The First Time We Met – The Unforgettable You Sequel [EXTRA]

The First Time We Met Poster

Title : The First Time We Met – The Unforgettable You Sequel [EXTRA]

Inspired By : Jonghyun SHINee

Cast :

Jonghyun SHINee as Kim Jonghyun

Minho SHINee as Choi Minho

Oh Min Ji (Original Character)

Kim Yoon Seo (Original Character)

Genre : Sweet, Romantic

Length : One Shoot

OST : T-Max – Wish You’re My Love

Rating : PG-15

Created By : Ayin Perdana

_____________________________________________________________________

Yeoreobun annyeonghaseyo ^^

Well, I’m back to post my new short fan fiction and this is a Extra Sequel from Unforgettable You. Yeah, maybe you can say this is a flashback version of the story. This fanfic tells about the first time Jonghyun meets Oh Min Ji. So, hope you guys enjoy and happy reading ^^ *don’t forget to leave a comment ^^

“Ini adalah sebuah kisah yang sangat indah untukku, kisah dimana pertama kalinya aku dipertemukan dengan seorang yeppeun yeoja yang kini telah menjadi pendamping hidupku. Inilah kisahku..”.

Jonghyun P.O.V

Aku duduk santai di kursi kayu goyang di halaman belakang rumahku, menikmati sejuknya udara pagi sembari melihat – lihat album photo. “Ahahaha~, aigoo jinjja gwiyeowo” ucapku seorang diri seraya tertawa saat melihat photo yeodongsaengku yang merupakan malaikat manjaku, Yoon Seo. Di photo itu Yoon Seo yang masih balita terlihat sedang menangis karena tidak bisa menjangkau permen favoritnya yang terletak di atas meja. “Chagiya~, dongsaeng’a~, Oppa neun neol jeongmal bogosipheosseo” ucapku tersenyum kecil. Ya, saat ini Yoon Seo sedang tidak berada di Korea. Dia saat ini sedang berada di Thailand untuk menyutradari film baru yang meangkat kisah dari novel karangannya.

“Yeobo~”. Suara bidadariku terdengar begitu manis di telingaku, dengan manja Min Ji memelukku dari belakang seraya meletakkan kepalanya di bahuku dan mengecupnya. “Yeobo, mwohae?”.

“Na? Naneun~ sajindeureun bogoisseo”. Sahutku yang mencium lembut pipinya. “Yeogi anja yeobo”. Aku menyuruh istri cantikku itu duduk disampingku seraya lalu membenamkannya ke pelukanku agar ia bisa bermanja dengan leluasa padaku.

“Igeo Yoon Seo ya?”. Tanyanya menunjuk ke salah satu photo yang ada di album.

“Ne maja. Neomu yeppeujyo?”. Sahutku tersenyum. “Eung~, dia mewarisi kecantikannya dari Eomma kalian geureohji?”. Ucapnya seraya tersenyum manis.

“Dangyeonghaji~ hehe”.

“O~, igeon mwoya?”. Perhatiannya kini tertuju pada album photo lainnya yang kuletakkan di samping kiriku, ia pun seraya meraih album photo itu dan membukanya.

“Omo~! Naeui sajin?”. Seketika ia nampak terkejut begitu ia membuka dan melihat photo yang ada di album itu, melihatnya membuatku tertawa kecil.

“Ne, hehehe. Kau terlihat sangat cantik di semua photo itu yeobo”. Sahutku seraya mencium hangat keningnya, ia membalas dengan tersipu. Sangat manis.

“Aigoo! Ige~”. Kali ini ia kembali membelalakkan mata ketika membalik halaman album photo itu, seketika aku langsung tertawa lepas.

“Hahahahahaha~!!! Aigoo~, neomu gwiyeowo. Itu photomu saat masih sangat muda yeobo”.

“Masih sangat muda kau bilang? Memangnya sekarang aku sudah tua, eeiissh”. Sahutnya yang langsung mencubit ringan pipiku.

“Hehehehehe~, geureongeo anigeotheun. Geunyang, maksudku photo itu aku ambil saat kita masih jadi anak kuliahan. Aku jadi teringat saat pertama kali kita bertemu, Oh! Photo ini aku ambil saat pertama kalinya kita berkencan yeobo”. Aku memandangnya seraya tersenyum sumringah.

