4 Seasons (4계절)

4 Seasons Poster

Title : 4 Seasons (4 계절)

Inspired By : SHINee. SHINee’s Song – 눈을 감아보면

Cast :

Jonghyun SHINee as Jonghyun SHINee.

Seol Ha Na (Original Character).

SHINee Member.

Genre : Sweet, Romantic

Length : One Shoot

Rating : PG – 17

Created By : Ayin Perdana

____________________________________________________________________

“Tidak perduli meski harus melewati 4 musim di negeri gingseng, naneun neol gidarilke chagiya. Gidaryeo ireohke”.

Prolog by Jonghyun

Aku menutup kedua mataku lagi seraya menghirup oksigen pagi hari di musim semi tahun ini. Aku menghirupnya sebanyak yang aku bisa lalu menghembuskannya kembali. “Hhuuuuh~, chagiya.. nan neol jeongmal bogosipheo. Jebal keumbang dorawa chagiya~”, ini adalah musim semi ke lima yang aku temui tanpanya. Dia, yeoja yang sangat aku cintai di muka bumi ini. Saat ini ia memang sedang tidak ada di sisiku, tapi ia berjanji ia pasti kembali padaku dan aku percaya itu. Aku rela menunggunya, aku pasti akan selalu menunggunya.

“Seol Ha Na, naeui saranghaneun yeoja, aku akan menunggumu sampai kau kembali kesisiku”.

Jonghyun P.O.V

6월 9일 2008년 – 여름 (9 Juni 2008 – Musim Panas)

“Chagiya~”. Aku berlari kecil menghampiri sosoknya yang sangat cantik duduk di kursi kayu taman di balut dengan terusan selutut berwarna hijau segar dengan flat shoes berwarna senada membuat hari ini terasa begitu cerah. Rambut ikal sebahunya yang tergerai indah membuatnya terlihat sangat manis ditambah dengan senyuman yang sangat aku suka, senyuman itu terlihat begitu manis terlukis di wajahnya.

“Jjongie Oppa~, wasseo”. Ia memberikan senyuman manis itu untuk menyambut kedatanganku, alunan suaranya yang terdengar begitu manja membuatku mempercepat langkahku untuk bisa duduk disebelahnya.

“Neujeoseo, mian. Kau sudah lama menunggu chagi?”. Aku langsung mengecup lembut puncak kepalanya ketika aku duduk disampingnya.

“Ani Oppa, gwaenchanha. Asalkan yang ku tunggu adalah Oppa, nan gwaenchanha”. Ia menatapku lembut dengan senyumannya yang sangat aku suka itu, inilah salah satu penyebab yang membuat diriku tidak mampu mengalihkan pandanganku pada yeoja lain meskipun di luar sana ada 10.000 yeoja yang berpenampilan lebih cantik darinya, bagiku dialah yeoja tercantik yang pernah kumiliki.

“Tadi aku harus menghadiri acara fan sign dengan SHINee deul, dan saat acara itu ada sedikit kesalahan teknis geuraeseo..”. “Gwaenchandago Oppa~, arasseo. Aku sudah sangat senang Oppa tetap bisa menepati janji Oppa untuk menemuiku disini”. Ia memotong perkataanku dengan berbicara lembut.

“Cup~”. Ia menyentuh bibirku lembut dengan bibirnya. “Seharusnya itu yang Oppa lakukan untuk meminta maaf padaku, hehehe”. Ucapnya manja dengan seulas senyuman usil seraya mencubit ringan pipiku yang memerah karena mendapat perlakuannya.

“Chagiya, sekarang ini sedang musim panas. Ciumanmu tadi berhasil membuat cuaca menjadi semakin panas sampai – sampai aku jadi berkeringat, hahahaha”. Aku menggodanya dengan berbicara asal.

“Mwoya~, hahahaha. Oppa suka sekali bicara sembarangan”. Ia mencubit hidungku dengan gemas.

“Sini, aku akan menyekakan keringat Oppa. eodi?”. Ia mengambil saputangan dari dalam tasnya lalu melihat ke arah wajahku.

“Yeogi”. Aku mendekatkan wajahku dengan manja. “Ah yeogi? Geureom, sini. Urgh~! Hahaha”. Ia mendorong pelan kepalaku seraya terkekeh. Aku sangat senang menikmati saat – saat ia mengajakku bercanda karena aku bisa melihat senyuman ceria yang kusuka itu lagi dari wajah cantiknya.

