Love Letter for Ella (In My Room Sequel – Flashback)

Love Letter for Ella Cover - Poster

Title: Love Letter for Ella (In My Room Sequel – Flashback)

Inspired By: SHINee Jonghyun. SHINee’s Song “In My Room”.

Cast:

Jonghyun SHINee as Kim Jonghyun

Kim Ae Soo (Original Character)

Eunhyuk Super Junior as Eunhyuk (Cameo)

Other Cast

Genre: Romantic, Sweet, Single Parent’s life

Length: One Shoot

Rating: General (G)

Created By: Ayin Perdana

____________________________________________________________________

Chingudeul annyeong~ ^^

Well, I’m so happy that finally I can finish to write the new sequel of In My Room (Flasback version). This FF tells about Jonghyun’s story to be a good and perfect father for his daughter. You know, I was crying when I wrote and read it. Hahahaha 😀

Well, happy reading and hope you guys enjoy ^^

Jonghyun P.O.V

Ini adalah sebuah kisah tentang diriku, diriku yang begitu mencintai seorang yeoja yang begitu cantik. Yeoja itu terlahir di dunia atas nama Oh Ha Na, yang kemudian menjelma menjadi seorang Ella untukku. Ella yang berarti bintang. Ya, dia adalah bintang bagiku.

Di buku ini, aku menulis semua kisahku dibuku ini. Buku yang didalamnya terlihat seperti isi sebuah surat yang diperuntukkan untuknya. Ya, dalam lubuk hatiku aku sangat ingin berbagi kisah indah ini padanya, padanya yang begitu aku cintai. Aku sangat ingin menceritakan betapa saat ini aku sedang merasakan indahnya menjadi seorang ayah untuk seorang anak perempuan cantik bernama Kim Ae Soo.

Kim Ae Soo yang juga kupanggil dengan nama Ella, putriku satu – satunya yang kini telah berusia 3 tahun itu bisa kubilang ia mewarisi kecantikan dari Ella ibunya. Dan aku, Kim Jonghyun yang berprofesi sebagai seorang penyanyi solo yang namanya tengah melejit di industri musik di Korea, membesarkan putrinya seorang diri. Ya, aku membesarkan putriku seorang diri setelah Ella pergi untuk selamanya dari dunia ini dan kematiannya itu bertepatan dengan lahirnya putriku.

“Ella~, Ella~, ya Kim Ae Soo~, sayang kau dimana?”. Pagi itu aku tengah bersiap di ruang tengah untuk pergi ke sebuah stasiun tv untuk rehearsal karena sorenya aku akan perform untuk mempromosikan mini album Korea terbaruku sebelum nantinya aku akan bertolak ke Jepang untuk promo tour album versi Jepangku. Aku berencana ingin membawa putriku hari ini.

“Appa~~, nan yeogi isseo”. Bidadari kecilku dengan senyumannya yang secerah matahari seraya langsung berlari kecil mendatangiku yang berada di ruang tengah dengan membawa boneka kesayangannya.

“Aigoo~ naeui yeppeun ttal, hari ini putri Appa sangat cantik. Kau tadi habis darimana sayang?”, Ucapku menggendongnya yang tadi berlari menghampiriku.

“Aku tadi habis bermain dengan pororo dan  dwaeji ahjumma dihalaman belakang”. Sahutnya polos menunjukkan boneka yang dipeluknya seraya bermanja di gendonganku.

“Omo, dwaeji ahjumma? Ahaha.. Ya chagiya~ kenapa kau memanggil Choi ahjumma dengan sebutan dwaeji?”. Tanyaku sembari tertawa kecil melihat tingkah polosnya seraya mendaratkan ciumanku ke pipinya yang chubby.

“Karena ahjumma gemuk seperti dwaeji, Appa. Hehehe”. Sahutnya lagi seraya tertawa polos sembari memperlihatkan ekspersi wajahnya yang imut padaku.

“Ahahahaha~! Aigoo aigoo~, putri Appa sudah mulai bisa bercanda geureohji?”. Aku langsung tertawa lepas saat mendengar jawabannya seraya kembali mencium gemas pipinya. “Kau tidak boleh seperti itu dengan Choi ahjumma Ella, dia itu yang sudah membantu Appa merawatmu sejak kau masih bayi sayang”.