“A jinjja? Photo yang ini?”.

“Eung~. Kau tahu saat itu sebenarnya aku sangat gugup, jantungku berdetak sangat cepat ketika pertama kali aku menggenggam tanganmu yeobo”. Ucapku mencium kilat bibirnya.

“Gugup? Jinjjaro~? Menggenggam tanganku merasa sangat gugup, tapi mencium bibirku kau terlihat sangat relax sekali saat itu naeui yeobo~~”. Ia menggodaku seraya menjulurkan lidahnya dan dengan cepat menyambar bibirku, seketika wajahku memerah mendapatkan perlakuannya.

“Omo, yeobo~”. Ucapku tersipu mengeratkan pelukanku dengan gemas. “Hhmm, bagaimana kalau kita menceritakan kembali masa indah itu yeobo?”. Ajakku mengenang kembali kenangan saat aku bertemu dengannya. “Eung, joha~”. Sahutnya mengangguk manja.

“Aku sangat ingat, saat itu sedang musim gugur”.

Flashback

Jonghyun P.O.V

Aku berjalan santai di halaman kampusku yang begitu luas dengan menyandang tas gitarku sembari menikmati indahnya musim gugur di Negeri Gingsengku yang sangat aku cintai ini. Langit cerah di musim gugur pun menyita perhatianku, aku tersenyum memandang langit sembari berjalan dan tanpa sadar ada seseorang menabrakku.

“Kyaak~!”.

“Omo~!”. Pekikku terkejut. Tiba – tiba aku menabrak seseorang saat berjalan, tubuhnya yang kurasa ringan dan mungil itupun menindihku yang terjatuh.

“Omo~, mianhaeyo~. Jeongmal mianhaeyo”.

Seorang yeoja, ternyata yang menabrakku adalah yeoja yang sangat cantik. Dengan keadaanya yang masih menindihku ia meminta maaf seraya memasang wajah polosnya, melihat wajahnya dengan jarak sedekat ini membuatku sedikit salah tingkah.

“Gwaenchanseumnida”. Sahutku tersenyum ramah seraya langsung membantunya berdiri.

“O~! Gitarmu..”. Wajahnya seketika menampakkan rasa bersalahnya saat melihat tas gitarku yang sobek karena terhempas ke tanah, di bagian yang sobek itupun terlihat bagian badan bawah gitarku lecet. “Sonbaenim~, jeongmal mianhaeyo~”.

“Kokjeonghajima~, gwaenchanha. Aku bisa memperbaiki gitarnya, dan untuk tasnya tinggal dibeli lagi yang baru”. Sahutku tersenyum seraya mengambil tas gitarku. “Jamsimanyo, kau memanggilku.. sonbae?”. Tanyaku menatapnya. “Kita saling kenal?”.

“Aniyo, geunyang.. Kau adalah mahasiswa semester akhir di kampus ini kan? Sedang aku masih berada di semester bawah”. Sahutnya tersenyum.

“O~! Astaga, aku hampir terlambat!”. Ia membelalakkan matanya saat tak sengaja melihat ke arah jam tanganku. “Sonbae, aku duluan ne? Annyeong~”. Ia langsung berlari melaluiku, tiba – tiba terpikir olehku bahwa aku bahkan belum tahu namanya.

“Oo~, jamkanman~. Geunde.. ireumi mwoya?”. Tanyaku sedikit berteriak.

“Min Ji yeyo~, Oh Min Ji~!”. Sahutnya tersenyum membalikkan badan seraya kembali berlari.

“Nan Jonghyun iyeyo~ Kim Jonghyun~!”. Ia hanya merespon dengan seulas senyuman seraya melambaikan tangannya.

“Yeppeo”. Ucapku dalam hati seraya tersenyum melihatnya dari kejauhan.

“Huufft”. Aku duduk di kursi taman kampus seraya menghela nafas. Beberapa hari setelah kejadian itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Min Ji. “Mungkin karena kami berada di jurusan yang berbeda” pikirku. Aku meraih gitarku dan mulai memainkannya.

“Jonghyun Sonbae~”. Aku mendengar ada suara lembut yang menyapaku, akupun menengadahkan wajahku mencari asal suara itu.

