You were Born For Me (Unforgettable You – Sequel Part.2 END)

You Were Born For Me Cover by Eunroro13

Title : You were Born For Me (Unforgettable You – Sequel Part.2 END)

Inspired By : SHINee

OST:

Daniel Bedingfield – If You’re not The One

Christina Perri feat. Steve Kazee – A Thousand Years

Cast :

Jonghyun SHINee as Kim Jonghyun

Minho SHINee as Choi Minho

Kim Yoon Seo (Original Character)

Oh Min Ji (Original Character)

Genre : Sweet, Romantic

Length : One Shoot

Rating : PG – 17

Created By : Ayin Perdana

__________________________________________________________________

Woohoooooooooooo~!!! Yeoreobundeul~, finally I can finished the last sequel of Unforgettable You!!! Yeeaaaay ^^ I’m so happy when I write this story, hope you guys enjoy and happy reading ^^

“Jangan pernah berpikir bahwa kau tidak pantas untuk berdiri disampingku karena kau memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi milikku, dan aku sangat meyakininya”.

Jonghyun P.O.V

“Ne~, Ne~, jangan lupa tema pernikahan Oppa ku ini adalah sweet garden wedding party. Geureom, semua aku percayakan padamu Hye Jin’a. Besok aku akan ke lokasi untuk melihat – lihat sudah seberapa persen persiapan yang sedang dibuat”. Yoon Seo, yeodeongsaeng ku satu – satunya yang sangat aku cintai itu akhir – akhir ini tengah menikmati aktivitasnya yang di sebutnya sebagai W.O Special for Jonghyun. Memang terdengar agak lucu, tapi ia sendiri yang menginginkannya.

“Aigoo~, Oppaeui yeppun deongsaeng sepertinya sekarang sangat sibuk sampai – sampai melupakan Oppanya yang sangat merindukan tingkah manjanya”. Aku menghampirinya seraya memeluknya dari belakang yang sedari tadi sibuk menelepon di halaman belakang rumah.

“O~, Oppa joheun achim”. Ia hanya menyapaku begitu saja tanpa menghiraukan aku yang tengah memeluknya, ia bahkan masih asik dengan ponsel touchscreennya.

“Chagiya~, bahkan untuk sekedar memberikan morning kiss di pipi Oppa saja kau tidak punya waktu?”. Aku merebut ponsel yang ada ditangannya seraya menyembunyikannya ke saku belakang celanaku.

“Omo! Oppa~, aku harus mengirim email design garden wedding party pada Hye Jin”. Ia akhirnya memalingkan badannya menghadapku seraya berusaha mengambil ponselnya namun tak ku kembalikan.

“Oppa akan mengembalikan ponselmu, tapi dengan syarat”. Aku mengunci tubuhnya dengan merangkul pinggangnya seraya menempelkannya ke tubuhku.

“Oppa, aku sedang sibuk~. Mainnya nanti saja, ne? Sekarang kembalikan dulu ponselku”. Sahutnya seraya meraba – raba saku celanaku dengan tangan kanannya tapi langsung ku hentikan dengan menggenggamnya.

“Ani, Oppa tidak akan mengembalikannya. Cium Oppa dulu, ppoppo~”. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya agar ia bisa mencium pipiku seraya tersenyum padanya.

“Muach”. Seakan ingin segera mendapatkan ponselnya kembali, ia mencium kilat pipiku membuatku gemas dan ingin menjahilinya lebih lama.

“Anya~, geureonge anya~, terlalu sebentar chagi. hanbondo”.

“Aigoo~ Oppa~. Mmmmuuuaaaaaccch”. Ia kembali mencium pipiku dengan gemas dan kali ini agak lama, membuatku terkekeh melihat tingkahnya saat kujahili.

“Mana ponselku oppa~~~? Kembalikan~~~”. Dengan wajah manja ia merengek – rengek padaku meminta kembali ponselnya. “Arasseo arasseo~, ige”. Aku mengembalikan ponselnya yang kusembunyikan di saku belakang celanaku seraya dengan cepat kembali merangkul pinggangnya agar tubuhnya tetap menghadap padaku.

“Oppa~, kalau Oppa memelukku seperti ini aku tetap tidak bisa mengirim email~”.

“Chagiya~, Oppa merindukanmu. Apa tidak bisa kau menyisakan waktumu sedikit saja untuk sekedar  bermanja dengan Oppamu?”. Sahutku yang langsung mencium kilat pipinya.

“Oppa~, aku sedang sibuk untuk menyiapkan pesta pernikahan Oppa dan Min Ji yang akan berlangsung 3 bulan lagi”. Ucapnya dengan nada manja khasnya seraya mengerucutkan bibir mungilnya padaku.

