect My Yeodongsaeng

I Will Protect My Yeodongsaeng - Poster

Title: I Will Protect My Yeodongsaeng

Inspired By: SHINee

Cast:

Jonghyun SHINee as Jonghyun SHINee

Kim Yoon Seo (Original Character)

Minho SHINee as Minho SHINee

SHINee Member

Other Cast

Genre: Sweet, Romantic, Family’s Life

Length: One Shoot

Rating: PG – 17

Created By: Ayin Perdana

_______________________________________________________________________

Yeoreobun annyeong~ ^^

Finally I’m back with my 21th short fanfiction!!! Yeeaay~!!! 😀

Hope you guys enjoy with my new FF, happy reading ^^

Jonghyun P.O.V

“Hyeong~~! Jonghyunie Hyeong~~!!! Ayolah Hyeong~, izinkan aku berkencan dengan Yoon Seo, ne? Jebalyo Hyeong~, aku sangat menyukai Yoon Seo”. Lagi – lagi Minho kembali merengek – rengek padaku di pagi buta begini.

“Anya”. Jawabku singkat sambil menirukan tampang cuek khasnya Key, aku hanya melaluinya yang merengek – rengek itu dan berjalan menuju dapur untuk meminum segelas air.

“Omo, Hyeong~~ kenapa aku tidak boleh berkencan dengan Yoon Seo? Waeyo Hyeong~??? Wae wae wae??? Aku mencintainya Hyeong~!”. Rengeknya lagi sambil terus mengikutiku kemanapun aku melangkah.

“Kau ingin tahu alasanku kenapa aku jadi melarangmu berkencan dengan Yoon Seo?”. Tanyaku memasang tampang jahilku.

“O~! Ne~!”. Jawabnya tegas seraya membelalakkan matanya yang bulat.

“Karena dia terlalu cantik untuk menjadi yeoja chingumu, hahahaha!”. Sahutku seraya mengacak rambutnya dan meninggalkannya yang melongo setelah mendengar jawabanku.

“Ya~!!! Hyeong~~, itu sangat tidak masuk akal Hyeong. Apa maksud Hyeong berkata begitu?”. Gerutunya lagi yang kini duduk di sampingku saat aku menghempaskan tubuhku di sofa ruang tengah dorm kami dan menyalakan tivi.

“Ya karena dia cantik. Naeui yeodongsaengeul neomu yeppeuji?? Geuraeseo, aku harus melindunginya dari namja – namja sepertimu yang bisa saja kehilangan akal sehatnya ketika melihat yeoja cantik”. Sahutku sambil menyambar sebungkus keripik kentang yang ada di atas meja didepanku.

“Mworago? Ya Hyeong~, jadi Hyeong pikir aku ini adalah namja yang yadong?! Aigoo~, Hyeong~~, aku bukan namja yang seperti itu Hyeong~~ aigoo”. Sungutnya.

“Mian Minho, tapi aku belum bisa melepaskan yeodongsaengku untuk berkencan dengan seorang namja”. Sahutku seraya menepuk pahanya dan menatap wajahnya lalu memberikan senyuman kecil.

Ya, semua itu karena ulah namja tua keparat 3 tahun yang lalu. Aku selalu ingin marah ketika mengingat kejadian yang menjijikkan itu. Dia hampir membuat yeoja pertama yang paling aku cintai di dunia ini kehilangan senyuman dan keceriaannya.

Flashback

Author P.O.V

“Kkyyaaaaaaaaaaak~~!!! Anhae!!! Anhae!!! Sirheo!!! Lepaskan aku!! Appa~!!! Lepaskan aku, jebaalyo~~!!! Appa~~!!!”. Yeoja muda yang cantik itu berteriak sekeras yang ia bisa, berusaha menghindar dari seorang namja paruh baya yang sedang kalap oleh nafsunya.

“Yoon Seo’a~, gwaenchanha chagi.. Appa berjanji tidak akan membuatmu merasa sakit. Ini akan sangat menyenangkan”. Namja itu masih terus berusaha mendekap Yoon Seo yang sedari tadi melawan perlakuannya.

“Anhae~!!! Sirheo!!! Appa lepaskan aku~~!!! Aku tidak mau melakukan ini Appa~!!! Appa jebalyo~~”. Yeoja itu terus meronta dan berusaha menjauhkan tangan – tangan nakal namja itu yang mencoba menyentuh daerah – daerah sensitif tubuhnya.

“Ayolah chagi, malam ini saja, ne?”. Lantas namja itu langsung menghempaskan tubuh Yoon Seo ke atas tempat tidur seraya menindihnya dan dengan kekuatannya ia merobek dan melepas kemeja Yoon Seo sehingga tubuh Yoon Seo kini hanya terbalut pakaian dalam atas dan celana pendeknya yang masih terpakai.

“Omo! Kyyaaaak~!!! Appa~~!!! Andwae~! Andwae~!!! Appa, aku mohon jangan lakukan ini padaku~~”. Sontak Yoon Seo yang begitu ketakutan saat melihat atasannya yang sudah robek dan terlepas dari tubuhnya akhirnya mulai menagis histeris dan masih berusaha meronta dengan sisa kekuataan yang ia miliki.

“Oppa~~!!! Oppa~~!!! Jonghyun Oppa~~!!! Ttowa juseyo~!!! Oppa~~!!!”. Teriak Yoon Seo sekeras mungkin memanggil Jonghyun, satu – satunya Oppa yang ia miliki.

“Hahahahaha~!!! Dasar anak kecil bodoh! Kau pikir Oppamu yang sangat mencintaimu itu dapat mendengarnya, hah?! Oppa sekarang sedang sibuk dengan mini konsernya chagi~, Oppa tidak ada disini”. Namja itu berbisik di telinga Yoon Seo dengan nada yang pervert, seketika kemudian mulai menciumi leher jenjang Yoon Seo.

“Andwae~!!! Andwaee~~!!! Jonghyun Oppa~!!! Ttowa juseyo~!!!”. Seketika pandangan Yoon Seo berubah menjadi gelap. Ia terus menjerit sekeras yang ia bisa. Ia meronta, mencakar, menendang dengan membabi buta berusaha melepaskan diri dari ayah tirinya yang sudah dirasuki pikiran kotor itu. Lalu tiba – tiba Yoon Seo mendengar suara keras seperti pintu yang dibuka dengan paksa, sedetik kemudian tangan yang mencengkeram wajahnya itu terlepas dan ayah tirinya itu seketika langsung tersungkur di ujung sudut dinding kamarnya.