“Jamkanman. Oppa, apa kita hanya akan duduk – duduk disini saja? Panas sekali Oppa~, belikan aku semangkuk es krim ukuran besar, ne?”. Dengan manja ia mengurucutkan bibir merah cerinya ke arahku, membuatku gemas seraya mencium kilat bibirnya.

“Aigoo chagiya~, neon jinjja es krim johajyo?”.

“Eung~, nan es krim jinjja joha”. Ia menganggukkan kepalanya dengan manja seraya lalu menyandarkannya ke bahuku. “Belikan aku es krim Oppa~, ne? Oppa mau kan? Semangkuk saja~, o? Jebal~”. Ia kembali meminta padaku dengan tingkah manjanya yang juga sangat aku suka.

“Arasseo chagiya~. Kaja”.

Aku dan Ha Na sudah tiba di sebuah kedai es krim. Tempat ini adalah tempat favoritnya di musim panas, hampir di setiap musim panas yang kami lalui selalu ada saja hari dimana aku dan dia menyinggahi tempat ini.

“Waaa~, masisseo~”. Wajahnya nampak begitu sumringah ketika tengah menikmati kudapan favoritnya itu. Tingkahnya yang seperti ini merupakan tontonan paling cantik untuk mataku yang menyaksikannya.

“Johahae?”. Tanyaku tersenyum seraya membelai pipinya.

“Eung~, Oppa gomawo”. Sahutnya manis dengan seulas senyuman cerah.

“Chagiya~, neon neomu yeppeo. Melihatmu tersenyum ceria seperti ini, nan jinjja johahae”. Aku memandangnya dengan tatapan hangat seraya memberikannya senyuman.

“Oppa~, Oppa juga sangat tampan”. Sahutnya mengelus manja wajahku.

“Memilikimu disampingku adalah kebahagiaanya yang tidak akan pernah tergantikan oleh apapun bagiku chagi”. Aku meraih tangannya yang menyentuh wajahnya seraya mengecupnya lembut. “Saranghae, Seol Ha Na”.

“Na do saranghae, Oppa~”. Ia mengulaskan senyuman lembut di wajahnya. “Geunde, seandainya aku harus pergi untuk sementara dan itu membutuhkan waktu lama, Oppa neun gwaenchanha?”. Ia menatap dalam mataku dengan matanya yang indah itu. “Anggap saja aku diharuskan pergi selama 4 musim, setelah itu aku baru bisa kembali”.

“Geurae? Geuge.. pertanyaan itu sangat sulit untukku menjawabnya chagi”. Aku membalas tatapannya dengan senyuman seraya kembali mengecup tangannya. “Aku tidak bisa memastikan apakah aku akan tetap kuat jika tidak melihatmu disisiku dengan waktu selama itu”.

“Geunde wae? Kenapa kau tiba – tiba bertanya seperti itu chagi?”. Aku menatapnya penasaran.

“Anya Oppa. Amugotdo eopseo~”. Sahutnya tersenyum kecil.

Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan sedang, hari sudah hampir senja dan aku ingin mengajaknya ke pantai untuk melihat matahari terbenam.

“Hhoooaaam~”.

“Wae chagi? Kau mengantuk?”. Tanyaku yang sedari tadi melihatnya mengucak matanya.

“Ne Oppa~, tapi Oppa bilang Oppa ingin mengajakku ke suatu tempat”.

“Tidurlah dulu chagi~, aku akan membangunkanmu kalau kita sudah sampai”. Aku membelai kepalanya seraya meminggirkan mobilku untuk membantunya merendahkan sandaran kursi.

Aku memarkir mobilku seraya mematikannya. “Syukurlah belum terlambat” ucapku dalam hati sembari melihat ke jam digital yang tertempel di dashboard mobilku.

“Chagiya~, ireona. Kita sudah sampai chagi”. Aku melepaskan sit belt nya perlahan seraya mencium lembut bibirnya yang terasa begitu manis di bibirku.

“Eehhm~, uri eodiga Oppa?”. Ia bangun perlahan dan langsung melihat ke luar jendela. “Eung? Pantai?”.

“Ne chagi, maja. Geureom ppalli kaja”.

Aku menuntunnya sampai ke tepi pantai, kali ini aku dan Ha Na sudah berdiri tepat di tengah – tengah mentari ingin menenggelamkan sosoknya yang sangat cantik itu.

“Whaaaaa~, areumdawo~~”. Wajahnya terlihat berseri begitu kami sudah berdiri di tepi pantai. Ia melukiskan lagi senyuman indah itu, senyuman yang benar – benar membuatku tidak bisa memalingkan pandanganku darinya.

