No Matter What, The Important Thing is “I LOVE YOU”

No Matter What, The Important Thing is I Love You Poster

Title : No Matter What, The Important Thing is “I LOVE YOU”

Inspired By : SHINee

Cast:

Jonghyun SHINee as Jonghyun SHINee

Han Chae Gyeong (Original Character)

Kim Yoon Seo (Original Character)

SHINee member

Genre : Romantic

Length : One Shoot

Rating : PG – 17

Created By : Ayin Perdana

___________________________________________________________________

Huuuuffft~!!! Finally, I can reach my deadline to write a new short fan fiction~ hehehe ^^

Well, I’m so sorry if this fanfic is not too sweet but I do my best to make it. Happy reading and hope you guys enjoy ^^

Jonghyun P.O.V

“Ya~!!! mwohaneun jisia~?! Neo paboya?!”. Lagi – lagi aku mendapatkan cemoohan yang sangat menyakitkan itu.

“Neo, jinjja paboni? Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah mendekati putriku! Ka~! Kojo~!”. Dengan pandangan yang penuh emosi itu dia mengusirku dari rumahnya seraya mendorong tubuhku ke ambang pintu.

“Ahjossi, geunde..”. “Mwol?! Apa lagi yang ingin kau katakan?!”. Dia menatapku dengan membelalakkan matanya, kulihat tangannya seakan ingin menampar wajahku.

“Jeoneun.. Aku sangat mencintai Chae Gyeong. Aku benar – benar mencintainya dengan setulus hatiku”. Aku mencoba memelas dengan namja paruh baya ini, betapa inginnya aku meyakinkannya bahwa cintaku untuk putrinya benar – benar tulus dan tanpa syarat apapun.

“Appa~ Appa~, ireohke hajimayo Appa~, jebalyo. Jonghyun Oppa bukan seperti namja yang Appa pikirkan..”. Kulihat yeoja yang aku cintai nampak memohon dan berlutut sembari meneteskan air mata ke wajahnya yang cantik, melihatnya meneteskan air mata demi membelaku terus terang itu membuatku sakit.

“Ya~! Chae Gyeong’a~, masuk ke kamarmu! Ppalli!!!”.

“Appa~, geunde..”. “Nagarago~!!!”.

“Masuklah chagiya, nan gwaenchanha”. Sahutku seraya mengulaskan senyuman yang ku paksakan.

“Oppa~, Jonghyun Oppa~”. Ia memandangku pekat, tanpa sengaja ia kembali meneteskan air matanya. Sangat ingin aku menghapuskan air matanya yang menetes itu dengan tanganku sendiri andai aku bisa.

“Gwaenchandago chagi”. Sahutku lembut. “Masuklah, turuti perkataan Appamu”. Ia yang tak mampu lagi untuk berbuat apa – apa akhirnya pergi ke dalam kamarnya.

“Arasseoyo ahjossi, jeoneun kalkke”. Aku menundukkan kepalaku seraya pergi dari rumah itu dengan perasaan hatiku yang sangat sakit.

“Hhhhh~~”. Aku menarik nafas panjang seraya menghembuskannya, aku memandangi wajah cantik kota Seoul saat malam di atas beranda rumahku. Pandangan yang sangat indah, namun belum mampu untuk menyembuhkan sakitku.

“Oppa~”. Telingaku mendapati alunan suara yang manja dan lembut. Yoon Seo, yeodongsaengku satu – satunya dengan manja ia memeluk tubuhku dari belakang. Akupun membalikkan tubuhku menghadapnya seraya merangkul pinggangnya dengan lembut dan mengulas senyuman hangat.

“Chagiya~”. Sapaku seraya mengecup keningnya. “Ada apa chagi?”.

“Anya, geunyang~ aku ingin bermanja dengan Oppa ku yang tampan ini, hehehe”. Sahutnya manja seraya mengerucutkan bibirnya padaku.

“Aigoo~, naeui yeppeun dongsaeng. Muach”. Aku mencium pipinya dengan gemas seraya membenamkannya ke pelukanku.