“BBUUUUKKKK!!!”. Sebuah pukulan keras yang mendarat di wajah namja tua itu seraya berhasil membuat tubuh besarnya terpental jatuh dari tempat tidur dan terhempas sampai ke ujung sudut dinding kamar Yoon Seo. Jonghyun yang saat itu masuk ke kamar Yoon Seo dengan membanting pintu, tanpa berpikir panjang lagi ia langsung mencengkeram kerah kemeja namja paruh baya yang merupakan ayah tirinya itu. Ia menariknya berdiri dengan satu hentakan keras, lalu langsung meninju wajahnya.

“Jjong.. Jonghyun Oppa~”. Ucap Yoon Seo dengan sedikit terbata dan terisak ketika melihat Jonghyun sudah ada di hadapannya dan menjauhkan namja tua itu darinya.

Jonghyun yang begitu iba melihat adiknya yang tak berdaya dan hanya mengenakan pakaian dalam atas itu seraya langsung melepaskan jaket yang dipakainya dan menutupi tubuh atas adiknya itu.

“Dasar namja keparat!!! Berani – beraninya kau menyentuh Yoon Seo adikku!!! Kau harus diberi pelajaran!!!”. Jonghyun yang sangat marah besar begitu melihat yeodongsaeng yang sangat dicintainya itu hampir diperkosa oleh ayah tiri mereka sendiri langsung meninju dengan membabi buta wajah namja paruh baya itu hingga mengeluarkan darah di hidung, mulut, serta pelipis mata.

“Oppa~.. Oppa~.. keumanhae Oppa, sudah hentikan~. Aku mohon Oppa..”. Yoon Seo dengan suaranya yang lirih perlahan mendekati Jonghyun dan berusaha menghentikan Jonghyun yang masih memukuli ayah tirinya itu dengan meraih kedua tangan Jonghyun hingga membuat Jonghyun berdiri dan menjauh dari tubuh ayah tiri yang tadi disekap dengan kedua kakinya.

Namja paruh baya itu akhirnya terkulai lemah di sudut lantai kamar Yoon Seo dengan darah yang memenuhi wajahnya setelah menerima tamparan – tamparan keras tanpa ampun dari Jonghyun.

“Ingat kau namja bajingan! sekali lagi kau berani mencoba untuk menyentuh adikku, aku pastikan kau akan mati ditanganku!!! Percayalah padaku, aku tidak akan segan – segan untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri!!!”. Pekik Jonghyun seraya langsung menarik tangan Yoon Seo dan membawanya pergi dari rumah itu.

***

Jonghyun P.O.V

Teriakan Yoon Seo dua jam yang lalu masih terdengar sangat jelas di kedua daun telingaku. Kedengarannya begitu sakit, hatiku serasa langsung remuk tak berbentuk begitu aku mendapati yeodongsaengku satu – satunya hampir kehilangan kesuciannya. Aku benar – benar tidak menyangka, orang yang selama 15 tahun sudah kami anggap sebagai Appa kami sendiri ternyata tega berbuat hal menjijikkan pada Yoon Seo. Seumur hidup bahkan sampai aku mati aku tidak akan pernah bisa memaafkannya.

“Oppa~, nan jeongmal museowo..”. Wajah Yoon Seo terlihat sangat sayu ditambah dengan mata indahnya yang masih berkaca – kaca dan suaranya juga yang masih terdengar sangat lirih pasca peristiwa menjijikkan beberapa jam lalu. Tubuhnya bisa kurasakan sangat lemah dan bergetar, iapun seraya menyandarkan kepalanya dibahuku.

“Gwaenchanha chagiya.. Kau sudah aman disini bersama Oppa, ne?”. Sahutku menenangkan seraya membenamkannya dalam pelukanku.

Aku sangat bersyukur mini konser SHINee yang seharusnya diselenggarakan malam ini batal karena beberapa kendala teknis. Entah kenapa begitu aku tahu bahwa mini konser SHINee dibatalkan, dalam hatiku langsung menggelitik menyuruhku untuk pulang kerumah. Tak kusangka ternyata ada kejadian busuk seperti ini menimpa adikku. Aku tidak bisa membayangkan, jika mini konser SHINee tetap berjalan dan kejadian busuk itu benar – benar tejadi, mungkin aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri karena tidak bisa menolong yeodongsaengku.

“Oppa~”. Ia berkali – kali memanggilku seraya mengeratkan pelukannya ditubuhku, bisa kurasakan tubuhnya bergetar dan sedikit sulit bernafas sambil sesekali terisak.

“Ssstt.. arasseo chagiya, arasseo. Oppa berjanji tidak akan membiarkan kejadian buruk seperti ini menimpamu lagi. Oppaneun neol jikhyeojulkke, Oppa akan melindungimu”. Sahutku mengeratkan pelukanku dan mencium puncak kepalanya untuk menenangkan perasaannya.

“Jonghyun’a, untuk sementara yeodongsaengmu bisa tidur dikamar Minho dan Key. Kebetulan Minho sedang berada di Macao untuk syuting Dream Team, aku akan berbagi kamar dengan Key, jadi kau masih tetap bisa tidur sekamar dengan Taemin”. Ucap Onew Hyeong yang datang membawa 2 gelas air ditangannya untukku dan Yoon Seo yang duduk diruang tengah dorm SHINee.

“Gomawoyo Hyeong~”. Sahutku singkat seraya memberikan senyuman tipis.

“Yoon Seo’a, gwaenchanha. Sekarang kau sudah baik – baik saja di dorm kami, ne?”. Ucap Onew Hyeong ramah yang kemudian duduk di sebelah Yoon Seo seraya menepuk ringan pundak Yoon Seo.

“Ne.. gomawoyo, Oppa..”. Sahut Yoon Seo dengan suara yang masih terdengar lirih.

“Minumlah dulu chagi, Oppa bantu, ne?”. Dengan perlahan aku membantu Yoon Seo meminum air yang tadi dibawakan Onew Hyeong agar ia tidak tersedak saat meminumnya. “Geureom, sekarang lebih baik kau langsung tidur saja chagi. Oppa akan meminjamkan kemeja Oppa untukmu. Ukurannya pasti akan kebesaran untukmu, tapi besok Oppa akan langsung membelikan beberapa baju untukmu, ne?”.

“Eung”. Jawab Yoon Seo dengan anggukan perlahan. “Geunde Oppa, aku takut tidur sendirian..”. Ucapnya lagi seraya menggenggam tanganku dengan begitu kuat, melihatnya seperti ini membuatku sangat sakit dan marah. Sangat ingin rasanya aku membunuh namja keparat itu.

