Your Happiness is Enough

Your Happiness is Enough Poster

Title: Your Happiness is Enough

Inspired By: SHINee & Eva Rizkiyana’s Words (Thank u nini :D)

Cast:

Jonghyun SHINee as Jonghyun SHINee

Song Haneul (Original Character)

Kim Yoon Seo (Original Character)

SHINee Member

Genre: Romantic, Sad

Length: One Shoot

Rating: General (G)

Created By: Ayin Perdana

______________________________________________________________________

Anyyeong ^^ Finally, I’m Back! hahaha 😀

I don’t think this FF is romance actually, maybe this FF is all about “Sad”? hahahaha 😀 I just wrote it, kkkk xD Well, hope you guys like it ^^

Jonghyun P.O.V

Soulmate atau belahan jiwa, kata itu begitu familiar terdengar dalam tiap kesempatan hidup seseorang. Kata yang menurutku memiliki makna begitu khusus, bahkan melebihi dari arti sebuah pasangan hidup. Dan aku, Kim Jonghyun yang merupakan seorang belahan jiwa untuk seorang yeppeun yeoja bernama Song Haneul. Yeoja yang selalu mengatakan bahwa ia sangat mencintaiku di setiap kali kami bertemu, “Jonghyun’a, nan neol saranghae.. naeui soulmate” itulah yang selalu terlontar dari bibir manisnya. “Jonghyun’a, aku bersyukur memiliki sahabat sekaligus belahan jiwa sepertimu”, itulah artiku untuknya. Seorang belahan jiwa yang begitu dicintainya, tapi bukan seorang kekasih.

“Hhhhh~”. Aku menghembuskan nafas seraya tersenyum kecil menatap langit malam di beranda dorm SHINee. Hamparan bintang itu nampak sangat cantik, membuatku kembali teringat akan sosoknya yang manis itu.

“Jonghyun’a~”. Onew Hyeong menepuk pelan bahuku seraya berdiri di sampingku.

“O, Onew Hyeong”. Sapaku tersenyum kecil.

“Hampir setiap malam jika kita sedang tidak ada schedule kau selalu menghela nafas seperti itu. Wae? Kau merindukan Yoon Seo, yeodongsaengmu itu? Haha”. Onew Hyeong dengan wajah Onew Sangtaenya mengajakku bersenda gurau, aku membalasnya dengan tertawa kecil.

“Aku selalu merindukan malaikat manjaku itu bahkan saat aku sedang tertidur Hyeong”. Sahutku tersenyum. “Geuge, geunyang.. aku sedang teringat dengan Haneul”. Aku berkata pelan seraya menundukkan kepalaku sesaat, kemudian kembali menatap langit.

“Sudah kubilang, kalau Hyeong mencintainya ungkapkan saja padanya”. Tiba – tiba Key yang sedari tadi berada di dalam dorm, ikut bercengkrama di tengah – tengah kami.

“Geunde, dia tidak mencintaiku Kiboom’ah”. Sahutku tenang seraya tersenyum manis.

“Apanya yang tidak cinta? Dia selalu berkata “Jonghyun’a~, nan neol saranghae” ireohke”. Jawabnya cuek, membuat Onew Hyeong dan aku yang melihatnya sedikit terkekeh.

“Aku ini hanyalah seorang saudara untuknya”. Sahutku menepuk pundaknya.

“Aigoo, mana ada jalan cinta yang seperti itu. Kau itu namja Hyeong, dan dia adalah seorang yeoja, kalian sudah lama dekat mustahil jika tidak tumbuh benih cinta di antara kalian”. Sahut Key dengan tampang cueknya. “Lebih baik katakan saja Hyeong”.

Aku hanya membalas omongan Key dengan senyuman lalu kembali menatap langit. “Aku takut akan kehilangannya jika aku mengutarakan perasaanku”. Ucapku menatap langit seraya menghela nafas.

“Kau belum mencobanya saja Hyeong”. Sela Minho yang juga datang dari dalam dorm. “Tidak baik jika memendam perasaan seperti itu, ungkapkan saja”.

