In My Room

Untitled-1

Title: In My Room

Cast:

Jonghyun SHINee as Kim Jonghyun

Oh Hana a.k.a Ella (Original Character)

Kim Ae Soo (Original Character)

Eunhyuk SuJu as Cameo

Genre: Sweet, Romantic

Length: One Shoot

Rating: PG-15

Created By: Ayin Perdana

_____________________________________________________________________

Jonghyun P.O.V

Ella, begitulah caraku memanggilnya. Dia adalah seorang wanita cantik berambut panjang sebahu yang terlahir atas nama Oh Hana yang aku temukan saat dia jatuh pingsan di depan rumahku. Kedua orang tuanya sudah meninggal, harta kekayaanya direbut dengan tidak berperasaan oleh oppanya sendiri dan dia dibuang begitu saja. Akupun memutuskan untuk merawatnya. Awalnya aku hanya iba padanya, namun dengan berjalannya waktu perasaanku mulai berubah, dan pada akhirnya dia menjadi kekasihku. Kekasih yang sangat aku cintai sampai pada akhirnya dia meninggalkanku. Ya, sudah genap 4 tahun semenjak dia meninggalkanku sendiri meratapi kesedihanku dikamar ini. Namun perasaanku masih tidak pernah berubah padanya, aku masih sangat mencintainya. Dan inilah kisahku..

“Ella~ chagi, kau dimana?”. Aku mengelilingi lantai dua rumahku untuk mencari Ella, namun tidak kudapati dia disana. “Mungkin dia ada di halaman belakang” pikirku. Akupun lalu menuruni anak tangga dan langsung menuju halaman belakang rumah.

“Ella~”. Aku memandangi halaman belakang rumahku yang di hiasi dengan pantai di ujungnya, namun Ella masih tak tampak di penglihatanku. “Kemana dia?”. Aku bertanya – tanya sendiri lalu berjalan ke arah pantai, hingga aku mendengar suara yang sangat lembut memanggilku.

“Oppa~~ yeogisseo”. Aku membalikkan badanku, ternyata Ella sedang duduk di gazebo halaman belakang rumahku. “Astaga, aku tidak sadar kau ada disana”. Ucapku padanya seraya tersenyum melambaikan tanganku dan berlari kecil ke arahnya.

“Kau sedang melakukan apa disini? Dan kenapa kau memakai pakaian tipis, sekarang sedang dingin sekali Ella”. Aku melepaskan jaket tebalku dan memasangkan ke tubuh mungilnya.

“Ada sesuatu yang ingin aku berikan pada oppa”. Dia meraih sebuah benda besar berbungkus kado yang berbentuk persegi panjang seperti bingkai photo yang besar. “Apa itu?”. Tanyaku sambil memberikan senyum hangatku padanya. “Buka saja”. Dia menyerahkan benda itu padaku dan menatap wajahku seraya memberikan senyum manisnya yang sangat aku suka.

“Jinjja? Baiklah, aku buka ya”. Aku pun membuka bungkus kado yang menyampuli benda itu.

“Lukisan, diriku?”. Aku tertegun saat membuka bungkus kado itu. “Ne oppa. Aku membuat lukisan itu untuk oppa”. Ella terus memandangiku yang masih tertegun dengan senyumannya yang begitu manis. “Oppa terlihat sangat tampan di lukisan itu, aku ingin oppa memajangnya dikamar oppa”. Ucapnya lagi dengan manja.

“Areumdawo”. Aku menatap wajahnya yang cantik itu dan membalas senyumannya. “Gomawo chagi, kau selalu saja memberiku hadiah – hadiah yang sangat berkesan”. Ucapku yang kemudian memberikan kecupan di keningnya.

“Saranghae Oppa”. “Na do saranghae, naeui Ella”. Balasku.

Ya, dialah Ella-ku. Ella yang berarti bintang, dan dia memang seperti bintang bagiku.

“Oppa~”. Suaranya terdengar begitu manja saat memanggilku. “Ne~?”. aku memberikan senyum hangatku padanya yang duduk disampingku dan membelai wajahnya.

“Aku kedinginan”. Ucapnya sambil tersenyum. “O, geure? Masih kedinginan? Mau masuk ke dalam rumah saja?”. Aku membenarkan lagi jaket yang kupakaikan padanya.