“Jonghyunie Hyeong, kalau begitu Hyeong temani saja Yoon Seo Noona tidur. Aku tidak masalah jika harus tidur sendiri”. Sahut Taemin yang datang dari arah pintu luar seraya masuk ke dorm disusul Key.

“Ne Hyeong, benar kata Taemin. Yoon Seo saat ini pasti masih belum bisa sepenuhnya tenang pasca kejadian tadi”. Sambung Key yang menutup pintu dan langsung menguncinya.

“Ah ne satu lagi, untuk masalah orang itu sudah kami bereskan Hyeong. Orang itu sudah dibekuk polisi dan ditahan”. Ujar Taemin sembari berjalan ke arah dapur, kulihat ia nampak membuka kulkas dan mengambil sebotol air es kemudian langsung meminumnya.

“Jinjja? Jeongmal gomawo dongsaengdeul, atas bantuan kalian aku benar – benar berterima kasih”. Sahutku.

“Aniyo Hyeong, kita ini keluarga geureohji? Sudah seharusnya kita saling membantu”. Key yang duduk disampingku seraya langsung menepuk ringan pundakku dan tersenyum kecil. “Selain itu Yoon Seo juga merupakan sahabatku, aku tidak mungkin berdiam diri saja dan tidak membantunya”.

“Ne, jeongmal gomawo”. Sahutku membalas senyumannya. “Geureom, aku akan menemani Yoon Seo tidur dulu”.

“Chagiya, kita tidur sekarang, ne? Oppa akan menemanimu, kau masuk saja ke kamar duluan sementara Oppa akan mengambilkanmu pakaian ganti”. Aku lalu membantunya berdiri dengan perlahan dan memapahnya menuju kamar Minho dan Key.

Selang 30 menit kemudian aku telah berbaring disamping tubuh mungilnya yang masih terasa bergetar. Bisa kulihat raut wajahnya yang masih ketakutan saat aku menutupi tubuhnya dengan selimut, ia langsung mendekap kuat tubuhku dan menyandarkan kepalanya kedadaku seraya mencoba memejamkan matanya.

“Tidurlah chagi”. Aku membelai puncak kepalanya seraya menciumnya hangat.

“Oppa, aku takut”. Suaranya terdengar sangat lirih, dan untuk sekian kalinya mata indahnya meneteskan air mata. Aku menghapuskan air matanya perlahan dengan ibu jariku dan sesaat kemudian tangan Yoon Seo langsung meraih tanganku dan menggenggamnya dengan kuat meski tangannya masih sedikit bergetar. Aku benar – benar membenci pemandangan seperti ini, aku benci jika aku melihat yeoja yang sangat aku cintai menangis seperti ini, aku benci melihat yeodongsaengku menderita karena dihantui rasa takut yang teramat sangat seperti ini. Si keparat itu sukses menghilangkan keceriaan yeodongsaengku melalui perlakuan bejatnya.

“Arasseo chagiya, gwaenchanha. Oppa berjanji tidak akan membiarkan si bajingan itu muncul lagi dihadapanmu. Sekarang tidurlah yang nyenyak, ne?”. Ku rengkuh tubuh mungilnya yang bergetar itu, aku mengelus lembut wajahnya dan sesekali mengecup puncak kepalanya. Aku berusaha menghilangkan ketegangannya. Perlu beberapa saat tapi akhirnya ia bisa memejamkan matanya dan kembali bernafas normal.

Flashback end.

Seperti itulah, kejadian yang selalu membuat emosiku menjadi naik begitu aku mengingatnya. Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk membeli apartement tepat disebelah dorm SHINee. Ya, itu sengaja aku lakukan agar aku dapat terus mengawasi adikku. Aku tidak ingin sesuatu hal buruk kembali menimpanya.

“Geureom, onje kkaji Hyeong? Sampai kapan Hyeong baru bisa melepas Yoon Seo untuk berkencan?”. Tanya Minho yang merebut perlahan bungkus keripik kentang di tanganku.

“Dia tidak akan melepaskannya sampai Yoon Seo merengek padanya agar di izinkan berkencan, Minho”. Key yang baru keluar dari kamar mandi langsung menjawab pertanyaan Minho.

“Merengek? Maksudmu?”. Sahut Minho heran seraya langsung menoleh kearahku namun tak ku gubris.

“Apalagi, Yoon Seo itu sebenarnya juga menaruh perasaan padamu tapi Jonghyun Hyeong tidak mengizinkannya untuk berkencan”. Jawab Key cuek seraya masuk ke kamarnya.

“MWO?!”. Pekik Minho membelalakkan matanya. “Geuraeseo, Yoon Seo menyukaiku juga? Ani, jamkan. Ya~! Hyeong~~ kalau sudah begini apalagi alasanmu untuk tetap tidak mengizinkanku berkencan dengannya??? Apa Hyeong tega melihat adikmu yang tampan ini menderita?”. Rengek Minho membuatku sedikit menghela nafas.

“Dia masih takut untuk berdekatan dengan namja”. Sahutku datar sembari menggonta – ganti channel asal dengan remote tv.

“Tapi dia tidak takut dengan Minho, Hyeong. Mereka berdua juga sudah lama dekat bukan? Jauh sebelum mimpi buruk itu terjadi. Geurigo..”.

“Perlu kau ingat aku adalah Oppanya, Kim Kibeom”. Sahutku memotong ucapan Key dengan sedikit sungut dan mengerutkan samar keningku. “Aku sangat mengetahui semua tentang Yoon Seo”.

“Dan aku sahabatnya, Hyeong perlu kau ingat juga”. Cetus Key tidak mau kalah. “Aku bahkan sudah bersahabat dengan yeodongsaengmu saat kita semua masih jadi trainee. Cobalah untuk memberikan mereka kesempatan Hyeong, sampai kapan kau akan terus berperan menjadi bodyguard Yoon Seo?”.

Sejenak aku diam setelah mendengar ucapan Key. Memang apa yang dikatakan Key itu ada benarnya, aku memang tidak mungkin membuat Yoon Seo seperti barang antik yang harus selalu aku jaga 24 jam, tapi begitu aku kembali mengingat peristiwa pahit itu seketika rasa takutku kembali menyeruak. Rasa takut itu kembali menjalar ditubuhku dan menyatu dengan darahku, membuat hati ini serasa dicabik – cabik hingga tak berbentuk. Ya, aku takut. Sangat takut untuk menghadapi kejadian yang serupa, aku tidak ingin melihat yeodongsaengku satu – satunya yang begitu aku cintai itu kembali kehilangan keceriaannya.