“Aku membawamu kemari karena aku ingin melihat matahari terbenam denganmu chagi. Saat matahari terbenam, matahari itu terlihat sangat cantik. Neomu areumdawo, neo cheoreom”. Aku memeluknya hangat dari belakang seraya mencium lembut tengkuknya.

“Giokhaeyo chagiya, naega saranghaettdaneun geol”. Aku kini berpindah kesampingnya seraya menghadapkan tubuhnya padaku dan merangkulnya. “Saranghae~”.

“Na do Oppa saranghae~”. Suaranya yang terdengar begitu manis dan manja membuatku mendaratkan ciumanku ke bibirnya. Bisa kurasakan manis bibirnya saat bersentuhan dengan bibirku, aku melumat lembut bibirnya dan ia pun membalasnya dengan sangat lembut. Aku benar – benar sangat mencintai Ha Na.

“Na wasseo~”. Aku tiba di dorm SHINee tepat pukul 9 malam, dengan perasaan hatiku yang sangat senang akupun masuk ke dorm dengan santai sembari bersenandung.

“Aigoo~, yang baru pulang setelah kencan. Wajah Hyeong terlihat sangat cerah”. Minho menyambutku dengan celetukan usilnya. “Geureom~, namja mana yang tidak senang setelah bertemu dengan yeoja yang sangat dicintai di dunia ini? hehe”. Balasku tersenyum kecil.

“Geunde, mana yang lain? Kenapa seperti tidak ada tanda – tanda kehidupan di dorm ini? Onew Hyeong eodisseo? Kiboomie, geurigo Taeminie?”. “So I listen to the Radio~”. Minho langsung menyahut pertanyaanku cepat dengan potongan lirik lagu. “A~, ne maja. Mereka ada schedule di radio Sukira”. Aku mengangguk seraya berjalan menuju kamar meninggalkan Minho sendirian yang duduk di sofa ruang tamu.

“Aigoo~, lelah sekali”. Aku langsung menghempaskan tubuhku ke atas kasur empukku seraya menarik selimut. Malam ini aku ingin langsung tidur saja, mengingat besok pagi – pagi sekali kami berlima harus sudah datang ke KBS building untuk rehearsal acara KBS Music Bank.

“Ddrrrtt~”. Aku meraih ponselku yang kuletakkan di atas meja yang terletak di samping tempat tidurku seraya  melihat ke layar touchscreen ponselku.

“1 Message from Ha Na”. Mataku seketika cerah begitu membaca notifikasi yang muncul di layar touchscreen ponselku, bidadariku mengirimiku pesan.

“Oppa~, istirahatlah yang baik. Jangan lupa untuk minum vitamin sebelum memulai aktivitas Oppa besok. Oppa harus menjaga kesehatan Oppa untukku, saranghae Oppa. Jaljayong~”.

“Na do jeongmal saranghae chagiya~. Jalja”. Aku menekan option sent yang muncul di touchscreen ponselku sembari tersenyum dengan tatapan yang sangat menunjukkan betapa aku sangat mencintai yeoja penerima pesanku.

12월 6일 2008년 – 겨울 (6 Desember 2008 – Musim Dingin)

“Aigoo~~ chuwo~”. Taemin dengan cepat langsung masuk ke dorm kami seraya mengeratkan jaket yang membalut tubuhnya.

“O Taemin’a~ sudah tahu diluar sedang musim dingin kau malah bermain keluar”. Key yang menyambut kedatangannya langsung berceletuk seraya mengambil bungkusan kantung plastik yang ada ditangan Taemin. “Geunde ige mwoya?”.

“Tadi aku membeli beberapa bungkus ramen dan 1 pack susu pisang Hyeong. Persediaan susu pisangku sudah habis gara – gara Jonghyunie Hyeong meminumnya dengan tidak berperasaan”. Ia menunjuk sembari mengerucutkan bibirnya ke arahku yang tengah duduk santai menonton tv.

“Hehehe, mian dongsaeng’a~. Nanti Hyeong akan mengganti uangmu yang terpakai untuk membeli susu pisang itu, ne?”. Sahutku mengacak – acak rambutnya seraya tersenyum jahil.

Hari ini kami para member SHINee sedang tidak ada schedule, oleh karena itu kami semua bisa santai dan beristirahat di dorm. Sekarang sedang musim dingin, hampir semua orang Korea malas untuk beraktivitas di luar dan lebih memilih untuk berdiam diri dirumah. Musim dingin seperti ini memang sangat cocok menghabiskan waktu untuk sekedar bersantai dirumah, tapi bagiku yang ingin aku lakukan adalah memeluk bidadariku.