“Oppa yang akan menikah kenapa kau yang sibuk? Hahahaha”. Sahutku berkata asal.

“Dangyeonghaji~, aku ingin segalanya terlihat sempurna untuk Oppa. Setidaknya aku ingin pesta pernikahan Oppa yang kurancangkan ini bisa menjadi hadiah pernikahan untuk Oppa dan Min Ji dariku”. Dengan wajahnya yang polos ia berterus terang padaku, membuatku mendaratkan ciumanku ke keningnya seraya membenamkan tubuhnya ke pelukanku.

“Chagiya~, bagi Oppa dengan adanya kau nanti di pesta pernikahan Oppa dan menjadi pendamping pengantin pria untuk Oppa itu sudah cukup”. Aku menatapnya lembut seraya mengecup puncak kepalanya.

“Ne Oppa. Geunde~, aku hanya ingin memberikan hadiah untuk Oppa. Aku ingin melihat Oppa tersenyum seperti pangeran tampan di hari pernikahan Oppa nanti”. Ucapnya seraya bermanja di pelukanku.

“Arasseo~, gomawo chagi”. Sahutku memeluknya hangat.

***

Aku mengemudikan mobilku melintasi jalan raya di Seoul, saat ini aku sedang dalam perjalan menuju butik pribadi Min Ji. Aku dan Min Ji akan fitting busana pengantin kami disana.

“Oppa~ wasseo”. Sosoknya yang hangat itu menyambutku dengan manja seraya mencium kilat pipiku.

“Ne, chagiya~”. Aku membalas ciuman yang didaratkannya di pipiku dengan mencium kilat bibirnya. “Kau hari ini terlihat sangat cantik yeobo”. Aku mengedipkan sebelah mataku untuk menggodanya.

“Mworago~, hahaha! Oppa, kita belum menikah tapi Oppa sudah memanggilku yeobo”. Ucapnya yang mencubit gemas pipiku.

“Wae? Kita juga sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, geureohji?”. Sahutku santai seraya memeluknya.

“Geunde, Oppa~ sampai kapan Oppa  ingin memelukku seperti ini di depan pintu? Oppa aku minta kesini untuk fitting busana pengantin”. Ucapnya yang memainkan kedua tangannya di pipiku.

“Sampai selamanya, hahahaha”. Sahutku asal. “Geunde wae? Aku masih ingin memeluk calon istriku yang cantik ini~”. Aku mengerucutkan bibirku manja ke wajahnya seraya mencium kilat bibirnya.

“Omo, Oppa~ jangan seperti ini, malu dengan karyawanku”. Kulihat wajahnya sedikit memerah dan ia menjadi salah tingkah, aku sangat suka melihatnya yang terkesan malu seperti ini. terkesan lucu dan cantik.

“Arasseo chagiya~, geureom kita fitting sekarang?”. Tanyaku. “Eung, ikut aku Oppa”. Ia menganggukkan kepalanya dengan manja seraya menuntun tanganku.

“Oppa~~ jalsaenggyeottjyo~~!!! Oppaneun neomu jalsaenggyeottjyo~~!!!”. Ia meneriakiku yang keluar dari fitting room saat mengenakan stelan jas pengantin rancangannya seraya berlari dan menghambur ke pelukanku.

“Omo, chagiya~ ahahaha!”. Dengan sigap aku langsung menangkapnya yang melompat ke arahku seraya memeluknya.

“Kau bilang aku tampan?”. Tanyaku menggodanya. “Eung~”. Sahutnya menganggukkan kepala dengan manja.

“Geureom, ige naya~. Kalau aku tidak tampan mana mungkin aku bisa mendapatkanmu chagi, hahahaha”. Aku kembali menggodanya dengan berkata asal seraya memasang tampang jahilku.

“Oppa~, mworago haneun geoya~? Eeiish..”. Ia menatapku sebal seraya mencubit pipiku, membuatku tertawa dan mencium kilat pipinya.

“Sekarang giliranmu chagi, aku ingin melihatmu mengenakan gaun pengantin juga”.

“Anya Oppa, aku tidak akan fitting bersama Oppa. Hari ini cukup Oppa saja yang fitting”.

“Mwo? Wae wae wae?”. Spontan aku terkejut seraya membelalakan mataku. “Ehhmm.. geuge, Yoon Seo yang menyuruhku begitu”.

“Mwo?! Yoon Seo?!”.

***

“Chagiya~, chagiya~, dongsaeng’a~”. Aku langsung memanggil – manggil malaikat manjaku yang cantik itu begitu aku membuka pintu rumahku. “Chagiya~, ya~ Kim Yoon Seo~, neo eodiya chagiya~?”. Aku melihat – lihat ke ruang tamu dan ruang tivi namun tak kudapati ia disana. “Mungkin dia ada di ruang kerjanya” pikirku. Akupun dengan cepat menaiki anak tangga rumahku seraya langsung menuju ruang kerjanya.