“Arasseo, ara. Yoon Seo memang tidak pernah merasa kikuk, kaku, bahkan takut jika berada di dekat bocah ini”. Ucapku menunjuk Minho yang masih duduk disampingku menonton perdebatanku dengan Key. “Geunde..”. Sebelum aku sempat menuntaskan kalimatku, tiba – tiba aku mendengar suara lembut dan manja yang sudah tidak asing memanggil namaku, ternyata dugaanku benar.

“Chagiya? Yoon Seo’ya”. Aku menatapnya yang berlari ringan kearahku dengan seulas senyumannya yang manis.

“Oppa~, joheun achim”. Ucapnya seraya duduk disampingku dan memberikan kecupan di pipi kananku.

“Ada apa chagi? Kenapa kau tidak menelepon Oppa dulu jika kau ingin main kemari? Oppa bisa menjemputmu agar kau tidak perlu berjalan kesini sendirian”.

“Omo omo.. Sepertinya kau benar – benar akan beralih profesi dari lead vocal SHINee menjadi bodyguard pribadi Yoon Seo, Jjong. Perlu kau ketahui antara pintu apartemen Yoon Seo dengan pintu dorm kita hanya berjarak 60cm”. Onew Hyeong yang baru bangun dan keluar kamar seketika langsung menyambar pertanyaanku yang sebenarnya aku suguhkan untuk Yoon Seo.

“O, Onew Oppa annyeong”. Sapa Yoon Seo dengan seulas senyuman manis khasnya.

“Ne, annyeong Yoon Seo’ya”. Balas Onew Hyeong ramah tanpa menoleh kearahku. “Apa kau tidak bosan dengan perlakuan Oppa mu yang terlampau berlebihan ini?”. Tanya Onew Hyeong memperlihatkan wajah Onew Sangtaenya dan praktis langsung membuat Minho dan Key terkekeh.

“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku bukannya merasa bosan Oppa, tapi aku rasa aku sudah hampir gila karena Oppaku yang sangat aku cintai ini”. Sahutnya ikut terkekeh dan mencium gemas pipiku. “Geunde gwaenchanha, memang awalnya menyebalkan tapi saat aku teringat perkataan teman – teman kampusku yang mengatakan bahwa aku sangat beruntung memiliki Oppa yang tampan, baik, mencintaiku, dan melindungiku, rasa sebal itu praktis sirna”.

“Oppa harap kau berkata seperti itu bukan karena kau memiliki tujuan terselubung chagi”. Aku langsung menyipitkan mataku menatapnya, seketika ia langsung membalasnya dengan senyuman manja khasnya. Sepertinya ia benar – benar tahu cara agar aku selalu mengabulkan permohonannya. Ya, setiap kali ia memberikan senyuman manjanya itu aku selalu tidak dapat berkata tidak untuk apapun yang ia minta padaku.

“Aku ingin pergi ke mall, Oppa. Aku ingin berbelanja”. Ucapnya manis dan menyandarkan dagunya dengan manja di bahuku.

“Arasseo, Oppa akan menemanimu”. Sahutku singkat dengan seulas senyuman tipis.

“Geunde.. aku tidak akan pergi dengan Oppa, aku akan pergi bersama Minho. Kami sudah janji dari kemarin malam”. Praktis perkataannya itu langsung membuatku membelalakkan mata.

“Mworago? Dengan Minho? Berdua saja?”. Tanyaku mengerutkan samar keningku.

“Tentu saja. Memangnya Hyeong ingin agar mereka mengajak seluruh penghuni apartemen besar ini untuk pergi berbelanja bersama?”. Sambung Key langsung dengan nada cueknya.

“Ya~, Kiboomie neo..”.

“Biarkan mereka berdua pergi Jjong”. Onew Hyeong yang juga berbaur diantara kami sekekita menyela kalimatku. “Mereka hanya akan pergi untuk jalan – jalan santai dan berbelanja di Mall”.

“Oppa ikut, ne?”. Aku tidak merespon ucapan Onew Hyeong, aku kembali menatap Yoon Seo yang duduk disampingku seraya berbicara padanya.

“Mworago? Ya~, Hyeong.. bisakah kau berpikir jernih?”. Key langsung melotot menatapku.

“Aku tidak bisa membiarkan yeodongsaengku pergi berdua saja dengan namja”. Sahutku datar tanpa menatap kearah Key.

“Dia pergi bersamaku, Hyeong perlu kau tahu. Bersamaku”. Ucap Minho menegaskan kalimatnya seraya menarik bahuku agar ia bisa bertatap muka padaku yang tadi memunggunginya.

“Ara, geunde..”.

“Mereka akan baik – baik saja, Jjong. Apa kau tega untuk memperlakukan yeodongsaengmu seperti itu?”. Sahut Onew Hyeong yang lagi – lagi memotong pembicaraanku.

“Hyeong..”.

“Kau mencintai yeodongsaengmu, geureohji? Geureom biarkan mereka pergi. Berilah ruang gerak sedikit untuknya”.

Suasana menjadi hening sesaat setelah Onew Hyeong menuntaskan kalimatnya. Aku bingung, tidak tahu harus bicara apa. Aku tidak bermaksud untuk mempersempit ruang gerak yeodongsaengku, hanya saja aku.. aku masih takut melepaskannya. Kejadian busuk 3 tahun lalu itu belum bisa aku buang dari pikiranku.

“Oppa, kalau memang akan terjadi sesuatu padaku, meskipun itu adalah hal sepele aku janji aku pasti akan langsung menelepon Oppa. Yaksuk”. Yoon Seo tersenyum manis padaku, dengan manja ia merangkul tubuhku yang duduk disampingnya. “Oppa, aku juga sangat mencintai Oppa. Aku senang Oppa melindungiku seperti ini, tapi aku mohon agar Oppa bisa percaya padaku. Aku sudah tidak apa – apa”.

Aku menghela nafas panjang dan memejamkan mata lalu menghembuskan nafasku dengan kuat. “Pergilah”. Ucapku menyunggingkan senyum tipis seraya langsung mengecup kening Yoon Seo, lumayan lama aku menahan kecupanku dikeningnya hingga akhirnya aku baru melepaskannya.

“Gomawo Oppa. Geureom, na kalkke”. Sahutnya tersenyum padaku seraya mencium ringan pipiku dan berlalu beriringan dengan Minho. Aku menatap lurus kearah mereka berdua hingga sosoknya tak lagi terjamah oleh pandanganku.