“Ddrrrrttt~”. Perhatianku beralih ke ponselku yang bergetar tepat di sampingku. “1 Message from Ha Na”. Aku seketika sumringah saat membaca notifikasi yang muncul di layar touch screen ponselku, akupun langsung membukanya.

“Oppa, hari Oppa sibuk? Sekarang sedang musim salju dan aku sangat merindukan Oppa~, akankah Oppa langsung berlari mengampiriku yang sedang merindukan Oppa disini? Hehehe”. Pesan itu terlihat begitu manis dan manja, tanpa membuang waktu dan berpikir lama aku langsung bangkit seraya mengambil kunci mobilku yang bergantung di gantungan kunci di dinding.

“Jjong, eodiga?”. Onew hyeong yang baru keluar kamar langsung menanyaiku saat melihatku mengambil kunci mobil.

“Ha Naeui jibe gagosipheo. Geureom, na kalkhae”. Aku melambaikan tanganku begitu saja seraya berlari ke arah pintu dan langsung keluar.

“Jonghyun Oppa~?!”. Sosoknya yang cantik itu terkejut melihat kedatanganku ke rumahnya. “Chagiya, bisa kau tunda dulu terkejutnya dan bawa aku masuk dulu? Dingin sekali chagi”. sahutku yang mengigil dan mengeratkan jaketku.

“O, ne. Masuk saja Oppa”.

Aku duduk di sofa ruang tamu rumahnya disusul dengan dia yang juga duduk di sampingku.

“Oppa~, Oppa benar – benar datang kesini? Geunde, schedule Oppa hari ini bagaimana? Oppa, tadi itu aku hanya..”. “Nan neol jeongmal bogosipheo chagi~, lagipula hari ini kami para member SHINee sedang tidak ada schedule”. Aku memotong ucapannya seraya membenamkan tubuhnya yang mungil ke pelukanku.

“Oppa~, badan Oppa terasa sangat hangat”. Dengan manja ia mengeratkan pelukannya seraya menengadahkan wajahnya menatapku lalu tersenyum manis. “Geunde, aku masih tidak menyangka Oppa benar – benar akan menemuiku”. Ucapnya yang mengelus lembut pipiku.

“Di pesan itu kau mengatakan kalau kau merindukanku, geurigo di pesan itu secara tidak langsung kau menginginkanku untuk ada disisimu, geuraeseo aku langsung mendatangimu kemari”. Sahutku seraya mengecup puncak kepalanya.

“O~! Matta~!”. Tiba – tiba saja ia menepuk kedua tangannya seperti teringat sesuatu. “Wae chagiya?”. Tanyaku.

“Oppa, yeogi gidaryeo. Ne?”. Ia langsung berdiri dan berlari kecil meninggalku ke kamarnya. “Mungkin ada sesuatu yang ia tunjukkan” pikirku. Akupun hanya menunggunya seraya menyalakan tivi dengan remote yang ada di atas meja di depanku.

Tak berapa lama kemudian ia kembali menghampiriku ke ruang tamu bersama dengan sebuah benda seperti pakaian yang dibawa ditangannya. Dengan manja dan seulas senyuman cantik yang kusuka itu ia langsung duduk disampingku, akupun seraya langsung merangkul bahunya mendekatkan tubuhnya padaku.

“Oppa, ige”. Ia menyodorkan benda yang dibawanya padaku seraya tersenyum manja. “Ne? Untukku?”. Tanyaku menatapnya. “Eung~”. Angguknya dengan manja.

“Sweater?”. Aku membuka lipatan pakaian yang tadi diberikannya padaku, ternyata sebuah sweater tebal yang hangat berwarna orange.

“Ne, aku sendiri yang merajutkannya untuk Oppa. Aku ingin Oppa memakainya saat di musim dingin seperti ini agar Oppa tidak kedinginan”. Ucapnya memberikan senyuman padaku seraya mengecup pipiku dengan manja.

“Chagiya~”. Aku menatap dalam matanya seraya tersenyum, aku sangat tersentuh dengan apa yang ia berikan untukku. Ia merajutkan sendiri sweater untukku, seketika aku langsung sumringah dan mencium kilat bibirnya.

“Gomawo chagi~”. Ucapku ceria. “Oppaneun joha?”. Ia membenamkan tubuhnya dengan manja ke pelukanku. “Dangyeonghaji~, neomu areumdawo. Gomago chagiya”. Aku langsung membalas memeluknya seraya megecup lembut keningnya.