“Tidak, duduklah lebih dekat oppa. Cuman pelukan oppa yang bisa membuatku menjadi hangat”. Ucapnya dengan begitu manis. Aku membalasnya dengan senyuman lalu menuruti keinginannya.

Dia terlihat begitu menikmati saat berada dalam pelukanku, manis seperti anak kecil. Akupun mengecup puncak kepalanya dengan lembut.

“Oppa, meskipun cuaca tidak sedang dalam keadaan yang dingin tapi aku ingin oppa memelukku dengan erat seperti ini, apa oppa mau melakukannya?”. Dia menengadahkan kepalanya menatap wajahku. “Kapanpun kau menginginkanku chagi”. Jawabku dan memberikan senyuman lalu mencium hangat bibirnya yang indah.

Dia membalas ciumanku dengan lembut, hari yang pada saat itu sangat dingin terasa begitu hangat. Aku benar – benar mencintai Ella, sangat menyayangi Ella.

Ke esokan harinya, aku bersiap untuk pergi ke acara konser amal yang di adakan oleh agensiku dan aku ditunjuk menjadi salah satu pengisi acara konser itu.

“Oppa mau pergi sekarang?”. Ella mendatangiku ke kamar saat aku sedang menata rambutku. “Ne chagi. Kau mau ikut?”. Ajakku padanya. “Ani oppa, aku menunggu dirumah saja”. ucapnya sambil membenarkan kerah kemejaku.

“Oppa tampan sekali”. Ucapnya dengan seulas senyuman yang sangat aku sukai itu. “Ella juga sangat cantik”. Balasku dan mengecup keningnya. “Aku tidak mau hanya dikening saja oppa”. Dia mulai menggodaku dengan mengedipkan sebelah mata indahnya. “Maksudmu~~~?”. Aku balik menggodanya, menarik tubuhnya dan melingkarkan tangan kananku ke pinggangnya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Hehehe”. Dia hanya tertawa seperti anak kecil. Sungguh manis, membuatku gemas dan langsung mencium lembut bibirnya.

“Saranghae Ella”. Aku membenamkan tubuh mungilnya ke pelukanku, menyandarkan kepalanya ke dadaku yang bidang. “Ella do Jonghyun Oppa saranghae”. Balasnya manis. “Oppa, aku masih ingin memeluk oppa sebentar saja. Boleh kan? Hanya 5menit. Ani, 10menit setelah itu oppa pergi ke konser”. Dia bermanja padaku, ini juga yang sangat aku sukai darinya.

“Kau masih bisa memilikiku selama 1 jam chagi, kau boleh memelukku sampai kau puas”. Ucapku mengelus rambutnya. “30 menit oppa, aku tidak boleh egois dengan mengambil waktu selama 1 jam itu hanya untuk memeluk oppa. 30 menit untuk memeluk oppa, sisanya aku gunakan untuk melihat oppa menyantap sarapan dan memastikan oppa menghabiskannya”. Ucapnya yang terdengar begitu dan manis sambil mengeratkan pelukannya. “Hehee.. dasar kau ini. Ne chagi~”.

“Ella, aku berangkat sekarang ya”. Aku mengambil tasku yang ku letakkan di sofa dan mengambil kunci mobilku yang terletak di meja. “Ne oppa, jalga”. Sahutnya dari dapur.

Aku menyalakan mesin mobilku dan melambaikan tanganku pada Ella yang mengantarku di depan pintu. Aku melihatnya yang masih melambaikan tangannya dari kaca spionku hingga tak tampak lagi sosoknya yang begitu hangat itu.

“Jonghyun’a~! Neon wasseo”. Eunhyuk Hyung menyapaku saat aku baru saja tiba di open space tempat konser diadakan.

“Annyeonghaseyo hyung”. Sahutku. “Kau sendirian? Biasanya kau selalu mengajak Ella”. Eunhyuk Hyung melirik – melirik sekitarku. “Hana, Hyung. Namanya Hana”. “Ah ye, mian~” Sahutnya malu. Aku memang tidak suka ada orang lain yang memanggil Ella dengan sebutan “Ella” selain diriku, hanya aku yang boleh memanggilnya Ella.