***

“Astaga, sudah jam berapa ini..??!! Kemana bocah itu membawa pergi yeodongsaengku??!!”. Aku berjalan mondar – mandir di depan ruang tamu dorm SHINee sembari menggenggam ponselku, aku panik. Ya, aku panik dengan teramat sangat sampai – sampai rasanya jantungku ingin meledak.

Aku kembali menatap layar ponselku, namun tak ada satupun telepon masuk dari Yoon Seo. Aku sudah berusaha mencoba untuk tidak meneleponnya terlebih dulu, yah karena.. karena aku ingin memberinya sedikit ruang gerak. Aku tidak ingin memperlakukannya seperti dulu ketika ia tengah pergi untuk bersantai dengan teman – teman kampusnya di Mall, aku meneleponnya setiap 1 jam sekali sekedar ingin bertanya keadaannya, dan aku tahu itu pasti sangat membuatnya malu.

“Andwae. Ireohke andwae. Aku harus meneleponnya”. Kali ini aku sudah merasa mantap untuk meneleponnya. Jarum jam di dinding ruang tamu dorm telah menunjuk kearah angka 12! Aku tidak bisa bertahan selama ini. Ya, aku akan meneleponnya.

“Sialan! Kenapa tidak aktif?! Aakkh~”. Emosiku semakin memuncak, rasa khawatir dan takutku bercampur. “Aku harus menemukan yeodongsaengku!”. Pekikku yang sedari tadi gelisah tidak jelas. “Geunde kemana semua orang? Kenapa tiba – tiba Onew Hyeong, Key, dan Taemin hari ini pergi keluar dorm?! Padahal hari ini tidak ada schedule”.

“Cukup sudah. Aku harus menemukan Yoon Seo dan membawanya kembali”. Aku langsung meraih kunci mobilku yang tergantung seraya berjalan dengan langkah lebar menuju pintu, tapi seketika langkahku terhenti. Kulihat pintu dorm seperti ada yang membukanya dari luar, aku juga melihat seperti ada bayangan benda berupa..

“Kue tart ulang tahun?”.

“Saengil chukha hamnida.. saengil chukha hamnida.. saranghaneun Jonghyunie Oppa.. saengil chukha hamnida~”. Aku melihat sosok yeoja cantik membawa sebuah kue tart ulang tahun berhiaskan lilin yang tertancap diatasnya.

“Yoon Seo?”.

“Oppa~!!! Saengil Chukhahae~~!!!”

“Jonghyunie Hyeong saengil chukhahae~~!!!”. Badanku seketika kaku, mulutku terbuka ingin mengatakan sesuatu namun tak ada sepatah katapun yang dapat kukeluarkan. Bereka berempat, Yoon Seo, Minho, Key, dan Taemin muncul di hadapanku secara bersamaan dan memberiku kejutan.

“Kalian semua..? Apakah ini..”.

“Ne Hyeong, ini semua ide dari Yoon Seo Noona yang ingin memberikan Hyeong kejutan dihari ulang tahunmu”. Taemin dengan wajah cerianya dengan ringan menjelaskan semua padaku. Ternyata kekhawatiranku terlalu berlebihan, aku hanya bisa tertawa pasrah.

“Gomawo.. Jeongmal gomawo yeoreobun”. Sahutku tersenyum dan masih tidak bisa menghilangkan perasaan syokku.

“Oppa, ayo buat harapan dan tiup lilinnya”. Yoon Seo dengan senyuman manjanya itu menyodorkan kue tart yang dipegangnya padaku, akupun menurutinya dan langsung memejamkan mata, berdo’a dan meniup lilin itu.

“Yeeeee~~~!!! Saengil chukhahae~!!!”. Teriak mereka bersamaan.

“Oppa~, aku sangat ingin memeluk Oppa~. Tapi kedua tanganku masih terjebak dengan kue tart ini, hahahaha”. Yoon Seo yang saat itu berdiri di depanku seraya langsung memperlihatkan aegyo dan praktis membuat kami semua tertawa.

“Biar aku pegangkan, Yoon Seo”. Dengan terampil Key langsung menyambut kue tart yang ada di tangan Yoon Seo.

“Gomawo Kibeom’a”. Jawab Yoon Seo singkat. “Oppa~!!! Saengil Chukhahae~!!!”. Tanpa membuang waktu Yoon Seo langsung melompat masuk ke pelukanku. Ia memelukku erat dan sesekali menciumi kedua pipiku.

“Aigoo aigoo, chagiya~ hehehe. Gomawo chagi, jeongmal gomawo”. Aku langsung menyambut hangat pelukannya seraya mengembangkan senyumanku.

“Hyeong, ini balon aku hadiahkan untukmu. Hahahahaha”. Minho dengan tampangnya yang jahil menyodorkan 5 balon besar kearahku dan langsung meraih tanganku dan menempelkan pita balon yang dipegangnya ke tanganku membuatku mau tidak mau menerima balon – balon itu, membuat semua tertawa lepas.

“Ahahahahaha~! Gomawo Minho’ya, atas kadomu yang sangat luar biasa ini”. Sahutku melebarkan senyum.

“Neujeoseo mian~~”. Sesaat kemudian kami berlima mendengar suara Onew Hyeong dari arah pintu. “Jjong~!!! Saengil chukhahae~!!!”. Onew Hyeong dengan antusiasnya menghampiriku cepat seraya langsung merangkulku.

“Ne, Hyeong. Gomawo jeongmal”. Sahutku tersenyum.

“Aigoo, aku terlambat karena harus antri untuk membeli pancake favoritmu ini. Aku ingin memberikan ini sebagai hadiah, dan kau harus memakannya. Hahahaha!”.

“Aku pasti akan menghabiskannya Hyeong”. Sahutku lagi dengan senyum mengembang. “Geureom, sekali lagi terima kasih untuk ketujannya. Ketujan kalian benar – benar berhasil membuatku terkejut, hahahaha!”. Ucapku ringan seraya membuat semuanya tertawa. “Bukan hanya terkejut, tapi juga gelisah, sedikit emosi dan.. takut”. Sambungku lagi dengan seulas senyuman tipis.

“Arayo Hyeong, Hyeong pasti kalap karena khawatir memikirkan Yoon Seo geureohji? Aku senang akhirnya berhasil membuat Hyeong kalap seperti orang gila”. Ucap Minho ringan seraya langsung tertawa lepas disusul oleh yang lainnya.

“Ne, maja. Kau sudah sangat berhasil melakukannya Minho, kau praktis membuatku hampir gila karena membawa yeodongsaengku seharian penuh dari pagi sampai larut malam begini!”. Pekikku seraya mengacak – acak rambutnya.