“Chagiya~, kau ada didalam?”. Tanyaku begitu membuka pintu ruang kerjanya. “A~, maja. Yeogine”. Dugaanku benar, ia ada di ruang kerjanya dan terlihat sibuk dengan laptopnya.

“Oppa, wasseo? Bagaimana fittingnya, jas pengantinnya cocok dengan Oppa?”. Tanyanya yang masih asik bertatapan dengan laptopnya.

“Chagiya~~, kenapa kau menyuruh Min Ji untuk tidak melakukan fitting dengan Oppa?”. Aku bertanya dengan nada sedikit sungut seraya menghampirinya dan duduk di tangan kursinya.

“Ah, geuge. Ne, maja. Aku yang menyuruhnya”. Sahutnya singkat tanpa menatapku, membuatku menjadi sedikit jengkel.

“Ya~, chagiya~~, cobalah untuk menatap Oppa saat sedang bicara. Aigoo chagiya, ini pertama kalinya sejak kau dilahirkan ke muka bumi kau membuat Oppa marah”. Ucapku memasang wajah merengut seperti anak kecil yang sedang merengek – rengek.

“Ne ne ne, arasseo~”. Sahutnya seraya menengadahkan wajahnya untuk menatapku yang duduk disampingnya. “Geureseo? Oppa ingin bicara apa?”.

“Mwo? Bicara apa? Chagiya~, jadi sejak tadi kau tidak mendengarkan Oppa? Omo, chagiya~~ apa laptop itu lebih menarik dan lebih tampan dari Oppa sehingga kau bahkan tidak mendengarkan Oppa yang sedari tadi berbicara padamu?”. Sungutku menunjuk ke arah laptop seraya memasang wajah jengkel sejengkelnya.

“Aigoo aigoo aigoo~, Oppa ku saat marah ternyata terlihat jauh lebih tampan”. Sahutnya menggodaku tapi tidak ku respon dan masih memasang wajah jengkelku.

“Arasseo, geuge~ memang aku yang meminta Min Ji untuk tidak fitting busana pengantin saat Oppa ada”.

“Wae wae wae?”. Tanyaku masih dengan tampang sungut, ia lalu berdiri dari duduknya seraya menyuruhku untuk duduk dikursinya kemudian ia duduk perlahan di asuhanku.

“Geunyang, aku ingin itu menjadi surprise untuk Oppa”. Ucapnya yang merangkul bahuku seraya membelai lembut rambutku.

“Ne? Ani, surprise mwoya~? Chagiya, sebenarnya imajinasi apa yang sedang ada di dalam otak cerdikmu ini?”. Aku perlahan menghilangkan tampang sungut dari wajahku seraya memeluknya yang duduk manja di asuhanku dan memberikannya seulas senyuman kecil.

“Anya~, geunyang.. aku ingin Oppa melihat Min Ji mengenakan gaun pengantin hanya pada saat di hari acara pernikahan Oppa”. Sahutnya yang menatapku dengan tatapan manjanya yang selalu berhasil membuat emosiku mencair.

“Chagiya~, geunde..”. “Sstt.. Oppa tidak usah memikirkan itu, Min Ji pasti akan menjadi pengantin wanita tercantik yang pernah Oppa miliki. Untuk itulah aku ingin Oppa melihatnya mengenakan gaun pengantin itu hanya di saat hari pernikahan saja”. Sahutnya lembut yang memotong kalimatku.

“Arasseo, alasanmu bisa Oppa terima”. Aku menganggukkan kepalaku pertanda mengerti. “Geunde,”. Sejenak aku diam lalu menatapnya seraya mengeratkan pelukanku di pinggangnya.

“Geunde mwoya?”. Sahutnya menatapku seraya mengulaskan senyuman manis.

“Kenapa kau menjadi agak berubah terhadap Oppa?”. Tanyaku menatap dalam matanya sembari tersenyum.

“Berubah?”. Ia menatapku bingung.

“Geureom~, sekarang kau sangat sibuk dengan urusan W.O limited edition mu itu. Ditambah lagi kau juga harus tetap mengejar deadline novel terbarumu dan menyutradarai film baru yang mengangkat cerita dari novelmu, gara – gara itu semua kau jadi jarang duduk di gazebo halaman belakang dengan Oppa sekedar untuk melepas penat”. Paparku panjang lebar seraya mengelus lembut wajahnya.

“Itu yang Oppa bilang berubah?”. Tanyanya lagi seraya tersenyum.