6월 9일 2009년 – 여름 (9 Juni 2009 – Musim Panas)

“Kkyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak~!!!! SHINee da~~~!!!! Kkyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak~!!!”. Teriakan itu berasal dari para shawol yang datang menonton live acara Music Bank di studio stasiun tv KBS. Hari ini kami ada battle stage dengan senior kami Super Junior dan di akhir acara akan diberitahukan boyband mana yang akan mendapatkan penghargaan berdasarkan voting terbanyak.

Saat perform kami berlima membawakan single terbaru kami berjudul “Juliette” yang ada di mini album terbaru kami “Romeo”. Aku menulis lirik untuk single Juliette ini dengan tanganku sendiri, sesuai dengan judulnya aku menulis lirik lagu ini terinspirasi dari malaikat yang memiliki tempat tertinggi dihatiku yaitu Ha Na.

“Ne yeoreobun~, kita sudah berada di segmen akhir tandanya kita akan langsung mengetahui siapa yang akan memenangkan battle stage hari ini antara SHINee dan sonbae mereka Super Junior”. Kami berlima merasa sangat gugup saat menunggu pengumuman itu, tidak dapat dipungkiri kami memang sangat ingin mendapatkan penghargaan itu.

“SHINee~~~~~~!!! SHINee deul, chukadeurimnida~~”. Kami tidak bisa menyembunyikan kebahagian sekaligus rasa haru dari wajah kami saat mendengar bahwa kamilah yang memenangkan penghargaan atas battle stage kali ini. Aku yang sangat merasa tersentuh pun tak kuasa menahan air mataku, aku menangis sejadi – jadinya di atas panggung. Aku benar – benar sangat bersyukur dan berterima kasih karena lagu yang kutulis di sambut baik oleh para penikmat musik khususnya shawol di seluruh dunia.

Bisa kurasakan satu per satu member SHINee memelukku yang menangis histeris seperti anak kecil. Ada Minho yang berusaha membuatku untuk berhenti menangis dengan memelukku erat, disusul ke empat member lainnya. Aku benar – benar sangat bersyukur memiliki mereka berempat yang sudah ku anggap keluargaku sendiri, dan juga seorang yeoja yang memberiku inspirasi dari cintanya yang begitu besar padaku. Dia, yeoja terbaikku, milikku yang terindah, Seol Ha Na.

“Yeoboseyo~, chagiya~~!!”. Aku mengangkat teleponnya dengan semangat saat kami sudah kembali ke backstage bersiap untuk kembali ke dorm.

“Oppa~, chukhahae~”. Alunan suara lembutnya yang menyelamati kemenangan kami membuatku ingin mendekapnya dengan erat dipelukanku saat itu juga. “Oppa setelah ini masih ada schedule lagi?”.

“Ani chagiya~, wae? Kau ingin aku menemuimu?”. Seakan bisa membaca pikirannya aku sengaja menanyakan itu padanya. “Eung~, ada yang ingin aku katakan dengan Oppa”. Sahutnya lembut. “Ne, geureom. Aku akan segera kesana, gidaryeo chagi”.

Aku datang ke rumahnya dengan membawa seikat bunga mawar merah untuk kuberikan padanya, aku sudah sangat tidak sabar ingin melihat, memeluk dan mencium sosoknya yang begitu cantik.

“Oppa~, wasseo”. Ia membukakan pintu seraya melukiskan senyuman manis untuk menyambut kedatanganku. “Chagiya~, nan neol jeongmal bogosipheo”. Aku langsung menghampirinya seraya memeluk erat tubuh mungilnya, aku benar – benar sangat merindukannya.

“Na do Oppa”. Sahutnya manja yang menerima pelukanku. “Masuk Oppa”. Ia menarik tanganku seraya menuntunku masuk ke dalam rumahnya, aku pun mengikutinya seraya menutupkan pintu.

“Oppa~, saranghae. Nan oppa jeongmal saranghaeyo”. Ia langsung menghambur ke pelukanku begitu kami baru saja duduk di sofanya yang besar di ruang tamu. “Na do chagi~, na do”. Sahutku membalas pelukannya dengan lembut.

“Oppa, aku ada satu permintaan. Maukah Oppa mengabulkannya?”. Ia menengadahkan kepalanya yang bersandar manja di bahuku untuk menatap wajahku. Ia memandangku dengan tatapannya yang manja, tatapan itu selalu berhasil membuatku mendaratkan ciumanku ke bibirnya yang manis. “Permintaan apa chagi? Katakan saja”.

“Peluk erat tubuhku dengan hangat Oppa, geurigo cium aku”.