“Baiklah, selanjutnya kita sambut Jonghyun yang hari ini akan membawakan lagu dari Brown Eyed Soul “Nothing Better”. MC memanggil namaku meminta untuk naik ke atas panggung.

“Lagu ini aku nyanyikan untuk kekasihku yang saat ini berhalangan hadir untuk datang kemari bersamaku, Ella”.

“Whaaa, Jonghyun’a~~ neon romantic guy yeyo~”. Eunhyuk Hyung mengacak – acak rambutku saat aku telah turun dari panggung. “Gomawoyo Hyung”. Sahutku dengan seulas senyuman. “Hyung, aku harus pergi sekarang. Maaf tidak bisa pulang bersama yang lain”. Eunhyuk Hyung memasang wajah yang sedikit penasaran. “Kau sudah mau pulang?”. “Tidak hyung, aku ingin pergi ke suatu tempat, ada yang ingin aku beli”. Aku langsung berlalu begitu saja meninggalkan Eunhyuk Hyung yang sebenarnya masih ingin berbincang denganku.

Aku sampai di sebuah pusat perbelanjaan yang lumayan besar di Seoul, dan aku langsung menyambangi toko jewellery. Aku memesan sepasang cincin emas putih disana, aku ingin melamar Ella.

“Ini pesanan anda tuan, apa sudah sesuai dengan yang anda inginkan?”. Salah seorang pramuniaga toko itu memperlihatkan sepasang cincin yang kupesan. “Ne, areumdawo”. Sahutku memandang cincin itu dengan seulas senyuman yang menandakan betapa aku sudah tidak sabar ingin melamar Ella yang saat ini menungguku dirumah.

“Ella, aku pulang~”. Aku melihat sekeliling rumahku mencari sosok yang paling indah itu.

“Oppa~ selamat datang”. Sahutnya dengan seulas senyum manis yang duduk di sofa. “Kau sedang menonton tv?”. Aku duduk tepat disampingnya. “Ne. Tadi aku menonton konser oppa, gomawo lagunya oppa~ aku sampai meneteskan air mataku karena terharu”. Ia masuk ke pelukanku manja. Aku sangat suka ketika ia bermanja padaku.

“Oppa mau aku buatkan susu coklat panas?”. Ia menengadahkan kepalanya memandang wajahku. “Ne chagi, kita minumnya di halaman belakang saja ya”. Sahutku. “Baiklah, oppa tunggulah di sana biar aku buatkan sebentar”. Ia mencium pipiku dengan lembut.

Aku duduk di kursi ayunan besar dari kayu sambil memandang hamparan bintang dilangit yang terlihat begitu cantik pada malam itu, seakan hamparan bintang itu tahu bahwa malam itu aku ingin melamar Ella.

“Oppa ini susu coklatnya”. Ia memberikan segelas mug berisi coklat panas buatannya. “Gomawo chagi”. Aku menghirup susu coklat buatannya yang sangat aku sukai itu sambil menatap langit. “Hamparan bintang malam ini cantik sekali ya oppa~”. Ella juga meminum segelas mug coklat panas yang ada di tangannya lalu menyenderkan kepalanya dibahuku. “Ne, bintang – bintang itu cantik seperti kau Ella”. Sahutku merangkul tubuhnya dengan tangan kiriku.

“Oppa, kenapa oppa memberiku nama Ella? Sejak aku tinggal bersama oppa, oppa langsung memanggilku Ella. Awalnya aku bingung, tapi aku pikir oppa punya alasan sendiri kenapa oppa memanggilku Ella”. Tanyanya manja yang masih menyenderkan kepalanya di bahuku.

“Karena kau adalah seorang Ella. Ella itu berarti bintang, bagiku kau itu seperti bintang yang selalu menyinari hati dan hidupku”. Ucapku membelai lembut rambutnya yang tergerai.

“Ella, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu”. Aku melepas rangkulanku darinya. “Ingin mengatakan apa oppa?”. Aku mengambil sebuah kotak kecil dari dalam saku celanaku. Dan membukanya dihadapannya.

“Ella.. maukah kau menjadi Ella-ku seutuhnya? Menikah denganku Ella”. Aku menatap dalam matanya, dia pun menatapku dengan wajah yang terkejut saat aku melamarnya.