“Anya~, tentu saja bukan hanya itu”. Sahutku membelalakkan mata. “Chagiya, Oppa merindukan sosokmu yang selalu bermanja dengan Oppa. Biasanya selalu ada seorang yeodongsaeng cantik dan manja yang menyambut Oppa yang kembali dari menyelesaikan schedule Oppa yang padat sebagai penyanyi solo, geurigo biasanya juga selalu ada yeodongsaeng yang minta Oppa bersenandung untuknya ketika dia tidak bisa tidur”. Sahutku panjang lebar, ia membalasnya dengan seulas senyuman hangat seraya memelukku.

“Oppa~, aku tidak pernah berubah Oppa. Setiap hari aku selalu ingin bermanja dengan Oppa, aku merindukan sosok Oppa yang hangat dan sangat menyayangiku, aku merindukan ciuman yang selalu Oppa daratkan di pipiku, keningku, puncak kepalaku, geurigo aku sangat merindukan hangatnya tubuh Oppa yang selalu bisa kurasakan ketika aku bermanja di pelukan Oppa seperti sekarang”. Ucapnya yang terdengar lembut ditelingaku.

“Geuraeseo, kenapa sekarang kau berhenti bertingkah manja dengan Oppamu ini chagi?”.

“Karena Oppa akan menikah dan memiliki seorang istri. Saat Oppa menikah nanti, Oppa pasti akan lebih memperhatikan Min Ji. Tidak mungkin lagi bagiku untuk bermanja dengan Oppa, saat Oppa sudah menikah nanti yang harus Oppa manjakan adalah Min Ji bukan aku. Geuraeseo, kalau aku tidak membiasakan itu dari sekarang akan sulit untukku beradaptasi. Ah, matta. Aku juga telah memikirkan kalau setelah Oppa menikah nanti aku akan membeli sebuah apartment dan pindah kesana”.

“Jamkkanman, chagiya mworago? membeli apartment lalu pindah?”. Aku dikejutkan dengan kalimat terakhir yang tadi dilontarkannya, membuatku melepaskan pelukannya dan membiarkannya tetap duduk di asuhanku seraya menatapnya.

“Ne maja. Setelah Oppa menikah nanti aku akan pindah dari rumah ini dan tinggal di apartment, jadi Oppa bisa tinggal berdua disini dengan Min Ji”.

“Andwae! Sirheo!”. Pekikku langsung begitu ia selesai bicara, membuatnya sedikit terkejut.

“Waeyo? Oppa, kenapa Oppa langsung setengah berteriak seperti itu?”. Tanyanya yang menatapku dengan sedikit takut.

“Chagiya~, kau akan tetap tinggal dengan Oppa meski Oppa sudah menikah. Kau tidak boleh tinggal terpisah dengan Oppa, Oppa tidak akan mengizinkanmu untuk itu. Andwae~! Sirheo~!”. Ucapku dengan nada yang agak tegas.

“Oppa~”. “Pokoknya tidak. Kali ini Oppa tidak akan terpengaruh dengan tatapan manjamu itu, kau itu seorang yeoja chagi~. Oppa harus melindungimu, kau adalah yeodongsaeng Oppa satu – satunya”. Sahutku memotong ucapannya.

“Onje kkaji?”. Tanyanya singkat.

“Geuge.. setidaknya sampai kau menikah dengan Minho nanti, baru Oppa bisa membiarkanmu tinggal terpisah dengan Oppa”. Ucapku lagi dengan nada yang di pelankan.

“Eeeemm.. Eung! Arasseo, kalau mau Oppa seperti itu”. Sahutnya menganggukkan kepala seraya menyunggingkan seulas senyuman.

“Geureom, karena tadi kau sempat membuat Oppa jengkel kau Oppa hukum”. Ucapku mulai menjahilinya.

“Mwo? Oppa~~”. Ia menampakkan wajah sungutnya, membuatku gemas dan terkekeh.

“Hukumannya kau harus menciumi pipi Oppa kiri dan kanan geurigo kening Oppa sebanyak 100 kali, hahaha”. Ucapku tertawa lepas seraya mengedipkan sebelas mataku untuk menggodanya.

“Mwo?! Oppa~~ Aigoo~~”.

“Ppalli~, ppoppo~”. Ucapku seraya mendekatkan pipiku ke wajahnya.

“Eiiisssh~, arasseo. Muach muach muach”. Sahutnya gemas seraya mulai menciumiku.

***

“Oppa~, Oppa mau pergi?”. Yoon Seo yang duduk santai di ruang tivi sembari membaca majalahnya menegurku yang sudah rapi dan siap untuk memulai aktivitasku.

“Ne chagi. Oppa harus pergi ke SM Building setelah itu Oppa akan pergi ke KBS untuk rehearsal Music Bank nanti sore”. Sahutku menghampirinya seraya mengecup puncak kepalanya.

“Geurae? Arasseo. Aku juga nanti mau pergi Oppa”. Ucapnya seraya menyandarkan kepalanya dibahuku.