“Terima kasih atas saran kalian SHINee deul”. Sahutku tersenyum. “Geureom, aku ingin pulang sebentar. Sudah lama aku tidak menjenguk Yoon Seo”. Sahutku meninggalkan mereka di beranda sembari melambaikan tanganku.

“O, Jonghyunie Hyeong eodigayo?”. Taemin yang duduk di depan tivi langsung menanyaiku yang berjalan melewatinya.

“Ingin pulang”. Sahutku singkat seraya tersenyum dan langsung mengambil kunci mobilku.

***

“Oppaaaaaaaaaaaa~~!!! Wasseo~!!!”. Sosok hangat dan manis itu menyambut kedatanganku, dengan senyuman yang sangat aku suka malaikat manjaku itu berlari ke arahku seraya langsung menghambur ke pelukanku.

“Chagiya~, dongsaeng’a~”. Aku langsung membalas pelukan hangatnya dengan kecupan hangat yang kudaratkan ke puncak kepalanya. “Jjongie Oppa bogosipheoseo?”. Tanyaku mencubit ringan pipinya.

“Eung~! Nan Jjongie Oppa jeongmal bogosipheoseo~”. Sahutnya manja seraya kembali memelukku. “Oppa, mau makan bersama? Aku baru saja memasak sup kimchi”. Dengan wajahnya yang manja itu ia menawariku untuk makan bersama, ekspresi wajah yang begitu aku suka ini selalu berhasil membuatku mendaratkan ciumanku ke kedua pipinya.

“Jinjja? Eung, ne, joha joha. Kaja kaja kaja~”. Sahutku seraya langsung membawanya ke ruang makan dengan merangkulnya dari belakang.

“Oppa, sedang gundah?”. Yoon Seo memecah kehengingan saat kami sedang menyantap makan malam.

“Uhuk~!”. Pertanyaannya yang spontan dan langsung to the point itu membuatku tersedak, darimana ia bisa tahu aku sedang gundah.

“Omo~! Oppa, minum ini”. Sahutnya memberikan segelas air. “Aigoo, majayo. Ternyata Oppa memang sedang gundah”. Ucapnya lagi, kali ini kulihat di raut wajahnya nampak ia ingin membahasnya dengan serius padaku.

“Chagiya~, kau tidak pernah berubah, ne? Selalu to the point dalam segala hal”. Sahutku tersenyum kecil. “Oppa tidak apa – apa chagi~”. Ucapku tersenyum seraya mengusap lembut kepalanya.

“Jinjjaro? geunde, wajah Oppa tidak berkata kalau Oppa tidak apa – apa”. Sahutnya menatap dalam mataku, aku hanya membalasnya dengan senyuman.

“Ne dongsaeng’a, jinjja. Oppa neun gwaenchanha chagi”. Sahutku tersenyum seraya mengelus ringan pipinya. “Geureom, ayo makan lagi”.

“Huuufftt~”. Aku menghela nafasku dengan panjang seraya menghembuskannya, langit malam yang menghiasi taman belakang rumahku ini membuatku semakin teringat pada Haneul. “Haneul’ya~, kenapa kita hanya menjadi teman?” ucapku lirih.

“Oppa~, muach”. Malaikat manjaku menghampiriku yang tengah duduk di kursi halaman belakang, dengan manja ia memelukku dari belakang seraya mencium pipiku.

“Chagiya~, yeogi anja chagi”. Aku memberikan senyuman hangat dan menyuruhnya duduk disampingku. “Jjang~, Oppa ingin memelukmu, sini lebih dekat lagi”. Aku merangkul tubuhnya yang mungil itu seraya mendaratkan ciumanku ke keningnya.

“Geunyang marhae, Oppa”.

“Ne? Mworago, chagiya?”. Tanyaku menatapnya. Ucapannya terdengar begitu datar, kulihat ia juga memasang wajah serius.

“Kalau memang Oppa menyukainya, geunyang marhaejwo. “Nan neol saranghae, johahae” katakan semuanya Oppa”. Sahutnya seraya menatap dalam mataku. “Adalah wajar jika dalam hati Oppa tumbuh rasa suka padanya, Oppa cukup dekat dengannya geureohji?”.