“Geureom, lebih baik kita nikmati kue – kue ini bersama eottae?”. Sela Key ditengah candaan.

“Ne majayo, aku sudah tidak sabar ingin mencoba kue buatan Yoon Seo Noona ini Hyeong”. Sambung Taemin santai, dan praktis kalimat yang baru saja ia lontarkan membuatku memandangnya dan Yoon Seo bergantian.

“Yoon Seo’a, chagiya, kau sendiri yang membuat kue ini?”. Tanyaku padanya dengan wajah sedikit kaget.

“Eung~”. Angguknya dengan senyuman manis.

“Geunde, kenapa kau bisa menghilang sampai selarut ini? Kau bahkan pergi bersama Minho sejak jam 10 pagi chagi”. Tanyaku lagi dengan nada bingung.

“Aa~, aku sudah menduga Oppa pasti akan menanyakan hal ini. Oppa akan tahu jawabannya nanti, sekarang mari kita bersenang – senang bersama untuk merayakan ulang tahun Oppa dulu, ne?”.

***

“Hhhhh~”. Aku menghela nafasku sembari memandangi langit malam dari beranda dorm SHINee. Langit malam ini terlihat begitu cantik dengan hamparan – hamparan bintang yang menghiasinya.

“Oppa~”. Lantunan suara yang lembut dan manja dari Yoon Seo memecah lamunanku ketika itu. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku kemudian memelukku dari belakang.

“Ne chagiya~”. Aku kini membalikkan tubuhku menghadapnya kemudian menarik bahunya dan membenamkan tubuhnya masuk ke pelukanku. “Terima kasih untuk kejutan malam ini chagi”.

“Eung~”. Angguknya manja. “Geunde, sebenarnya aku masih punya satu kejutan lagi dan ini mungkin bisa jadi jawaban dari pertanyaan Oppa”. Aku mengerutkan samar keningku seraya menundukkan wajahku untuk menatapnya.

“Oppa tadi bertanya kenapa aku menghilang seharian ini bukan?”. Aku yang masih menatapnya heran hanya dapat menganggukkan kepalaku dengan sedikit ragu.

“Geureom, ikut aku. Kaja”.

“Tengah malam begini? Eodiga chagiya?”. Tanyaku semakin heran dan membulatkan kedua mataku.

Yoon Seo hanya membalasnya dengan seulas senyum seraya menarik tanganku hingga akhirnya kami berjalan keluar dorm menuju ke suatu tempat yang sebenarnya juga tidak aku ketahui. Setelah beberapa menit berjalan keluar dari apartement dormku dan para member SHINee, akhirnya ia menghentikan langkah setelah kami sampai di sebuah..

“lapangan luas yang kosong, dan gelap”. Itulah komentar pertamaku saat baru saja sampai ke tempat yang ditujukkan Yoon Seo. “Chagiya, untuk apa kita kemari? Disini tidak ada keindahan sama sekali chagi, geurigo..”.

“Ccajaaaan~!!!”. Lapangan luas yang awalnya ku kira gelap itu seketika berubah menjadi sebuah taman cantik yang dipenuhi oleh lampu hias yang tak kalah cantik. Aku terkejut ketika lampu – lampu itu menyala, aku sudah ada di di tengah – tengah barisan lampu hias yang cantik itu.

“Areumdawo~”. Gumamku seraya tersenyum. “Dongsaeng’a, kau yang..”.

“Tentu saja aku tidak sendirian menyiapkan ini, Oppa. Minho, Key, Taemin geurigo Onew Oppa ikut membantuku untuk menyiapkan semua ini. itulah kenapa butuh waktu satu hari penuh untukku agar semua ini bisa berjalan mulus sesuai dengan keinginanku”. Ia kemudian mendekatiku dan langsung menghambur ke pelukanku. “Aku takut kalau kue buatanku tidak enak dan membuat Oppa tidak suka untuk memakannya, jadi aku mempersiapkan ini untuk dijadikan kado cadangan hehehe”. Ucapnya ringan kemudian terkekeh.

“Kado cadangan yang sangat cantik”. Sahutku mengusap lembut kepalanya. “Gomawo jeongmal, dongsaeng’a. Ini benar – benar sangat cantik. Ani, semuanya sangat sempurna. Dan kue buatanmu adalah kue terlezat yang pernah Oppa makan”.

“Aku senang kalau Oppa suka”. Senyumnya seketika mengembang. Ia menengadahkan kepalanya, lalu berjinjit kemudian memberikan kecupan hangat ke pipiku.

“Oppa sudah gila jika Oppa mengatakan tidak suka pada semua yang sudah kau berikan chagi”. Aku mengelus lembut pipinya dan mencubitnya ringan.

“Geurigo.. aku pasti sudah membuat Oppa khawatir seharian ini, mianhae Oppa. Sebenarnya saat aku sedang mempersiapkan semua ini, aku selalu terpikirkan Oppa yang pasti sudah merasa sangat cemas”. Ia mengelus pipiku dengan lembut, kemudian bermanja di pelukanku. “Pasti saat itu Oppa sangat khawatir, geureohji?”.

“Lebih tepatnya, Oppa takut. Sangat takut.. Oppa selalu teringat kejadian buruk yang menimpamu 3 tahun lalu chagi. Oppa tidak bisa menghapus bayangan saat Oppa melihatmu tak berdaya ketika terjebak dalam rengkuhan namja keparat yang sedang kalap oleh nafsu bejatnya itu dari mata Oppa, mengingatnya membuat Oppa menjadi hampir gila dan sangat ingin membunuhnya dengan tangan Oppa sendiri”.

Aku memeluk erat tubuh Yoon Seo yang terasa hangat itu. Kini tubuh mungilnya itu tak lagi terasa bergetar, yang kurasakan saat ini hanyalah kehangatan yang diberikan seorang adik untuk kakaknya. Kakaknya yang paranoid gara – gara mimpi buruk dimasa lalu..

“Aku sangat bersyukur saat itu Oppa muncul kehadapanku dan menolongku. Andai saja saat itu Oppa tidak ada, mungkin sekarang aku sudah..”.

“Anya anya, andwae. Itu tidak mungkin terjadi. Oppa bersumpah tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu dongsaeng’a, Oppa akan melindungimu. Sampai kapanpun, Oppa akan melindungimu. Itulah sebabnya Oppa terlihat seperti overprotective terhadapmu, Oppa hanya ingin melindungimu dari niat jahat seseorang yang bisa menghampiri kapan saja tanpa permisi. Oppa tidak mau melihatmu menderita seperti waktu itu chagi. Kau pasti mengerti perasaan Oppa, geureohji?”. Aku mengeratkan pelukanku ditubuhnya dan mengelus puncak kepalanya. Semenjak eomma meninggal dunia, hanya Yoon Seo satu – satunya keluarga yang aku miliki. Ya, tentu saja termasuk dengan namja bajingan itu, tapi setelah kejadian pahit 3 tahun lalu ia praktis sudah bukan anggota keluargaku lagi. Sekarang ia tak lebih dari sampah bagiku.