“Jinjja? Eodiga chagiya?”. Tanyaku seraya membelai rambutnya.

“Aku ingin menemui Min Ji di butiknya”.

“Mwo? Untuk apa chagi? Bagaimana kalau ke butik Min Ji barengan dengan Oppa saja, setelah Music Bank, ne?”. Tawarku seraya memasang tampang aegyo di wajahku.

“Andwae~, Oppa tidak boleh ikut. Ini perbincangan antara sesama yeoja Oppa, arattji?”. Sahutnya menyetuh hidungku dengan telunjuknya.

“Aigoo~, anak ini jeongmal. Arasseo~~”.

Author P.O.V

“Annyeonghaseyo Yoon Seo agashi~, eoseo oseyo”. Salah seorang karyawan butik Min Ji menyambut Yoon Seo yang baru saja tiba seraya mempersilahkannya masuk.

“Ne annyeonghaseyo~”. Yoon Seo dengan ramah membalas sapaan itu seraya tersenyum. “Min Ji Ssi eodisseo?”.

“Min Ji Agashi ada di ruangannya, silakan langsung ke ruangannya saja Yoon Seo agashi”. Sahut karyawan itu ramah seraya membungkukkan kepalanya.

“Ah ne, ghamsahamnida”.

“Min Ji Ssi~, annyeong”. Yoon Seo menyapa Min Ji yang tengah duduk diruangannya dan asik dengan laptopnya.

“O~, Yoon Seo Ssi~. Ayo masuk”. Min Ji dengan sigap langsung mempersilahkan Yoon Seo masuk.

Yoon Seo akhirnya duduk di kursi depan meja kerja Min Ji. Saat ia duduk, Yoon Seo nampak menatap dalam kea rah Min Ji seperti merasakan sesuatu.

“Waeyo Min Ji Ssi?”. Tanya Yoon Seo.

“Ne?”. Min Ji menatap Yoon Seo bingung.

“Ekspresi wajahmu, seperti terlihat lesu, cemas, geurigo sedikit sedih”.

“Ah, ne~. Geunyang.. tiba – tiba saja aku merasa ragu akan diriku sendiri”. Sahut Min Ji lirih seraya menundukkan kepala dan mengulas senyuman kecil.

“Ragu? Apa yang kau ragukan?”.

“Geuge.. Aku hanya berpikir apakah aku ini memang benar – benar pantas untuk Jonghyun Oppa”.

“Mwo? Min Ji Ssi, museun soriya?”.

“Tadi aku sempat melihat artikel – artikel di dunia maya mengenai Jonghyun Oppa. Di artikel itu tertulis betapa sempurnanya sosok seorang Jonghyun Oppa menurut pandangan jutaan fansnya. “Kim Jonghyun, penyanyi muda tampan berbakat yang menjadi kebanggaan Korea”. Memang benar, Jonghyun Oppa memang sangat tampan, memiliki suara yang indah, ramah dengan semua fansnya, saat dia bernyanyi dia bisa membuat jutaan fans yang menontonnya saat konser meleleh. Jonghyun Oppa benar – benar terlihat sempurna, sedang aku hanya seorang designer”.

“Min Ji Ssi..”. Yoon Seo mendengar perkataan Min Ji dengan seksama sembari memberikan senyuman hangatnya.

“Sudahlah, lupakan saja”. Sahut Min Ji tersenyum kecil.

Jonghyun P.O.V

“Hhuuufffft~”. Waktu telah menunjukkan jam 11 malam, aku sudah merebahkan tubuhku di atas kasurku yang empuk.

“Oppa~, janya?”. Tiba – tiba aku mendengar suara manja Yoon Seo memanggilku yang baru saja ingin memejamkan mataku, nampak setengah badannya sudah memasuki sela pintu yang dibukanya.

“O chagiya~, ada perlu apa chagi? Kemari”. Tanyaku mengambil posisi duduk seraya menyuruhnya juga untuk duduk di atas kasurku.

“Ehhmm.. geuge, tadi siang aku mendatangi Min Ji di butiknya Oppa ingat kan?”. Sahutnya memulai pembicaraan seraya duduk disampingku dan menyenderkan kepalanya dengan manja di bahuku.

“Eung, ne ne ne. Wae chagiya?”. Sahutku membenarkan posisi duduk seraya merangkul tubuhnya.

“Hari ini ia nampak, eem.. bagaimana aku harus mengatakannya, mungkin bisa kukatakan hari ini ia merasa ragu akan dirinya sendiri”.

“Ne? Chagiya museun soriya?”. Tanyaku menatapnya.