Ya, dikarenakan scheduleku yang padat sebagai seorang penyanyi solo akhirnya aku memutuskan untuk menyewa jasa seorang pengasuh. Jadi selama aku sibuk, ada orang yang menggantikanku sementara untuk menjaga dan merawat anakku. Tapi begitu aku mendapatkan libur dari padatnya schedule, aku akan meminta pengasuh Ella untuk pulang ke tempat tinggalnya dan yang akan mengurus semua keperluan Ella adalah aku. Ya semuanya, mulai dari mengajaknya jalan – jalan, bermain, memandikannya, membuatkannya susu, membuatkan makan, semua aku lakukan dengan penuh rasa bahagia. Rasa bahagia karena menjadi seorang ayah, namun kebahagiaan itu akan terasa lebih sempurna jika dia, yeoja yang aku cintai masih ada disisiku.

“Gwaenchanseumnida Tuan Jonghyun. Ella Agashi, ani maksudku Ae Soo Agashi memang suka memanggilku dwaeji ahjumma sejak ia menonton kartun hewan favoritnya Tuan”. Pengasuh Ella yang berumur paruh baya itu menghampiri kami yang tengah bercengkrama di ruang tengah. Ya, aku memang lebih memilih orang yang sudah lumayan tua untuk mengurus Ella ketimbang dengan pengasuh yang masih muda.

“Ah geuraeyo?”. Sahutku tersenyum ramah. “Geunde, jika kau ingin memanggil putriku dengan nama Ella boleh saja Choi ahjumma, karena Choi ahjumma telah merawat Ella sejak Ella masih bayi geureohji chagi?”. Ucapku memandang Ella dengan gemas seraya mencium keningnya.

“Ne, ghamsahamnida Tuan Jonghyun”. Sahutnya seraya menundukkan kepalanya. “Geureom, Ella’ya, ayo sini dengan ahjumma. Appa sudah mau berangkat”.

“Sirheo~, aku masih ingin bersama Appa~”. Sahut Ella yang tidak ingin lepas dari gendonganku seraya langsung melingkarkan kedua tangan kecilnya ke leherku.

“Omo omo, chagiya..”. Ucapku memanggilnya.

“Eung~?”. Sahutnya sembari memainkan jemarinya di wajahku.

“Ella sangat mencintai Appa?”. Tanyaku sembari menggoyang – goyangkan badannya yang ku gendong.

“Eung~”. Angguknya.

“Eolmangkeum?”. Tanyaku lagi seraya mencium ringan pipinya.

“I~~mangkeum”. Sahutnya membuat bentuk bundaran besar dari kedua tangan kecilnya. “Naneun Appareul saranghaeyo~”. Sahutnya lagi yang kemudian memelukku manja.

“Aiuu~ Appa do Ella saranghae”. Sahutku seraya mengeratkan pelukanku padanya. “Ppoppo~”. Pintaku seraya mengerucutkan bibirku.

“Mmuach”. Ia langsung mengecup kilat bibirku, membuatku gemas padanya.

“Geureom Choi ahjumma, hari ini aku memang sudah berencana membawa Ella bersamaku ke stasiun tivi. Kau cukup menjaga rumah saja, ne? Keperluan Ella untuk seharian ini juga sudah aku siapkan saat kalian tengah bermain tadi”. Ucapku pada pengasuh Ella.

“Ne, Tuan Jonghyun. Argettseumnida”. Sahutnya padaku seraya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Geureom, naeui yeppeun ttal~, kalkka?”. Ajakku menatap gemas wajahnya.

“Eung~”. Sahutnya mengangguk.

“Arasseo, kaja~~”.

***

“Jonghyun’a~ wasseo”. Eunhyuk Hyeong yang saat itu telah sampai lebih dulu di KBS building stasiun tv yang menyelenggarakan acara untuk kami melakukan comeback stage menyapaku yang baru saja tiba. “Whaa~~ Ae Soo’ya~~ kau hari ini ikut juga? Aigoo~ neomu yeppeo”.