“Ne, geunde..”.

“Geunyang marhaejwo~”. Ucapnya memotongku seraya mengelus lembut pipiku. “Aku tahu Oppa takut untuk kehilangannya, geureohji? Geunde, akan lebih miris lagi rasanya jika rasa yang ada di hati Oppa tidak tersampaikan”.

“Aigoo~, malaikat manja Oppa satu – satunya ini, sejak kapan kau jadi sedewasa ini?”. Sahutku memandangnya lembut sembari memberikan senyumanku dan mengelus rambutnya.

“Sejak Oppa menjadi seorang Idol, Oppa sangat jarang berada di rumah seperti ini. Itulah yang membuatku dewasa, mungkin. Hehehe!”. Ucapnya yang membuatku sangat gemas dan langsung mencubit ringan pipinya dan menciumnya.

“O~, Onew Hyeong. Ne~, malam ini aku akan menginap di rumahku. Besok pagi – pagi sekali aku akan langsung kembali ke dorm, ne. Geureom, aku tutup telponnya Hyeong. Gomawo”. Aku langsung meleparkan ponsel touchcreenku ke kasurku seraya turut menghempaskan tubuhku.

“Huuuh~, melelahkan”. Aku menghirup oksigen sebanyak yang aku bisa seraya menghembuskannya untuk melepas penat di tubuhku. Hari itu aku merasa tak hanya tubuhku yang lelah, tapi hatiku juga.

“Dddrrrrrttt~”. Aku rasakan ponselku bergetar, Haneul meneleponku. Aku langsung duduk seraya mengangkat teleponnya.

“Yeoboseyo,  ne haneul’ya?”. Sahutku lembut.

“Jjong~”. Suaranya terdengar begitu manja, membuatku tersenyum kecil.

“Eung~, wae? Kau belum tidur? Sudah malam Haneul”.

“Anya, geunyang.. nan neol jeongmal bogosipheoseo”.

“Aku memang selalu di rindukan oleh seluruh orang yang mengenaliku, hahaha”. Sahutku asal seraya tertawa. “Geunde wae, kenapa kau meneleponku selarut ini?”.

“Geuge.. aku ingin bertemu denganmu besok pagi, gwaenchanha? Kau besok ada waktu tidak?”. Tanyanya dengan nada halus.

“Ah, naeil? Ne, joha. Bagaimana kalau bertemunya jam 10 pagi saja?”. Tawarku padanya.

“Eung~, geureom.. gomawo Jjong. Jalja~”. Sahutnya singkat seraya menutup percakapan lewat telepon.

***

Paginya aku telah tiba lebih dulu di tempat yang telah di janjikan Haneul, kedai kopi favorit kami berdua. Tempat ini menyimpan banyak kenangan indahku bersamanya. Bagaimana tidak, setiap kali aku ingin melepas penatku dari scheduleku yang menggunung setiap harinya dengan SHINee aku pasti selalu mengajak Haneul atau malaikat manjaku Yoon Seo untuk singgah kemari.

“Jonghyun’a, entah apa yang membuatmu membeli seikat bunga mawar merah yang masih segar sebelum datang kemari?”. Tanyaku pada diriku seraya tertawa kecil. Ya, semuanya terlintas di pikiranku begitu saja. Aku ingin memanfaatkan pertemuan ini untuk mengutarakan perasaanku pada Haneul, aku rasa ini adalah saat yang tepat.

“Jjong~~!”. Aku mendengar seorang yeoja memanggilku, suara yang sudah tidak asing di telingaku itu terdengar dari arah pintu kedai. Benar saja, Haneul sudah datang.

“O~! Haneul’ya~!”. Sahutku seraya melambaikan tanganku kearahnya sambil tersenyum, namun senyuman yang ku lukis di wajahku perlahan memudar karena mataku tak sengaja melihat kearah tangan Haneul yang menggenggam tangan seorang namja yang berjalan disampingnya.