“Saat aku tiba di butiknya, aku menemuinya ke ruangan kerjanya. Ternyata dia sedang membaca artikel di dunia maya tentang Oppa, di artikel itu menggambarkan dengan jelas betapa sempurnanya seorang penyanyi muda tampan dan berbakat Kim Jonghyun di mata jutaan fansnya. Dia lalu bercerita padaku, ia ragu akan dirinya yang nanti akan menjadi pasangan Oppa. Ia ragu apakah dia memang benar – benar pantas untuk Oppa”. Ia mengakhiri bicaranya dengan menatapku seraya bermanja di pelukanku.

“Hhhh~ Min Ji, kenapa tiba – tiba dia bisa berpikir begitu?”. Aku menghela nafas panjang seraya membelai rambut Yoon Seo dan mencium puncak kepalanya.

“Kalau Oppa tidak ada schedule yang padat, sempatkanlah untuk menemuinya nanti”. Ia menatapku seraya memberikan seulas senyuman manisnya.

“Ne chagiya, arasseo”. Sahutku mencubit ringan pipinya. “Ah matta! Akhirnya kau bermanja dengan Oppa juga, hahahaha!”.

“Aigoo~, Oppa kelihatannya senang sekali. Oppa benar – benar senang kalau aku bermanja dengan Oppa? Apa Oppa tidak merasa lelah menghadapiku yang selalu bertingkah manja dengan Oppa?”. Tanyanya dengan wajah polos, membuatku mendaratkan ciumanku ke pipinya.

“Anya chagiya~, kau adalah satu – satunya alasan Oppa untuk tetap semangat dalam menjalankan segala hal. Dengan adanya kau yang bermanja dengan Oppa, Oppa jadi merasa memiliki energi, hehehe”.

“Mwo? Energi?”. Ucapnya seraya langsung menengadahkan wajahnya menatapku.

“Pokoknya, Oppa tidak akan pernah merasa lelah atau bosan. Oppa neun neol jeongmal saranghae chagiya”. Aku mengeratkan pelukanku seraya mencium puncak kepalanya.

“Hhoooaam~, terserah Oppa saja kalau begitu. Aku ngantuk Oppa~”. Tubuhnya menggeliat manja di pelukanku seraya mulai memejamkan matanya, aku sangat merindukan saat – saat dimana aku bisa melihat dari jarak sedekat ini wajah polosnya yang seperti anak kecil saat tertidur.

“Jaljayo chagiya~”.

***

“Jonghyun Oppa?!”. Min Ji langsung terkejut dengan kedatanganku ke rumahnya di minggu pagi ini, aku memang sengaja tidak memberitahunya lebih dulu kalau aku ingin menemuinya di rumahnya.

“Calon istriku, joheun achim~”. Ucapku menggodanya seraya mengedipkan sebelah mataku. “I kkot badeuseyong~”. Aku menyodorkan seikat bunga mawar padanya seraya tersenyum memperlihatkan gigiku.

“Omo, Oppa~. Gomawo~”. Sahutnya dengan nada manja. “Geureom, aku boleh masuk? Hehe”. Ucapku yang mendekatkan wajahku ke wajahnya.

“Dangyeonghaji~, deureo oseyo Oppa”. Ia menarik tanganku masuk ke rumahnya, aku mengikutinya seraya menutupkan pintu.

“Oppa mau minum apa? Oppa mau aku buatkan es jeruk?”. Tawarnya dengan senyum manis.

“Anya, aku tidak haus. Aku ingin memelukmu saja chagi”. Aku langsung menarik tangannya untuk duduk disampingku seraya membenamkan tubuhnya ke pelukanku.

“Ah ne, Yoon Seo menceritakan semuanya padaku”.

“Ne? cerita apa Oppa?”. Tanyanya yang menengadahkan kepala menatapku.

“Geuge, soal keraguanmu terhadap dirimu sendiri”. Sahutku menatapnya dalam. “Chagiya, apa yang membuatmu sampai bisa berpikir seperti itu? Bagaimana bisa kau merasa ragu apakah dirimu pantas untuk menjadi pendampingku atau tidak?”.

“Ehmm.. geuge, nan geunyang..”. “Oh Min Ji, aku Kim Jonghyun memilihmu untuk menjadi istriku. Tidak ada yang bisa membantahnya ataupun meragukannya chagi”. Sahutku memotong seraya memengang wajahnya dengan kedua tanganku.

“Oppa.. geuge, terkadang pernah terpikir di benakku “Dia itu Kim Jonghyun, seorang penyanyi muda tampan dan berbakat. Di cintai oleh semua yeoja Korea yang menggilainya, di kelilingi oleh banyak yeoja cantik”, aku hanya berpikir apakah aku yang hanya seorang yeoja biasa yang berprofesi sebagai designer pantas untuk memilikimu”. Ucapnya lirih seraya tersenyum tipis.