“Eunhyuk ahjossi annyeong~”. Sapa Ella yang berada digendonganku, dengan tingkahnya yang manja dan polos ia melambaikan tangannya kearah Eunhyuk Hyeong seraya tersenyum manis.

“Ne annyeong~. Aigoo Ae Soo’ya, kau hari ini tampak begitu ceria sekali ne? ppoppo~”. Sahut Eunhyuk Hyeong yang mencoba menggoda Ella dengan meminta ppoppo darinya.

“Sirheo”. Dengan tampang acuh tak acuhnya yang khas, putriku hanya menjawab singkat perkataan Eunhyuk Hyeong tanpa memandang wajah Eunhyuk Hyeong dan terus memainkan boneka di tangannya. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah laku putriku yang begitu menggemaskan ini.

“Geureom Ella, kau mainlah dulu disekitar sini ne? Appa ingin bersiap – siap untuk rehearsal, jangan jauh – jauh mainnya arattji?”. Ucapku mengingatkan seraya menurunkannya dari gendonganku.

“Ne Appa~”. Sahutnya manis.

“Jarhaesseo, Appa ppoppo”. Aku kembali mengerucutkan bibirku padanya.

“Muuach”. Dengan tingkahnya yang sangat lucu ia langsung menyambar bibirku, kemudian langsung meninggalkanku berlarian untuk bermain.

“Aigoo aigoo~, putrimu memang cantik dan menggemaskan Jjong tapi dia sangat pelit. Aku minta ppoppo darinya, dia berkata sirheo~ tapi saat kau yang memintanya ia bahkan mengecup bibirmu dengan menunjukkan aegyeo nya”. Eunhyuk Hyeong seketika berceletuk saat melihat Ella memberikan ppopponya padaku sembari menirukan tingkah acuh tak acuh Ella, membuatku tertawa.

“Hahahahaha~, Aku ini Appanya Hyeong”. Sahutku menepuk bahunya.

***

Malam itu setelah makan bersama putriku dan mengantarnya ke kamar, aku pun juga seraya masuk ke kamarku. Kamarku yang menyimpan banyak sekali kenanganku ketika melewati masa indah dengan istriku, istriku yang mungkin sekarang sudah menjadi salah satu bidadari di surga.

Aku lalu di kursi kemudian membuka sebuah buku yang terletak di atas meja didepanku, meraih pulpen hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Ella istriku, lalu aku pun mulai menorehkan pulpen itu di atas kertas halaman buku yang tadi kubuka. Aku ingin menceritakan hari – hari yang kulewati dengan Ella melalui buku ini. Buku yang tiap halamannya selalu kuberi nama sepucuk surat cinta untuk Ella.

Untuk Ella-ku..

Yeobo, annyeong..

Tahukah saat ini aku benar – benar merindukanmu? Aku merindukan saat – saat dimana kau selalu bermanja padaku.

Sekarang putri kita sudah berusia tiga tahun, ia menjelma menjadi seorang bintang kecil yang sangat cantik dan lucu. Dia cantik sepertimu Ella..

Hari ini aku membawanya bersamaku ke stasiun tivi, aku melakukan comeback stageku. Sepanjang rehearsal, ia benar – benar menjadi anak manis. Seakan mengerti dengan Appanya, saat rehearsal ia tidak pernah sekalipun rewel ataupun menangis. Aku benar – benar bangga padanya. Kau tahu, sewaktu di stasiun tivi Eunhyuk Hyeong selalu meminta ppoppo dari Ae Soo tapi selalu ditolak olehnya dengan berkata “Sirheo”. Dia benar – benar sangat lucu dan menggemaskan.

Ah ne maja, malam ini juga ia benar – benar sangat lucu sekali, sebelum kami makan bersama ia memintaku untuk mengikutinya ke ruang tengah dan duduk disana. Awalnya aku bingung dengan maksudnya membawaku ke ruang tengah, tapi ternyata saat aku sudah menuruti permintaanya itu ia menyanyikanku lagu anak beruang sembari menirukan tarian lagu itu. Dia benar – benar sangat lucu Ella, kau pasti akan tertawa geli melihat tingkahnya. Ia selalu bisa membuat hari – hariku bersinar, aku merasa sangat bahagia menjalani kehidupan sebagai seorang ayah. Tapi kebahagiaan ini akan terasa lebih sempurna seandainya kau masih ada di sisiku. Nan neol jeongmal bogosipheoseo yeobo..