Ia menatap dalam mataku, tiba – tiba saja aku merasakan ada sesuatu yang disembunyikannya dariku. Dari matanya bisa kulihat ia sedang mengisyaratkan sesuatu, ada sesuatu yang ingin dikatakannya padaku.

“Aku pasti akan melakukannya chagi. Geunde, kenapa kau memandangku seperti itu?”. Ucapku yang mulai menyentuh lembut wajahnya seraya mendekatkan wajahku.

“Lakukan saja dulu apa yang kuminta Oppa, aku akan menjawab pertanyaan itu nanti”. Sahutnya yang membalas menyentuh lembut wajahku dengan tangan halusnya.

Aku memeluk erat tubuhnya, mendekatkan tubuhnya ke tubuhku seraya mendaratkan ciumanku ke bibirnya. Aku mengusap lembut bibirnya dengan bibirku, bisa kurasakan ia sangat menghayati tiap sentuhan bibirku dan bibirnya. Ia mengeratkan pelukannya di tengah ciuman itu dan mulai mencoba untuk melumat bibirku, entah apa yang membuatnya menjadi dua kali lebih agresif hari itu.

“Jamkan”. Dengan perlahan aku mencoba melepaskan ciuman itu seraya memegang wajahnya dengan kedua tanganku.

“Wae? Aku masih ingin mencium Oppa”. Ia kembali mencoba mendekatkan wajahnya untuk menyerang bibirku namun kutahan dengan memegangi wajahnya.

“Apa yang membuatmu menjadi se agresif ini chagi?”. Aku menatap dalam matanya berusaha untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya. “Oppa tidak senang menciumku? Oppa tidak mau memelukku?”. Ia kemudian perlahan menundukkan kepalanya dan tanpa sadar menjatuhkan air mata hingga membasahi pipinya.

“Anya chagiya~, nan neol jeongmal saranghae. Sangat besar keinginanku untuk bisa memelukmu dengan erat setiap hari andai aku bisa, aku juga selalu ingin mencium bibirmu di setiap detik aku melihatmu. Geunde, kau tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Ada apa chagi? Kau bahkan sampai menangis seperti ini”. Ku hapus air mata yang mengalir di wajahnya yang halus dengan perlahan seraya mencium keningnya.

“Aku.. besok aku akan pergi Oppa”. Ucapnya lirih dan masih menundukkan kepalanya.

“Ne? Chagi, musen soriya? Kau ingin pergi kemana?”. Aku mengangkat dagunya perlahan agar mataku dapat bertemu dengan matanya.

“Sebelum tadi aku menelepon Oppa, aku lebih dulu mendapatkan telepon dari Appa. Sekarang Appa sedang dalam penerbangan dari paris ke sini untuk menjemputku”. Ia berkata dengan agak lirih seraya memegang erat tanganku yang tertempel diwajahnya.

“Mworago?”. “Ne, Oppa. besok pagi – pagi sekali Appa akan membawaku ke Paris”. Suaranya terdengar semakin lirih hingga akhirnya ia kembali meneteskan air matanya seraya langsung menghempaskan tubuh mungilnya ke pelukanku.

“Chagiya~”. Aku membalas pelukannya dan tanpa kusadari aku juga meneteskan air mataku. “Apa yang harus aku lakukan kalau seperti ini?”. Aku mulai terisak, sesaat aku merasakan dadaku sakit seperti tertikam pisau yang sangat tajam. Rasa sakit itu bahkan seperti mampu untuk membunuhku saat itu juga.

“Na do molla Oppa..”. Suaranya yang manis itu terdengar lirih membelai di telingaku, aku melepaskan pelukanku kemudian memandang wajahnya yang dibasahi air mata sama halnya dengan diriku.

“Chagiya~, eonjekkaji gidarilkeoya? Kau pasti akan kembali kan, ne?”. Aku menatap dalam matanya sembari mengusapkan air mata di wajahnya dengan ibu jariku.

“Geuge..”.

“Chagiya~, eonjengan neoreul majuchil su ittgaettji? Dasi hamkke hal su ittgettji?”. Ia hanya diam saat aku melontarkan pertanyaan, membuatku menjadi semakin takut. Aku tidak ingin melepaskannya. “Chagiya~, kenapa kau hanya diam seperti itu? Jawab aku chagi, jebal~”.

“eonjekkaji sasireun na do molla Oppa~, geunde.. Oppaneun naege gidaril su ittgettji? Geureohji?”. Ia menatap hangat diriku seraya menghapuskan air mata yang membasahi pipiku.

“Ne chagiya~, byeonhameopsi neol gidaryeo. Meski aku harus melewati 4 musim seorang diri, aku akan tetap menunggumu. Aku akan menunggumu sampai kau kembali ke sisiku, kembali menjadi milikku seutuhnya”.