“Waeyo Oppa? Ku lihat Oppa mala mini begitu melankolis”. Ucapnya lembut sembari bermanja di pelukanku.

“Oppa hanya ingin memelukmu saja. Biarkan Oppa memelukmu, ne? Memelukmu seperti ini membuat perasaan Oppa lebih tenang chagi”. Aku memeluk tubuh mungilnya dengan erat, sesekali aku memberikan ciumanku ke puncak kepala dan keningnya.

“Oppa~, waeyo? Oppa sedang ada masalah? Oppa~, Oppa membuatku khawatir”. Ia menengadahkan wajahnya seraya menatapku dengan tatapan cemasnya itu, aku membalasnya dengan senyuman kecil seraya membelai rambutnya.

“Chagiya, apa Oppa ini adalah seorang nappeun namja?”. Tanyaku lirih dan menatap dalam matanya.

“Mwo? Oppa, mworago haneun geoya~? Kenapa Oppa bisa bertanya seperti itu? Naeui Oppaneun nappeun namja anira~! Siapa yang berpikir kalau Oppa adalah nappeun namja?”. Ia menjawab pertanyaanku dengan nada sedikit emosi dan membelalakan mata indahnya itu, aku meresponnya dengan senyuman.

“Anya chagiya~, aigoo yeodongsaeng Oppa langsung naik darah. Hehehe”. Aku mencubit ringan pipinya. “Oppa hanya tidak mengerti, apa yang membuat Appa nya Chae Gyeong tidak menyukai Oppa”. Sahutku lirih seraya tersenyum lirih dan menundukkan kepala.

“Oppa~”. Dengan lembut ia mengangkat daguku hingga kedua mata kami bertemu. “Karena Oppa adalah seorang halyu star”. Sahutnya seraya tersenyum kecil.

“Mwo? Geunyang..”. “Ne, arasseo. Oppa pasti bingung kan? Maksudku, Oppa adalah seorang personil boyband terkenal di Korea. SHINee bling – bling Jonghyun, geuge Oppayeyo. Mungkin itu yang membuat Appa Chae Gyeong ragu dengan Oppa”. Ia memotong kalimatku, ucapannya terdengar begitu lembut namun masih belum bisa ku mengerti.

“Hanya karena itu kah? Salahkah Oppa kalau Oppa adalah seorang SHINee? Meskipun diluar sana Oppa menjelma menjadi SHINee, Oppa tetap seorang namja biasa yang ingin mencintai seorang yeoja yang Oppa cintai. Oppa juga ingin merasakan indahnya di cintai oleh seorang yeoja yang juga mencintai Oppa chagi”. Aku merespon ucapannya dengan sedikit sungut dan merengutkan keningku menatapnya.

“Oppa tidak pernah main – main, Oppa benar – benar mencintai Chae Gyeong dengan tulus. Oppa mencintainya tanpa syarat, Oppa tidak perduli dia itu yeoja yang sempurna atau tidak geunde Oppaneun geunyeo jeongmal saranghae chagiya~”.

“Arayo~. Kalau begitu, Oppa harus bisa membuktikan semua perkataan Oppa. Buat Appa Chae Gyeong yakin bahwa Oppa memang benar – benar mencintai Chae Gyeong, seperti yang Minho lakukan dengan Oppa dulu. Oppa ingat kegigihan Minho yang sangat ingin meyakinkan Oppa kalau dia benar – benar mencintaiku dan berjanji akan memperlakukanku dengan baik kan? Lakukan hal yang sama dengan Appa Chae Gyeong”. Dengan sabar ia mengahadapiku yang sedang emosi, ia juga memberikanku seulas senyuman manis yang mampu membuatku meredam emosiku kembali.

“Geureyo? Arasseo, gomawo chagi. Kau memang selalu bisa membuat Oppa mu ini tenang, jeongmal gomawo”. Sahutku membenamkannya ke pelukanku, ia membalas pelukanku dengan manja.

Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang di jalan raya kota Seoul, nampak jalan raya di kota Seoul ini belum terlalu padat karena masih pagi. Tak lama kemudian aku sampai di depan pagar rumah Chae Gyeong, aku sangat ingin menemuinya. Karena tidak memungkinkan untukku masuk ke rumahnya, akupun hanya menunggunya keluar rumah dari dalam mobil.

“Oppa~, maaf sudah lama menunggu”. Sosoknya yang sangat cantik itu langsung masuk ke mobilku dengan cepat seraya mengembangkan senyuman manisnya untukku.

“Anya chagiya, gwaenchanha. Jika yang kutunggu itu adalah kau, aku rela meski harus menunggu sampai samudera di dunia ini mongering”. Sahutku tersenyum seraya mencium kilat bibirnya. Geureom jigeum kaja, ne?”.

“Eung”. Sahutnya menganggukkan kepala dengan manja.

“Oppa~”. Ia memecahkan keheningan di mobilku.

“Ne, chagi?”.

“Uri eodiga?”. Tanyanya yang menatapku polos. “Uri? Aku ingin mengajakmu menghirup udara pagi yang segar di atas bukit”. Ucapku menatapnya sekilas dengan seulas senyuman.

“Ne? bukit?”. Tanyanya lagi dengan wajah sedikit bingung.

“Ne, lihat saja nanti chagi. Kau pasti akan suka”. Sahutku tersenyum seraya melajukan mobilku.

“Areumdawo~”. Wajahnya yang cantik itu memancarkan senyuman secerah matahari saat aku dan Chae Gyeong telah sampai di atas bukit kecil di Seoul, dan seakan mengerti Seoul pun menyuguhkan pemandangannya yang begitu cantik di pagi itu saat dilihat dari atas bukit ini.

“Haengbukhae?”. Tanyaku seraya memeluk hangat tubuhnya dari belakang.

“Eung~”. Sahutnya manja. “Oppa~, aku sangat menyukai pemandangan ini. Jinjja areumdawo”. Ia mengulaskan senyuman manis di wajahnya seraya dengan manja menyandarkan kepalanya di dadaku.

“Nan neol jeongmal saranghae chagiya~”. Aku membalikkan tubuhnya menghadapku seraya merangkul pinggangnya. “Na do Oppa saranghae”.

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya hingga aku merasakan lembut bibirnya menyentuh bibirku. Dengan lembut ia mengusap bibirku dengan bibirnya, aku membalasnya tak kalah lembut. Aku hanya ingin menunjukkan cintaku padanya lewat ciuman hangat ini, aku ingin menegaskan bahwa aku sangat mencintainya.

Author P.O.V

“JONGHYUN SHINEE TERTANGKAP TENGAH BERCIUMAN DENGAN SEORANG YEOJA YANG DIDUGA SEBAGAI TEMAN KENCANNYA”.

“JONGHYUN SHINEE MEMILIKI KEKASIH, PHOTONYA KETIKA TENGAH BERCIUMAN TERSEBAR DI DUNIA MAYA”.

“DI TENGAH SCHEDULE COMEBACK SHINEE, JONGHYUN KEMBALI TERJERAT SCANDAL MENJALIN KASIH DENGAN YEOJA TAK DIKENAL”.

“Mwoya ige~!!! Chae Gyeong’a~! Apa maksud dari semua artikel yang ada di majalah – majalah dan surat kabar ini?!”. Chae Gyeong hanya bisa menangisi eomma nya yang emosi saat melihat artikel – artikel yang ada di majalah infotainment mengenai dirinya dan Jonghyun.

“Eomma~, aku bisa menjelaskan semua ini. Geuge..”. “Mwoya?! Geuge mwoya?! O~?! Geuge mwonyago~?! Chae Gyeong’a neo michyeosseo?! Apa yang membuatmu sampai bisa sebodoh ini?! Kau tidak lihat ini, bahkan mereka membuat photomu yang tengah berciuman menjadi cover majalah!!! Ini sangat konyol~!”. Amarah eomma Chae Gyeong makin menjadi – jadi sampai eomma Chae Gyeong menghempaskan majalah yang ada ditangannya ke meja di hadapan Chae Gyeong.