“Appa~”. Suara Ella yang memanggilku menghentikan kegiatanku yang sedang menulis, ia masuk ke kamarku seraya berjalan menghampiriku.

“Ne chagiya~, waeyo? Kenapa belum tidur Ella? Ayo kemari”. Sahutku seraya mengangkat tubuh mungilnya dan mendudukkannya di asuhanku.

“Appaneun mwohaeyo?”. Tanyanya menatapku.

“Ne? Appaneun, pyonjireul sayo. Appa sedang menuliskan surat untuk Eommamu”. Sahutku tersenyum sembari mengelus lembut rambut panjang sebahunya.

“Surat untuk eomma?”. Tanyanya bingung.

“Eung, di surat itu Appa menceritakan semua tingkahmu dengan Eomma”. Sahutku seraya mencium pipinya.

“Apa Eomma akan membaca surat ini Appa?”. Tanyanya lagi dengan polos seraya memainkan pulpen yang tergelak di atas buku yang tadi aku tulisi.

“Ne, naeui yeppeun ttal~. Eomma selalu bisa mengetahui semua yang kita lakukan baik itu menuliskan surat untuknya, merindukannya, berdo’a untuknya, meski sekarang ini Eomma sudah berada di surga dan menjadi bidadari yang cantik disana”. Sahutku seraya mengeratkan pelukanku padanya.

“Appa, bisakah Appa mengajariku menulis di surat ini?”. Tanyanya tiba – tiba dan membuatku sedikit kaget saat mendengarnya.

“O, Ella juga ingin menuliskan sesuatu Eomma?”. Tanyaku.

“Eung~”. Sahutnya menganggukkan kepalanya sembari menggambar bentuk bunga pojok atas lembaran buku itu.

“Arasseo, sini Appa akan mengajarkanmu menulis ne? Geureom, Ella ingin menulis apa untuk Eomma?”. Tanyaku seraya membantunya menulis dengan cara memegang tangannya yang sudah siap dengan pulpen yang tadi ia mainkan.

“Ellaneun Eommareul saranghae”. Sahutnya singkat.

Seketika aku langsung terhenyuh ketika mendengar ucapannya yang begitu polos itu. Aku sangat mengerti bahwa sebenarnya ia belum terlalu memahami tentang bagaimana rasanya kehilangan dan merindukan seseorang yang dicintai. Aku lalu mengecup hangat puncak kepalanya seraya membantunya menuliskan kalimat yang di ucapkannya.

“Ella sayang dengan Eomma?”. Tanyaku setelah selesai membantunya menulis, aku kemudian mengubah posisi duduknya agar ia bisa menghadapku.

“Eung~”. Angguknya.

“Eolmangkheum?”. Tanyaku lagi sembari mengusap kepalanya.

“I~~mangkheum. Sama seperti aku mencintai Appa”. Sahutnya yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan ketika membentuk huruf O dengan kedua tangannya. “Ellaneun Appareul saranghae”. Ucapnya lagi seraya memelukku.

“Appa do Ella saranghae”. Sahutku membalas pelukannya seraya mengecup puncak kepalanya.

“Appa, aku mengantuk. Bolehkah aku tidur di pelukan Appa seperti ini?”. Tanyanya polos sembari memainkan jemarinya di wajahku.

“Dangyeonhaji chagi”. Sahutku seraya membenarkan posisi duduknya di asuhanku agar ia merasa nyaman. “Tidurlah putri kecilku”.

“Pelukan Appa seperti udara yang sangaaat hangat, aku suka memeluk Appa”. Ucapnya menampakkan wajah cerianya.

“Jinjjaro? Geureom, Appa akan selalu memelukmu chagi. Sekarang tidur ya, naeui yeppeun ttal. Appa akan menyanyikan lagu untukmu”. Sahutku mengecup hangat keningnya seraya menimangnya dan bersenandung agar ia bisa tertidur.