“Oppa~ oppa melamarku?”. Raut wajahnya masih terlihat tidak yakin dengan apa yang ia lihat. “Ne Ella, ayo kita menikah. Jadilah Ella-ku untuk selamanya”. Ella menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan begitu manis, matanya terlihat berkaca – kaca. “Oppa~ gomawo”. Ella tidak kuasa menahan air matanya yang jatuh ke wajah cantiknya, aku menyeka air matanya dengan ibu jariku. “Saranghae Ella”. Aku menyematkan cincin itu ke jari manis tangan kanannya, dan mendaratkan ciumanku ke bibirnya yang cantik.

“Uuhuuek! Uuhuuek!”. Aku seperti mendengar suara orang yang sedang muntah dari arah kamar mandi, dan itu membuatku terbangun dari tidurku.

“Ella, kau kenapa? Chagiya, gwaenchanha?”. Aku langsung bangun dan berlari ke kamar mandi, aku khawatir Ella sakit. “Oppa~”. Ella keluar kamar mandi saat aku baru saja berada di depan pintu.

“Gwaenchanha? Chagiya apa kau sakit?”. Aku bertanya padanya dengan sangat cemas, namun dia hanya tersenyum memandangku. “Wae? Kenapa malah tersenyum begitu?”. Tanyaku lagi dan kali ini kecemasanku kembali bertambah.

“Oppa, kita akan segera memiliki seorang agi”. Wajahku yang awalnya begitu terlihat khawatir berubah seketika saat mendengar ucapannya.

“kita.. punya agi?”. Ella mengangguk dan tersenyum padaku.

“Aaaaaaaa!!! Gomawo chagi!!! Aku sangat bahagia!!!”. Aku sangat bersyukur do’aku yang menginginkan anak dari Ella terjawab di usia enam bulan pernikahan kami.

“Gomawo chagi”. Aku memeluk erat Ella dan mencium puncak kepalanya.

Hari kelahiran anak pertama buah cinta pernikahanku dengan Ella pun tiba, aku menunggu di luar ruang operasi. Ya, Ella tidak di izinkan dokter melahirkan secara normal tapi dengan cara operasi sesar. Kata dokter kondisi Ella yang lemah saat itu tidak memungkinkannya untuk melahirkan secara normal. Aku sangat ingin mendampingi Ella, namun para anggota medis yang menangani Ella tidak mengizinkannya. Aku sebenarnya sangat kesal, mereka hanya memperbolehkanku menunggu di luar dengan perasaan yang berkecamuk. Aku khawatir, resah, takut, aku ingin anak pertamaku lahir dengan selamat dan sempurna, dan yang tidak kalah penting aku ingin Ella juga selamat.

Setelah 4 jam, akhirnya lampu di atas pintu ruang operasi itu padam. Aku yang duduk lemas di kursi langsung berdiri mendekati pintu itu dan kebetulan dokter yang menangani persalinan Ella keluar.

“Bagaimana dokter? Apa anakku sudah lahir? Bagaimana dengan istriku?”. Raut wajah dokter itu nampak tenang menatapku, namun dari matanya aku melihat seperti ada sesuatu yang kurang enak.

“Selamat Tuan Jonghyun, anda memiliki seorang putri yang sangat cantik”. Dokter itu tersenyum kecil dan menepuk ringan bahu kiriku. “Jinjjayo? Terima kasih tuhan”. Aku mengekspresikan kegembiaraanku mendengar bahwa sekarang aku telah menjadi seorang appa dengan mengucap rasa syukurku yang begitu besar. Geunde, bagaimana istriku? Dia baik – baik saja kan?”. Aku kembali mempertanyakan pertanyaan yang tidak dijawab olehnya.

“Untuk masalah istri anda, kita bicara di ruangan saya saja”. Mimik wajah dokter itu seketika berubah menjadi sedikit sayu. Melihatnya membuat kekhawatiranku yang tadi sempat sirna muncul lagi. “Semoga Ella baik – baik saja”. Ucapku dalam hati.

“Saat ini kondisi istri anda sangat lemah, bahkan masih belum sadarkan diri”. Jelas dokter itu singkat.