Ia berjalan kearahku sambil berpegangan tangan dengan seorang namja yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Geu namjaga nugungayo?” pikirku, “apa mungkin namja itu adalah Oppa nya Haneul?” Ya mungkin saja, menurutku adalah wajar jika Haneul berjalan sambil berpegangan tangan seperti itu dengan Oppanya karena aku juga selalu seperti itu dengan Yoon Seo, yeodongsaengku.

“Jjong~, kenalkan, ini Rey.. namja chinguku”. Ucapnya dengan santai dan tersenyum cerah begitu sampai dihadapanku dan duduk di kursi di depanku.

Kalimat itu sontak membuat tubuhku kaku, jadi pagi ini ia memintaku bertemu di sebuah kedai kopi tempat favoritku dengannya untuk bersantai melepas penat karena ia ingin memperkenalkan seorang namja yang merupakan kekasihnya.

“Jjong~, Jjong~, kenapa diam saja? Ya, Jjong~ gwaenchanhi?”. Ia menepuk – nepuk bahuku untuk menegurku yang terdiam kaku.

“Ah, ne ne. Aku baik – baik saja”. Sahutku sedikit terbata. “Jadi namamu Rey? Annyeonghaseyo”. Sapaku dengan sedikit senyum yang di paksakan dengan namja itu.

“Ne, Rey imnida”. Sahutnya ramah seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.

Dengan senyuman yang aku usahakan terlihat sealami mungkin, aku turut mengulurkan tanganku seraya menerima jabatan tangan namja itu. Secara fisik, aku tidak ingin menjadi seorang yang munafik, dia termasuk namja yang memiliki wajah tampan.

“Geureseo.. tujuanmu ingin bertemu denganku pagi ini karena ingin mengenalkan kekasihmu?”. Tanyaku dengan nada sedikit ragu.

“Eung~! Dia namja chinguku Jjong, dia tampan seperti kau kan? Hehe”. Ia menjawab pertanyaanku bahkan dengan nada cerianya. Di saat seperti ini, apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak tahu harus merespon jawabannya seperti apa, ini benar – benar mengejutkanku.

“Jjong~~”. Ia kembali memanggilku yang mungkin bisa dikatakan terdiam seperti patung.

“Ah, ne ne ne. Kau benar, namja chingumu tampan”. Sahutku dengan sedikit senyuman yang aku paksakan.

“Wae? Kau kenapa Jjong? Wajahmu terlihat pucat, apa kau sakit?”. Tanyanya yang langsung berpindah posisi duduk ke sampingku dan menyentuh keningku.

“Nan gwaenchanha”. Sahutku dengan nada sedikit tegas seraya langsung menyibakkan tangannya perlahan dari keningku.

“O, waeyo Jjong?”. Tanyanya lagi kali ini dengan tampang yang agak takut setelah menerima perlakuanku tadi.

“Mian Haneul’ya, tapi sekarang aku harus pergi. Aku ada schedule dengan SHINee”. Sahutku menundukkan kepalaku tanpa menghadap kearahnya. “Kalian bersantailah disini, dan ini aku sudah menyiapkan seikat bunga sebagai tanda ucapan selamat untuk hubungan cinta kalian, chukhahae. Geureom, na kalke”. Aku langsung mengambil langkah cepat, berlari kecil tanpa menghiraukan Haneul yang berkali – kali memanggil namaku, aku tidak ingin menjadi namja bodoh yang tiba – tiba menangis di hadapannya tanpa bisa menjelaskan alasan mengapa aku menitikkan air mata.

***

Siangnya aku ada syuting MV baru dengan SHINee, jujur sekarang ini aku benar – benar tidak bisa memfokuskan diriku untuk syuting MV ini. Pikiranku masih sangat kacau pasca peristiwa pagi tadi.

“CUT! NG! Jonghyun’a~, kau salah lagi! Ya~! Apa kau selama ini tidak pernah ikut latihan bersama dengan member lainnya untuk MV baru ini? Ini bahkan sudah take ke 20 dan syuting juga sudah berjalan selama 5 jam tapi aku belum menghasilkan penampilan yang sempurna~!!! Aigoo~”. Untuk kesekian kalinya aku mendapat teguran dari sutradara.