“O, Min Ji Ssi”. Sapaku dan langsung memberikan senyuman. Entah kenapa tiba – tiba perasaanku jadi sangat senang saat melihatnya berdiri di depanku, “Jonghyun’a, jangan bilang kau merindukannya. Kau bahkan belum mengenal lebih jauh dengan yeoja ini” ucapku dalam hati.

“Annyeonghaseyo sonbae”. Ucapnya lembut seraya tersenyum dan menundukkan kepalanya.

“Ah ne, annyeonghaseyo~. Yeogi anja”. Sahutku seraya menyuruhnya duduk di sampingku.

“Gomawoyo”. Sahutnya duduk disampingku.

“Geunde, bisakah kau tidak memanggilku sonbae. Terlalu formal kupikir, hehehe. Santai saja, ne?”. Ucapku memulai pembicaraan.

“Ah ne~. Geunde, aku harus memanggil apa?”. Tanyanya malu – malu, melihat tingkahnya itu membuatku sedikit gemas.

“Geunyang Jonghyun Oppa bulleojyo”. Sahutku tersenyum. “Geunde, aku lumayan jarang melihatmu di kampus ini. Kau mahasiswi jurusan apa?”.

“Design, Oppa neun?”. Tanyanya dengan suara yang menurutku terdengar agak manja untuk mengakrabkan diri padaku, dan aku akui kalau aku menyukai caranya itu. Sangat manis.

“Musik”. Sahutku singkat seraya reflek mengusap puncak kepalanya dan memberikan senyuman.

“Aa~, arasseo. Geureom, sepertinya tadi Oppa sedang ingin menyanyikan lagu. Aku ingin mendengarnya Oppa”. Ucapannya sontak membuatku sedikit terkejut, membuatku jadi salah tingkah.

“Ne? Kau ingin mendengarku menyanyi? Jinjjaro?”. Sahutku tertawa kecil.

“Eung~. Ayo Oppa, aku ingin mendengarnya”. Pintanya manja, dan terus terang itu membuatku tidak bisa melakukan apa – apa selain menurutinya.

“Arasseo – arasseo”. Sahutku tersenyum padanya seraya mulai memetik senar gitarku.

“Nado nareul jal moreugesseo
(Aku bahkan tidak begitu memahami diriku)
Naega ireol jul mollasseo
(Aku tak tau akan seperti ini)
Danghwangseure josimseure
(Sedikit memalukan)
Jakku neoman bureujanha
(Aku terus memanggilmu)
Ireon nae mameul dageuchyeodo
(Bahkan ketika ku berpikir mengendalikan hatiku ini)
Niga nae gyeotheul seuchimyeon
(Kau menggores di sisiku)
Tto geureohke useumyeo
(Jika tersenyum seperti itu lagi)
Nan amugeotdo mothae
(Aku tak bisa apa-apa)
Sarangeun anirago
(Ini bukan cinta)
Naega nal malligo mireonawbwado
(Bahkan jika aku mengatakan, menahan dan menariknya)
Honjaseo utgo ulgo ireon nareul eotteokhae
(Apa yang harus ku lakukan dengan tersenyum dan menangis sendiri seperti ini)

Wish Ur My Love
(Mengharapkanmu cintaku)
Ijen naegero wayo
(Datanglah padaku sekarang)
Nado moreugesseo wae irae
(Aku pun tak tau mengapa seperti ini)
Oneuldo nan ireohke
(Bahkan hari ini juga seperti ini)
Nan ni aphe seoseongijiman
(Meskipun aku mondar mandir di depanmu)
Sarang kkok malhaeya anayo
(Apakah aku harus mengatakan cinta ini?)
Ireohke mweonhago inneunde
(Apa yang ku lakukan seperti ini)
Yeongweoneul yaksokhan dan han saram
(Hanya seorang ku berjanji untuk selamanya)
Geudaejanhayo

(Itu dirimu)”.

 

“Yeogi kkaji”. Aku menyudahi laguku seraya menatapnya dan tersenyum.

“Jarhanda~!!! Wha~, suara Oppa sangat indah”. Ucapnya sumringah sembari bertepuk tangan untukku.

“Gomawo~”. Sahutku tersenyum hangat.