“Karena aku mencintainya Eomma~. Aku sangat mencintainya~!”. Pekik Chae Gyeong sambil terisak.

“Mworago? Kau bilang kau sangat mencintainya? Chae Gyeong’a, jangan menjadi seorang yeoja yang bodoh! Dia itu seorang artis, banyak yeoja – yeoja yang mengelilinginya. Coba kau pikir, apa dia benar – benar mencintaimu? Ha?!”.

“Aku percaya dengan Jonghyun Oppa, Eomma. Sampai kapanpun aku akan tetap memilih Jonghyun Oppa, dan aku yakin akan keputusanku ini!”.

Jonghyun P.O.V

Hyeong~~~!!! Jonghyunie Hyeong~! Onew Hyeong~! Minho Hyeong, Key Hyeong~~!!!”. Ku dengar seperti suara Taemin yang berteriak, saat aku membalikkan badanku mencari arah asal suara, kulihat memang nampak Taemin yang tengah berlari sembari memegangi sesuatu ditangannya mendatangi kami berempat yang tengah duduk di ruangan kami di SM Building.

“Ya~, Taemin’a~. Neo mwoya~?! Kenapa jadi berteriak begitu?”. Gerutu Key begitu Taemin sampai dengan nafasnya yang terengah – engah.

“Igeo bwa”. Taemin yang masih bernafas terengah – engah menyodorkan sebuah majalah padaku. “Berita di majalah itu penuh dengan skandalmu Hyeong”.

“Omo! Mwoya ige?!”. Pekik Minho seraya membelalakkan mata.

“Photo ini rekayasa atau sungguhan Hyeong?”. Sahut Key menyela, aku hanya bisa diam sembari menatapnya datar.

“Jjong’ah, benarkah ini? Photo ini bukan rekayasa?”. Dengan sikapnya yang selalu tenang, Onew Hyeong mencoba menanyaiku.

“Ne”. Sahutku singkat seraya menundukkan kepala.

“MWO~?! Jinjjaro?!”. Pekik Minho, Key dan Taemin bersamaan seakan tidak percaya dengan jawaban singkatku.

“Photo itu mungkin diambil oleh paparazzi beberapa hari lalu saat aku mengajak yeoja itu berkencan”. Sahutku datar seraya menghela nafas. Rasa marah, bingung, semua berkecamuk di dalam kepalaku begitu melihat artikel majalah yang memuat photoku dan Chae Gyeong yang tengah berciuman, bahkan dengan tega mereka menyebutnya sebagai photo skandal.

“Geureom, geu yeojaga nugungayo? Nuguya Jjong’ah?”. Onew Hyeong masih berusaha bersikap tenang menanyaiku seraya mengambil posisi duduk di sampingku.

“Geunyeoneun, Chae Gyeong’iya. Han Chae Gyeong, dia adalah yeoja yang aku cintai Hyeong. Dia yeoja chinguku”. Sahutku datar dan masih menundukkan kepala.

“Han Chae Gyeong?”. Tanya Minho penasaran. “Jamkanman, jangan – jangan yeoja ini adalah yeoja yang diceritakan oleh Yoon Seo padaku”.

“A~, yeodongsaengku sudah menceritakannya padamu Minho?”. Sahutku yang mulai menengadahkan kembali wajahku menatap ke empat member SHINee lainnya.

“Ne Hyeong, Yoon Seo sudah menceritakannya padaku. Hubunganmu tidak mendapatkan persetujuan bumeonim Chae Gyeong kan?”.

“Ne maja”. Sahutku seraya menghela nafas panjang. “Eotteohkaji?”. Tanyaku lirih dengan ke empat member SHINee, mereka ber empat nampak iba melihatku yang sedang kebingungan.

“Jadilah seorang namja Oppa. Jadilah seorang Kim Jonghyun yang tangguh”. Tiba – tiba aku mendengar suara seorang yeoja yang tidak asing di telingaku, akupun langsung melihat ke arah asal suara itu.