(NB: Please play this audio to understand the meaning of this fanfiction, then you can continue to read this fanfic for the lyric ^^)

[Jonghyun]

My angel~My angel~
naegen naegen jeo haneuri jusin keun seonmul
nae mame jamdeun yeppeun sarang

My angel~My angel~
naegen naegen i sesangi jusin keun gippeum
jaljayo yeppeun naui sarang
Goodnight

neon naui cheonsaga matdamyeon nan neoui nalgaega doelge
neon naui haneurimyeon nan neoui byeori doelge

My angel~My angel~
naegen naegen jeo haneuri jusin keun seonmul
nae mame jamdeun yeppeun sarang

My angel~My angel~
naegen naegen i sesangi jusin keun gippeum
jaljayo yeppeun naui sarang
Goodnight

Indonesian Translate Lyric:

Malaikatku~ malaikatku~
Kau adalah hadiah terbesar yang diberikan langit untukku
Sayangku yang cantik kau tertidur didalam hatiku

Malaikatku~ malaikatku~
Kau adalah kebahagiaan terbesar yang diberikan dunia untukku
Sayangku yang cantik tidurlah dengan nyenyak
Selamat malam

Jika benar kau adalah malaikatku maka aku akan menjadi sayapnya
Jika benar kau adalah bintangku maka aku akan menjadi langitnya

Malaikatku~ malaikatku~
Kau adalah hadiah terbesar yang diberikan langit untukku
Sayangku yang cantik kau tertidur didalam hatiku

Malaikatku~ malaikatku~
Kau adalah kebahagiaan terbesar yang diberikan dunia untukku
Sayangku yang cantik tidurlah dengan nyenyak
Selamat malam

***

Ke esokannya setelah sarapan pagi, tiba – tiba aku ingin mengunjungi makam Ella. “Sepertinya sekarang waktu yang pas untukku mengunjungi makam Ella” pikirku. Ya, kebetulan aku sedang tidak ada schedule jadi aku memutuskan untuk pergi ke makam Ella bersama dengan putri kecilku satu – satunya.

Setelah aku sampai di pemakaman Ella, aku lihat taburan bunga lili putih yang sudah mulai layu. Ya, pantas saja karena sudah lumayan lama aku tidak mengunjungi makamnya dikarenakan scheduleku yang padat.

“Ella sayang, ayo taburkan bunga ini ke makam eomma, ne?”. Ucapku memberikan keranjang kecil berisikan bunga – bunga lili putih padanya.

“Eung~, ne Appa”. Sahutnya seraya meraih keranjang itu lalu mulai menaburkan bunga. Dengan tangan mungilnya ia menaburkan bunga lili putih itu ke makam Eomma yang bahkan tidak sempat ia lihat secara langsung, kulihat ekspresi wajahnya yang polos itu nampak tersenyum kecil saat menaburkan bunga ke makam Ella.

Aku dan putriku kemudian duduk di samping makam Ella, disana kami berdua mendo’akan Ella yang telah hidup tenang di surga. Di tengah – tengah do’aku, dalam hati aku selalu mengucapkan kalimat bahwa aku sangat merindukannya dan selamanya akan mencintainya. Ya, selamanya hanya akan mencintainya. Aku memang sudah bertekad akan membesarkan Ella tanpa harus menikah lagi, aku sudah tidak memiliki hasrat untuk mencari pasangan baru. Karena hatiku sudah terlanjur mencintai Ella, dan aku tidak memiliki kemampuan untuk mengubah itu meski sekarang ia telah tiada.

Cukup lama aku dan putriku duduk disana, seakan iapun juga enggan beranjak dari makam Eommanya itu. Hingga tiba – tiba tetesan air perlahan turun dari langit, hujan yang tidak begitu lebat itu perlahan jatuh dan mulai mengubah tanah yang kecoklatan ini menjadi lebih gelap. Akupun seraya langsung meraih tubuh kecil putriku dan menggendongnya. Mata polosnya kemudian menatap langit yang mulai gelap.