Begitulah seterusnya. Seiring berjalannya waktu kami pun menjadi semakin dekat, dan aku mulai menumbuhkan perasaan sukaku padanya. Aku mulai menyukai senyumannya, senyuman yang bahkan bisa membuatku tidak berdaya dan tidak tahu harus melakukan apa. Ketika aku sedang berada di dekatnya, duduk di sampingnya, sangat ingin rasanya aku mengutarakan perasaanku tapi seketika keberanianku menciut saat mataku dan matanya saling bertemu. Pernah terpikir di benakku apakah ia bisa mendengarkan hatiku yang selalu berteriak bahwa aku menyukainya, memikirkan itu membuatku tertawa sendiri seperti orang bodoh.

“Oh Min Ji”. Ucapku sembari menghempaskan tubuhku ke atas kasurku yang hangat. “Hhhhh~, lama – lama yeoja itu membuatku selalu memikirkannya. Hoksi, nan geunyeoreul saranghalkke? Aiish, Jonghyun’a mworago haneun geoya~? Haha”. Aku menertawakan diriku sendiri yang bingung akan perasaanku, aku benar – benar tidak bisa membuangnya dari otakku.

Perhatianku lalu beralih pada ponselku yang tadi kulempar begitu saja di atas kasur, aku lalu mengambilnya.

“Yeoboseyo~, Ne Jonghyun Oppa”. Suaranya terdengar begitu manis saat mengangkat teleponku, membuatku tersenyum.

“Ne yeoboseyo. Min Ji’ya, kau sibuk? Atau setelah ini kau ada jadwal kuliah?”.

“Ani Oppa, hari ini aku libur. Geunde wae?”.

“Ah geure? Geureom, hari ini kita.. kencan, eottae?”. Tanyaku sedikit ragu, aku takut kalau ia akan menolak ajakanku. Aku sangat gugup dan bahkan tidak percaya kalau aku sanggup mengatakan itu, aku takut ia akan menolak ajakanku.

“Ne? Kencan?”. Sahutnya terkejut. “O.. Geuge..”. “Arasseo, gwaenchanha. Kalau kau tidak bisa..”. “Anya Oppa, aku bisa”. Seketika aku langsung membelalakkan mataku saat mendengar jawabannya, tak kusangka ia menerima ajakanku. Jujur aku sangat senang.

“Jinjjaro? Geureom aku akan menjemputmu sekarang, ne? jekeuman gidaryeo”.

“Eung~”.

Aku mengemudikan mobil sedan putihku dengan kecepatan sedang melintasi jalan tol kota Seoul yang terasa lengan itu. Di sepanjang perjalanan aku selalu selalu tersenyum sendiri, aku bingung bagaimana harus mengekspresikan kebahagianku saat itu.

“Ting – tong~”. Aku memencet bel pintu rumahnya dengan penuh semangat, aku tidak sabar untuk melihat sosok indah yang akan membukakan pintu itu untukku.

“Jonghyun Oppa~, Annyeong~~”. Seketika senyum diwajahku berkembang saat ia membuka pintu rumahnya, ia nampak terlihat begitu cantik dengan dress selututnya yang berwarna hijau segar. Kakinya yang jenjang di hiasinya dengan wedges berwarna senada dengan dressnya dan rambut ikal sebahunya yang dibiarkan terurai, sangat cantik.

“Ne annyeong~”. Sahutku sumringah. “Neon neomu yeppeo Min Ji’ya”.

“Uuu~, jinjja? Oppa do neomu neomu jalsaenggyeosseo, hehehe!”. Sahutnya dengan nada usil. “Aku suka topi yang Oppa pakai, Oppa terlihat benar – benar seperti seniman. Ditambah lagi Oppa pasti membawa gitar kesayangan Oppa itu, geureohji?”. Ucapnya ceria seraya menatapku dengan senyuman manisnya.

“Ahahaha, ne maja maja. Geureom, kaja?”.

Aku yang sembari menyandang tas gitarku membawanya berjalan – jalan santai di pinggir sungai Han, salah satu tempat romantis di Kota Seoul. Cukup lama kami tidak saling bicara karena menikmati wajah cantik dan bersih sungai Han terhampar luas itu, saat kami berjalan aku mencoba memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Awalnya kupikir ia akan melepaskan genggamanku, tapi ternyata ia membiarkannya. Ia hanya tersipu saat aku menggenggam tangannya, wajahnya terlihat sangat manis ketika tersipu seperti itu.