“Yoon Seo’a~? Chagiya neo..”. “Setelah aku membaca artikel itu aku langsung mengkhawatirkan Oppa, makanya aku langsung kemari”. Sahutnya lembut memotong ucapakanku seraya mendekatiku dan mencium keningku.

“Chagiya, kenapa kau tidak menelponku? Aku bisa menjemputmu chagi~”. Kulihat Minho nampak sumringah dengan kedatangan Yoon Seo, ia pun seraya menghampiri Yoon Seo dan mencium kilat bibir manisnya. Terus terang aku iri dengan hubungan mereka yang berjalan mulus, bahkan publik pun tidak menentang hubungan mereka, aku ingin menjalin hubungan indah seperti itu.

“Mianhae chagi, tadi aku buru – buru. Kalau begitu nanti kau bisa mengantarku pulang, ne?”. Sahut Yoon Seo yang terdengar manja pada Minho, membuatku tersenyum melihat tingkahnya.

“Dangyeonghaji chagiya”.

“Oppa, temui Chae Gyeong sekarang. Saat ini ia pasti dimarahi oleh eomma dan appanya mengenai artikel ini”. Yoon Seo berlutut dihadapanku seraya membelai lembut wajahku dengan kedua tangannya. “Giokhae Oppa, Jonghyun Oppa ku adalah seorang namja yang tangguh meski telah ditindas berkali – kali oleh artikel menyakitkan seperti ini”. Ucapnya seraya memeluk tubuhku, bisa kurasakan aroma dan hangat tubuhnya yang selalu bisa menenangkan pikiranku.

“Ne chagiya, dongsaeng’a gomawo”.

“Jonghyun Oppa~?! Oppa, kenapa Oppa kesini?”. Chae Gyeong yang membukakan pintu nampak terkejut mendapatiku yang sudah ada di depan pintu rumahnya, dengan cemas ia melihat sekilas ke dalam rumahnya lalu keluar dan menutup pintu.

“Oppa~, kenapa Oppa kesini? Sekarang kondisi di rumahku sedang tidak baik Oppa, Eomma dan Appaku sedang marah besar saat membaca..”. Seketika kalimatnya terhenti, ia menatapku sejenak dengan tatapan sedih seraya langsung menundukkan wajahnya kemudian menangis.

“Chagiya, aku tidak perduli apa yang akan orang tuamu lakukan padaku. Meskipun mereka akan melempariku dengan batu besar sekalipun aku tidak akan menghindar asalkan itu bisa membuatku mendapatkan persetujuan dari orang tuamu”. Ucapku tegas seraya mengangkat dagunya perlahan agar mataku dan matanya saling bertemu, aku menatap dalam matanya seraya mencium keningnya dengan lembut.

“Chagiya, dengarkan aku baik – baik. Kau adalah yeoja yang sangat aku cintai di muka bumi ini, kau adalah segalanya bagiku. Aku tidak perduli sekalipun bumi ini menolak hubungan kita aku akan tetap mencintaimu. Aku tidak perduli sekalipun eomma mu tidak menyukai perasaanku terhadapmu, appa mu juga melarangku untuk menjalin hubungan denganmu, aku sama sekali tidak perduli dan tidak takut. Apapun yang terjadi aku akan tetap mengatakan pada mereka bahwa aku benar – benar mencintaimu, aku sangat menginginkanmu chagi”. Tuturku panjang lebar yang menatap dalam matanya sembari memegang bahunya dengan kedua tanganku.

“Oppa~”.

“Izinkan aku masuk, aku akan bicara mengenai semuanya dengan eomma dan appa mu”. Sahutku tersenyum kecil seraya menghapuskan air matanya yang menetes dengan kedua ibu jariku.

“Oppa, geunde..”. “Gwaenchanhdago chagiya~, naneul mido. Ne?”. Sahutku meyakinkannya dengan member seulas senyuman, ia pun menganggukkan perlahan kepalanya dan membawaku masuk ke rumahnya.

“PLAAAAAAK!!!”. Sebuah tamparan keras mendarat diwajahku saat aku baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah itu, dengan penuh amarah appa nya Chae Gyeong memandangku sinis.