“Chagiya, cobalah untuk melihatku sebagai seorang Kim Jonghyun namja biasa yang sangat mencintaimu, bukan sebagai Kim Jonghyun seorang penyanyi muda tampan berbakat dan bla bla bla seperti yang mereka katakan itu. Jangan perdulikan kalimat – kalimat hyperbolic itu, lihatlah aku sebagai diriku apa adanya yang sangat mencintaimu”. Sahutku menatap dalam matanya.

“Oh Min Ji, kalau memang kau tidak pantas untukku lantas kenapa saat aku pernah kehilanganmu aku mengamuk – ngamuk seperti orang gila? Kalau memang kau tidak pantas untukku dan aku menyadari itu untuk apa aku menangisimu saat kau sempat lepas dariku? Kalau memang kau itu tidak pantas untukku dan aku menyadarinya untuk apa aku mempertahankanmu, memperjuangkan kembali agar kau bisa menjadi milikku seutuhnya. Aku bisa saja berpaling darimu tapi sedetikpun aku tidak pernah terpikirkan akan hal itu. Tidak perduli kau itu pantas untukku atau tidak, sempurna berada di sisiku atau tidak, yang jelas bagiku kau itu adalah satu – satunya. Kau adalah yeoja yang sangat aku cintai, kau adalah hidupku, oksigenku untuk bernafas, dan aku sangat berharap kaulah yang akan menjadi teman hidupku untuk berbagi. Aku ingin menjadi namja yang bisa memelukmu, melindungimu, dan memiliki keturunan darimu”. Tuturku panjang lebar, kulihat tanpa sengaja ia meneteskan airmatanya seraya memberikan senyuman yang sangat tulus itu untukku.

“Chagiya, jangan pernah berpikir bahwa kau tidak pantas untuk berdiri disampingku karena kau memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi milikku, dan aku sangat meyakininya”. Aku menatap dalam matanya, kuhapus perlahan airmatanya yang menetes di wajah cantiknya itu dengan ibu jariku seraya membenamkannya ke pelukanku.

“Nan neol jeongmal saranghae Min Ji’ya. Aku mencintaimu tanpa syarat apapun”. Aku mengecup keningnya dengan lembut cukup lama, aku ingin menegaskan padanya agar tidak perlu meragukan apapun.

“Na do Oppa saranghae~”. Sahutnya lirih seraya mengeratkan pelukannya. “Oppa telah memilihku, gomawo”.

“Anya chagiya, akulah yang harus berterima kasih padamu. Aku harus berterima kasih padamu karena kau dengan tulus mencintaiku apa adanya dan menerima segala kekurangan yang ada dalam diriku ini, kau mencintaiku yang tidak sempurna ini dengan cintamu yang sangat sempurna geureom jeongmal gomawo”. Aku mengangkat perlahan dagunya dan menatap dalam matanya. Perlahan ia menutup matanya dan akupun juga menutup mataku seraya membiarkan bibirku bersentuhan lembut dengan bibirnya.

Hari ini adalah hari yang memegang arti khusus untukku. Hari dimana seorang yeoja yang begitu cantik yang terlahir atas nama Oh Min Ji akan bersanding denganku di depan altar di taman yang telah di design dengan begitu cantik oleh malaikat manjaku yang sangat aku cintai.

“Oppa~~~, chukhahae~~~~~”. Malaikat manjaku berlari ke arahku dengan sumringah seraya langsung menghambur ke pelukanku. “Gomawo chagiya~~!!!”. Pekikku riang. “Kau telah memberikan kado terindah di pernikahan Oppa, kau benar – benar menyihir taman yang memiliki rumput hijau segar yang luas ini menjadi sangat cantik. Jeongmal gomawo chagi”. Ucapku seraya langsung mencium kedua pipi dan keningnya.

“Eung~”. Sahutnya manja, tapi kemudian ia terlihat memasang senyum yang sedikit di paksakan. “Waeyo chagi? Kenapa wajah cantikmu tiba – tiba berubah kecut begitu?”. Tanyaku yang masih merangkul pinggangnya.

“Anya, geunyang.. aku merindukan Minho. Sangat disayangkan ia masih harus menyelesaikan konser tournya di Jepang, jadi dia tidak bisa menemaniku di pesta pernikahan Oppa”. Sahutnya menundukkan kepala seraya tersenyum kecil.

“Jinjjaro?”. Aku menatap wajahnya seraya tersenyum. “Oppa tidak akan membiarkan malaikat manja Oppa yang cantik ini sedih, geuraeseo~ Oppa akan memberikanmu hadiah”. Aku memasang wajah ceriaku menatapnya.