“Jeogi anja, eottae?”. Aku kemudian melihat ada sebuah kursi kayu yang kosong.

“Ah, ne. Joha”. Sahutnya menganggukkan kepala seraya tersenyum. “Neomu areumdawo~, aku sangat suka dengan pemandangan ini”. Ucapnya ketika kami duduk di kursi, ia memandang ke arah sungai Han sembari menyunggingkan senyumannya yang sangat aku suka itu.

“Geunde, Oppa~”. Ia kemudian menatapku yang duduk di sampingnya seraya masih tersenyum manis.

“Eung? Ne?”. Sahutku membalas senyumannya.

“Sasireun~, ini adalah pertama kalinya aku berkencan dengan seorang namja”. Ucapnya dengan wajah yang memerah seraya langsung menundukkan kepalanya malu – malu, tingkahnya yang terkesan malu – malu itu terlihat manis dimataku, bahkan sangat manis.

“Jinjja?”. Tanyaku meyakinkan. “Geureom na do. Ini juga pertama kalinya aku mengajak berkencan seorang yeoja”. Aku menatap dalam matanya, tanpa sadar aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Ia yang melihatku mencoba mendekatkan wajah sempat memundurkan wajahnya namun kutahan dengan tanganku yang memegang lembut lehernya, aku semakin mendekatkan wajahku dan perlahan kulihat ia mulai menutup kedua matanya seakan mengerti hingga akhirnya bibir kami saling bersentuhan. Aku mengusap lembut bibirnya dengan bibirku, bisa kurasakan bibir mungilnya yang cantik itu menerima ciumanku dengan begitu hangat. Sesaat kemudian akupun dengan perlahan melepaskan ciumanku seraya menatap dalam matanya yang perlahan terbuka.

“Min Ji’ya, nan neol saranghae. Maukah kau mencintaiku juga?”. Aku mengumpulkan tenaga dan keberanianku, dengan menatap dalam matanya aku mengutarakan perasaanku padanya.

“Cup~”. Mataku seketika langsung terbelalak saat ia tiba – tiba mendekatkan lagi wajahnya padaku dan langsung mengecup bibirku.

“Omo!”. Pekikku terkejut, seketika wajahku langsung memerah saat mendapat perlakuannya.

“Oppa~, itu tadi adalah jawabanku”. Ucapnya tersenyum manis menatapku.

“Geuraeseo, ije uri.. saranghae?”. Tanyaku menatapnya dengan wajah sedikit ragu seraya memberikannya senyuman.

“Euung, bagaimana kalau jawabanku seperti ini. Ne, chagiya~”. Dengan senyum sumringah ia mengatakan kata chagi secara langsung padaku, seketika itu juga senyuman cerah langsung terpancar di wajahku. Aku benar – benar bahagia karena ia mau menerima perasaan sukaku padanya.

“Gomawo chagi~!!! saranghae!!!”. Pekikku seraya memeluknya. “Omo! Oppa~, tidak perlu berteriak begitu”.

“Wae wae wae? Aku tetap ingin melakukannya. Ah matta, biar aku melakukannya, ne? aku akan berteriak kalau aku mencintaimu”. Ucapku memasang tampang jahil, membuatnya langsung membelalakkan mata bulatnya.

“NAN MIN JI REUL SARANGHAEYO~~!!! NAN MIN JI REUL JINJJA SARANGHAEYO~~!!! YA, NEO~! MIN JI’YA~, NAN NEOL SARANGHAEYO~!!! ALGETTJYO? SARANGHANDAGO~~!!!”. Akupun melakukan aksi jahilku dengan berteriak mengarah ke sungai Han, kulihat orang – orang yang berjalan di sekitar nampak menertawakan ulah jahilku.

“Omo! Oppa~~!!! Mwohaneun geoya??!! Aigoo~~”. Min Ji yang melihatku seketika malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, membuatku tertawa lepas.

“Hahahahaha~!!! Nan neol saranghae chagiya”.

Flashback end.