“Apa yang harus dilakukan dokter? Lakukanlah apapun itu, yang penting istriku bisa sadarkan diri dengan cepat”. Aku memohon dengan dokter itu, tubuhku yang kekar tiba – tiba terasa sangat lemah.

“Kami sudah berusaha dengan maksimal Tuan Jonghyun, saat ini yang bisa kita lakukan adalah berdo’a dan kami juga akan terus mengusahakan yang terbaik untuk istri anda”. Dokter itu mencoba menenangkanku, namun sebenarnya usaha dokter itu sia – sia karena aku masih tetap tidak bisa membuang rasa cemas dalam diriku.

“Apa anda ingin melihat putri anda Tuan? Sekarang putri anda pasti sudah selesai dimandikan oleh perawat dan berada di ruang bayi, saya rasa anda bisa merasa lebih tenang saat anda melihat putri pertama anda”. Dokter itu tersenyum padaku yang saat itu terlihat cemas dan sedih memikirkan Ella.

“Ne, aku ingin melihatnya dokter”. Pikirku saran dokter itu ada benarnya, aku belum melihat putriku tercinta. Aku juga sangat ingin melihatnya.

Aku memasuki ruang bayi rumah sakit itu. Aku melapisi bajuku dengan pembungkus badan berwarna hijau yang diberikan perawat, setelah itu dia menunjukkan putriku.

“Ini bayi anda Tuan Jonghyun”. Aku duduk disamping tempat tidur berukuran kecil tempat bayiku tertidur dengan pulas.

“Naeui yeppeun ttal, ige appa yeyo”. Ucapku lembut dan membelai wajah imutnya dengan perlahan. “Kau cantik sekali nak, sama persis dengan eomma”. Ucapku tersenyum. Malam itu aku merasa mendapat hadiah yang paling indah dari Ella, Ella menghadiahkan aku seorang anak perempuan berkulit putih bersih dan sangat cantik. Dengan sekejap bayi perempuanku ini berhasil menjadikan dirinya wanita kedua yang aku cintai setelah Ella.

“Kau harus tumbuh menjadi anak yang baik, ceria, dan cantik seperti eomma, araji?”. Aku mencium pipinya yang manis. “Appa keluar dulu, mimpi yang indah putriku”. Perasaanku menjadi jauh lebih tenang saat melihatnya tertidur dengan pulas yang seperti sedang berada di dunia mimpi.

Setelah melihat putriku, aku jadi ingin melihat Ella. Entah kenapa perasaanku sekarang sangat ingin berada disampingnya, setelah persalinan tadi aku tidak bisa mendampinginya sekarang aku sekali berada didekatnya.

“Bolehkah aku melihat istriku dokter? Aku sangat ingin berada di samping istriku. Meskipun saat ini ia sedang tidak sadarkan diri, aku yakin dia pasti menginginkanku berada didekatnya”. Aku memohon – mohon pada dokter agar aku di izinkan melihat Ella.

“Baiklah tuan Jonghyun, anda bisa menemui istri anda. Silakan lewat sini”. Dokter meminta perawat mendampingiku masuk ke ruang ICU dimana Ella berada.

Aku lihat mata Ella yang masih terpejam, badannya kaku tidak bergerak sedikitpun, wajahnya terlihat begitu pucat, membuatku terduduk lemas disamping tempat tidurnya.

“Ella~ chagi’ya.. kita sekarang memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik, dia sangat mirip denganmu, dia mewarisi kecantikanmu Ella”. Aku menggenggam tangan kanannya dan menempelkannya di wajahku.

“Kau harus berjuang Ella, kita harus membesarkan anak kita. Kita bertiga akan melalui hari – hari yang penuh dengan kebahagiaan. Tangisan putri kita ditengah malam karena merasa haus akan membuat kita terbangun dan berlari padanya berusaha membuatnya tenang. Aku akan menggendongnya, mengajaknya bermain ketika kau sibuk menyiapkan kami sarapan. Aku akan menggantikan popoknya ketika kau mengambilkan baju ganti untuknya. Kita berdua akan menjadi sepasang appa dan eomma yang baik untuknya”. Ucapku tersenyum lirih menatap Ella yang hanya bisa diam. Tiba – tiba air menetes dari mata Ella yang masih terpejam, seakan ia melihat dan merasakan kesedihanku yang melihatnya terbaring lemah dihadapanku.

“Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit”. Alat medis berbentuk persegi yang entah apa namanya itu berbunyi dan mengejutkanku. Aku lihat ada satu garis lurus horizontal berwarna hijau berjalan ditengahnya. Kurasakan tangan Ella yang kugenggam seperti lebih lemas dari sebelumnya, wajahnya yang semula menghadap ke plafon rumah sakit sekarang berpindah menjadi mengarah padaku. Kecemasanku kembali menyelimutiku, atau lebih tepatnya sekarang aku takut. Takut sesuatu yang sangat tidak kuinginkan terjadi pada Ella.

“Dokteeer!!! Susteeer!!! Tolong lakukan sesuatu!!! Apa yang terjadi dengan istriku?!”. Aku berteriak – teriak memanggil dokter dan suster untuk memastikan kondisi Ella saat itu. Sesaat kemudian merekapun tiba dalam ruang ICU dengan berlari.

Dokter itu didampingi dengan beberapa asistennya mengecek kondisi Ella secara keseluruhan, wajah mereka nampak sangat serius. “Tuan, mohon tunggu diluar sebentar”. Salah seorang perawat mendorong badanku yang terasa berat itu dengan perlahan menuju pintu. “Tapi istriku..”. “Kami akan memeriksa istri anda Tuan, mohon tunggu diluar”. Ia memintaku lagi untuk keluar, tidak ada yang bisa aku lakukan selain menurut dengan apa yang perawat itu katakan.

Kedua kakiku lemas, hingga akhirnya aku tersungkur di lantai rumah sakit yang dingin. Aku benar – benar cemas dan sangat takut memikirkan keadaan Ella. Aku tidak sanggup jika harus menerima keadaan terburuk.

Dokter itu lalu keluar dari ruang ICU dengan wajah tertunduk dan menghela nafas. Aku mencoba menguatkan kakiku dan berdiri mendekati dokter itu.

“Bagaimana istriku dokter? Istriku tidak apa – apa kan? Dia baik – baik saja kan?”. Aku meleparkan pertanyaan bertubi – tubi pada dokter itu, dan aku hanya mengharapkan satu jawaban singkat darinya yaitu “Ne, gwaenchanseumnida”.

“Jwesonghamnida Tuan Jonghyun, istri anda tidak selamat”. Tubuhku seketika kaku, aku bahkan tidak dapat berkata sepatah katapun lagi. “Ella.. meninggal?”. Tanyaku dalam hati. Aku seperti ditikam dengan pisau yang begitu tajam tepat didadaku, nafasku langsung berat, air mata langsung menetes dari kedua mataku.

Acara pemakaman Ella telah usai, para sahabat dan keluargaku satu persatu mulai meninggalkan makam Ella terkecuali aku yang masih berdiri tepat disamping makamnya dan menggendong bayi mungilku satu – satunya.

“Aku akan sangat merindukanmu chagi. Meskipun sekarang ragamu tidak dapat lagi ku lihat, ku peluk, ku cium, tapi jiwamu tetap ada disini. Dihatiku dan didalam diri putri kita”. Aku berkata dengan lirih dan tanpa sengaja kembali meneteskan air mataku.

Aku mencoba memejamkan mataku namun tidak bisa tidur. Aku masih teringat akan Ella, biasanya setiap malam Ella baru akan bisa terlelap jika dia tidur dalam pelukanku. Aku selalu meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang dan kubiarkan dia memelukku dengan erat saat dia merasa kedinginan meski sudah kupakaikan selimut tebal.

Aku pun terduduk diatas ranjangku, aku melihat sekeliling kamarku dan mataku terhenti di suatu sudut kamar. Dimana aku menempatkan semua hadiah – hadiah ulang tahunku dan itu semua pemberian dari Ella. Photo – photo Ella dengan pose tersenyum yang ku pajang di sudut laci seakan membuat sosok Ella tetap berada dalam kamarku.

“Ella..

Kau itu cahaya bagiku, bintangku.

Kau adalah segalanya, dan sepertinya segala sesuatu yang kau tinggalkan dikamarku seolah merindukan kehadiranmu, termasuk diriku.