“Untuk apa kau kemari?! Belum puas kau mempermainkan putriku seperti yang ada di artikel surat kabar ini?! Ha?!”. Pekiknya dengan keras. “Neo jinjja nappeun namja! Kau masih saja memberanikan dirimu menginjakkan kaki di rumah ini?! Kojo!!”. Eomma Chae Gyeong yang juga ada saat itu turut mencoba mendorong tubuhku ke arah pintu namun kutahan dengan sekuat tenagaku.

“Appa~!! Eomma~!! Hajimayo jebalyo~!!!”. Chae Gyeong berusaha melindungiku dengan merangkul tubuhku sembari menangis dengan kencang, melihatnya yang berusaha melindungiku bahkan meneteskan air matanya untukku benar – benar membuatku sakit. Aku tidak rela melihat yeoja yang sangat kucintai ini menangis.

“Ahjossi, Ahjumma, aku mohon berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini. Setelah aku menjelaskan semua ini, sekalipun ahjossi dan ahjumma ingin melempariku dengan batu aku tidak akan menghindar”. Sahutku tegas dan memberanikan diri untuk betatap muka dengan mereka, perlahan aku melepaskan rangkulan Chae Gyeong dan meminggirkannya ke sampingku.

“Mengenai artikel yang ada di majalah dan surat kabar itu, aku benar – benar menyesal karena tidak berhati – hati dan aku benar – benar minta maaf untuk semua itu. Tapi aku mohon percayalah padaku, aku sama sekali tidak pernah mempermainkan Chae Gyeong, berniat saja aku tidak pernah. Artikel itu menyeruak tanpa sepengetahuanku dan itu adalah ulah dari oknum yang tidak bertanggung jawab, tapi aku berjanji aku akan menyelesaikan semuanya dan menyakinkan bahwa orang – orang yang menerbitkan berita ini akan mendapat ganjaran. Geurigo, ada yang ingin aku ungkapkan dengan Ahjossi dan Ahjumma”. Sejenak aku diam dan sedikit mengambil nafas kemudian mulai angkat bicara kembali.

“Aku, Kim Jonghyun. Aku benar – benar mencintai Han Chae Gyeong dengan segenap rasa dihatiku. Aku mohon jangan lihat aku sebagai seorang Jonghyun SHINee, tapi lihatlah diriku sebagai seorang namja biasa yang memiliki rasa cinta dihatinya untuk diberikan seutuhnya pada putrimu”. Kulihat appa dan eomma Chae Gyeong yang mendengarkanku masih melihatku dengan tatapan dingin, sedang Chae Gyeong hanya bisa menangis disampingku. Akupun kemudian berlutut di depan Appa dan Eomma Chae Gyeong.

“Oppa, mwohaneun geoya? Kenapa Oppa berlutut seperti itu?”. Tanya Chae Gyeong lirih. “Gwaenchanha chagiya, aku harus melakukan ini”. Sahutku memalingkan wajahku sekilas menghadapnya.

“Ahjossi.. geurigo ahjumma. Jon Han Chae Gyeongeul jeongmal saranghamnida”. Ucapku seraya menundukkan kepala. “Aku mencintai Chae Gyeong melebihi apapun yang kupunya di muka bumi ini. Sejak pertama kali aku bertemu dengan Chae Gyeong, Chae Gyeong membuktikan bahwa dirinya berbeda dengan yeoja – yeoja yang selalu mengelilingiku. Ku akui diluar sana sangat banyak yeoja yang mengelilingiku, tapi mereka hanya melihatku sebagai seorang Jonghyun SHINee. Geunde, Chae Gyeongi ga.. dia tidak melihatku seperti itu. Dia melihatku sebagai seorang namja biasa, sebagai seorang Kim Jonghyun. Dia adalah yeoja yang mampu membuatku merasa nyaman saat berada disisinya, dia adalah yeoja yang benar – benar memahamiku melebihi dari diriku sendiri, dan sekarang ini.. sekarang ini.. aku benar – benar tidak bisa jika Chae Gyeong tidak ada disisiku. Geuraesoyo, aku mohon izinkan aku mencintai putrimu, izinkan aku mencintai Chae Gyeong”. Tanpa sadar aku meneteskan air mataku dan mulai terisak. Aku mengakhiri kalimatku dengan bersujud dihadapan orang tua Chae Gyeong, dalam sujudku aku menangis. Bisa kudengar suara Chae Gyeong yang begitu lirih memanggil – manggil namaku sembari terisak.