“Jinjja minmang, hahahaha! Yeobo~, apa kau tahu waktu kau berteriak seperti aku malu sekali sampai – sampai aku harus menutupi wajahku”. Ucapnya yang mencubit gemas pipiku, aku membalasnya dengan mencium kilat bibirnya.

“Hahahahaha!!! Waktu itu aku belum mengenal yang namanya rasa malu, karena waktu aku masih seorang trainee di SM Entertainment. Berbeda dengan sekarang, keluar rumah sekedar untuk berjalan santai saja aku sangat sulit. Sudah sangat banyak orang yang mengenaliku”. Sahutku yang kembali menyandarkan kepalanya ke dadaku.

“Eeuum~ geunde, jika waktu itu kau sudah menjadi penyanyi solo terkenal seperti sekarang ini.. kau masih mau melakukannya? Berteriak pada semua orang kalau kau mencintaiku?”. Tanyanya menatapku penuh manja.

“Dangyeonghaji~, aku akan melakukan apapun itu demi kau yeobo. Karena kau adalah yeoja kedua yang paling aku cintai di dunia ini”. Sahutku menatapnya lembut seraya mengecup keningnya.

“Yeoja kedua? Museun soriya?”.

“Geureom~, yeoja pertama adalah Yoon Seo. Hahahaha!”. Jawabku dengan jahil seraya langsung tertawa lepas. “Nan neol jeongmal saranghae yeobo. Karena alasan itulah kenapa aku pernah hampir gila saat kita pernah putus hanya karena kesalah pahaman. Geunde, sekarang aku sudah tidak takut lagi karena sekarang dan untuk selamanya kau sudah menjadi milikku seutuhnya geureohji yeobo?”. Ucapku mengelus lembut wajah cantiknya.

“Eung~”. Sahutnya mengangguk manja.

“Ting – tong~”.

“Omo! Nuguni?”. Tiba – tiba suara bel rumahku berbunyi, “mungkin ada tamu yang datang” pikirku. Aku dan Min Ji pun langsung beranjak dari halaman belakang dan masuk ke rumah seraya membukakan pintu.

“Oppa~~!!! Na wasseo~~ hahaha”.

“Chagiya~~!!! Aaaa~ dongsaeng’a”. Aku langsung sumringah saat mendapati orang yang datang adalah Yoon Seo, malaikat manjaku yang sangat aku rindukan. Seakan tak ingin membuang waktu aku langsung menarik tubuhnya dan membenamkannya dalam pelukanku.

“Omo chagiya~ Oppaneun neol jeongmal bogosipheosseo chagiya~~”. Ucapku seraya mengeratkan pelukan. “Geunde wae kau tidak menelepon Oppa kalau kau tiba di Seoul hari ini? Oppa bisa menjemputmu chagi”. ucapku lagi seraya melepaskan pelukanku.

“Anya Hyeong~, menjemput Yoon Seo sekarang adalah tugasku bukan Hyeong lagi”. Aku sedikit terkejut ketika mendengar suara seorang namja yang menyambar ucapanku dengan tiba – tiba.

“Ya, Minho’ya~! Ahahahaha~!!! Kau membuatku kaget, dasar”. Sahutku seraya langsung mengacak rambutnya dan tertawa.

“Min Ji Ssi annyeong~”. Yoon Seo dengan lembut langsung menyapa istriku yang berdiri disampingku. “Ne, annyeong~”. Sahut Min Ji ramah. “Yeobo, sampai kapan kau akan membiarkan mereka berdiri diluar begitu?”.

“Ahaha, ne maja. Ayo masuk chagi, Minho’ya kau boleh pergi”. Sahutku cuek dengan nada usil.

“Mwo?! Ya Hyeong~ neo..”. Minho yang saat itu aku jahili hanya bisa membelalakkan matanya yang besar, membuat kami semua tertawa.

“Arasseo arasseo~, geureom kaja”.

Hari itu rasanya menjadi hari yang sangat indah, di saat aku dan Yoon Seo harus menerima kenyataan orang tua kami yang meninggal dunia di saat usia kami masih remaja, perlahan namun pasti Tuhan memberikanku dan Yoon Seo keluarga kecil yang baru dan akhir cerita yang begitu cantik. Untuk segalanya, jeongmal gamsahamnida. [Jonghyun]

END.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s