Aku merindukan dirimu yang selalu berteriak – teriak memanggilku saat kau takut dan tidak bisa tidur saat suara petir di malam hari.

Aku merindukan dirimu yang selalu memberiku senyuman hangat saat aku bangun dari tidur nyenyakku.

Aku merindukan dirimu yang selalu bermanja padaku.

Aku merindukan dirimu yang memasang mimik wajah cemberut ketika aku menggodamu.

Aku merindukan dirimu yang selalu memintaku berkata “Saranghae” sebagai syaratku agar bisa mencium pipimu.

Aku rindu melihat dirimu yang duduk tersenyum disampingku, aku ingin membuatmu ada disini.

Dan aku rindu untuk mengatakan “Ella, Saranghae”.

 

Aku menghela nafas. Kudengar suara petir menyambar di luar, sekarang hujan sangat deras sekali.

“Appa~~!!! Appa~~!!!” tiba – tiba ada sosok anak perempuan kecil yang cantik dan membawa boneka di tangannya membuka pintu kamarku yang tidak lain adalah putriku Kim Ae Soo.

“Sayang, ada apa?  Ayo kemari”. Aku menyuruhnya naik ke atas ranjangku yang besar.

“Appa, nan museowo~ petir yang ada diluar itu nakal appa, dia sudah membuatku takut~ eeaang~~!!!”. Dia menangis dengan polosnya. Ya, putriku memang memiliki sifat yang sama persis dengan Ella, takut dengan suara petir.

“Cup cup.. Ella, uljima.. Ella takut ya? Mau tidur dengan appa?”. Aku memberikannya senyuman dan menggendongnya ke dalam pangkuanku. Kini putriku telah genap berusia 4 tahun tepat di 4 tahun meninggalnya Ella, eommanya. Ah ya, aku juga memanggil putriku dengan nama Ella. Karena memang aku sangat suka dengan nama itu.

“Ne, aku mau tidur dengan appa~ aku mau appa memelukku. Aku takut appa~, bolehkan?”. Putriku memang sangat manja padaku, dia selalu membuatku gemas dan memuatku mendaratkan ciuman ke pipinya yang chubby.

“Arasseo.. sekarang kita tidur ya”. Ucapku merebahkannya disampingku, ku letakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang. Ku belai rambutnya dan sesekali ku kecup puncak kepalanya.

“Appa, apakah eomma juga takut dengan petir?”. Dia menengadahkan kepalanya menatap wajahku. “Ne, eomma sama persis dengan Ella. Karena itulah appa juga memanggilmu dengan nama Ella”. Sahutku tersenyum dan mencium pipi chubbynya.

“Apa Ella juga cantik seperti eomma?” aku menutupi tubuhnya dengan selimut dan mengeratkan pelukanku. “Ne  naeui yeppeun ttal~, Ella dan eomma sama – sama cantik, cantik seperti bintang layaknya nama kalian Ella. Sekarang ayo tidur, mimpi indah putri kecilku”. Ku belai rambut dan kucium keningnya dengan lembut.

“Appa saranghae~”. Dia mencium pipiku. “Appa do Ella saranghae~”. Ku peluk tubuh mungilnya agar merasa hangat, dan ku belai kepalanya sampai malaikat kecilku itu benar – benar terlelap.

“Ella, saranghae”.

END.

9 thoughts on “In My Room

  1. Eommaa, ceritanya DAEBAK !! Pke banget daebaknya 😀
    Ini klo ada CDnya d jual aku pasti borong trus bgiin ama tmn2 biar mereka tau klo crita ini keren, aku nangis tdi 😥 tpi sumpah bgus banget… Aku smpe bingung mau mujinya gimna lagi…

    Lanjut juseyo ne eomma ;;) jebal :*

  2. Sedih masa eonn :”(
    Over all keren eonn :”)
    Coba bikinin epep key dong eonn, tp happy ending coba .__.v gomawo 😉

    • Iya syg.. ad sequel ny. Hehehe

      Nangis yah, ff ini eonni bikinny tengah malem pas lagi ujan lebat. Gk bisa tidur soalny insom kambuh.

      Alhasil buka lappy terus dengerin lagu SHINee – In My Room. Singkat cerita tercipta lah ff ini.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s