“Jonghyun’a.. bangunlah adeul”. Tiba – tiba kudengar seperti suara seorang ibu yang begitu hangat, aku juga merasakan seperti ada tangan yang mengusap lembut puncak kepalaku. Perlahan aku mengangkat badan dan menengadahkan kepalaku, aku tak percaya saat menengadahkan kepalaku aku mendapati sebuah senyuman yang sangat hangat dari Eomma dan Appa Chae Gyeong. Dengan tatapanku yang masih tidak menyangka itu aku berdiri perlahan.

Kedua orang tua Chae Gyeong saling bertatapan kemudian terenyum kecil satu sama lain, sesaat kemudian mereka kembali menatapku.

“Kau benar – benar mencintai putriku, Jonghyun’a?”. Tanya Appa Chae Gyeong padaku, suaranya yang awalnya selalu keras kini terdengar lebih tenang ditelingaku.

“Ne~”. Sahutku menganggukan kepala sembari masih terisak.

“Arasseo.. arasseo.. geureom uljima, kami menyetujui hubungan kalian”. Aku langsung menegakkan kepalaku untuk menatap orang tua Chae Gyeong seraya membelalakkan mataku tak percaya.

“Ne?”. Tanyaku meyakinkan. “Geunde, kau harus membuktikan ucapanmu Jonghyun’a. Ucapanmu bahwa kau mencintai putriku”.

Senyuman sumringah seketika berkembang di wajahku dan Chae Gyeong, akhirnya orang tua Chae Gyeong menerima hubungan cintaku dengan Chae Gyeong. Melampiaskan rasa syukurku, aku seraya langsung bersujud lagi di hadapan orang tua Chae Gyeong dan kemudian kembali terisak, “Terima kasih Tuhan” ucapku dalam hati.

Malam itu aku kembali membawa Chae Gyeong pergi ke atas bukit untuk menikmati indahnya kota Seoul di malam hari yang berhiaskan gugusan bintang yang bertabur sangat cantik di atas langit Seoul.

“Oppa~, nan neomu haengbokhae”. Yeoja yang sangat aku cintai itu dengan manja menghambur ke pelukanku.

“Na do chagiya~”. Sahutku lembut seraya mencium keningnya. “Aku tidak tahu kenapa, geunde.. sekarang aku merasa bebas untuk memelukmu, mendekapmu untuk selalu di sisiku”.

Aku menghadapkan tubuh mungilnya ke hadapanku seraya merangkul pinggangnya. “Chae Gyeong’a, nan neol jeongmal saranghae”. Aku menatap dalam matanya seraya mendekatkan wajahku padanya, dan akhirnya kubiarkan bibirnya yang lembut itu menyentuh bibirku. Bisa kurasakan bibirnya yang menikmati bibirku lewat ciumannya yang hangat itu, dengan lembut bibirnya mengusap habis seluruh bagian bibirku. Aku yang juga ingin menuangkan rasa sayangku padanya pun mengeratkan pelukanku seraya membalas ciumannya tak kalah lembut.

“Saranghae Chae Gyeong’a”. Ucapku tersenyum kecil. “Na do saranghae”.

END.

4 thoughts on “No Matter What, The Important Thing is “I LOVE YOU”

      • Ahahahahaha.. 😀

        anyway thanks comment nya yah.. semoga suka dengan FF nya ^^

        ditunggu comment2 selanjutnya ^^
        FF eonni rata2 main cast nya Jjong loh, soalnya eonni memang author specialist romantic story..

        nah, di member SHINee yang punya sifat roamntis itu kan Jjong, jadi supaya feelnya dapet makanya eonni selalu make Jjong ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s