“Apa langit juga sekarang sedang ikut menangis untuk kita, Appa?”. Tanyanya dengan nada polos dan tangan terulur, membiarkan telapak tangannya basah oleh gerimis hujan itu.

“Mungkin, Ella-ku sayang. Mungkin..”. Sahutku lirih.

Aku memeluk erat gadis kecilku satu – satunya ini dalam gendonganku. Dadaku tiba – tiba seakan terasa penuh, membayangkan masa depan, membesarkannya seorang diri, tentu tidak mudah. Aku akui, pernah terpikirkan olehku mencarikan Eomma baru untuknya. Eomma baru yang bisa memberinya cinta seperti cinta yang berikan seorang yeoja saat ia masih dalam kandungan yeoja yang sudah terkubur dalam tanah itu, tapi menurutku itu adalah sesuatu yang jauh lebih mustahil. Aku tidak bisa mencintai yeoja lain selain Ella.

“Ella, chagiya, kita pulang sekarang ne? Appa rasa hujannya akan segera berlebat, Appa tidak ingin kau sakit karena kehujanan. Kalau kau sakit, Appa akan sangat sedih dan Eomma pasti akan marah karena melihat Appa tidak bisa menjagamu dengan baik”. Ajakku lembut padanya.

“Ne, Appa”. Jawabnya polos seraya mengeratkan pelukannya di gendonganku yang kuartikan sebagai permintaannya agar aku tidak melepaskannya dari gendonganku.

Di perjalanan pulang, kulihat Ella nampak mengantuk. Ia terlihat beberapa kali menguap dan sesekali menyandarkan kepalanya yang mungil itu ditubuhku yang duduk bersamanya di kursi penumpang belakang kemudi. Hari itu aku memang tidak menyetir sendiri mobilku, aku lebih memilih untuk diantarkan supir pribadiku jika aku mengajak Ella jalan – jalan agar aku bisa dengan leluasa menemaninya duduk dan bermain jika sedang dalam perjalanan.

“Ella, chagiya kau mengantuk?”. Tanyaku sambil membelai lembut kepalanya.

“Eung~, hhhooaam”. Sahutnya singkat seraya menganggukkan kepalanya.

“Kemari, tidur di pangkuan Appa ne?”. Akupun lalu membenamkan tubuh kecilnya dipangkuanku seraya menimangnya. Sesekali aku mengecup keningnya, hingga ia benar – benar tertidur dengan pulas.

Pandanganku lalu beralih pada langit yang mulai cerah kembali, hujan sudah mulai reda. Aku lalu tersenyum memandang langit dan berkata dalam hatiku, menyampaikan sesuatu pada Ella-ku yang berada di surga sana.

“Ella, langit yang semula gelap kini kembali cerah. Dan itu aku artikan sebagai gambaran dari senyuman hangatmu yang kau berikan untukku dan putri kita yang saat ini sedang berlayar di dunia mimpinya yang indah. Ia terlihat tersenyum kecil ketika tertidur, aku harap kau menemuinya dalam mimpi dan disana kita bertiga bercengkerama dengan gembira. Aku pasti bisa membesarkannya seorang diri dengan tanganku, geureohji? Kau percaya itu, geureohji? Aku berjanji padamu bahwa aku akan menjadi Appa yang selalu mencintai dan melindunginya. Aku juga berjanji padamu bahwa aku akan membuatnya selalu tersenyum bahagia selama hidupnya. Terima kasih karena telah memberikan seorang peri kecil yang begitu cantik untuk menjadi penawar rasa rinduku padamu naeui yeobo. Ella, saranghae”.

END.

12 thoughts on “Love Letter for Ella (In My Room Sequel – Flashback)

  1. Eomma, aku tiba2 kangen baca ff, aku baca ff ini bikin sedih :’) terlalu bagus :’) walaupun itu bkn aku beneran, cman mirip nama aku aja :’D

    • Hai hai hai syg~~~ ^^
      Whaaaa.. lama gk ngobrol2, hihii..
      Gomawo~ eomma senang kalau qm suka ff ini.. ^^
      Sebenarnya bnyk ff baru disini, hihii.. >.<
      Yg terbaru banget2 th yg please remember me itu ^^
      Selamat membaca 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s