“Aku mengerti Oppa. Oppa melakukan semua itu hanya demi melindungiku, aku sangat mengerti. Geuraeseo, jeongmal gomawo Oppa. Atas segalanya, jeongmal gomawo. Geurigo, Oppa saranghae~”. Suaranya terdengar manja. Ya, yeodongsaengku memang selalu bersikap manja padaku sejak ia masih anak – anak.

“Oppa do neol saranghae chagiya. Geunde, apa kau tidak takut kalau namja chingumu cemburu saat melihatmu bermanja dengan Oppa seperti sekarang ini?”.

Ia menatapku bingung dan matanya seketika melebar. “Ye? Maksud Oppa, apa?”.

“Oppa rasa bocah itu sudah tidak bisa menahan untuk mengeluarkan tanduk dikepalanya dan menyerang Oppa yang sedang menikmati hangatnya pelukan manja darimu chagi”. Aku mengembangkan senyumku seraya membalikkan tubuhnya mengarah pada Minho yang sudah sejak tadi membuntutiku dan Yoon Seo.

“Aigoo, Minho’ya~!”. Aku langsung terkekeh saat melihat ekspresi wajah yang ditampakkan Yoon Seo ketika melihat sosok Minho yang ketahuan menguntit dan bersembunyi di balik tiang lampu yang ada di taman itu.

“Ya~, Choi Minho, aku ini adalah Oppanya perlu kau ingat. Kau tidak akan bisa menjadikannya yeoja chingumu tanpa seizinku, jadi jangan coba – coba cemburu padaku arattji? Hahaha”. Aku menuntun tangan Yoon Seo kemudian berjalan mengarah padanya yang mulai menampakkan diri keluar dari tempat persembunyiannya.

“Aigoo~, Minho’ya, mwohaneun geoya? Kau benar – benar mengikutiku dan Jonghyun Oppa kesini? Geunde, untuk apa kau lakukan itu?”. Gumam Yoon Seo begitu kami sudah berada tepat dihadapan Minho.

“Na.. Na.. Geuge, geunyang..”.

“Aigoo~, dasar bocah ingusan. Saat sudah tertangkap basah seperti ini kau malah berubah menjadi gagap begitu, hahahaha”. Aku mendorong ringan perutnya seraya tertawa dan mengacak rambutnya. “Arasseo, kalau memang kau ingin menjadikan yeodongsaengku sebagai yeoja chingumu, aku merestui saja”. Ucapku ringan seraya mengembangkan senyumanku.

“Ne?! Jinjjaro? Jinnjaro, Hyeong?”. Minho langsung melebarkan matanya yang dari awal sudah bulat besar itu, sedangkan Yoon Seo hanya bisa membukakan mulutnya tanpa dapat mengeluarkan sepatah kalimat.

“Kenapa jadi malah bertanya padaku? Tanyakan saja langsung padanya, dia bersedia jadi yeoja chingumu atau tidak. Animyeon hoksi~, sebenarnya yang ingin kau ajak berkencan itu adalah aku? Aigoo, Minho Ssi~, jeongmal mian~.. Geunde, aku masih menyukai seorang yeoja. Hahahahahaha”. Sahutku asal dan membuat Yoon Seo yang berdiri disampingku langsung menepuk ringan bahuku kemudian disusul dengan gelak tawa kami bertiga.

“Dasar bocah – bocah jaman sekarang, bahkan kalian rela menyiapkan semua ini demi menyogokku”. Gumamku dengan nada jahil. “Satu hal yang harus kau camkan dalam kepalamu yang besar itu Minho, jaga dan cintai yeodongsaengku dengan baik atau kau akan menjadi mayat ditanganku”.

“Aku sudah pernah berjanji akan hal itu padamu Hyeong, dan kau tahu kalau aku tidak pernah menelan ludahku sendiri, geureohji?”.

***

Dua bulan setelah itu, akhirnya Minho dan yeodongsaengku Yoon Seo meresmikan hubungan mereka pada kami berempat. Tapi, yah.. begitulah. Mereka masih berkencan diam – diam atau dalam kata lain mereka tidak berkencan di depan public mengingat status Minho sebagai seorang Idol dan Yoon Seo sebagai model pendatang baru yang sedang hangat dibicarakn di media.

“Inilah Jonghyun yang aku kenal. Ramah, bijak, dapat berpikir dengan kepala dingin dan menghasilkan jawaban yang membuat semua orang tersenyum”. Onew Hyeong menghampiriku yang tengah menikmati secangkir kopi pagiku di beranda dorm SHINee.

“Kurasa memang sudah saatnya untukku mencoba memberanikan diri membiarkan yeodongsaengku berinteraksi dengan khalayak ramai, Hyeong”. Aku memalingkan wajahku menghadapnya dan memberi senyuman. “Tak kukira ternyata Yoon Seo masih 1kali lebih tegar, kuat dan berani disbanding dengan diriku”. Ucapku seraya menundukkan kepala dan tersenyum tipis.

“Aku mengerti perasaanmu Jjong. Jika aku jadi kau, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Geunde jigeum gwaenchanha, kau sudah membuat keputusan yang tepat. Tajaldwaelkeoya Jonghyun’a”. Onew Hyeong tersenyum hangat seraya menepuk ringan bahuku.

“Ne, Hyeong”.

Epilog

“Minho’ya, apa kau yakin ini tidak akan apa – apa? Ini tempat umum dan ini sangat ramai, Minho~”.

“Memangnya kenapa jika ini tempat ramai? Hey, kita sedang berkencan Yoon Seo. Memangnya kau ingin kita berkencan di Hutan? Hahahaha”.

“Astaga.. yang benar saja kau ini. Geunde Minho, aku tidak yakin topi yang kita kenakan ini dapat menyamarkan wajah kita dari sorotan khalayak umum yang ramai berseliweran di Myeondong. Maksudku, selain itu bisa saja ada paparazzi yang sedang melakukan razia disini”.

“Paparazzi? Maksudmu, kau takut mereka akan mengambil photo kita yang tengah berkencan? Kalau memang begitu biarkan saja. Biarkan”.