“Jwiseonghamnida.. jeongmal mianhamnida”. Sahutku membungkukkan badan, dengan wajah yang sangat kaku aku mencoba melihat kearah sutradara dan para kru seraya kembali meminta maaf.

“Jwiseonghamnida, geunde.. bisakah kami rehat sejenak? Kelihatannya Jonghyun kami saat ini sedang tidak enak badan”. Ucap Onew Hyeong yang langsung mengambil siasat, sepertinya Onew Hyeong sudah dapat membaca pikiranku saat ini.

“Arasseo, kalian istiharatlah sejenak. Setelah itu kita sambung syuting MV ini dan aku ingin sempurna”. Sahut sutradara dengan tegas.

Aku dan member SHINee yang lain akhirnya menuju ruang make up di studio tempat kami syuting MV untuk rehat sejenak.

“Hhhh~”. Aku langsung melemaskan tubuhku di sofa seraya menghela nafas, pikiranku saat itu kacau sekali.

“Jonghyun’a~, gwaenchanha? Jinjja gwaenchanha? Jinjjaro?”. Onew Hyeong langsung mengambil posisi duduk di sampingku seraya melontarkan banyak pertanyaan padaku.

“Sasireun nan angwaenchanha Hyeong”. Jawabku jujur dengan tampang sayu sambil mencoba tersenyum kecil.

“Waeyo Hyeong? Wae wae wae?”. Key langsung menyambar dan duduk di sebelahku.

“Jamkan jamkan, aku tidak mau ketinggalan berita”. Sahut Minho yang langsung menyeret kursi dan duduk di hadapanku disusul dengan Taemin yang lebih memilih untuk berselonjoran di lantai.

“Tadi pagi aku bertemu dengan Haneul di kedai kopi tempat yang selalu kami kunjungi ketika ingin bersantai. Dia memperkenalkan namja chingunya padaku”. Sahutku datar dengan seulas senyuman kecil yang ku paksakan.

“MWO?! JINJJA??!!! JINJJA JINJJA??!! JINJJARO??!!”. Seru mereka berempat seraya membelalakan mata masing – masing.

“Jamkan, geunde.. bagaimana bisa Haneul Noona punya namja chingu? Dia bahkan tidak pernah kelihatan dekat dengan seorang namja selain Jonghyunie Hyeong”. Ucap Taemin langsung memasang tampang bingungnya seraya menatapku.

“Ne ne ne, maja maja”. Respon Minho.

“Molla”. Sahutku singkat. “Intinya dia sekarang sudah memiliki kekasih”. Sambungku mengusap kepala Taemin sambil menorehkan sedikit senyuman padanya. “aigoo maknae kita masih begitu polos di usianya yang sudah beranjak 20 tahun”.

“Geureom jigeum eotteohke Hyeong?”, Timpal Key.

“Jadi itu yang menyebabkan matamu terlihat sembab saat kau datang kemari?”. Ucap Onew Hyeong dengan tenang, membuatku menatapnya bingung.

“Jujur saja Jjong, aku sangat mengenalimu. Kau memiliki sifat yang begitu halus, kau pasti menangis bukan setelah kejadian itu?”. Ucap Onew Hyeong lagi seraya tersenyum kecil dan mengusap kepalaku, aku hanya bisa menganggukkan kepala tanpa berkata apapun.

Sesaat kami berlima diam, sampai kemudian ada salah seorang kru pembuatan MV terbaru kami mengetuk pintu ruang make up kami dan memperingatkan bahwa syuting akan disambung lagi.

“Geureom, kaja”. Sahutku seraya berdiri sambil tersenyum kecil.

“Kau masih bisa melanjutkan syuting Jjong? Kalau memang sekarang kau ingin istirahat, gwaenchanha. Aku akan memberitahukan ke manager hyeong agar mengatur ulang jadwal syuting MV, untuk sementara syuting hari ini kita stop dulu”. Tawar Onew Hyeong bijak seraya memberikan seulas senyuman.