“Seonmul? Mwonde?”. Tanyanya menatapku dengan tampang bingung. “Geureom, lihat di belakangmu chagi”. Dengan perlahan aku membalikkan tubuhnya, seketika raut wajahnya yang semula kecut menjadi cerah kembali begitu melihat hadiah yang kumaksudkan padanya.

“Minho’ya~”. Ia masih tercengang saat melihat namja chingunya yang kini berdiri di depannya.

“Ne chagiya, aku tidak mungkin membiarkanmu tanpa pasangan disini”. Tanpa ragu Minho langsung menangkap yeodongsaengku seraya memeluknya.

“Chagiya.. Minho’ya.. Neo eotteohke..”. “Aaaa~, untuk bagaimana dan sebagainya tanyakan saja pada Oppa mu yang jahil itu, hahahaha!”. Minho menatapku usil seraya memasang tampang jahilnya.

“Mworago? Oppa ku?”. Yoon Seo langsung melepaskan pelukannya seraya membelalakkan mata menatap Minho kemudian membalikkan tubuhnya kearahku.

“Oppa, mwo haneun geoya ige jigeum~??!!”.

“Chagiya, itu tidak penting. Yang penting sekarang Minho ada di hadapanmu, hehehe”. Sahutku santai seraya mengedipkan sebelah mataku.

Aku melangkah perlahan menuju ke depan altar diantarkan malaikat manjaku. Sesekali aku melihat kearah Yoon Seo yang berjalan bergandeng denganku sembari tersenyum. Aku merasakan kebahagiaan yang sempurna hari ini, malaikat manjaku menjadi pendamping pengantin pria di hari pernikahanku, dan aku mendapatkan seorang bidadari cantik yang menjadi pengantin wanitaku, Oh Min Ji.

“Pengantin wanita tiba~”. Dengan senyuman kebahagiaan yang ku pancarkan di wajahku aku menantikan bidadariku.

“Min Ji~, areumdawo~”. Bisikku, aku tercengang melihatnya yang berjalan dengan anggun ke arahku. Ia terlihat sangat cantik dibalut dengan gaun pengantin panjang berwarna putih bersih, ia berjalan kearahku dengan senyumannya yang begitu cantik. Kali ini aku mengerti kenapa Yoon Seo ingin agar aku melihat Min Ji memakai gaun pengantin hanya pada saat di hari pernikahan, Yoon Seo ingin aku benar – benar bisa merasakan betapa cantiknya yeoja yang menjadi pengantinku.

“Kim Jonghyun, atas nama Tuhan apakah kau bersedia menerima Oh Min Ji senang ataupun sedih, sehat ataupun sakit menjadi istrimu dan akan selalu melindunginya seumur hidupmu?”. Seorang pendeta dengan bijak memulai perannya untuk menikahkanku dengan Min Ji.

“Aku, Kim Jonghyun atas nama Tuhan bersumpah menerima Oh Min Ji senang ataupun sedih, sehat ataupun sakit menjadi istriku dan akan selalu menjaga dan melindunginya seumur hidupku”. Sahutku lantang seraya melihat kearah Min Ji dan memberikan senyumanku.

“Dan kau Oh Min Ji, atas nama Tuhan apakah kau bersedia menerima Kim Jonghyun senang ataupun sedih, sehat ataupun sakit menjadi suamimu dan akan selalu setia menjadi pendampingnya seumur hidupmu?”.

“Aku, Oh Min Ji atas nama Tuhan bersedia menerima Kim Jonghyun senang ataupun sedih, sehat ataupun sakit menjadi suamiku dan akan selalu setia menjadi pendampingnya seumur hidupku”. Min Ji mengikrarkan sumpah dengan senyuman kebahagiaan, ia benar – benar terlihat sangat cantik.

“Geureom, kalian telah sah menjadi sepasang suami istri”.

Aku dan Min Ji saling memandang dengan senyuman kebahagiaan, hari ini aku sah menjadi miliknya dan ia sah menjadi milikku. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, Min Ji pun seraya perlahan menutup kedua matanya dan membiarkan bibirku mengusap bibirnya dengan lembut. Bisa kudengar sorak tepuk tangan dari orang yang menjadi saksi pernikahan di tengah kami yang sedang berciuman.

“Saranghae Oh Min Ji”. Aku menatap dalam matanya seraya tersenyum. “Na do saranghae, Kim Jonghyun”.

END.

5 thoughts on “You were Born For Me (Unforgettable You – Sequel Part.2 END)

      • Itu lain part. Itu memang awal kesah. Yg inya hamuk2 beputusan lo. Ini ad lg, sequel part 1 th judulny everyday I love you. Kesahny si jjong melamar. Part 2 ny ya yg you were born for me nih. Extra ny the first time we met ^^

      • wkwkwkw yg itu aku sdh baca blm ya? lupa nah 😀 kena gin di cek lg sdh kubaca ato belum hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s