“Minho.. aku sedang tidak bercanda, dan ingat kau adalah seorang Idol. Aku yakin kau tidak ingin terkena skandal, geureohji?”.

“Hubungan kita ini bukan skandal chagi, ini nyata”.

“Aku tidak ingin kau menjadi bulan – bulanan media Minho..”.

“Itu semua tidak ada apa – apanya bagiku chagi, karena sekarang ini aku memang sudah berencana akan melakukan ini. Ya, aku akan melakukannya sekarang”.

Author P.O.V

Musim semi di Seoul memang sangat cocok untuk di nikmati dengan cara berlibur atau sekedar berjalan santai disekitar pusat perbelanjaan di pinggir jalan kota Seoul, salah satunya Myeondong. Dan di minggu pagi yang cerah di musim semi tahun ini, untuk pertama kalinya Minho mengajak Yoon Seo berkencan di depan public setelah selama 2 bulan mereka berkencan diam – diam. Mereka memang tidak secara langsung menampakkan wajah mereka begitu saja, mereka tetap memakai topi untuk menyamarkan wajah mereka. Namun sepertinya topi itu akan segera terlepas dari kepala mereka sesaat setelah sebuah pikiran kreatif muncul dalam benak Minho. Ya, Minho telah mantap untuk melakukan hal yang selama ini sangat ingin ia lakukan.

“Minho’ya, apa kau yakin ini tidak akan apa – apa? Ini tempat umum dan ini sangat ramai, Minho~”. Yoon Seo terlihat sedikit kikuk ketika berjalan bergandengan tangan dengan Minho di Minggu pagi di musim semi Seoul yang indah itu.

“Memangnya kenapa jika ini tempat ramai? Hey, kita sedang berkencan Yoon Seo. Memangnya kau ingin kita berkencan di Hutan? Hahahaha”. Sahut Minho yang terlihat begitu santai menanggapi reaksi cemas dari Yoon Seo, seakan sudah sangat siap dengan semua yang nantinya akan mereka dapatkan.

“Astaga.. yang benar saja kau ini. Geunde Minho, aku tidak yakin topi yang kita kenakan ini dapat menyamarkan wajah kita dari sorotan khalayak umum yang ramai berseliweran di Myeondong. Maksudku, selain itu bisa saja ada paparazzi yang sedang melakukan razia disini”. Gumam Yoon Seo yang terdengar berbisik.

“Paparazzi? Maksudmu, kau takut mereka akan mengambil photo kita yang tengah berkencan? Kalau memang begitu biarkan saja. Biarkan”. Sahut Minho seraya mengulang satu kata terakhir ‘biarkan’ untuk mempertegas ucapannya.

“Minho.. aku sedang tidak bercanda, dan ingat kau adalah seorang Idol. Aku yakin kau tidak ingin terkena skandal, geureohji?”.

“Hubungan kita ini bukan skandal chagi, ini nyata”. Sahut Minho lagi dengan nada yang masih terdengar santai seraya mendekatkan jaraknya dengan Yoon Seo.

“Aku tidak ingin kau menjadi bulan – bulanan media, Minho..”.

“Itu semua tidak ada apa – apanya bagiku chagi, karena sekarang ini aku memang sudah berencana akan melakukan ini. Ya, aku akan melakukannya sekarang”.

Minho menghentikan langkahnya tepat di tengah – tengah kerumunan orang – orang yang memadati Myeondong di minggu pagi itu. Ia lalu memalingkan tubuhnya dan kini menghadap tepat di depan Yoon Seo. Ia menarik tangan Yoon Seo agar lebih dekat padanya dan sekarang sudah bisa di pastikan jarak antara Minho dan Yoon Seo tidak sampai 30cm.

“Minho’ya, mwohaneun geoya ige jigeum~?”. Yoon Seo menatap Minho gugup. Rasa gugupnya bertambah ketika Minho melepaskan topinya sendiri dan topi yang dikenakan Yoon Seo dan membuangnya begitu saja ke tanah, praktis apa yang dilakukan Minho itu membuat orang – orang yang yang berjalan memadati sekitaran Myeondong menyadari kehadiran Minho dan Yoon Seo.

Seketika daun telinga Yoon Seo menangkap suara – suara rancu yang bergerumuh dan ia menyakinkan itu adalah suara dari ratusan orang yang kini menontoni mereka.

“Yeoreobun~!!! Nan SHINee Minho imnida~! Dan yeppeun yeoja yang berdiri tepat di hadapanku ini adalah yeoja chinguku, kekasihku~!!!”.

Yoon Seo melebarkan matanya menatap Minho yang tiba – tiba berteriak dan otomatis membuat semua perhatian orang – orang yang berjalan disekitar tertuju pada mereka berdua.

“Dan aku akan sangat berterima kasih jika kalian bersedia menjadi saksi kisah indahku bersama dengan yeoja ini dimulai”. Minho melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Yoon Seo seraya menariknya dan sekarang sudah bisa dipastikan Yoon Seo telah masuk ke pelukan Minho. Minho kemudian mengangkat dagu Yoon Seo perlahan dengan tangannya yang bebas seraya mendekatkan wajahnya, dan hal itu sukses membuat wajah Yoon Seo memerah.

“Aku ingin memberitahu dunia bahwa kau adalah kekasihku, Saranghae.. Kim Yoon Seo”. Seketika mata Minho dan Yoon Seo langsung terpejam. Kini yang bisa bisa dirasakan Yoon Seo hanya usapan lembut bibir Minho di bibirnya dan teriakan histeris dari ratusan orang yang memadati Myeondong yang tertangkap dari daun telinganya.

“Sekarang seluruh dunia telah tahu bahwa kau adalah gadisku”. Minho memberikan senyuman termanisnya pada Yoon Seo sesaat setelah melepaskan ciuman hangat itu.

“Na do saranghae Minho. Na.. do.. saranghae”. Yoon Seo menegaskan kalimatnya. “Geunde, aku ingin kau membawaku kabur dari tempat ramai ini tanpa harus ada salah satu dari kita yang terluka”. Yoon Seo menyipitkan matanya menatap Minho.

“Arasseo chagiya, selama kau berada disisiku maka kau akan aman”.

END.

3 thoughts on “I Will Protect My Yeodongsaeng

  1. mau aku punya oppa kayak jjong~😶😶😶😶
    baik, manis, tampan, meski overpritective, aku suka….

    eonni, aku bener2 suka sama karakternya jjong oppa😄😄😄
    buatin ff karakternya jjong oppa kayak gini, eonni
    cinta kakak sama adik, kayak orang pacaran😊😊😊😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s