“Aniyo Hyeong, gwaenchanha. Kita lanjutkan saja”. Sahutku membalas senyumannya.

“Arasseo kalau itu memang maumu, geureom kaja”.

***

Selang satu bulan setelah peristiwa yang cukup mengejutkanku itu aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Haneul, bertegur sapa via pesan singkat pun tidak. Merindukannya, itu sudah pasti, kenangan saat aku menghabiskan waktu senggang bersamanya selalu terlukis jelas di ingatanku.

“Oppa~”. Lantunan suara manja itu mengalihkan pandanganku yang sedari tadi memandangi langit malam yang bertabur milyaran bintang – bintang cantik di halaman belakang rumahku.

“Ne chagiya~?”. Sahutku tersenyum padanya yang menghampiriku seraya duduk disampingku.

“Boleh aku memeluk Oppa, langit malam ini sangat cantik. Aku ingin memandangnya sembari berdekap di pelukan Oppa”. Ucapnya manja seraya tersenyum manis.

“Dangyeonhaji~, kemari chagi”. Sahutku seraya langsung membenamkannya dalam pelukanku dan memberikan ciumanku ke keningnya.

“Jadi Haneul memiliki seorang kekasih?”. Tanyanya memulai pembicaraan.

“Ne, maja”. Jawabku singkat seraya membelai rambutnya.

“Geureom Oppa eotteohke? Oppa mencintainya bukan?”. Tanyanya lagi seraya menatapku. “Bagaimana dengan perasaan Oppa padanya, Oppa bahkan sampai saat ini belum mengatakan perasaan Oppa padanya”.

“Tidak perlu chagi”. Sahutku tersenyum seraya mengeratkan pelukanku.

“Ada kalanya perasaan cinta terhadap seseorang itu tidak perlu kita utarakan, karena bisa saja aka nada suatu hal yang tidak kita inginkan terjadi apanbila kita memaksakan diri untuk mengungkapkannya”. Tuturku sembari tersenyum kecil.

“Tapi Oppa sangat mencintainya geurigo..”.

“Mencintainya tidak harus membuatnya menjadi milik Oppa chagi”. Potongku lembut seraya mengusap kepalanya.

“Jika kebahagiaannya adalah berada di samping namja itu, kebahagiaannya adalah menjadi kekasih dari namja itu, maka Oppa akan membiarkannya pergi untuk lebih memilih namja itu. Mencintainya itu berarti ingin melihatnya bahagia, meskipun Oppa bukan seseorang yang menjadi kebahagiaannya. Geurigo..”.

“Geurigo?”. Potongnya seraya memandangku dan mengelus pipiku.

“Geurigo karena Oppa akhirnya menyadari bahwa dia itu memang dilahirkan hanya sebagai belahan jiwa untuk Oppa”. Sahutku tersenyum hangat padanya. “Dan belahan jiwa itu hanya bisa menjadi pendamping dalam perjalanan menuju kebahagiaan, bukan sebagai seseorang yang menjadi pendamping ketika memulai kebahagiaan itu”.

***

Itulah hidup, tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan apa yang di inginkan dan di rancang. Di balik senyuman hangat yang selalu kuberikan padanya yang menyiratkan “Aku bahagia ketika melihatmu dengan namja itu”, namun sesungguhnya hatiku berkata dengan sangat pahit “Maaf karena aku terlalu lemah untuk bisa membuatmu menjadi milikku”. Tapi semua itu tidaklah masalah besar, apapun itu asalkan bisa membuatku melihatnya bahagia dan selalu tersenyum manis aku tidak akan apa – apa. Cuz her happiness is Enough. [Jonghyun]

END.

Advertisements

4 thoughts on “Your Happiness is Enough

    • Makasii syg.. ^^
      di tunggu comment selanjutnya di FF eonni yg lainny yah ^^ udh baca They Don’t Know about Us belum..?
      itu bnyk bgt reader yg suka loh ^^
      Main castny Jjong jg ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s