Aku membenamkan tubuhnya kembali masuk ke pelukanku, sebelum ia pergi setidaknya aku ingin merasakan hangat tubuhnya yang menyelimuti lembut tubuhku dan mencium aroma tubuhnya yang selalu bisa menenangkanku.

5월 8 2013년 – 봄 (8 Mei 2013 – Musim Semi)

“Jonghyunie Hyeong~”. Sosok namja tampan dengan tubuhnya yang tinggi 180cm itu menghampiriku yang tengah berdiri di balkon dorm sembari memandang kota seoul yang sedang dijumpai oleh musim semi yang hangat.

“Minho’ya, joheun achim”. Aku menyapanya dengan seulas senyuman kecil.

“Ige hyeong”. Ia memberikan secangkir kopi untukku seraya ikut berdiri di sampingku kemudian menyeruput secangkir kopi miliknya.

“Gomawo~”. Sahutku menyambut cangkir kopi yang diberikannya lalu menyeruputnya dengan perlahan.

“Musim semi. Hyeong akhirnya kembali menemui musim semi yang hangat ini seorang diri, pasti itu yang ada di benak Hyeong saat ini bukan?”. Seakan bisa membaca pikiranku, Minho dengan santai mengatakannya seraya merangkul bahuku.

“Hehehe, kau bisa saja. Sasireun, aku tidak sepenuhnya sendiri. Geunyang, ada kalian berempat yang selalu ada disekitarku. Kita berlima telah hidup bersama dalam satu atap selama lima tahun ini, melewati hari – hari dengan aktivitas yang selalu menggunung. Tanpa sadar kita berlima melaluinya, semuanya bersama. Setidaknya itu bisa membuatku tidak merasakan penantian yang begitu lama”. Aku tersenyum kecil sembari memandang langit.

“Seol Ha Na, aku benar – benar sangat merindukannya. Dia pasti akan kembali padaku kan, Minho?”.

“Dangyeonghaji hyeong. Dangyeonghaji”. Minho memberiku senyuman hangatnya seraya menepuk bahuku.

“Seol Ha Na, naeui saranghaneun yeoja.

Ketika musim semi yang hangat tiba, aku membayangkanmu yang tersenyum secerah matahari padaku. Membayangkanmu yang dengan manja memberitahuku kalau cuaca sedang hangat dan mengajakku keluar sekedar untuk berjalan santai.

Kau yang dulu selalu ada disisiku, bahkan sepanjang hari di musim panas kau selalu menempel disisiku. Aku selalu memikirkanmu yang akan menyeka tiap butiran keringat di dahiku.

Aku akan menunggumu. Aku pasti menunggumu sampai akhir.

Aku akan selalu mengingat itu. Aku cukup menganggap kalau kau hanya bersembunyi di balik empat musim, dan ketika aku menutup mataku aku bisa merasakan kau berdiri disisiku.

Aku melewati sebuah jalan, apa kau ingat saat musim gugur pada waktu itu? Di jalan ini, sangat jelas di ingatanku dimana kita berpegangan tangan dan berjalan bersama melewati jalan ini. Aku juga mengingat waktu ketika kita bermain, bersama – sama berbagi daun kering yang gugur. Saat itu kau tersenyum manis seperti anak kecil, berlarian mengelilingiku dan bermanja.

Aku telah melewati empat musim itu, dan semuanya tampak sama. Aku merasa kau masih bersamaku disini karena aku selalu memikirkanmu disetiap musim yang kulewati. Bahkan kapanpun angin musim dingin bertiup, dikepalaku hanya memikirkanmu.

Aku tidak menghilangkan harapan. Yang kuingat setiap hari adalah bahwa kau pasti akan kembali padaku. Ku akui ini memang sangat mengganggu, ini membuatku sesak, tapi aku tidak pernah ingin melepaskanmu.

Di sepanjang musim dingin, ketika salju putih banyak berjatuhan. Dinginnya cuaca tidak bisa membuatku untuk tidak memikirkanmu meski hanya dalam waktu satu detik. Musim dingin ini sangat bersejarah untukku, dimana kau memberiku sweater hangat yang kau rajutkan sendiri untukku. Aku selalu memakainya disepanjang musim dingin, dalam sweater yang kau berikan ini aromamu selalu melekat.

Aku yakin suatu hari kau pasti akan berbalik dari jalan yang kau lalui dan kembali padaku. Seperti salju yang terlambat, seperti hujan pada akhir musim panas, nan neol gidaryeo.

Aku menunggumu. Seperti membalikkan halaman dalam kalender, aku akan menunggumu dengan begitu saja. Gidaryeo ireohke, menunggu kau yang tengah besembunyi di balik empat musim dan mendekap lembut tubuhku seperti udara segar. Saat ini hatiku menunggu di empat musim, dan seperti pohon cemara aku akan selalu berada disini, di tempat ini hanya untuk menunggumu”.

8월 23일 2013년 – 가을 (23 September 2013 – Musim Gugur)

Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan menyusuri taman yang sangat indah di pagi ini. taman ini adalah tempat dimana aku pertama kali bertemu dengan Ha Na, tempat ini juga merupakan tempatku mengutarakan persaan cintaku padanya. Aku selalu mengajaknya berjalan di jalan taman ini di setiap musim gugut karena dedauan yang jatuh di taman ini nampak sangat cantik.

“Hhhhhh~”. Aku menghela nafasku seraya duduk diatas kursi kayu di taman itu. Langit di musim gugur terasa begitu cerah dan hangat menyapaku, membuatku teringat kembali pada sosoknya yang cantik itu. Rasanya aku ingin berteriak, mengatakan bahwa aku sangat merindukannya sekeras yang kubisa. Tubuh ini sudah sangat merindukan hangat tubuhnya yang senantiasa memelukku.

Perhatianku beralih pada seubah mobil sedan hitam mewah yang berhenti di sudut taman. Kulihat ada sosok yeoja yang sangat cantik keluar dari mobil sedan itu dengan dibalutkan dress selutut berwarna coklat muda, topi bundar yang dihiasi pita berwarna senada dengan dress yang dipakainya terlihat anggun dikenakan, rambut coklatnya sepanjang sebahu yang dikuncir membuat wajah kecilnya terlihat begitu segar dan cantik, dan kakinya semakin telihat indah dengan flat shoes cantik yang dikenakannya.

Yeoja itu kemudian berjalan mengarah padaku, aku langsung berdiri seakan siap menyambut kehadirannya.

“Seol Ha Na, chagiya~”. Dengan sumringah aku menatapnya yang berjalan menghampiriku.

“Oppa~, aku kembali”. Setelah sekian lama, setelah melewati empat musim yang berulang – ulang di sepanjang tahun akhirnya aku bisa kembali mendengarkan suaranya yang manja itu langsung di telingaku.

“Chagiya~, kau kembali”. Tubuhku masih membatu seakan tidak percaya dengan sosok yeoja yang begitu indah yang kini telah berdiri tepat didepanku.

“Eung, aku kembali untuk Oppa. Aku berjanji, aku tidak akan pernah sekalipun meninggalkan Oppa melewati empat musim seorang diri. Mulai saat ini, kita akan melewati empat musim di negeri gingseng ini bersama, ne?”. Ia menatapku dengan manja seraya melukiskan senyuman manis yang sangat aku rindukan di bibir merahnya yang cantik.

“Chagiya~, akhirnya kau kembali padaku. Nan neol jeongmal bogosiphesseo chagi”. Aku langsung menarik tubuhnya seraya membenamkannya ke pelukanku. Setelah sekian lama, akhirnya aku dapat merasakan hangat tubuhnya yang kembali menyentuh tubuhku dengan lembut.

“Saranghae Seol Ha Na”. Aku langsung mendaratkan ciumanku ke bibirnya. Aku sangat merindukan bibirnya yang terasa sangat manis ketika menyentuh lembut di bibirku. Dengan lembut ia mengusap bibirku dengan bibirnya, seakan ia juga ingin membuktikan rasa rindunya yang juga sangat besar padaku.

“Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi chagi, ne?”. Aku menatap matanya dengan tatapan hangat seraya mengelus pipinya yang merona.

“Eung~, saranghae Oppa”. Ucapnya manja. “Na do saranghae chagi”. Sahutku lembut seraya mengecup hangat keningnya.

Aku akan selalu menunggu orang yang kucintai kembali padaku meski harus melewati 4 musim di negeri gingseng yang indah ini. Karena aku percaya, penantian dengan penuh dengan pengorbanan dan keyakinan akan menjanjikan akhir cerita yang indah untukku”.

END.

6 thoughts on “4 Seasons (4계절)

    • ne maja.. itu lyric lagu SHINee yang judulnya 4 Season atau judul versi koreanya 눈을 가마보면

      eonni terinspirasi dari lagu itu fnk.
      wkwkwk, iya.. makanya kd eonni tarus akan. kena kd sesuai rating, ratingny PG-17 ajj.. xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s